Sebagai Putri Changle, seharusnya ia menikmati kemewahan dan cinta. Namun, gadis modern ini justru terperangkap dalam tubuh seorang putri kuno dengan masa lalu yang mengerikan: dikhianati oleh kekasihnya sendiri, disiksa tanpa ampun, dan meregang nyawa dalam kesengsaraan. Takdir memberinya kesempatan kedua. Dengan Sistem Poin dan Ruang Ajaib sebagai senjatanya, Putri Changle bangkit dari kematian untuk menuntut balas.
Setiap poin yang dikumpulkan adalah langkah menuju pembalasan. Setiap level yang diraih adalah tameng untuk melindungi diri dari musuh-musuh yang mengintai. Namun, semakin dekat ia dengan tujuannya, semakin dalam ia terjerat dalam labirin rahasia kelam yang mengubur masa lalunya dan asal-usul Sistem itu sendiri.
Mampukah Putri Changle mewujudkan dendamnya, ataukah ia hanya pion dalam permainan yang jauh lebih besar dan berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsme AnH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Akan Menghancurkan Mereka
"Pangeran, mengapa Anda tiba-tiba datang?" tanya Song Zhiwan, nada suaranya sedikit terkejut bercampur bingung. Ia berdiri di ruang tengah yang dipenuhi aroma dupa cendana, jantungnya berdebar tak menentu.
Song Zhiwan tidak merasakan penyesalan karena telah mempermalukan Xie Zhan di depan Pangeran Chu. Justru, dia merasa puas.
Terlebih setelah mendengar suara riang Momo yang membawa kabar bahwa dia berhasil mengumpulkan 2000 poin karena berhasil menghancurkan harga diri Xie Zhan.
Pangeran Chu, dengan jubah brokat birunya yang berkilauan tertimpa cahaya sore, berbalik dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Kenapa? Apa aku mengganggu hal baikmu dengan Xie Zhan?"
"Bukan begitu ...." Song Zhiwan mencoba menyangkal, tapi pipinya merona. Ruangan itu, dengan hiasan kaligrafi di dinding dan aroma dupa cendana yang lembut, terasa semakin sempit.
"Aku datang untuk mengantarkan hadiah pertunangan," kata Pangeran Chu, matanya menelisik setiap sudut wajah Song Zhiwan. "Kudengar dari pelayan, Xie Zhan juga berada di sini. Jadi, sekalian saja aku melihat."
Pangeran Chu melangkah mendekat, tatapannya mengunci mata Song Zhiwan. "Awalnya aku tidak ingin ikut campur, tapi aku tidak suka milikku disentuh orang lain." Suaranya yang dalam beresonansi di ruangan itu. "Wanwan, ingatlah, jangan biarkan pria lain menyentuhmu selain aku!" Nada bicaranya lembut, namun mengandung perintah yang tak terbantahkan.
Song Zhiwan terdiam, terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah hendak meloncat keluar dari dadanya. Ia tidak mencintai Pangeran Chu, namun dia tahu bahwa pria inilah satu-satunya orang yang membalaskan dendamnya di kehidupan sebelumnya.
Dia bertekad tidak akan melepaskan Pangeran Chu, tidak peduli apa pun yang terjadi!
"Hadiah pertunangan sudah dikirimkan, aku pergi." Pangeran Chu berbalik, langkahnya mantap menuju pintu keluar.
"Aku akan mengantarmu," kata Song Zhiwan, suaranya nyaris berbisik.
Pangeran Chu tidak menolak. Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor panjang menuju gerbang Kediaman Pangeran Qin. Taman-taman kecil di sisi koridor, dengan bunga-bunga yang mulai meredup di bawah senja, menjadi saksi bisu ketegangan di antara mereka.
Di luar gerbang, para pelayan sibuk berlalu-lalang, memindahkan puluhan kotak kayu berhias kain merah menyala ke halaman dalam. Kotak-kotak itu tampak mewah dan berat, pertanda isinya yang tak ternilai.
Kerumunan rakyat jelata berkerumun di depan kediaman, menyaksikan pemandangan langka itu dengan mata berbinar. Beberapa dari mereka berbisik-bisik, mengomentari kemegahan hadiah pertunangan itu.
