karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan
Annalise perlahan membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu temaram di ruang istirahat pribadi di dalam kantor Reynard. Hal pertama yang ia tangkap adalah aroma kayu cendana yang familiar, Ia menoleh dan menemukan Reynard duduk di sofa di samping ranjang. Wajah Reynard tampak sangat kaku, rahangnya mengeras, dan matanya yang tajam terus menatap pintu jati ruangan itu.
"Reynard?" suara Annalise parau, memecah keheningan. "Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?"
Reynard tersentak kecil, lalu segera mengubah ekspresinya menjadi lebih lembut saat menatap istrinya. Ia mengusap rambut Annalise dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa adrenalin. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya masalah kecil di kantor. Tidurlah lagi," dustanya dengan suara rendah yang berusaha tetap tenang.
Annalise tidak percaya. Ia bisa merasakan jantung Reynard berdegup kencang saat pria itu membantunya duduk. Sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, terdengar ketukan tiga kali yang terukur di pintu. Leonardo masuk dengan langkah cepat, wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat pucat.
"Tuan, saya sudah memeriksa seluruh rekaman CCTV di koridor dan tangga darurat," lapor Leonardo tanpa basa-basi. "Penyusup itu tidak menyentuh ruangan lain. Targetnya hanya satu yaitu ruang kerja pribadi Anda, ia meretas kunci yang ada di pintu ruangan anda."
Reynard berdiri seketika, matanya berkilat marah. "Apa yang dia lakukan di dalam? CCTV di koridor tidak bisa melihat ke dalam ruangan ini."
"Hanya Anda yang bisa mengakses kamera internal di dalam ruangan ini, Tuan," jawab Leonardo sambil menyodorkan sebuah tablet, namun Reynard justru merogoh ponsel dari saku jasnya.
Dengan jari yang bergerak secepat kilat, Reynard memasukkan kode enkripsi tingkat tinggi. Layar ponselnya menampilkan sudut pandang dari kamera tersembunyi yang berada tepat di atas lemari buku. Dalam rekaman yang terputar cepat itu, terlihat seorang pria berpakaian hitam masuk. Pria itu tidak memeriksa dokumen atau brankas ia langsung menuju meja kerja jati besar milik Reynard.
Annalise ikut mengintip ke layar ponsel itu dari balik bahu Reynard. Ia melihat pria misterius itu berlutut di bawah meja kerja, menempelkan sebuah kotak hitam kecil dengan lampu merah yang berkedip, lalu segera melarikan diri keluar.
Warna kulit Reynard seketika berubah menjadi pucat pasi. "Tidak..." bisiknya.
"Ada apa, Rey?" tanya Annelise cemas.
Tanpa menjawab, Reynard berlari keluar dari ruang istirahat menuju meja kerjanya yang hanya berjarak beberapa meter. Ia berlutut di lantai marmer, kepalanya masuk ke kolong meja. Di sana, menempel di bagian bawah kayu jati yang mahal, terdapat sebuah perangkat peledak rakitan.
Layar digital di perangkat itu menunjukkan angka yang mengerikan: 00:59.
"BOM!" teriak Reynard, suaranya menggelegar penuh kepanikan yang belum pernah didengar oleh siapa pun. "LEONARDO! BAWA ANNALISE PERGI DARI SINI SEKARANG!"
"Tuan, bagaimana dengan Anda?" seru Leonardo, namun ia tetap bergerak cepat merangkul bahu Annalise yang mulai menangis ketakutan.
"PERGI! SEKARANG!" raung Reynard. "Jaga dia dan anakku!’’
Annelise meronta, "Reynard! Aku akan tetap disini! "
Leonardo terpaksa menarik Annelise dengan kuat keluar dari ruangan itu. Di kehidupan sebelumnya, Reynard telah menyaksikan Annelise tewas di pelukannya. Di kehidupan ini, ia bersumpah tidak akan membiarkan seujung kuku pun dari istrinya terluka, bahkan jika ia harus hancur berkeping-keping.
Kini tersisa 45 detik.
Reynard menarik napas dalam, mencoba menstabilkan tangannya yang gemetar. Ia mengambil pisau lipat kecil dari laci mejanya. Sebagai pewaris Aethelred Group yang cerdas dan teliti, ia pernah mempelajari dasar-dasar teknik saat menjalani pelatihan keamanan bertahun-tahun lalu. Namun, menghadapi bom nyata yang sedang berdetak adalah hal yang sangat berbeda.
30 detik.
Ada empat kabel yang terlihat merah, biru, kuning, dan hijau. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya, jatuh ke lantai. Jika ia salah potong, gedung ini akan menjadi makamnya, dan Annelise akan kehilangan suaminya.
"Pikir, Reynard, pikir!" ia memaki dirinya sendiri.
15 detik.
Suasana di luar ruang kerja sangat sunyi, namun di kepala Reynard, suara detak bom itu terdengar seperti lonceng kematian yang memekakkan telinga. Ia memegang kabel kuning. Tidak, biru. Ia melihat sebuah sirkuit kecil yang tersembunyi di balik kabel biru.
10 detik.
"Annelise, maafkan aku jika aku gagal lagi," bisiknya lirih. Ia teringat senyum istrinya saat sarapan tadi pagi. Ia teringat janin yang sedang tumbuh di rahim Annelise. Ia tidak boleh gagal. Ia memiliki kesempatan kedua, dan ia tidak akan menyia-nyiakannya.
5 detik.
Dengan tekad baja, ia menjepit kabel berwarna merah yang tampak paling dominan namun sebenarnya terhubung ke pemicu utama.
4...
3...
2...
orang kaya mereka harus membusuk