Seorang CEO tampan blesteran Turki-Indonesia, Alexander Kemal Malik, putra satu-satunya Billionaire, Emir Kemal Malik, raja properti dan ritel, Malik Corp, Turki, dipaksa menikah dalam waktu satu bulan. Jika tidak Alex hanya ada dua pilihan, dijodohkan atau dicabut hak warisnya. Sialnya sang kekasih, Monica Young, model internasional Hongkong, lebih memilih kariernya dan meminta waktu satu tahun untuk menikmati puncak kariernya sebelum melepasnya untuk menikah.
Tapi waktu yang ada hanya satu bulan. Atau Alex harus merelakan, dijodohkan ataukah melepaskan semua sahamnya untuk didonasikan?
Dan ide menikah kontrak dari Monica membuatnya bertemu dengan gadis manis Rianti Azalea Jauhar. Relakah Monica, saat Alex menikahi Rianti? Sanggupkan Rianti tidak jatuh cinta pada Alex? Saat tiba kontraknya selesai, mampukah Alex menceraikan Rianti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tya gunawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Married
Rianti bimbang. Perasaannya campur aduk jadi satu. Ia selalu meyakinkan dirinya. Bukankah Alex akan berjanji untuk menjaganya? Dan bukankah ia juga akan memberikan jaminan agar pernikahan ini berjalan sempurna, tanpa saling menyakiti satu sama lain? Dan bukankah pernikahan pura-pura ini hanya berlaku untuk setahun?
Jadi, kenapa sekarang kakinya gemetar dan dahinya berkeringat dingin, saat tante Desy memakaikan baju pengantin padanya?
Rianti bahkan berdiri dengan gugup dalam balutan kebaya berwarna gold yang sangat indah.
"Kamu cantik sekali, sayang," pujian tante Desy itu membuat Rianti tersipu-sipu.
Selama beberapa jam ia dikurung di dalam ruang ganti bersama tante Desy dan anak buahnya yang membantunya memakai baju pengantin yang cukup ribet dan berat.
Ia termangu di depan cermin pada meja riasnya, menatap bayangannya. Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sementara Alex berada di sebelah ruangan Rianti sedang mencoba jasnya bersama Tommy.
Alex sudah menentukan sikap untuk menikah dengan Rianti. Tidak ada yang bisa mengubah pendiriannya. Bahkan Monica Young sekalipun.
Ia tahu, akan banyak orang yang akan menyayangkan pernikahan ini, tak terkecuali rekan bisnisnya yang mengharapkan Alex menjadi menantunya.
Ia pasti akan membuktikan ia layak sebagai penerus Malik's Corp. Dan ia akan melakukan apapun demi memperoleh saham perusahaannya, fasilitasnya, dan semua milik keluarga Malik. Bahkan termasuk melakukan pernikahan palsu dengan Rianti.
Saat ini, pria itu tengah berdiri terpaku di ballroom hotel yang telah disulap cantik menjadi ruang pernikahan.
Alex menatap kehadiran sosok wanita cantik dengan wajah yang dirias sederhana yang tengah melangkah pelan menuju ke arahnya dalam gandengan Anne dan ibu mertua.
Mata pria tampan itu tak berkedip, memandang sang calon istri yang terlihat menawan dalam balutan kebaya pengantinnya.
Mereka duduk berdampingan di kursi pelaminan dengan meja panjang berlapis kain satin berwarna emas. Ada rangkaian bunga yang disematkan di kursi dan di atas meja.
Orang tua dan keluarga Rianti duduk di kiri pengantin, sementara Orang tua Alex duduk di sebelah kanan pengantin.
Ucapan syukur bergema di ballroom hotel berdesain mewah dan elegan, saat Alex selesai mengucapkan akad nikah.
SAH
Mereka sudah sah menjadi suami istri di mata hukum dan agama. Tapi tidak dengan kontrak perjanjian mereka.
Hati Rianti mencelos. Senyum bahagia Bapak dan Ibu yang ada di sampingnya membuatnya sesak. Ia merasa sangat bersalah.
Dengan mata berkaca-kaca, Rianti meraih tangan Alex dan mencium punggung tangannya. Setelah mengucapkan doa, Rianti kembali digiring ke kamar ganti untuk berganti pakaian.
🍁🍁🍁
Tubuh Rianti menegang. Mereka sedang berpose untuk sesi pemotretan setelah akad nikah selesai dilaksanakan.
"Ri, kenapa kau tegang begitu?" tanya Alex sambil memeluk pinggang Rianti dari belakang.
Pria itu tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa dan mereka adalah pasangan yang berbahagia.
"Tersenyumlah," bisik pria itu di telinga Rianti.
Kini Rianti sudah berganti pakaian dengan gaun pengantin berwarna putih yang elegan.
Mereka bersikap layaknya pengantin biasa yang sedang jatuh cinta.
Jantung Rianti berdetak tak karuan, tiap kali merasakan sentuhan Alex di kulitnya. Ada gelenyar aneh dan aliran listrik menjalar di seluruh tubuhnya.
"Alex, kau bilang pernikahan ini hanya sederhana. Kenapa tamunya banyak sekali?" desah Rianti bingung.
Alex tertawa kecil.
"Ini hanya kolega terdekatku saja. Bahkan aku tidak mengundang teman-temanku. Mereka semua kolega terbaik Baba dan aku."
Rianti hanya mendesah. Tidak tahu harus berbuat apa.
