Seandainya waktu bisa diulang kembali.
Penyesalan Mark Theodor dalam hidupnya, adalah mengabaikan istrinya demi keluarga kandungnya, hingga istrinya meninggal saat hamil muda.
Di saat ia sudah menua dan sakit-sakitan, keluarga kandung yang sangat ia sanjung, tidak satupun menaruh rasa kasihan pada keadaannya.
Mark hanya bisa menangisi dirinya yang malang, sampai akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.
Tapi, tiba-tiba ia membuka matanya, dan terbangun dari tidurnya.
Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 1973, di saat usianya masih dua puluh delapan tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26.
Sementara itu di kediaman keluarga Berwyn.
Mark mengoles body lotion pada tangan Ivana yang kasar.
"Maaf, keluarga ku sudah membuat kamu menderita, aku tidak akan pernah lagi membiarkan mereka menyakitimu, dulu aku begitu buta mendengarkan apa yang mereka katakan!"
Ivana yang merasa tidak ragu lagi melihat perubahan Mark, menyentuh lembut tangan Mark yang mengolesi body lotion pada tangannya.
"Jangan merasa sedih, sekarang aku kan baik-baik saja!"
Mark menghentikan tangannya mengoles tangan Ivana.
Kata-kata Ivana membuat hati Mark merasa sangat tertekan.
Istrinya itu sangat mudah memaafkan siapa saja yang telah menyakitinya.
Dengan sikap lemah lembutnya itu, justru membuat keluarganya jadi sering menindasnya.
Ia mengangkat wajahnya memandang Ivana, "Walau kamu sekarang baik-baik saja, tapi keluarga Theodor tidak pernah berhenti mengganggumu, sampai kamu benar-benar menyerah padaku!"
Ivana menelan air ludahnya mendengar apa yang dikatakan Mark.
Sampai ia menyerah pada suaminya, barulah keluarga Theodor berhenti mengganggunya.
Ia jatuh cinta pada Mark, saat Mark dengan sabar mengejar dirinya.
Dan ia tidak mendengarkan penolakan orang tuanya, sewaktu ia memberitahukan tentang keinginannya menikah dengan Mark.
Dan semakin cinta pada Mark, saat orang tuanya mengatakan Mark bukan suami yang cocok untuk dirinya.
Hati Ivana terasa sakit mendengar kata sampai ia menyerah pada Mark, dan kemudian meninggalkan Mark.
Ia memang menyadari, keluarga Mark tidak pernah memperlihatkan sikap ramah padanya, sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di kediaman keluarga Mark.
Mark dapat melihat kesusahan hati Ivana setelah mendengar apa yang ia katakan.
Dengan lembut ia menepuk tangan Ivana, "Kamu harus lebih keras menghadapi kekasaran mereka padamu, agar mereka tidak berani menindas mu saat aku tidak berada disampingmu, aku tidak ingin kamu mengalami sesuatu, saat aku tidak ada di sampingmu!"
Mata Ivana berkedip memandang Mark.
Apa yang dikatakan Mark, sepertinya memang ada benarnya.
Kalau ia masih menginginkan hubungan suami istri dengan Mark, ia harus dapat melindungi dirinya dari keluarga Theodor, saat Mark tidak berada di sampingnya.
Ivana sesaat memikirkan apa yang dikatakan Mark, dan sepertinya ia harus mendengarkan apa yang dikatakan suaminya itu.
Ia pun perlahan menganggukkan kepalanya menjawab apa yang dijelaskan Mark.
"Baik, aku akan melawan jika mereka suatu saat kembali menggangguku!"
Mark tersenyum senang mendengar jawaban Ivana, lalu tangannya dengan lembut menarik Ivana ke dalam dekapannya.
"Aku akan mendukung mu, walau mereka mengatakan apapun untuk menyalahkan kamu, aku percaya apa yang akan kamu jelaskan padaku!" Mark mengeratkan pelukannya.
Perlahan tangan Ivana membalas pelukan Mark, dan mereka pun saling berpelukan dengan perasaan saling memiliki.
"Kita akan tunjukkan pada mereka, kalau kita pasangan yang tidak dapat dipisahkan oleh siapa pun!" kata Mark semakin mengeratkan pelukannya.
"He-em!" jawab Ivana menganggukkan kepalanya.
Ia sangat bahagia sekali mendengar apa yang dikatakan Mark.
Hatinya berdesir oleh rasa yang sangat tenang, dan sangat nyaman sekali.
Beberapa detik mereka saling berpelukan, meresapi rasa bahagia akan cinta mereka yang terasa semakin kuat.
Tapi Mark mendadak merasakan tubuh Ivana panas tidak seperti biasanya.
Mark melepaskan pelukan mereka, "Kamu demam?" tanyanya, lalu menempelkan punggung tangannya ke kening Ivana.
"Tidak tahu, aku merasa tiba-tiba badanku terasa seperti terbakar!" jawab Ivana, yang semakin merasa tidak nyaman pada tubuhnya.
Mark mengamati raut wajah Ivana, dan warna kulit wajah Ivana yang tampak mulai merona.
Matanya pun seketika membulat, karena menyadari akan perubahan suhu tubuh Ivana yang tidak normal.
