Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Hunter
Malam hari, Haerim berjalan bersama Alexey menyusuri jalanan Icheon.
"Sayang, kamu nggak lanjut cari Seon Joon?" tanya Haerim penasaran.
"Belum ada kabar dari bawahan," jawab Alexey singkat.
"Oh," gumam Haerim. Mereka terus melangkah, bergandengan tangan.
Saat melewati sebuah warung ramen, Haerim menarik lengan Alexey pelan. "Sayang, mau ramen nggak? Kayaknya enak tuh."
"Kamu lapar?"
"Iya sih, dari siang belum makan," jawab Haerim.
Alexey meraih pinggangnya dan mengarahkannya masuk. "Lain kali bilang kalau lapar," gumamnya.
"Tadi nggak nafsu aja," jawab Haerim santai.
Pedagang di dalam langsung menyambut mereka. "Eh, selamat datang! Mau duduk di mana, Tuan, Nona?"
"Di sini aja, Pak," ucap Haerim sambil memilih meja dekat jendela. "Dua ramen original ya."
"Oke, sebentar ya Nona, langsung saya buatkan!"
Ramen baru saja dihidangkan dan Haerim langsung menyantapnya dengan lahap.
Alexey menatapnya dengan ekspresi geli. "Haerim, nggak ada yang rebut itu. Makan pelan-pelan."
"Tapi ini enak banget sih sayang, nggak bisa nahan," jawab Haerim dengan mulut masih penuh, senyumnya konyol.
Alexey tidak berkomentar lagi. Ia mengusap rambut Haerim pelan, lalu menikmati ramennya sendiri.
Aku harap momen ini bisa berlangsung selamanya. Haerim menatap Alexey sekilas, dada terasa hangat. Perasaan ini sudah terlanjur tumbuh dan aku tidak bisa membendungnya lagi.
Semetara itu Hunter tiba di apartemen Lisa dan langsung masuk.
Sekarang aku harus atur waktu pulang demi seorang wanita, gumamnya dalam hati, meremehkan dirinya sendiri. Tapi langkahnya tidak melambat; ia justru ingin tahu apa yang sedang dilakukan Lisa.
Semua lampu sudah mati. Hunter masuk ke kamar dan mendapati Lisa sudah tertidur. Tanpa pikir panjang, ia naik ke ranjang dan berbaring di sampingnya.
"Aku sudah pulang," bisiknya rendah. "Janji ditepati."
Lisa membuka mata perlahan, masih berat. Senyumnya tipis, setengah sadar. "Ini sudah larut banget, Tuan katanya tadi akan cepat selesai," bisiknya protes.
Hunter menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Lisa, menatapnya tajam. "Kamu sangat merindukanku?"
Lisa menggigit bibirnya. Gugup itu datang lagi tanpa permisi. Ia berbalik memunggungi Hunter. "Nggak sama sekali," ucapnya pura-pura acuh. "Siapa yang mau rindu sama orang menyebalkan kayak Tuan. Aku cuma nagih janji."
Lisa menatap Hunter yang terdiam. Lelaki itu membuka jas dan kemejanya, lalu memeluk Lisa erat dari belakang. "Tidur."
Tapi pelukan itu justru membuat Lisa semakin tidak tenang. Ia menggeliat tanpa sadar.
"Lisa." Nada Hunter tajam. "Jangan pancing aku. Ini sudah larut; atau kamu mau aku buat tidak bisa tidur sepanjang malam?"
Jantung Lisa berdebum kencang. "A-aku nggak maksud pancing siapa-siapa," bisiknya gugup. "Aku cuma nggak terbiasa dipeluk."
Hunter langsung melepaskan pelukannya.
"Hei, kenapa dilepas?" tanya Lisa kesal.
"Kamu sendiri yang bilang tidak terbiasa," jawab Hunter tenang.
Lisa berbalik menatapnya. "Tidak terbiasa bukan berarti tidak nyaman, Hunter!"
Hunter menghela napas. "Kamu sebenarnya nyaman atau tidak?"
Lisa mengumpulkan keberanian, menyentuh pipi Hunter pelan. "Kalau aku nggak nyaman, dari tadi aku sudah usir kamu karena berani-beraninya cium aku." Senyumnya rapuh, matanya menatap Hunter langsung. "Aku sudah puluhan kali bilang ke diri sendiri," bisiknya pelan, "bahwa kamu orang baik yang nggak akan sakitin aku."
Hunter terdiam. Dari kata-kata itu ia mulai memahami; ada luka lama yang masih Lisa simpan rapat-rapat. Tapi ia tidak bertanya lebih jauh.
