Aira Nayara seorang putri tunggal dharma Aryasatya iya ditugaskan oleh ayahnya kembali ke tahun 2011 untuk mencari Siluman Bayangan—tanpa pernah tahu bahwa ibunya mati karena siluman yang sama. OPSIL, organisasi rahasia yang dipimpin ayahnya, punya satu aturan mutlak:
Manusia tidak boleh jatuh cinta pada siluman.
Aira berpikir itu mudah…
sampai ia bertemu Aksa Dirgantara, pria pendiam yang misterius, selalu muncul tepat ketika ia butuh pertolongan.
Aksa baik, tapi dingin.
Dekat, tapi selalu menjaga jarak, hanya hal hal tertentu yang membuat mereka dekat.
Aira jatuh cinta pelan-pelan.
Dan Aksa… merasakan hal yang sama, tapi memilih diam.
Karena ia tahu batasnya. Ia tahu siapa dirinya.
Siluman tidak boleh mencintai manusia.
Dan manusia tidak seharusnya mencintai siluman.
Namun hati tidak pernah tunduk pada aturan.
Ini kisah seseorang yang mencintai… sendirian,
dan seseorang yang mencintai… dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan
Tak lama kemudian—
Tring..
Ponsel Lala berbunyi. Ia melirik layar, membaca pesan itu, lalu menatap Aira sekilas.
Namun Aira tetap fokus pada minumannya. Sendok kecil itu ia aduk perlahan, seolah mencerminkan perasaannya yang ikut berputar tak menentu.
“Gue duluan ya, Ra,” ujar Lala sebelum beranjak pergi.
Kini hanya tersisa Rayhan dan Aira di meja itu.
“Aira,” panggil Rayhan.
Aira tak menyahut.
“Aira.” Rayhan memanggil lagi.
“Aira, lo kenapa? Ngelamun,” ucapnya sambil menepuk punggung tangan Aira yang tergeletak di meja—satu tangan masih mengaduk minuman, satu lainnya berselonjor.
Tepukan itu membuat Aira terkejut. Prang! Gelas di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Seperti perasaannya saat itu—hancur.
“Duh… jadi pecah,” gumam Aira.
Ia segera bangkit dari kursinya lalu jongkok, berniat membersihkan pecahan gelas tersebut. Rayhan ikut jongkok di sampingnya.
“Ra, nggak usah, nanti luk—”
Ucapan Rayhan terhenti.
“Aww…” ringis Aira.
“Baru gue mau bilang, luka kan jari lo,” ujar Rayhan cemas.
Pecahan kaca tajam itu melukai jari Aira. Dari kejauhan, Aksa yang memperhatikan sempat hendak menghampiri. Namun langkahnya terhenti saat melihat Rayhan dengan sigap menggenggam jari Aira, mengambil beberapa lembar tisu, lalu membersihkan darah yang terus mengalir.
Setelah beberapa tisu penuh darah, Rayhan refleks membersihkan jari Aira dengan mulutnya, berusaha mengurangi rasa perih.
Aira sontak menoleh, terkejut. Tatapannya terpaku pada wajah Rayhan—kepedulian itu nyata.
Sementara itu, Aksa yang menyaksikan momen tersebut merasakan sesak menekan dadanya. Ia memilih pergi, tak ingin berlama-lama menyaksikan adegan itu.
Ray, lo baik. Lo peduli, lo perhatian… tapi seharusnya itu bukan buat gue, batin Aira. Ia kagum pada Rayhan, mengakui ketulusannya, namun hatinya tak bisa dipaksa. Perasaannya sudah lebih dulu jatuh pada seseorang.
“Masih perih?” tanya Rayhan.
“Sedikit… tapi makasih ya, Ray. Lo selalu baik sama gue,” jawab Aira lirih.
“Sama-sama. Kalo lo butuh gue, kabarin kapan pun,” ucap Rayhan.
Aira membalas dengan senyuman tipis.
Ia lalu menoleh ke arah tempat Aksa tadi duduk. Kosong.
Aksa beneran mulai menjauh dari gue, batin Aira.
Aira terdiam, pandangannya terpaku ke arah tempat duduk Aksa di kantin yang kini kosong.
Rayhan memahami perubahan sikap Aira. Ia tahu, jarak antara Aira dan Aksa semakin terasa—bukan hanya oleh Aira, tapi juga oleh orang-orang di sekitarnya.
