Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA BARU
Pemberitaan tentang Lovy beberapa kali masih jadi topik di media sosial, dan ada kalanya menyangkut Kya dan Bagas. Netizen sebenarnya sudah bosan apalagi sudah banyak fakta kalau Lovy yang punya hati buruk, dan pantas tak dicintai oleh Bagas. Tapi tetap saja, kalau ada pemberitaan Lovy masih banyak yang komentar juga.
Semenjak disinggung oleh Lovy, views akun Kya meningkat. Ia kaget juga padahal jarang posting aktivitasnya, eh views meningkat drastis. Dia jadi berpikir sayang kalau tidak dimanfaatkan, Kya pun berkonsultasi dengan tim marketing, aoa manfaat centang biru.
"Perasaan kita yang kerja keras bikin konten yang dapat centang biru malah Bu cantik," ujar Angga, salah satu tim marketing online.
"Disenggol si selebgram terus sih, makanya akunku tumbuh!"
Angga pun menjelaskan, salah satu manfaat centang biru itu terkait kredibilitas akun, "Paling gampangnya mudah viral gitu deh."
"Bisa menghasilkan cuan?" tanya Kya penasaran.
"Bisa."
"Lewat?"
"Endorse, kolab dengan pihak tertentu, serta eksklusif fitur IG."
"Bu Kya bisa pilih investasi emas, buat aja video 8 detik di area etalase biar orang melek inves ke emas!"
Kyara mengangguk, paham, dia akan mencoba dulu sembari melihat konten para tim untuk promosi emas di toko Justin ini. Kalau Lovy menyenggolnya untuk urusan cinta, maka Kya akan memanfaatkan pengaruh Lovy untuk mencari pundi-pundi cuan.
"Lama-lama jadi artis kamu!" sindir Aditya yang tahu IG sang adik sekarang centang biru. "Gak usah neko-neko deh, Dek! Kehidupan artis tuh tipu-tipu banget, harus tampil sempurna. Gak oke dikit atau menyalahi aturan juga akan dikomentari oleh netizen. Mana netizen Indonesia ini sangat detail melebihi CCTV."
Kya tertawa mendengar celotehan sang kakak, yang melihatnya sibuk mendalami dunia perkontenan. Mungkin sang kakak takut, kehidupan damai Kya harus terusik dengan kabar yang tak benar. Atau bahkan kehidupan glamor yang dilakukan Kya setelah akunnya centang biru. Kasus dengan Lovy kemarin saja sangat mengganggu, beberapa kali ada seseorang yang memotret rumah mereka, belum lagi beberapa orang saat Adit dan Kya ke cafe begitu, ada yang menyapa mantannya Bagas ya. Adit merasa risih, dan tak berharap sang adik masuk dunia itu.
"Apa sih, Kak. Kya juga gak mau kali, kehidupan Kya diganggu oleh orang yang hanya lihat Kya sebatas di depan postingan."
"Ya makanya, gak usah main begituan! Kalau mau posting ya posting saja gak usah ada niatan ingin terkenal."
"Bukan terkenal, tapi butuh cuan!"
"Kenapa harus cari cuan lewat IG! Kamu belum cukup gaji dari tokonya Justin?" Kya mengedikkan bahu.
"Hanya ingin memanfaatkan centang biru saja."
"Mending gak usah. Kamu bela-belain centang biru tapi kehidupan pribadi kamu terusik, tentu ada yang harus dibayar saat kamu terkenal."
Kya makin tertawa, "Kak, Kya belum seterkenal itu, Kak. Kejauhan kakak mikirnya!"
"Ya antisipasi lah, kalau kamu terkenal di situasi sekarang, bisa jadi si menor itu (panggilan Aditya pada Lovy) menyindir kamu pansos, cari sensasi lewat dia. Mau?"
Baru deh Kya diam, apa yang dipikirkan Aditya benar juga. Lagian selama ini, Kya juga santai saja saat bermain IG niatnya hanya dokumentasi digital tanpa ada tujuan lain, kenapa tiba-tiba ingin memanfaatkan centang biru? Apa secara tidak langsung ia masuk jebakan Lovy, agar bisa setara dengan dia? Waduh, enggak deh. Lovy bukanlah standar yang diinginkan Kya.
