Leon Harrington seorang hakim yang tegas dan adil, Namun, ia berselingkuh sehingga membuat tunangannya, Jade Valencia merasa kecewa dan pergi meninggalkan kota kelahirannya.
Setelah berpisah selama lima tahun, Mereka dipertemukan kembali. Namun, situasi mereka berbeda. Leon sebagai Hakim dan Jade sebagai pembunuh yang akan dijatuhkan hukuman mati oleh Leon sendiri.
Akankah hubungan mereka mengalami perubahan setelah pertemuan kembali? Keputusan apa yang akan dilakukan oleh Leon? Apakah ia akan membantu mantan tunangannya atau memilih lepas tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Gedung Kehakiman.
Matahari siang menembus tirai jendela tinggi, memantulkan bayangan samar di lantai marmer ruang kantor Leon. Suasana tampak tenang, namun ketegangan merambat pelan di udara. Di tengah ruangan, Selena dan Jacob duduk di atas sofa kulit berwarna gelap, saling berhadapan dengan setumpuk berkas di antara mereka.
"Di mana bosmu? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Selena, menatap Jacob dengan alis terangkat.
"Tuan mengatakan ada urusan," jawab Jacob sambil menyandarkan punggung ke sofa. Suaranya terdengar datar, namun matanya tak lepas dari ekspresi Selena.
"Aku rasa penemuan ini akan membuat Leon semakin bertanya-tanya," gumam Selena, tangannya meraih salah satu berkas yang tergeletak di meja. Matanya menyapu cepat halaman demi halaman.
Jacob mencondongkan tubuhnya ke arah Selena. "Nona, semua ini Anda dapat dari luar negeri? Dan pria ini... kenapa bisa?" tanyanya, tiba-tiba terdiam. Tatapannya membeku pada foto seorang pria di dalam dokumen.
"Dia adalah orang paling dekat dengan Jane. Dia melakukan itu demi cinta. Tapi apa pun yang dia lakukan, semuanya sia-sia. Yang Jane cintai tetap bosmu," ujar Selena pelan, sambil memutar-mutar pulpen di jemarinya.
Jacob menggeleng pelan, seolah tak percaya. "Sangat gila... dia rela melakukan itu hanya demi menyenangkan Jane Valencia. Apakah dia terlibat dalam pembunuhan itu?"
"Dia adalah tersangka utama yang paling dicurigai," jawab Selena mantap.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan tertutup.
"Kalian sudah datang," ucap Leon, berjalan masuk sambil melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran kursi.
"Tuan Hakim, apa yang kamu sibukkan? Aku sudah menunggumu selama tiga jam. Apakah kau pergi menemui pujaan hatimu?" tanya Selena dengan nada menggoda, bibirnya melengkung tipis.
Leon menghela napas pendek. "Dalam situasi seperti ini, hakim dan tahanan dilarang bertemu secara pribadi, karena hubungan masa lalu kami."
"Tidak ada yang akan tahu kalau kalian bertemu secara diam-diam. Atau... kau bisa saja mendatangi tempat tinggalnya," goda Selena lagi, kali ini dengan senyum lebih lebar.
Leon tidak menanggapi godaan itu. Ia menatap tumpukan berkas di meja. "Apakah ini hasil penyelidikanmu?"
"Benar. Ada kejutan untukmu," jawab Selena sambil mengedipkan sebelah mata. Jacob lalu menyerahkan foto itu kepada Leon.
"Tuan, ini hasil laporan medisnya. Semua ini adalah permintaan Jane Valencia sebelum Nona Jade pergi ke Kanada," kata Jacob.
Leon menyipitkan mata, meneliti dokumen yang baru diterimanya. "Damien Lennox? Untuk apa? Dan di mana dia?"
"Dia menghilang setelah kematian Jane Valencia. Aku sudah periksa apakah dia masih tinggal di sana, tapi tidak bisa menemukan jejaknya. Mungkin saja dia pergi karena putus asa. Atau... dia datang ke Los Angeles untuk balas dendam," jawab Selena, suaranya kini terdengar lebih serius.