Di satu sisi, Rayhan merasa senang karena Aira tak lagi selalu berada di samping Aksa. Namun di sisi lain, hatinya ikut perih melihat Aira yang terdiam seperti seseorang yang sedang kehilangan sesuatu yang berharga.
Dan memang benar—Aira sedang patah hati.
Patah yang tak bisa direkatkan, bahkan dengan lem paling kuat sekalipun. Karena hati yang retak bukan benda mati, dan rasa sakitnya tak pernah bisa diukur dengan penggaris mana pun.
Rayhan kemudian memegang kedua pundak Aira, membantunya berdiri.
“Kita ke kelas, ya,” ujar Rayhan lembut.
Aira hanya mengangguk pelan, tubuh dan hatinya sama-sama terasa lemas.
...****************...
Sedangkan Galih, ia terus mencari cara untuk mendapatkan maaf dari Rosa.
Kejadian kemarin menjadi penyesalan terbesarnya—saat ia memanfaatkan ketulusan Rosa demi sebuah situasi, tanpa memikirkan dampak yang akan ditinggalkan.
Rosa benar-benar terluka.
Apa yang ia kira tulus, ternyata menyimpan maksud lain di baliknya. Dan ketika kebenaran itu terungkap, rasa sakit di hati Rosa tak lagi bisa disembunyikan.
Galih baru menyadari satu hal:
bukan kebohongan besar yang paling menyakitkan, melainkan kepercayaan awal yang dikhianati.
Rosa tak lagi duduk di taman. Tak lagi menoleh saat mereka berpapasan di koridor. Bahkan namanya pun seolah menghilang dari dunia Galih—ada, tapi tak bisa dijangkau.
Galih mencoba menyapa.
“Ros…”
Tak ada jawaban. Rosa memilih mempercepat langkah.
Ia mencoba lewat pesan. Tak dibaca. Tak dibalas.
Dan untuk pertama kalinya, Galih belajar satu hal:
menyakiti itu hanya butuh satu kesalahan, tapi menebusnya bisa memakan waktu yang panjang.
Galih mulai dari hal yang paling berani—mengakui kesalahan di depan semua orang yang terlibat.
Ia datang ke Gina.
“Gue salah,” ucapnya tanpa alasan.
“Kalau lo mau lapor ke BK, laporin. Gue siap tanggung akibatnya.”
Gina menatapnya lama.
“Lo ngelakuin ini karena takut… atau karena nyesel?”
“Karena gue sadar gue jahat,” jawab Galih jujur.
“Dan Rosa nggak pantas nerima itu.”
Tak berhenti di situ, Galih juga mendatangi Aira.
“Maafin gue,” katanya menunduk.
“Gue bikin lo disalahin sama gina, bikin lo yang jadi ancaman gina. Itu salah gue sepenuhnya.”
“maksud lo yang ngunciin gina kemarin,itu lo?”
“iya ra gue iseng.”
Aira terdiam, lalu ia bicara “lo minta maaf ke gina bukan ke gue ,tapi pesan dari gue,gue harap lo ga ngulangin kesalahan yang sama lih.”
“tapi Rosa sulit maafin gue ra, karena gue udah mamfaatin situasi kemarin supaya Rosa gaada buat bantu gina.” ujar galih
“itu hal yang wajar, lo harus berusaha sebisa lo, karena masalah hati memang bukan hal yang mudah.”
Galih paham. Dan justru di situlah perjuangannya dimulai.
Ia tak lagi memaksa Rosa bicara. Tak lagi mendekat tanpa izin.
Ia memilih cara paling sulit: menunggu tanpa menuntut.
Saat waktu pulang tiba, hujan turun setelah mereka berada di luar kelas menuju parkiran.
Rosa lupa membawa payung, Galih menitipkan payung lewat Gina—tanpa nama.
Bukan agar dilihat.
Tapi agar Rosa tahu: ia ada, tanpa mengganggu.
Suatu sore, Rosa akhirnya menatapnya.
Bukan dengan senyum.
Bukan dengan marah.
Melainkan lelah.
“Lo masih di sini?” tanya Rosa pelan.
“Iya,” jawab Galih.
“Bukan karena gue berharap lo nerima gue lagi. Tapi karena gue nggak mau lari dari kesalahan gue.”
