Jangan lupa mampir ditempat ini...!
Menceritakkan seorang cewek ceria dan kocak masuk ketubuh sahabat jauh setelah pergi dan jarang bertemu.
bagaimana kisahnya, dan mampukah dia menerima jadi diri barunya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon THAN PUR2507, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26.
Keesokan paginya matahari pun mulai menampakkan sinarnya. Merasa teriknya matahari memasuki celah-celah lubang sisi dinding kamarnya.
Jihan sedikit terusik oleh cahaya yang masuk melalui kamarnya. Dengan perlahan ia membuka matanya setelah seharian tidur nyenyak dikamar tersebut.
"Huah...udah pagi ya!."gumam Jihan mendudukkan dirinya diatas ranjang
Dengan rambutnya yang berantakan matanya yang masih menyipit setengah terbuka. Pandangannya masih memperjelas apa yang ia lihat disekelilingnya.
Namun disaat Jihan sedang mengembalikan energinya kembali, suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya.
"Tok...tok..tok..."
Suara ketukan pintu tersebut, membuat Jihan menolehkan wajahnya kesamping dengan wajah lesu. Tanpa memperdulikan siapa yang mengetuk pintu kamarnya Jihan lantas beranjak bangun dari ranjangnya.
"Ya, sebentar!."ucap Jihan lalu membuka pintu sambil mengelung rambutnya asal
Ketika pintu terbuka lebar terlihat seorang pria muda yang usianya dibawanya berdiri didepan pintu dengan wajah bersemangat itu.
Setengah sadar Jihan memperhatikan penampilan pria didepannya, melihat wajahnya Jihan seperti pernah bertemu dengan pria muda didepannya.
Tapi sepertinya usianya saat itu baru 10 tahun, dan belum sebesar sekarang ini.
"Ada apa?."ujar Jihan datar sambil menatap pria didepannya sekarang yang terus memperhatikannya tanpa berkedip
"A_apa ini benar kak Jihan?."sahut pria itu dengan nada rendah tak pernah menyangka bahwa kakaknya telah kembali lagi kerumah ini
"Iya, lo Zidan kan."ujar Jihan setelah mengenal wajah tak asing pria didepannya
Dia adalah adik dari Shella yang usianya baru 17 tahun. Dan masih duduk dibangku SMP, untung saja Jihan mulai menyadari siapa pria didepanya kalau tidak bisa menimbulkan kecurigaan.
"Akhirnya kakak bisa pulang aku sangat merindukan kakak, kenapa kakak pergi tanpa memberitahu kami. Apakah kakak tahu betapa khawatirnya ibu saat itu, bahkan setiap malam ibu selalu menangisi kepergian kakak."ucap Zidan dengan perasaan bahagia terpancar diwajahnya namun juga sedih
Mendengar setiap perkataan Zidan membuat Jihan ingat kemarin. Dia sendiri juga baru ingat memang ia sempat melihat bola mata ibu yang terlihat membengkak dan rupanya duganya benar.
Bahkan Jihan sempat kesal pada Shella karena telah membuat seorang ibu yang baik dan menyayanginya ini menangis.
Jika ia diposisinya mungkin Jihan akan memperlakukan ibu dengan penuh kasih sayang.
"Oh, soal itu kakak minta maaf. Lagian kakak juga udah minta maaf sama ibu tapi belum sama ayah sih."ujar Jihan menjelaskan soal kemarin
Ada juga kejadian pada saat ayah marah besar padanya karena ia pulang kerumah setelah memutuskan hubungan antara anak dan orangtua itu.
"Aku akan membantu kakak supaya ayah mau memaafkan kakak lagi. Tanpa kakak rumah ini menjadi sepi, bahkan kami jarang berkumpul setelah kakak pergi."ujar Zidan sedikit sedih dan murung tidak ingin suasana itu terulang lagi
"Baiklah, kakak juga nggak bakal pergi dari sini kok."seru Jihan membuat suasana agar tidak sedih
"Bukannya kamu harus kesekolah, kok nggak siap-siap udah jam berapa ini."sela Jihan sambil memperhatikan penampilan Zidan yang belum bersiap-siap pergi kesekolah mengingat ini sudah jam setengah tujuh pagi
Zidan yang mengingat kalau ini hari pertamanya pergi kesekolah, Zidan menepuk pelan dahinya terkejut saat diingatkan oleh kakaknya.
"Ah_iya untung kakak ingatkan, aku hampir terlambat."sahut Zidan menjadi panik lalu bergegas pergi
Melihat tingkah Zidan membuat Jihan mengeleng-gelengkan kepalanya ringan. Segitu kocaknya Zidan ketika melupakan sesuatu.
Jihan malah semakin senang dan betah kalau bisa tinggal dirumah ini yang sangat harmonis.