"Hei, bukankah hadiah pertunangan sudah dikirim oleh Kementerian Ritus beberapa hari lalu? Mengapa Pangeran Chu mengirimkan hadiah lagi?" tanya seorang wanita muda dengan nada penasaran.
"Bodoh sekali kamu," sahut wanita yang lebih tua, sambil mencubit lengan si gadis. "Hadiah dari Kementerian Ritus itu hanya formalitas. Yang ini, dari Pangeran Chu sendiri, adalah ungkapan kasih sayang yang sesungguhnya."
"Tak kusangka, orang seperti Pangeran Chu bisa seromantis ini."
"Benar, lihatlah isinya! Kudengar, ada Sutra Brokat Pelangi dari Kerajaan Selatan, satu set cermin perunggu berukir naga dan phoenix, dan sepasang vas porselen giok putih yang dibuat oleh pengrajin terbaik di Jingdezhen! Semuanya barang langka dan berharga!"
"Hmmm, Pangeran Chu benar-benar perhatian."
Semua mata terpaku pada kotak-kotak hadiah yang terus dibawa masuk, dipenuhi rasa iri dan kekaguman.
Pangeran Chu tidak menghiraukan kerumunan itu, dia hanya mengangguk singkat pada Song Zhiwan sebelum menaiki kereta kudanya dan pergi.
Setelah memastikan kepergian sang pangeran, Song Zhiwan segera kembali ke dalam kediaman, hatinya dipenuhi berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. Ia merasa puas karena telah berhasil memperdaya Pangeran Chu, tapi juga sedikit khawatir karena dirinya tahu bahwa pria itu bukanlah orang yang mudah dibodohi.
**
Di Rumah Changyuan
"Apa?" Guan Shiqing terkejut. Teh yang baru saja dituangkannya tumpah sedikit, membasahi kain meja yang bersulam bunga peony, menghentikan gerakannya saat menuangkan teh untuk ibu mertuanya. Aroma melati dari teh itu menguar lembut di ruangan. Dia meletakkan teko porselen putih itu di atas meja kayu berukir dan bertanya dengan nada tak percaya. "Pangeran Chu bertunangan dengan Song Zhiwan?"
Nyonya Ketiga bangkit dari tempat duduknya, kursi kayunya berderit pelan. Matanya menyala marah menatap Guan Shiqing, lalu dengan suara tinggi memarahi Xie Zhan, "Jika Pangeran Chu dan Song Zhiwan sampai menikah, maka kekayaan Pangeran Qin tidak akan menjadi milikmu lagi! Dasar bodoh!"
"Ini semua gara-gara kau terlalu memanjakan jalang itu!" Nyonya Ketiga melotot ke arah Guan Shiqing, wajahnya memerah menahan amarah. "Kau pikir hanya dengan mengandalkan wajah cantikmu itu bisa mendapatkan segalanya? Kau salah! Kau hanya benalu di keluarga ini!"
"Ibu!" Xie Zhan mencoba membela istrinya, meraih lengan ibunya dengan putus asa. Jubah sutra yang dipakainya bergerak lembut. "Jangan bicara seperti itu padanya."
Ia merasa terhimpit di antara dua wanita yang dicintainya. Di satu sisi, ia ingin membahagiakan ibunya yang selalu menekannya untuk meraih kekuasaan dan status. Di sisi lain, ia mencintai Guan Shiqing dan tidak tega melihatnya diperlakukan seperti itu. Xie Zhan merasa tidak berdaya dan bersalah karena tidak bisa memenuhi harapan ibunya sekaligus melindungi istrinya.
"Aku tidak percaya," kata Guan Shiqing sambil menggelengkan kepalanya, mencoba mencerna berita yang baru didengarnya. Rambutnya yang disanggul rapi sedikit berantakan. "Sudah berapa lama Song Zhiwan mengenal Pangeran Chu? Bagaimana mungkin mereka bisa bertunangan secepat ini?" Nada bicaranya mencerminkan rasa tidak aman dan ketidakpercayaan diri yang mendalam.
Plakkk
Amarah Nyonya Ketiga meledak. Tamparan keras mendarat di wajah Guan Shiqing, meninggalkan bekas merah yang membara. Bunyi tamparan itu menggema di ruangan yang sunyi.