Ia hanya menatap kagum ruangan pernikahan yang mewah, yang dipenuhi dengan bunga-bunga segar, serta lampu kristal yang digantung di langit-langit, dan hidangan lezat serta berlimpah di setiap meja berlapis taplak putih dengan pita-pita di setiap sisinya.
Ia menghela napas kala mengingat, semua ini hanya mimpi belaka. Kenapa harus buang-buang uang hanya untuk kepura-puraan.
Ia merasa sia-sia melihat dekorasi pelaminannya yang sangat cantik dan mewah, didominasi warna merah, putih dan gold.
Ia merasa kasihan pada Anne yang sudah menyiapkan semua ini jauh-jauh hari. Pernikahan besar-besaran putra tunggal satu-satunya, pewaris kerajaan bisnis Malik's Corp tentu bukan pernikahan sembarangan.
Tamu yang hadir entah siapa dan dari mana datang bergantian. Rianti hanya tersenyum kecut menyambut banyaknya ucapan selamat.
"Kamu capek?" bisik Alex di telinganya.
Rianti menggeleng, "Lumayan. Apa acaranya masih lama?"
"Kalau kau capek. Kau bisa beristirahat lebih dulu."
Rianti tidak menjawab. Dia memang lelah. Semalam tidak bisa tidur, karena gamang dengan acara ini. Kini ia harus berdiri berdampingan dengan Alex. Pria tampan yang kini telah sah menjadi suaminya.
Rianti terduduk di pelaminan. Kelelahan membuat kakinya pegal. Ia memijat-mijat kakinya.
Alex yang melihatnya mringis kesakitan duduk di sebelahnya dan bertanya pelan,
"Kau kenapa?"
"Kakiku capek, Alex. Sepatunya ketingian."
"Buka sepatumu kalau begitu."
"Tidak. Masih banyak tamu."
"Tidak perlu kau pedulikan. Ayo sini aku bantu."
Rianti terkesiap saat Alex duduk berlutut di depannya, dan membantu membuka sepatu dengan menyibak bagian bawah gaun pengantinnya.
Setelah sepatu terlepas, pria itu mendongak dan Rianti menatap sepasang mata biru kehijauan itu. Mereka masih dalam posisi berpandangan saat sebuah suara merdu memanggil nama suaminya.
"Alex."
Alex menoleh begitu juga Rianti. seorang wanita berwajah oriental yang sangat cantik dengan rambut hitam panjang dan kulit putih mulus bagai porselen mendekati mereka.
Alex bangkit dari tempatnya berlutut dan berguman pelan.
"Monica?"
Wanita cantik itu melangkah gemulai mendekati Alex. Dari tempat duduknya Rianti bisa melihat betapa tinggi dan langsingnya wanita itu. Dia juga mengenalinya sebagai model terkenal dan juga kekasih Alex.
"Kamu tega padaku, Alex," Monica meraih tangan Alex dan menggenggamnya. Tidak peduli pada Rianti yang masih menatapnya dengan heran.
"Aku memang tahu kamu menikah pura-pura tapi itu tetap saja menghancurkan hatiku."
Alex memandang Monica lekat-lekat, keterkejutan masih terlihat di wajahnya. Setelah sadar, ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Monica.
"Monica, please. Jangan membuat masalah di sini."
Monica tersenyum, seakan tidak mendengarkan permohonan Alex.
Matanya menatap Alex lekat, "Sayang sekali, pesawatku lagi-lagi delay, jika tidak aku akan membuatmu membatalkan pernikahan ini." Meski diucapkan dengan tersenyum dan bahasa ringan, tapi Rianti merasa dadanya sesak mendengarnya.
Aneh. Kenapa dia merasa sakit hati?
Alex menarik napas perlahan, pria itu melepaskan tangannya dari genggaman Monica, dan menoleh ke Rianti.
"Monica, perkenalkan, ini istriku, Rianti."
Melirik sekejap pada Rianti yang duduk di pelaminan, Wanita cantik itu menghampirinya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Rianti.
"Kau ingatlah. Aku akan merebutnya kembali," Wanita cantik itu berbisik pelan, yang hanya didengarkan oleh Rianti yang memucat.
Monica menegakkan tubuh dan melenggang menuju pada tempat para tamu undangan lainnya berada.
Dari tempat duduknya, Rianti bisa melihat mata Alex yang terpaku mengawasi gerak-gerik Monica dengan intens. Ada semacam daya tarik kuat diantara keduanya. Membuat Rianti serasa merebut kekasih orang.
Rianti memejamkan mata dan berusaha menghalau perasaan gundah.
Saat ia melirik ke samping, ia melihat bapak dam ibunya seperti kebingungan menatapnya. Mereka berdua seolah berdiri terasing di tengah-tengah kemewahan.
Rianti lagi-lagi mendesah. Dalam hati kecilnya, gadis itu merasa kasihan melihat bapak dan ibunya. Dia merasa bersalah telah menyeret kedua orang tuanya dalam permainan konyol orang-orang kaya ini.
Rianti sendiri merasa tertekan. Baju mewah yang ia pakai, orang-orang yang sibuk berbincang dan menikmati hidangan, serta wajah yang terpaksa untuk selalu tersenyum, membuatnya muak. Kebohongan ini benar-benar mencekiknya. Dia ingin agar acara cepat berakhir. Agar dia tidak lagi merasa tersiksa dengan kebohongan yang membuatnya terluka.
🍁🍁🍁