NovelToon NovelToon
Anshela

Anshela

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:128.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Shela melihat-lihat kamar laki-laki itu, mungkin kamar laki-laki itu bisa terlihat luas karena penataan batang yang sedemikian rumah sehingga tidak menghabiskan banyak tempat.

Shela berdiri dia melihat-lihat bagian dari kamar laki-laki itu, di kamar Dion ada tiga gitar yang terpajang rapi. Pandangannya beralih pada foto-foto yang terpajang di salah satu bagian dinding. Shela melihat-lihat foto itu.

Kapan ya dia akan punya foto keluarga seperti ini?

Sebuah harapan yang mungkin tidak akan pernah terwujud, foto keluarga. Sangat mustahil bukan jika dia memiliki satu benda itu. Jika memang ada, itu pasti tanpa dirinya. Mata Shela beralih melihat foto dua orang laki-laki dan orang perempuan, dia yakin jika itu adalah Dion, kakak laki-lakinya dan juga adik perempuannya. Jika di perhatikan secara seksama mereka sangat mirip dan terlihat lucu di foto itu.

Ia beralih ke satu foto anak kecil ynsg begitu lucu, Shela tertawa begitu melihat foto masa kecil Dion yang benar-benar terlihat lucu. Bahkan siapapun tidak akan menyangka Dion yang dikenal tegas, terlihat sangat lucu ketika kecil.

Shela mengubah ekspresi wajahnya begitu mendengar seseorang masuk ke kamar. Dari balik pintu masuk sambil membawa nampan berisi cemilan dan minum.

"Loh, ternyata lo masih di sini, gue pikir lo udah ada di balkon," Dion terkejut melihat Shela yang masih berada di dalam kamar.

"Iya, guw masih mau melihat-lihat kamar lo," jawab Shela sambil memeriksa setiap sudut ruangan. Dion tersenyum, "Yaudah kalau begitu, kita ke balkon." Shela mengikuti langkah Dion dengan langkah yang gembira, seolah tiap jejak kaki mereka meninggalkan cerita.

Setibanya di balkon, Dion segera menaruh nampan yang berisi dua gelas minum dan cemilan di meja. Sementara itu, Shela telah menempati kursi yang nyaman dan menghadap ke luar, menatap pemandangan rumah-rumah dan langit cerah yang cantik. "Bentar, gue ambil gitar dulu ya," ucap Dion, seraya berlari kecil kembali ke kamarnya. Dia kembali dengan gitar kesayangan yang terbungkus nostalgia, seakan membawa irama dari masa lalu.

"Nih, coba lo mainkan lagi lagu yang kemarin gue ajarin," seru Dion sambil menyerahkan gitar tersebut kepada Shela. Dengan cekatan, Shela memposisikan gitar itu di pangkuannya, jari-jarinya bergerak lincah memetik senar. Melodi mengalir, mengisi udara malam dengan lantunan lagu yang pernah mereka ciptakan bersama. Dion mengamatinya, "Nah, udah bagus, tapi bagian reff masih kurang pas. Coba lagi," saran Dion dengan nada yang menggugah semangat.

Shela mengangguk penuh antusiasme. Jari-jarinya kembali menari di atas senar, kali ini dengan kepercayaan diri yang lebih besar. Musik, malam, dan memorinya bersama Dion, semua menyatu dalam irama yang sempurna, menciptakan keajaiban di atas balkon itu.

..

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, sudah satu jam lebih dia belajar gitar dengan Dion di rumah laki-laki itu.

" Udah bagus, di rumah coba mainin lagu lain."

"Iya, makasih udah ajarin gue,"ujar Shela.

"Sama-sama, mau pulang sekarang? Udah sore ini, nanti keluarga Lo khawatir."

Raut wajah Shela berubah, tak akan ada yang mengkhawatirkan dirinya. Mereka selalu memarahinya jika pulang telat semata-mata agar tidak dipandang buruk oleh orang lain. Keluarganya tidak pernah peduli, mereka hanya sedikit pada nama baik keluarga.

"Iya, yaudah gue balik sekarang."

"Mau gue anter?" tawar Dion.

"Pake sepeda?" tanya Shela.

Dion mengangguk." Iya, kenapa? Malu ya gue anter pake sepeda."

Shela menggelengkan kepalanya." Rumah gue jauh, jadi gak mungkin Lo anter pake sepeda. Gue naik angkutan umum aja atau taksi," ujarnya.

"Eh, yaudah gue anterin pake motor aja. Tapi motor matic, gak apa-apa?"

"Gak usah, gue takut ngerepotin lo," ujar Shela tak enak.

"Gak apa-apa,gak repot sama sekali."

"Yaudah deh."

"Lo ke bawah duluan, gue ganti baju dulu bentar."