"Apakah tadi mereka ada yang memberi kamu minum?" tanya Mark dengan nada yang mulai kembali emosi.
"Ya, Mama tadi memaksa ku meminum air mineral, sampai aku tersedak!" jawab Ivana dengan suara yang mendadak terdengar serak.
"Sialan!!!" teriak Mark dengan geram, "Jangan panggil dia 'Mama'! dia tidak pantas menjadi seorang Ibu, dan mertua!!!"
Mark mengepalkan tangannya dengan erat.
Dadanya panas oleh amarah.
Ia tidak menyangka hati Ibunya sangat jahat!
Wanita tua itu sampai tega memberi Ivana Afrodisiak, untuk melancarkan rencananya menjual Ivana kepada pria hidung belang.
"Mark, ada apa denganku? kenapa tubuhku rasanya semakin panas?" suara serak Ivana semakin serak.
Tangan Ivana menyentuh kulit lehernya, dan tubuhnya mulai bergerak tidak normal.
"Mark... Mark.. suamiku.. aku.. ahhh.. "
Ivana menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Mark, dan jemarinya menyentuh leher Mark, lalu menarik tengkuk Mark untuk semakin dekat ke wajahnya.
Mark menutup matanya menahan geram yang amat sangat, sampai suara gigi gerahamnya yang ia katup dengan erat terdengar.
Ia sangat yakin, kalau kejadian yang menimpa Ivana saat ini terjadi pada kehidupannya yang lalu.
Hatinya sangat sakit sekali membayangkan apa yang dialami Ivana, sampai air matanya tanpa sadar menetes dari sudut matanya.
"Mark.. tolong aku.. tubuhku sangat panas, dan rasanya sangat tidak nyaman di bawah sana" bisik Ivana serak.
"Sabar sayang, aku akan menurunkan panas pada tubuhmu, Ayo!"
Mark mengangkat tubuh Ivana, lalu membawanya ke luar dari dalam kamar menuju kamar mandi di belakang rumah.
Mark menurunkan Ivana ke lantai kamar mandi, tapi Ivana menempel seperti lintah pada tubuhnya.
Ivana sampai mengangkat tubuhnya pada ujung kakinya, agar dapat mencium Mark.
"Tunggu Ivana, aku mau ambil air dingin, tahan sebentar!"
Mark tidak menyingkirkan Ivana yang bergelayut pada tubuhnya.
Tangannya meraih timba, lalu kemudian menimba air dari dalam sumur.
Ia menaruh air sampai penuh pada baskom besar, lalu menyiram tubuh Ivana dengan air dingin tersebut.
Air dalam baskom habis, dan tubuh Ivana pun menggigil kedinginan.
Melihat tubuh Ivana kedinginan, Mark merasa afrodisiak yang merasuki tubuh Ivana sudah hilang.
Ia pun menanggalkan pakaian basah Ivana, dan juga pakaiannya yang sudah basah.
Ia kemudian membungkus tubuh Ivana dengan handuk, setelah ia melilitkan handuk ke seputar pinggangnya.
Ia kemudian membopong Ivana masuk kembali ke dalam rumah.
"Mark.. " panggil suara Ivana yang terdengar masih serak, setelah Mark meletakkan Ivana duduk di tepi tempat tidur.
Mark menyentuh kening Ivana, "Kenapa? kenapa kembali panas?"
Mark kembali cemas melihat keadaan Ivana, yang tadinya sudah tidak panas, ternyata masih di pengaruhi afrodisiak.
Jalan satu-satunya, ia yang harus menghilangkan pengaruh afrodisiak pada tubuh Ivana.
"Ivana, kamu telah di beri Nyonya Theodor afrodisiak dalam minuman yang ia berikan padamu!" Mark mencoba menjelaskan kepada Ivana, kenapa panas pada tubuhnya belum juga hilang.
"A.. apa? apa itu afrodisiak? kenapa tubuhku bisa begitu panas? dan.. dan di sini.. ra.. rasanya tidak nyaman" suara serak Ivana semakin serak, seraya menunjuk daerah sensitifnya.
"Afrodisiak obat untuk senggama, kita harus melakukannya untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di bawah sana" suara Mark nyaris tercekat mengatakan, menjelaskan apa sebenarnya afrodisiak yang diberikan Ibunya.
Ivana menggelengkan kepalanya, diantara tidak nyaman pada tubuhnya, ia mencerna penjelasan Mark mengenai afrodisiak.
Hatinya sangat sakit sekali!
Ibu mertuanya begitu kejam padanya, sampai berani memberikan sesuatu yang tidak pantas padanya.
"Mark, kamu harus memberi pelajaran padanya, dia begitu tega ingin merusak istri putra kandungnya sendiri! wanita yang akan melahirkan cucu kandungnya!"
Mark nyaris terisak mendengar amarah Ivana.
Ia memeluk Ivana dengan erat, lalu menganggukkan kepalanya menjawab nada amarah Ivana.
"Baik, sayang!" katanya dengan suara bergetar.
Bersambung........
akhirnya up juga ya Thor,, sehat selalu ya
rasain Daniela