"Hidup kalau sudah lurus, gak usah kepo dengan mencari aktivitas lain, yang justru bisa merusak kepribadian kamu sendiri," begitu Aditya mengingatkan sang adik.
"Iya, Kak!"
"Usia kamu masih muda, masih 21 tahun, kamu gak ingin kuliah S2 ke luar?"
"Kenapa harus di luar?"
"Emang gak bosen merasakan pendidikan di Indonesia?"
"Kakak begitu?"
"Enggak, kakak sudah punya niatan direct PhD by research kok, mumpung under 30 cari pengalaman di luar biar hidup gak monoton dengan kebiasaan orang Indonesia."
Kya menatap sang kakak aneh, Aditya bukanlah laki-laki yang mudah keluar dari comfort zone, pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sehingga dia mengambil langkah itu.
"Ngaku, kakak lagi ada masalah di kantor?" todong Kya dengan memicingkan mata pada Aditya.
"Gak ada. Emang sudah punya rencana saja."
"Gak mungkin, gak mungkin kakak mau melepas pekerjaan yang membuat kakak zaman, dan tiba-tiba banting setir. Apalagi kakak pernah bilang, kakak sudah bosen sekolah. Hayo ngaku!"
Aditya langsung menyentil kening sang adik, terlalu kepo di balik alasan dirinya mengajak Kya sekolah lagi. "Ngaku Kak!"
"Ck, gak ada apa-apa!"
"Mantan kakak nikah?" tebak Kya asal, dan ekspresi Aditya langsung berubah, sembari bergumam sial.
"Nah nah nah!"
"Ck, kenapa langsung kepikiran dia sih?"
"Benar kan?" Aditya terpaksa mengangguk. Keduanya terlalu dekat, sehingga sulit untuk menutupi masalah satu sama lain. Kya melongo setelah mendengar bahwa mantan sang kakak akan menikah dengan pemilik perusahaan asuransi tempat Aditya bekerja sekarang.
Bukannya simpati, Kya malah tertawa ngakak, "Kunikahi bosmu!" ledek Kya seolah menyebutkan judul sinetron yang sesuai dengan kondisi sang kakak. Ah Aditya kesal, harusnya sedih malah diledek Kya begini.
"Kalau kita sekolah ke luar mama dan papa bagaimana?"
"Halah, mereka palingan melancong. Kayak gak tahu kebiasaan mama dan papa saja, sejak kita SMA mana pernah weekend mama dan papa diam di rumah, mereka mah pacaran!"
Kya tertawa dan membenarkan kebiasaan kedua orang tuanya. Menurut mama dan papa, beliau kembali mengisi tangki cinta sebagai pasangan, karena saat Kya dan Aditya sudah SMP dan SMA, sudah bisa mandiri, bisa ditinggal, dan lagi mereka sudah sangat berperan mengisi waktu sebagai orang tua saat Adit dan Kya kecil dulu. Saatnya kembali ke setelan awal, menjadi pasangan yang bahagia.
"Kakak mau mandiri apa beasiswa?"
"Mandiri mungkin, setelah di sana baru cari beasiswa."
"Buru-buru amat."
"Kakak gak setegar kamu, melihat mantan menikah di depan mata. Apalagi masih sayang-sayangnya."
"Terus Kakak mau ke mana?"
"Jepang asik kali ya!" Kya memutar bola matanya malas, ini rencana masa depan loh, kok bisa memilih tujuan pendidikan hanya karena asik.
"Boleh, kakak dulu, habis itu kalau memang kuliah di sana asik, aku ikut!"
"Kapan kakak apply?"
"Kakak sudah apply kok dari sebulan lalu, dan pengumumannya minggu depan. September atau gak oktober berangkat?"
Kya melongo, serangan Aditya mengubah hidup secepat ini tanpa konsultasi pada mama dan papa. "Hah cepat amat? Emang dia nikah kapan?"
"Desember, seminggu setelah kita putus, mereka bertunangan dan kakak langsung apply kuliah."
"Percintaan orang dewasa dan beda agama memang berat ya!"
"Dan hanya pendidikan yang bisa menghapus beratnya kisah cinta beda agama," sahut Aditya sembari mengacak rambut sang adik.