Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Salah paham
Clara menghambur kepelukan Eyang b Buyutnya begitu bertemu. Tidak peduli kalau lengan Eyang Buyutnya dipasangi slang infus. Clara naik ke ranjang Kakek Lukas dan memeluknya penuh haru.
"Eyang jangan pergi lagi ya? Jangan tinggalkan Clara lagi ya?" isak Clara dalam pelukan Kakek Lukas. Kakek Lukas mengelus kepala Clara.
"Eyang sayang sama Clara. Jangan nangis lagi."
"Clara, Eyang lagi sakit jangan naik ke ranjang." tegur Edgar saat melihat putrinya duduk di sisi kakeknya.
"Tidak apa-apa, biar Clara duduk disini."
"Tapi, Kek." protes Edgar. Clara meleletkan lidahnya karena kakek Lukas malah membelanya. Kakek Lukas memang sangat memanjakan Clara. Edgar hanya bisa menghembuskan napasnya kesal melihat kelakuan putri dan kakeknya.
"Eyang tau gak. Barusan Papa berantam di lift, hik hik," Clara tertawa mengejek papanya. Edgar melototkan matanya agar Clara tidak meneruskan ucapannya. Bukan Clara orangnya kalau diancam akan bungkam.
"Berantam sama siapa?" Kakek Lukas bertanya antusias.
"Sama Tante cantik. Papa sih yang salah buru-buru masuk lift dan menabrak tante itu." Clara menceritakan semua kejadian di lift itu. Kakek Lukas tertawa mendengar cerita Clara.
"Papamu itu tidak jantan." Kakek Lukas membuat jempol terbalik, "sudah salah tidak mau meminta maaf." kekeh sang kakek.
"Huh!" Edgar mendengus mendengar ucapan kakeknya. Clara terbahak melihat ekspresi wajah papanya yang kaku.
"Kakek, saya turun bentar ya. Clara, jaga kakek jangan kemana-mana." Perintah Edgar pada putrinya.
"Papa mau kemana?" delik Clara heran.
"Papa mau ketemu seseorang dibawah. Cuma sebentar. Nanti papa belikan coklat." Bujuk Edgar supaya putrinya mau di tinggal.
"Janji jangan lama ya, Pa."
"Iya." Edgar memasukkan ponselnya kedalam kantong jasnya. Setelah membaca pesan dari Dokter Rio.
Namun, kata sebentar yang dijanjikan Edgar malah molor sampai beberapa jam. Saat kakek Lukas tertidur, Clara bosan menunggu papanya. Untuk membuang rasa bosannya, iseng-iseng Clara keluar dari kamar Kakek Lukas.
Clara menyusuri lorong rumah sakit hingga tiba diujung koridor. Clara menatap kebawah sana lewat dinding kaca gedung rumah sakit. Kenderaan yang melintasi jalan menjadi sebuah pemandangan yang menarik buat Clara.
Bosan, menatap kebawah sana, Clara berpaling. Kembali menyusuri lorong rumah sakit. Hingga tiba di ujung lorong satunya. Setiap orang yang berpapasan dengannya Clara selalu tersenyum dan menyapa mereka.
Tanpa sadar langkah Clara makin jauh, hingga dia lupa jalan menuju kamar Kakek Lukas. Karena banyaknya lorong yang telah dia lewati. Clara menjadi cemas sendiri dan mulai panik
Hingga langkahnya tiba di sebuah kamar nomor tiga. Kaki Clara terhenti. Ameera yang kebetulan keluar dari kamar itu membuat Clara terkejut. Dia ingat kejadian di lift beberapa saat lalu.
"Halo tante cantik?" sapa Clara ramah. Ameera kebingungan dengan sapaan itu dan berusaha mengingat apakah dia mengenal gadis kecil itu.
Ameera memandang sekitarnya apakah Clara tengah bersama orang lain.
"Tante lupa sama aku ya. Kenalkan, namaku Clara Florentina Hadinata." Clara mengulurkan tangannya. Mau tak mau Ameera menerima uluran tangan bocah kecil dihadapannya dan menyebut namanya juga.
Seketika Ameera ingat sosok Clara. Bukankah anak ini yang bersama pria sombong di lift tadi? Yang menyalahkan papanya sendiri karena telah menabraknya?
"Ngapain kau main sendiri di lorong ini. Tidak baik, mana papamu?" Clara mengangkat bahunya. Astaga! Lalai sekali orang tua bocah ini, membiarkan anaknya bermain di rumah sakit sebesar ini tanpa pengawasan.
"Clara membezuk siapa di rumah sakit ini, nanti kamu kesasar gimana?" ucap Ameera khawatir.