“Kalau Damien Lennox datang ke Los Angeles, kita pasti bisa mendapatkan informasinya. Kita bisa mulai dari bandara,” kata Jacob sambil memandang serius ke arah Selena.
“Jacob, segera hubungi pengurus sana. Dalam lima jam, kita harus dapatkan jawabannya!” perintah Leon tegas.
“Baik, Tuan,” jawab Jacob sambil berdiri cepat dan bergegas keluar dari ruangan.
Kesunyian menyelimuti ruangan beberapa saat. Selena memandang Leon, lalu angkat bicara dengan nada lembut namun penuh sindiran. “Leon, Jane Valencia sudah merencanakannya sejak lama. Kepergian Jade ke Kanada juga bagian dari rencana gilanya. Aku benar-benar kasihan pada hubungan kalian yang terus-terusan dihantui masa lalu. Dan… Damien Lennox? Dia pria bodoh dan terlalu setia. Berkorban demi Jane, dan tetap saja tak berarti apa-apa.”
Leon terdiam, memandang selembar dokumen di tangannya. “Sejauh apa hubungan mereka?”
Selena menyandarkan tubuhnya ke sofa, nada suaranya kini lebih datar, “Damien Lennox mengejar Jane sejak masa universitas. Waktu itu, Jane adalah wanita paling cantik, paling dikagumi. Tapi dia juga tergila-gila padamu, Leon. Sampai rela operasi wajah demi mendekatimu. Dia tahu kau menjalin hubungan dengan Jade, tapi tetap nekat ingin memisahkan kalian. Damien hanya alat. Alat yang Jane gunakan selama tiga bulan hubungan gelap mereka berjalan. Lalu semuanya berubah saat Jane mengenalmu. Damien tak pernah punya kesempatan.”
Selena tersenyum miris. “Leon Harrington… kami bertiga tergila-gila padamu. Sepertinya aku tidak pernah punya kesempatan untuk mendapatkan hatimu, ya?”
Leon tak mengangkat kepala, tetap fokus pada berkas di tangannya. “Sejak kapan kau jadi mahir merayu pria?”
Selena terkekeh kecil. “Jade Valencia... bisa dibilang gadis yang paling beruntung sekaligus paling sial. Kau masih mencintainya, Leon? Atau semua ini hanya karena kau seorang hakim yang sedang menjalankan tugas?”
Leon mendongak, wajahnya serius. “Aku adalah hakim. Tugasku menangkap penjahat.”
Selena melanjutkan, “Asal kau tahu, kalau Damien benar-benar berada di kota ini, maka Jade dalam bahaya besar.”
Leon terdiam. Wajahnya mengeras.
Leon menjawab lirih, tapi tegas, “Aku yakin dia tidak akan mudah dibohongi.”
Selena melipat tangan di dada, suaranya mulai penasaran. “Apa kau yakin? Bagaimana kalau Jade bahkan tidak menyadari bahaya itu? Saat dia sadar, mungkin sudah dalam genggaman Damien. Jangan lengah, Leon. Kita tidak bisa terlalu berharap pada dua detektif itu. Malam itu, Jade hampir menjadi korban. Untung saja dia menguasai bela diri. Kalau tidak... aku tak tahu apa yang terjadi padanya.”
Leon berdiri perlahan dari sofa. “Aku akan memastikan keselamatan Jade. Sebagai hakim... ini tanggung jawabku.”
Selena memutar bola matanya, mengejek. “Sebagai hakim?” katanya sinis. “Atau... sebagai calon suami? Kau tidak keberatan, kan, kalau gadis pujaanmu adalah seorang narapidana?”
Leon tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap ke arah wanita itu.
"Untuk saat ini, keadilan yang paling utama. Tujuan utamaku menjadi penegak hukum agar bisa menangkap semakin banyak penjahat," jelas Leon.
"Lalu, apakah kau masih ada perasaan terhadap gadis malang itu?" tanya Selena.
"Tidak sama sekali!" jawab Leon dengan meyakinkan.