"Iya," Shela beranjak,mengambil tasnya lalu melangkah ke luar kamar.

Langkahnya terhenti, saat sepasang mata kecil berusia sekitar tujuh tahun yang baru saja melampaui anak tangga terakhir, menatapnya dengan tatapan penuh penasaran yang tak terduga.

Seraya mendekat, gadis kecil itu bertanya dengan rasa ingin tahu yang memancar jelas dari wajahnya, "Kakak siapa? Kok bisa ada di kamar Abang?"

Dengan sedikit kebingungan, Shela menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, berusaha mencari jawaban yang tepat. "Aku teman Abang kamu," jawabnya dengan suara yang dijaga ramahnya.

Wajah gadis kecil itu cerah seketika, semangatnya terlihat jelas. "Wah, Abang punya teman cewek. Kakak cantik, jadi pacar Abang aja, yuk? Kasihan Abang enggak punya pacar, biar aku juga bisa merasakan punya kakak cewek," ujarnya bersemangat sambil memegang tangan Shela.

Shela hanya bisa tersenyum pahit. "Kakak cuma teman Abang kamu. Darimana kamu tahu soal pacaran sih?" tanyanya dengan nada kelembutan.

Gadis kecil itu tertawa, "Dari teman-teman Abang. Teman aku juga udah ada yang punya pacar, kok. Masa Abang harus kalah sama mereka?" katanya dengan kepolosan yang mencengangkan.

Shela menarik napas dalam-dalam. 'Ternyata, teman-teman Dion memang unik,' batinnya sambil mengernyitkan dahi, heran bagaimana pacaran telah menjadi perbincangan anak-anak sekecil ini.

"Kakak, mau temenin aku main dulu gak?"

"Maaf ya dek, kakak gak bisa temenin kamu, kakak mau pulang."

Gadis kecil itu memasang raut kecewa." Yah, kakak besok main ke sini lagi ya?" Ujar gadis itu memohon.

"Kalau ada waktu, kakak main lagi ya."

Tak lama Dion keluar dari kamar dengan lambaian santainya." Eh,udah pulang kamu dek."

"Abang kenapa tidak bilang kalau bawa teman perempuan? Kalau aku tahu, mungkin aku gak akan main tadi." Suara gadis itu meninggi, rasa kecewanya nyata terlihat dari cara dia berkacak pinggang sambil melontarkan tatapan tajam kepada Dion.

Dion menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah. "Maaf, Abang benar-benar lupa," katanya pelan.

Gadis itu menarik napas dalam, raut wajahnya semakin menegang. "Bilang saja, Abang mau berduaan sama kakak ini."

"Eh? Gak kok, Abang benar-benar lupa," Dion buru-buru membela diri, kemudian ia menoleh ke arah Shela dan tersenyum canggung.

"Jadi sekarang Abang mau ke mana?" tanya gadis kecil itu dengan nada mencoba menyembunyikan kekesalannya.

"Abang mau mengantar kakaknya pulang dulu," jawab Dion.

"Tuh kan, Abang mah berduaan lagi sama kakak ini. Terus aku ditinggalkan sendirian gitu?" Rasa kesal gadis itu kini bercampur dengan kekecewaan.

Sementara itu, Shela hanya bisa melihat mereka berdua, kekecilan mereka bahkan mengundang tawa.

Dion menggaruk kepalanya, tampak berpikir. "Alisa mau ikut?" "Iyalah, mana mungkin aku ditinggal sendirian," jawabnya tegas, suaranya penuh keputusasaan.

Dion menghela napas panjang, lalu menoleh sekilas ke arah Shela. "Gimana, Shela? Adik gue boleh ikut?" tanyanya, ragu dan was-was.

"Boleh, kasihan juga dia sendirian," ujar Shela, nada suaranya lembut, mencoba menenangkan situasi yang mulai memanas.

Adik Dion melompat kegirangan." Hore! Makasih kakak," ujarnya lalu memeluk tubuh Shela.

Shela terpaku sejenak, entah kenapa ketika adik Dion memeluknya,ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Seperti merasakan kehangatan, tanpa sadar ia tersenyum. Dion yang menyadari Shela tersenyum seketika terpaku, ia belum pernah melihat gadis itu tersenyum tulus seperti ini. Gadis itu terlihat cantik ketika tersenyum seperti itu.

"Udah jangan kelamaan peluk kakaknya,", ujar Dion.

"Bilang aja Abang iri gak bisa peluk, peluk kakak-eh kakak namanya siapa?" tanya Alisa begitu melepaskan pelukannya.

"Shela," jawabannya.

"Kak Shela, ayok kak kita pulang aja." Alisa menarik tangan Shela menuju ke luar rumah.

Dion berdecak kalau ia mengikuti Shela dan adiknya menuju ke luar rumah.