Ia kembali memeluk Lisa erat. "Kalau begitu tidur sekarang," ucapnya rendah. "Aku sudah memelukmu."
Lisa memperhatikan Hunter yang sudah memejamkan mata. Ia sendiri tidak bisa tidur, ada dorongan kuat yang sulit ia tahan.
"Hunter," panggilnya pelan.
Hunter membuka mata, menatapnya. "Ada apa?"
Lisa mengusap rahangnya tanpa sadar, lalu bertanya pelan. "Kamu... Kamu pernah bilang kakaknya Alexey, tapi aku masih penasaran."
Hunter terdiam sejenak. Tidak bisa cerita yang sebenarnya. Tapi aku tidak mau bohong.
"Aku kakak angkat Alexey," jawabnya akhirnya.
Lisa refleks kaget. "Berarti kamu bukan kakak kandungnya—"
"Bukan," potong Hunter sebelum Lisa menyelesaikan kalimatnya. "Aku hanya anak yang dibesarkan oleh ayah Alexey. Bukan darah yang sama."
"Orang tua kandung kamu siapa?" tanya Lisa hati-hati.
Hunter terdiam. Harus jawab apa?
"Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. "Sejak bayi aku sudah di panti asuhan."
Lisa membeku. Rasa bersalah langsung menyergapnya; ia merasa telah menyentuh luka yang seharusnya tidak ia buka. Ia memeluk Hunter erat tanpa pikir panjang.
"Maafkan aku, Hunter," ucapnya, suara tersendat. "Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu kamu menyimpan luka sedalam ini."
Air matanya jatuh deras. Hunter membiarkan pelukan itu, merasakan ketulusan yang rapuh dari wanita di sampingnya. Ia tidak berkata apa-apa.
"Aku tidak pernah sangka," bisik Lisa di sela tangisnya, "pria yang selama ini terlihat sekuat dan sedingin kamu... ternyata menyimpan luka sebesar itu."
Hunter tersenyum tipis, mengusap kepala Lisa. "Sudahlah, jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Aku tidak semenyedihkan itu."
Lisa tidak peduli. Ia mengangkat wajahnya dan mencium Hunter pelan, lalu semakin dalam hingga keduanya larut dalam ciuman panjang.
Lisa yang melepaskannya lebih dulu. "Terima kasih sudah mau cerita, Hunter," bisiknya. "Ayo tidur."
Hunter mengeratkan pelukannya. "Sekarang kamu yang masih punya hutang cerita padaku."
Lisa mengangguk dalam pelukannya, berbisik pelan. "Aku akan cerita... suatu saat nanti."
00:09 pagi Kampus Icheon.
Pagi hari, Alexey berdiri di parkiran kampus menunggu Hunter. Tak lama sebuah mobil berhenti dan Hunter turun bersama Lisa. Setelah Lisa masuk ke dalam gedung, Hunter menghampirinya.
"Selamat pagi, Tuan."
"Pagi," balas Alexey datar. "Kamu ke kampus cuma untuk mengantar dosen itu?"
"Bisa dibilang begitu," jawab Hunter santai. "Tapi aku punya informasi penting."
Alexey menatapnya. "Seberapa penting?"
"Sangat penting, Tuan." Hunter menatap balik tanpa ekspresi. "Target sudah setuju menjadikan aku pengacaranya."
"Bagus," ucap Alexey dingin. "Terus cuci otaknya. Tanamkan ketakutan terhadap keluarganya sendiri."
"Siap, Tuan." Hunter mengangguk. "Hari ini aku akan temui Junhwan. Semua rencana sudah matang."
Alexey mengangguk sekali, lalu berbalik menuju kelas.
Ini akan menjadi permainan yang sangat menarik, gumamnya dalam hati, langkahnya tenang dan pasti. Kim Hwaran, kamu akan menyaksikan anak dari wanita yang pernah mereka singkirkan, kini menghancurkan mereka satu per satu.
Di dalam kelas suasana ribut. Yubin sudah mengoceh sejak tadi.
"Aku muak banget lihat video itu," ucap Yubin dengan nada jijik.
"Kamu tahu nggak siapa ceweknya?" tanya Haerim penasaran.
"Nggak tahu, wajahnya di-blur soalnya." Yubin bergidik, lalu menyeringai. "Tapi kalau diperhatiin... goyangannya itu pro banget, kayak ular kepanasan."
Haerim langsung mencubit lengan Yubin. "Apaan sih Yubin, nggak usah kegatelan deh jadi cewek!"