***
"Ehm...ibu sedang melakukan apa?."tanya Jihan setelah selesai membersihkan diri lalu memutuskan untuk keluar kamar
Dengan langkah besar Jihan berjalan mendekati ibu yang sedang duduk dimeja makan.
Namun tangannya sibuk mengolah adonan tampak seperti sedang membuat kue saja juga ada berbagai tepung tepungan diatas meja.
"Selamat pagi sayang, ini ibu sedang buat kue untuk dijual nanti."jawab ibu menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan pekerjaan
Mendengarnya Jihan tersenyum tipis lalu duduk disamping ibunya dan memperhatikan kesibukkan ibu dalam membuat kue.
Ia juga memperhatikan jenis-jenis kue yang dibuat ibu sudah sebagian terisi dikotak untuk dioven.
"Aromanya lezat banget, pasti bakal banyak yang beli kue dari ibu!."seru Jihan juga menyukai kue yang ibu buat saat ini
Aromanya juga sangat mengugah selera, bahkan ia sendiri juga menyukainya. Kalau bisa ia bersedia memborong semuanya, tapi karena ini dagangan dari ibu ia mengurungkan niatnya.
"Kamu bisa saja, apa kamu sudah makan?."tanya ibu tertawa pelan terharu dengan pujian putrinya itu
Walaupun ibu sedikit terkejut melihat perubahan pada putrinya. Meski begitu ibu merasa lega dengan perubahan baik putrinya sekarang.
Ia juga berharap semoga perubahan ini tidak membuat putrinya jauh lagi darinya dan semakin dekat kembali pada mereka.
"Belum tapi biasanya aku nggak selera makan kalau pagi-pagi."jawab Jihan sambil mengelengkan kepalanya pelan
"Sebaiknya kamu makan sedikit, nanti perutmu bisa sakit loh."ujar ibu menegur
"Tenang aja bu, aku juga udah terbiasa. Nanti kalau lapar aku bakal makan sendiri."kata Jihan dengan santai menenangkan ibu
Semenjak Jihan keluar kamar, ia tidak melihat ayah kemudian Jihan memberanikan diri untuk bertanya.
"Ibu kalau boleh tahu ayah dimana sejak tadi belum kelihatan. Apa ayah masih tidur dikamar?."ucap Jihan dengan wajah tenang bertanya soal ayah yang tidak terlihat disekitar rumah
"Oh ayahmu, dia sudah pergi bekerja sejak pagi-pagi tadi. Memangnya ada apa?."jawab Ibu dengan nada lembut
"Tidak ada, cuma tanya saja."jawab Jihan cepat hanya sekedar ingin tahu saja
"Apa kue-kue ini akan ditaruh ditoko dan kapan diantar?."
"Tengah hari nanti tapi bukan ditaruh ditoko, ibu sendiri yang akan menjualnya."jawab ibu dengan wajah tenang
"Ibu sendiri yang menjualnya?."ucap Jihan terkejut mendengar perkataan ibu tadi
Ibu terdiam sambil menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Lagipula ini sudah biasa ia lakukan untuk menambah penghasilan dan membantu suaminya untuk mencari uang.
Jika dua orang saling bekerja dan membantu, maka semuanya akan terasa lebih ringan dan mudah.
Dan juga mereka juga sangat membutuhkan uang untuk membiayai sekolah Zidan yang masih SMP. Sebagai orang tua mereka harus mempersiapkan uang lebih untuk kebutuhan putranya disekolah nanti.
"Apa aku bisa bantu ibu menjual kue-kue ini?. "ucap Jihan menawarkan dirinya untuk ikut
Lagian ia belum memiliki pekerjaan sekarang, daripada dirumah sendirian. Akan lebih baik kalau ia ikut ibu menjual kue, untung-untung olahraga dan ingin tahu lebih banyak soal tempat ini bagaimana.
Dengan wajah heran dan bingung, Ibu menatap Jihan dengan tatapan ragu. Memangnya putrinya tidak masalah ikut bersamanya?.
Akan tetapi melihat ucapannya yang serius membuat ibu memberi ijin pada Jihan untuk ikut bersamanya menjual kue.
"Baiklah setelah tengah hari kita berangkat."jawab ibu menyetujui kemauan Jihan
"Baik bu!."kata Jihan dengan semangat mengangguk
Walaupun sebenarnya ada sedikit perasaan ragu dihati ibu, tumben putrinya yang selalu tidak ingin membantunya berdagang kini tiba-tiba memutuskan untuk ikut.
Ibu juga ingat sejak kemari malam, ia sudah melihat perubahan putrinya saat itu. Apakah putrinya benar-benar telah berubah.
Jikalau begitu ibu menjadi sangat lega dan bersyukur putrinya dapat menyadari perbuatannya yang terlalu terburu-buru dan gegabah itu.
Hanya itu aja sih dari author terimakasih atas waktunya yang saat ini baca/Bye-Bye//Smile//Grievance/