"Eyang buyut. Kamarnya disana." Clara asal menunjuk ke ujung lorong. Ameera melihat diwajah Clara tersirat rasa takut yang berusaha dia sembunyikan. Mungkin saat ini gadis ini dilanda panik. Monolog hatinya.
"Kamu ingat kamar Eyang?" Clara menggeleng.
"Bentar ya, Tante antar kamu sama Eyang." Ameera masuk ke dalam ruangan mau pamit kepada Saras. Saras sama terkejutnya dengan Ameera saat mendengar cerita soal Clara.
"Ya, udah. Kamu antar saja, Ame. Mumpung Celia masih tidur."
"Siapa yang sakit Tante?" ucap Clara di belakang Ameera. Ternyata Clara mengikuti langkah Ameera masuk ke ruang rawat Celia.
"Anak Tante, namanya Celia." Clara manggut dan menurut saja saat Ameera. memegangi lengannya keluar dari kamar Celia dirawat.
"Hei, tunggu!" kejar seseorang berteriak memanggilnya. Langkah Ameera terhenti dan mendengus melihat siapa yang memanggil namanya.
"Mau kau bawa kemana putriku?" seru Edgar tajam. Kedua netranya membulat sempurna serta napas yang menderu. Dia sudah mencari Clara ke setiap lorong rumah sakit. Tidak taunya perempuan ini lagi yang buat masalah dengannya.
"Kamu kira aku penculik? Makanya jadi orang tua jangan suka lalai. Membiarkan anaknya berkeliaran." Dengus Ameera karena tanpa basa-basi Edgar mencurigainya.
"Lha, ngapain kau bawa-bawa anak saya." Edgar mengintimidasi.
"Saya mau mengantarnya ke kamar Eyangnya!" bantah Ameera terpancing emosi.
"Papa, jangan marahi Tante Ameera. Clara yang salah." Isak Clara di belakang tubuh Ameera. Clara sangat ketakutan melihat papanya yang meluapkan amarah.
"Dengar sendiri 'kan kata anaknya." Ameera menatap tajam ke arah Edgar. Edgar tertegun mendengar suara Ameera. Yang tanpa ragu memakinya juga.
Baru pertama kali ini ada perempuan yang berani membentaknya.Dan ini kali ketiga mereka bertemu. dan selalu salah paham.
"Tante, tolong antar Clara ke kamar Eyang." Clara tidak mau lepas dari Ameera. Tangannya memegang erat rok Ameera.
"Ayah macam apa kamu sampai anakmu ketakutan seperti ini." sergah Ameera antipati. Teringat akan perlakuan Caleb pada putrinya.
"Clara, ayo. Papa yang antar kamu," bujuk Edgar namun Clara tetap tidak mau melepas Ameera. Edgar sampai keheranan, bisa-bisanya putrinya begitu percaya pada Ameera, yang baru dikenalnya.
"Iya, Tante akan antar kamu." Ameera juga membujuk Clara agar tidak ketakutan lagi.
Dituntunnya lengan mungil itu. Edgar terpaksa menuruti kemauan putrinya. Lalu berjalan di depan Ameera. Seraya memegangi Clara.
"Mana Clara!" teriak Kakek Lukas begitu melihat kemunculan Edgar tanpa Clara. Dengan langkah ragu Ameera muncul bersama Clara. Seketika wajah tua itu berubah. Dia terkejut melihat sosok Ameera. Wanita yang menolongnya tempo hari.
Ameera juga tak kalah terkejutnya saat melihat kakek yang dia tolong adalah Eyang buyut, Clara.
"Ka-mu yang kemarin menolong Kakek?" ucap Kakek Lukas terbata. Edgar kaget mendengar ucapan kakeknya. Edgar menatap kakeknya dan Ameera.bergantian.
"Eyang udah kenal sama Tante Ameera?" ucap Clara juga kaget.
"Apa khabar kakek?" sapa Ameera seraya menyalami tangan Kakek Lukas. Merasa bersalah juga karena tidak jadi membezuk beliau, karena putrinya mendadak sakit
"Berkat pertolonganmu waktu itu, Kakek selamat. Terimakasih." Kakek Lukas menatap Ameera lembut.
"Tidak apa-apa, Kek. Hanya kebetulan saja aku yang menolong Kakek."
Edgar terkesima saat mengetahui kalau Ameera lah yang telah menolong kakeknya. Heran, kenapa ingatan kakeknya setajam itu, mengingat beliau sudah pikun.
"Terimakasih ya telah menolong kakek saya waktu itu." ucap Edgar karena telah salah paham pada Ameera. Terlebih karena sikap kasarnya setiap kali mereka bertemu.
"Kakek juga ingat, siapa yang telah membuang kakek di jalanan." celetuk Kakek Lukas tiba-tiba. ***