Guan Shiqing tersungkur ke lantai, pipinya terasa panas dan berdenyut. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Xie Zhan segera meraihnya, membantu istrinya bangkit dengan cemas. "Qing'er, kamu tidak apa-apa?"
Nyonya Ketiga mendengus, meludah ke lantai dengan jijik. "Tidak peduli apa kau percaya atau tidak, ini pernikahan kerajaan ... siapa yang bisa menghentikannya? Kau pikir kau ini siapa?" Nada bicara Nyonya Ketiga merendahkan, bahkan tatapannya pun tampak tak bersahabat, menunjukkan bahwa dia tidak menganggap menantunya setara dengan keluarga kerajaan.
"Mengapa dia begitu beruntung?" tanya Guan Shiqing tak terima, rasa iri dan dengki menguasai dirinya. Air mata mulai mengalir deras di pipinya, membasahi riasan tipisnya. "Aku ingin menghancurkan mereka ... merebut kembali semua kekayaan yang seharusnya menjadi milikku! Aku tidak akan membiarkannya bahagia!" Kata-kata Guan Shiqing mencerminkan obsesinya terhadap kekayaan dan status, berasal dari rasa rendah diri yang mendalam.
Guan Shiqing tidak bisa menerima kenyataan bahwa hanya Song Zhiwan yang bisa menjadi seorang putri terhormat, sementara dirinya tidak.
Dia hanya bisa menjadi seorang pelayan, padahal mereka sedarah. Guan Shiqing merasa dikhianati oleh takdir dan oleh Song Zhiwan, yang menurutnya telah merebut semua yang seharusnya menjadi miliknya.
Di Kediaman Pangeran Qin
Sore itu, Song Zhiwan dan ibunya menikmati waktu santai di paviliun terbuka yang menghadap taman. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga sakura yang sedang bermekaran. Meja bundar beralaskan kain biru lembut dengan motif bunga-bunga kecil menjadi pusat perhatian. Di atasnya tertata rapi berbagai hidangan yang menggugah selera.
Aroma manis kue osmantus memenuhi udara, kue-kue kecil berwarna keemasan itu ditumpuk rapi di atas piring porselen putih dengan lukisan burung phoenix. Di sampingnya, terdapat sepiring kacang almond yang renyah dan gurih, serta manisan buah plum berkilauan dengan warna merahnya yang menggoda. Tak ketinggalan, sepoci teh Longjing yang masih mengepulkan uap hangat, siap menemani obrolan sore mereka.
Nyonya Qin menyesap tehnya dengan anggun, jari-jarinya yang lentik memegang cangkir porselen dengan hati-hati. Senyum lembut menghiasi wajahnya saat memandangi Song Zhiwan. "Wanwan, sebentar lagi kamu akan menikah," katanya dengan suara bergetar haru. "Ibu harap kamu akan hidup berbahagia dan menua bersama dengan Pangeran Chu."
Song Zhiwan tersenyum santai, mengambil sepotong kue osmantus dan menggigitnya perlahan. Rasa manisnya langsung memenuhi mulutnya. "Ibu, tenang saja ... aku tidak akan mengecewakanmu."
Tiba-tiba, seorang pelayan datang dengan tergesa-gesa, napasnya tersengal-sengal. Kedatangannya memecah suasana tenang sore itu.
"Nyonya, Tuan Muda Shen datang mengantarkan hadiah untuk Putri."
Mendengar itu, wajah Nyonya Qin dan Song Zhiwan tampak cerah dan bersemangat. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka, sangat bertolak belakang dengan kesedihan Guan Shiqing.
"Paman datang," kata Song Zhiwan dengan senyum lebar, matanya berbinar. Nadanya menunjukkan kasih sayang dan kegembiraan menyambut kedatangan pamannya.
"Ayo, kita lihat!" Nyonya Qin tak kalah bersemangat, ingin segera bertemu kakaknya. "Sudah lama sekali kita tidak bertemu."
Mereka bangkit dan berjalan keluar, meninggalkan hidangan yang belum selesai di atas meja. Langkah mereka ringan dan penuh semangat.
Di halaman depan, keributan kembali terjadi. Suara petasan yang membahana memekakkan telinga.
