Ariel tak menyangka pernikahannya dengan Luna, wanita yang sangat dicintainya, hanya seumur jagung.
Segalanya berubah kala Luna mengetahui bahwa adiknya dipersunting oleh pria kaya raya. Sejak saat itu ia menjelma menjadi sosok yang penuh tuntutan, abai pada kemampuan Ariel.
Rasa iri dengki dan tak mau tersaingi seolah membutakan hati Luna. Ariel lelah, cinta terkikis oleh materialisme. Rumah tangga yang diimpikan retak, tergerus ambisi Luna.
Mampukah Ariel bertahan ataukah perpisahan menjadi jalan terbaik bagi mereka?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;👇
"Setelah Kita Berpisah" karya Moms TZ bukan yang lain.
WARNING!!!
cerita ini buat yang mau-mau aja ya, gaes.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26#. Kecewa
Luna pulang ke rumahnya dengan menggenggam sebongkah kekecewaan dan kemarahan yang mendalam. Bahkan ketika Bu Sandra pengacaranya menyarankan untuk mengajukan banding, Luna dengan tegas menolaknya karena sudah pasti akan kalah. Ia tak mau buang-buang waktu dan uang hanya untuk sesuatu yang sia-sia. Itulah pemikirannya.
Sesampai di rumah, Luna langsung keluar dari mobilnya dan menutup pintunya dengan kasar, lalu masuk ke dalam rumah tanpa berniat menyapa orangtuanya. Bu Yeni serta Pak Huda yang sejak tadi menunggu kedatangannya di teras dibuat terkejut dan terbengong melihat sikapnya. Mereka mengernyitkan dahinya tajam seolah ingin bertanya tetapi tak mampu terucap.
Di belakangnya Lisa datang dengan mengendarai sepeda motor. Ia lantas turun dari motornya dan menghampiri ayah dan ibunya.
"Assalamualaikum, Yah, Bu," sapa Lisa lantas menyalimi kedua orangtuanya.
"Waalaikumsalam," jawab kedua orang paruh baya itu serentak. "Bagaimana hasil sidangnya, Lis?" tanya sang ibu kemudian.
"Kak Luna dan Mas Ariel sudah resmi bercerai, Bu," sahut Lisa.
Bu Yeni menghela napas berat. "Lalu, bagaimana dengan harta gono gini?"
Lisa menggeleng pelan. "Kak Luna kalah, Bu. Semua gugatannya ditolak."
Pak Huda menghela napas panjang, tatapan matanya terlihat sendu. "Sudah kuduga," gumamnya lirih.
Bu Yeni menoleh ke arah Lisa dengan tatapan khawatir. "Lalu, bagaimana keadaan Luna sekarang? Apa dia baik-baik saja?"
Lisa terdiam sejenak, menatap pintu rumah yang tertutup rapat. "Aku nggak tahu, Bu. Tapi Kak Luna tampaknya marah banget."
Bu Yeni berdiri dan berjalan menuju pintu. "Biar ibu yang bicara sama dia."
"Hati-hati, Bu," pesan Lisa. "Kak Luna lagi emosi banget."
Bu Yeni mengangguk pelan, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Lisa dan Pak Huda saling bertatapan, perasaan khawatir menyelimuti hati mereka. Mereka tahu, Luna sedang menghadapi masa sulit dalam hidupnya. Dan mereka berharap, Luna bisa melewati semua ini dengan tegar dan menemukan kebahagiaannya kembali.
Di dalam rumah, Bu Yeni langsung masuk ke dalam kamar Luna dan melihat anak sulungnya itu sedang duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Kamar itu berantakan, pakaian berserakan di lantai, dan beberapa barang pecah belah tampak berserakan di sudut ruangan.
"Luna..." panggil Bu Yeni dengan lembut.
Luna tidak menjawab. Ia tetap duduk diam dengan tatapan kosong.
Bu Yeni mendekat dan duduk di samping Luna, meraih tangannya dengan lembut. "Ibu tahu ini berat, tapi kamu harus kuat, ya. Kamu harus bangkit dan melanjutkan hidupmu."
Luna menarik tangannya dari genggaman Bu Yeni. "Ibu nggak ngerti apa-apa! Ibu nggak tahu gimana rasanya dicurangi dan dipermalukan seperti ini!" kata Luna dengan suara yang dingin.
"Ibu memang nggak tahu persis apa yang kamu rasakan, Luna. Tapi ibu yakin kamu kuat dan bisa melewati semua ini." Bu Yeni mencoba menyemangati Luna.