Rosa menghela napas panjang.
“Maaf itu bukan hadiah, Galih,” ucapnya.
“Maaf itu proses. Dan luka gue belum sembuh.”
Galih mengangguk.
“Gue tau. Dan gue siap nunggu… selama apa pun.”
Rosa menatapnya lama. Matanya masih menyimpan luka, tapi amarahnya tak lagi sekeras dulu.
“Kalau suatu hari gue bisa maafin,” kata Rosa akhirnya,
“itu bukan karena lo maksa. Tapi karena gue sembuh.”
Galih menunduk hormat pada perasaan itu.
“Gue ngerti.”
Dan untuk pertama kalinya sejak hari itu, Rosa pergi tanpa berlari.
Sementara Galih tetap berdiri di sana—
belajar bahwa cinta yang dewasa dimulai dari tanggung jawab, bukan kepemilikan.
****************
“Ra, pulang bareng gue, ya?” tawar Rayhan.
“Boleh,” jawab Aira.
“Hujan, Ra. Kita tunggu dulu reda, ya?” Rayhan menambahkan.
“Ga usah, kita basahan aja,” jawab Aira santai.
“Tapi, Ra?”
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Aira langsung berlari, membiarkan dirinya basah oleh hujan. “Rayhan, ayo!” serunya.
Tiba-tiba, Aksa muncul dari belakang, membawa payung tepat di atas Aira.
“Hujannya berhenti,” gumam Aira.
Ia menoleh ke atas, melihat payung, lalu menoleh ke belakang dan melihat Aksa.
Rayhan hanya mengamati dari jarak.
“aku ga butuh payung saat hujan, karena yang aku butuh nikmati setiap titik air yang jatuh ke bumi,” ucap Aira tenang.
Lalu Aira melangkah keluar dari teduhan payung Aksa, membiarkan dirinya kembali basah oleh hujan.
“Rayhan, ayo cepat!” teriak Aira.
Rayhan pun memberanikan diri ikut basah-basahan di hujan.
Aksa ingin melepaskan payungnya dan ikut berhujan, tapi tiba-tiba teringat akan pesan dari ibunya.
“Jauhi Aira sebelum perasaan itu semakin dalam,semakin dalam perasaan tumbuh, semakin pahit saat harus melepaskan. Dan itu akan jauh lebih menyakitkan untuk kalian berdua—terutama Aira. Dia tidak tahu apa-apa tentang identitasmu.”
Rayhan dan Aira terus berjalan, tertawa dan menikmati setiap rintik hujan yang jatuh di tubuh mereka. Hujan yang dingin seolah menambah hangat kebersamaan mereka.
Sementara itu, Aksa berdiri di sisi jalan, menahan perasaannya sendiri. Ia tahu ini berat, tapi yang dilakukannya adalah yang terbaik untuk Aira. Menyakitkan baginya untuk menahan semuanya, tapi ia sadar akan lebih menyakitkan jika ia membiarkan semuanya terus berjalan tanpa batas.
Hujan terus turun, membasahi bumi, namun di hati Aksa, ada rasa haru yang tak terlihat, sebuah pengorbanan yang sunyi demi kebahagiaan orang yang ia pedulikan.
Di atas motor, Aira dibonceng Rayhan.
“Ra, hujannya deras banget. Berhenti dulu, ya. Mata gue nggak kuat,” kata Rayhan.
“Iya,” jawab Aira singkat.
Mereka pun berhenti di pinggir jalan, di tepi taman. Aira langsung berlari ke halaman taman, membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Di antara rintikan hujan, ada air mata Aira yang ikut jatuh.
“Hujan, terima kasih… Kau mampu menyamarkan tangisku,” gumamnya.
“Hujan, kau turun di waktu yang tepat. Kau turun saat aku terluka. Aku butuhmu untuk menutupi air mataku yang tak bisa aku tahan,” lanjut Aira dengan lirih.
Hujan berhenti, akankah air mata Aira ikut berhenti jatuh, atau justru…?
Aku merekomendasikan karya ini bagi siapa saja yang suka cerita percintaan yang emosional, penuh konflik hati, dan karakter yang realistis. Bagi aku, Cinta Sendirian adalah karya yang layak dibaca dan bisa mendapatkan bintang 5.