Pagi tadi, Pangeran Chu telah membuat heboh dengan hadiah pertunangannya. Kini, giliran Tuan Muda Shen, kakak kandung Nyonya Qin sekaligus pewaris Keluarga Shen, yang membuat keributan dengan membakar petasan dan menjajarkan puluhan kotak kayu berpita merah di depan gerbang Kediaman Pangeran Qin. Asap mesiu memenuhi udara, bercampur dengan aroma bunga di taman. Bahkan, rakyat yang menonton kemeriahan juga menutup telinga mereka.
"Wanwan, Paman dengar kamu akan menikah dengan Pangeran Chu, jadi Paman secara khusus datang mengantarkan hadiah pernikahan untukmu." Tuan Shen berbicara dengan nada bangga dan sayang pada keponakannya. Wajahnya berseri-seri melihat Song Zhiwan.
"Kakak, ini terlalu banyak, kan?" tanya Nyonya Qin dengan bahagia, namun sedikit khawatir dengan biaya yang dikeluarkan kakaknya. "Kau selalu memanjakan Wanwan."
Tuan Shen menjawab dengan nada merendah, tapi dengan senyum lebar. "Tidak banyak, hanya tiga puluh kotak yang terdiri dari emas, perak, perhiasan, dan beberapa barang langka. Oh, ini juga ada surat perkebunan di pinggir kota, semuanya untuk Wanwan." Dia menyerahkan beberapa lembar akta tanah pada Nyonya Qin. Kertas-kertas itu terasa berat di tangannya.
Nyonya Qin memberikannya pada Song Zhiwan.
"Semua harta benda ini bisa membeli setengah kota, sungguh luar biasa!" seru seorang warga yang menonton, matanya berbinar melihat tumpukan hadiah.
"Tentu saja, Tuan Shen ini adalah orang terkaya di ibukota," sahut warga lainnya.
"Kakak dan Kakak Ipar, silakan masuk." Nyonya Qin mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah.
Setelah mereka masuk, Song Zhiwan masih berdiri di depan gerbang, memandangi deretan hadiah yang berjajar rapi. Pita merahnya berkibar tertiup angin. 'Aku jadi wanita kaya!' batin Song Zhiwan kegirangan.
"Momo, apa semua harta benda ini bisa kubawa ke duniaku?" tanya Song Zhiwan antusias, dia berniat membawa semua hartanya ke dunia modern.
Dengan kekayaan sebanyak ini, ia tak perlu lagi memeras otak mencari ide hingga sakit kepala, begadang demi deadline, dan melewatkan kopi paginya di cafe. Bahkan, mimpi-mimpinya pun tak lagi dipenuhi naskah novel yang belum selesai. Ia hanya ingin bangun pagi dengan tenang, menikmati liburan mewah di luar negeri tanpa perlu memikirkan harga.
"Tentu saja bisa, tapi kamu harus memenangkan misimu, Host," terang Momo di dalam benak Song Zhiwan.
Song Zhiwan mengangguk mengerti, dia langsung teringat pada sosok Guan Shiqing, orang yang paling berperan penting dalam keberhasilan misinya.
Dulu, ia selalu berbagi kebahagiaan dan hadiah dengan Guan Shiqing.
Sebuah ide licik muncul di benaknya. Song Zhiwan tersenyum sinis, lalu berbisik pada Xiao Lan, "Pergi, sebarkan berita tentang hadiah pertunangan dari Pangeran Chu dan pamanku. Buat beritanya seheboh mungkin ... aku ingin Guan Shiqing iri sampai mati."
Sebagai seorang wanita modern yang terperangkap dalam tubuh seorang putri kerajaan, Song Zhiwan merasa bahwa balas dendam terbaik adalah dengan membuat orang lain iri padanya. Dia ingin menunjukkan kepada Guan Shiqing bahwa dirinya telah berhasil dalam hidup, sementara Guan Shiqing masih terpuruk dalam kesedihan dan kemarahan.
kmana nih momo....... gunakan sistem dong.....
sistem apa? greget bgt.. masalah nya cuma berputar2 di sini aja ga selesai- selesai. trs kelebihan putri cangle apa? masa lemah bgt. mudah di tindas, mau di skip tp penasaran. wkwkwk 🤣🤣🤣🤣
bagusan pemeran perempuan pas novel perempuan beracun kesayangan pangeran lebih cerdas & keren😄
semangat nulisnya😍😍😍