"Nggak bisa, Bu! Aku nggak bisa! Ariel sudah merebut semuanya dari aku! Harta, harga diri, semuanya!" Luna berteriak sambil menangis histeris.
Bu Yeni lantas memeluk Luna dengan erat, membiarkan putrinya menangis di pelukannya. "Ibu tahu, Sayang. Tapi kamu nggak boleh menyerah. Kamu harus tunjukkan ke Ariel kalau kamu bisa hidup lebih baik tanpa dia."
Luna melepaskan pelukan Bu Yeni dan menatap ibunya dengan tatapan penuh amarah. "Gimana caranya, Bu? Sekarang aku sudah nggak punya apa-apa lagi! Gimana aku bisa hidup lebih baik, coba?"
"Kamu punya kami, Luna. Kamu punya Ibu, Ayah, dan Lisa. Kami akan selalu ada untukmu. Dan kamu juga punya dirimu sendiri. Kamu punya kekuatan, kecerdasan, dan kemampuan. Kamu bisa meraih apa pun yang kamu inginkan." Bu Yeni memberikan semangat.
Dengan nada sinis Luna langsung membantah ucapan ibunya. "Omong kosong! Itu semua cuma omong kosong!
Luna berdiri dan berjalan menuju jendela, memandang ke luar dengan tatapan hampa. Bu Yeni menatap putrinya dengan tatapan penuh kekhawatiran. Ia berharap, di balik kemarahan dan kekecewaan yang membara, masih ada secercah harapan yang bisa membimbing Luna untuk bangkit dan memulai hidup baru. Ia percaya, Luna adalah wanita yang kuat dan cerdas akan menemukan jalan keluarnya sendiri.
.
.
.
Hari berikutnya, setelah resmi menyandang status duda, Ariel langsung merubah penampilannya. Dia seperti terlahir kembali menjadi sosok yang berbeda dengan memangkas rambutnya menjadi lebih cepak ala-ala militer.
Ariel bertekad untuk melupakan masa lalunya dan menatap masa depan dengan lebih baik. Seolah perceraian itu hanyalah bagian kecil dari perjalanan hidupnya, wajahnya tampak bersinar memancarkan aura optimisme yang menular, membuat orang-orang di sekitarnya merasa penasaran dengan perubahan drastisnya.
"Wah, anak ibu malah tambah tampan dengan rambut pendek begitu!" puji Bu Endang pada Ariel ketika mereka sedang menikmati sarapan pagi.
"Ibu bisa saja," sahut Ariel sambil tersenyum kecil, lalu menyesap tehnya.
"Apa rencanamu selanjutnya, Riel?" tanya Pak Herman.
"Rencana selanjutnya, aku akan tetap bekerja sambil melanjutkan usaha sampingan sama Dian, Yah," kata Ariel. "Sayang kalau nggak diteruskan, soalnya sudah separuh jalan. Lagipula Dian partner yang sangat kompeten."
Pak Herman mengangguk setuju. "Baguslah kalau begitu. Jangan biarkan masalah pribadi menghambat karirmu."
"Apa kamu akan tetap memberikan gono-gini pada mantan istrimu itu? Dia kan, sudah menyakitimu," timpal Bu Endang.
Ariel menghela napas. "Untuk Luna... aku akan tetap memenuhi kewajibanku, Bu. Bagaimanapun, ia pernah menjadi bagian dari hidupku."
Bu Endang mendengus kesal, mendengar jawaban anaknya. "Terserah kamu saja. Ibu hanya tidak ingin kamu dimanfaatkan lagi olehnya!"
akhirnya... plong.
selamat, bestie. yuk gas karya baru.
semoga mengikut jejak Daren
Luna definisi wanita tidak tahu cara bersyukur. Di beri suami baik dan bertanggung jawab, bahkan finansial mereka bisa di bilang stabil. Namun, rumah tangga yang sebenarnya adem ayem harus berantakan, karena tuntutan yang nggak pernah ada habisnya.
Walau bab nya sedikit, tapi cukup puas karena pada akhirnya yang jahat tetap mendapat hukumannya.
Semangat selalu untuk Ibu. Semoga cerita satunya bisa panjang. Semangat dan sukses selalu💪❤❤❤🥰
.apa dengan begitu luna tobat gk ya
Padahal Ariel nya masih jadi duda😭😁
tapi Ariel dan Dian emang cuma partner kerja kan yah ... makasih Moms kita fokus ke Darrel dan anak kembarnya
aku pikir akan ada cerita Ariel dan Dian menemukan pasangan hidup atau malah mereka berdua jadi pasangan
harusnya Luna tau klu Ariel dan Dian tdk ada hubungan selain partner kerja.