"Kamu mau duduk di depan atau di tengah?" tanya Dion pada adiknya.

"Di tengah aja, biar aku bisa duduk deket kak Shela."

"Yaudah," ujar Dion pasrah, adiknya yang satu ini memang ribet.

Alisa berusaha naik ke atas motor, dengan tinggi tubuhnya yang mungkin membuat gadis kecil itu sedikit kesulitan.

Melihat itu Shela berinisiatif untuk membantu gadis kecil itu hingga menaiki motor.

"Makasih kakak," ujar Alisa.

Shela tersenyum sebagai jawaban.

"Shela,nih," Dion memberikan helm pada Shela.

Shela menerima dan memakainya. Lalu ia segera naik ke motor laki-laki itu.

"Udah siap semua?"

"Udah," jawab Shela dan Alisa secara bersamaan.

Dion mulai melajukan motornya, dengan laju standar dia membelah jalanan. Untuk pertama kalinya dia membonceng seseorang selain keluarganya. Lagipula ia juga jarang menggunakan motornya, dia lebih sering menggunakan sepedanya.

Lima belas menit perjalanan mereka sampai di depan rumah Shela, begitu sampai di sana dia melihat kakaknya berasa di teras dan sekarang menatap tajam ke arahnya yang baru sampai.

"Makasih udah anter gue,"ujar Shela pada Dion.

"Makasih ya dek," ujar Shela pada Alisa.

"Sama-sama kakak, janji ya nanti main ke rumah lagi," ujar Alisa.

Shela mengangguk." Iya,tapi kakak gak janji ya."

Alisa mengangguk.

"Itu Abang lo, Shela?" tanya Dion penasara.

"Yaudah gue masih ya. Sekali lagi makasih," ujar Shela seakan menghindari pertanyaan Dion.

"Dadah kak Shela," teriak Alisa sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Shela membalas lambaian tangan Alisa." Dadah, hati-hati ya."

" Gue balik ya, Shela," ujar dion sebelum melakukan motornya.

"Iya."

Setelah motor Dion menjauh, Shela berbalik menatap kakaknya yang masih menatap tajam ke arahnya. Sudad dipastikan akan ada drama lagi. Shela menghela napasnya, kapan dia bisa hidup tenang tanpa drama di keluarganya?

1
Jirokiyouka
Yang mau ngajarin siapa coba, orang di gak dipeduliin
Tiavitri Vitri
maaf ya tor lama2 malas mo baca,prasaan diawal udah bagus lama2 bosan,
Arum Oke
👍
Nita Renita
ayok Shella kamu pasti bisa 😃👍
david 123
oh...kenapa tdk diproses ya melakukan kekerasan di lingkungan sekolah...malah di biarkan...lanjut thor..
david 123
Ubah alurx thor,Shela selalu tersiksa ya ,dr awal cerita..kapan nasibx baik..,he...he....
Xiaomi Note 14
bodoh, kan sidik jari ada prcm polisi klw gk di prkaa sdik jeri ,nya asl nduh.
kalea rizuky
novel paling buruk yg pernah q baca sejauh ini muter bertele tele pokok bkin mood baca anjlok
kalea rizuky
novel g guna pantes sepi like wong MC goblok biarin aja bokap lu nyesel uda bodo amat ma dika ma bokap lu yg oon ehh ini masih aja mau balik tololllllll q ksih rating jelek biarin slaah sendiri bkin pembaca sebelll
kalea rizuky
kn karena lu semua. bego yg buat novel lebihhh beggggg
kalea rizuky
pecundang semua sella goblok lengkap bgt ne novel paling bego
kalea rizuky
sela. jd goblok terlalu menye menye skip g jelas ne novel
atun atun
lnjutkan
Rita Rita
seorang Dika hanya pecundang sejati laki laki banci,, dulu berjanji mau lindungi Shela,, ini yg salah Dika apa author ya 🤔
Rita Rita
heran sama si author,, udah 2 x Shela dibuat mati,, apa ini tokoh utama dibikin mati beneran 🤔🤣 yg bikin geli itu kaum keluarga Shela,, katanya terpukul atau apalah kalo nurut AQ cuma preetttt,,
Rita Rita
aduh Thor,, sekali kali ga langkah gontai untuk Shela kenapa sih,,
Rita Rita
Shela ga ada punya langkah tegas langkah gontai Mulu,, kapan ada bahagia kalo hidup terus menerus dibebani konflik, masa iya hidup monoton di situasi yang sama.
Rita Rita
heran aja sama si Shela katanya pinter,, tapi kok bego nya makin gedein ya,, masa udah 2 x masih masuk lobang yang sama,,
Rita Rita
cerita nya muter muter gitu aja ga ada titik temunya, berbelit tanpa ada narasi yg jelas,,,
Lenty Fallo
lnjut thor upnya...💪❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!