Gendis merasa jika hidupnya sudah hancur setelah mengetahui jika suaminya berselingkuh dengan teman semasa sekolah suaminya, dulu.
Gendis yang tidak terima dengan pengkhianatan itu pun akhirnya menggugat cerai Arya. Namun, disaat proses perceraian itu sedang berjalan. Arya baru menyadari jika dia sangatlah mencintai Gendis dan takut kehilangan istrinya itu.
Sehingga, Arya pun berusaha berbagai cara agar Gendis mau memaafkan nya dan kembali rujuk dengan nya.
Sayang, Gendis yang terlanjur kecewa dan sakit hati karena telah dikhianati pun tetap melanjutkan perceraian itu.
Hingga suatu hari, Gendis pun mendapatkan kabar yang mengejutkan. Dimana, dirinya dinyatakan hamil anak ketiga.
Lalu, apa yang akan Gendis lakukan? Akankah dia tetap melanjutkan perceraian itu? Atau memberikan Arya kesempatan kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26
“Awasi terus wanita itu. Jangan biarkan dia masuk ke wilayah ini. Apalagi sampai bertemu dengan Gendis,” titah Mama Dewi, menatap sinis kepada wanita yang terus berusaha untuk masuk. Namun, dihalangi oleh beberapa pria bertubuh kekar yang sengaja Mama Dewi siapkan untuk menjaga putri semata wayangnya.
“Baik, Nyonya. Anda tenang saja, kami akan pastikan jika Nona Gendis aman di tangan kami,”
“Bagus. Aku percaya padamu, Anton,”
“Tapi, Nyonya. Apa, kami perlu memberitahukan Den Arya, perihal kedatangan wanita itu?”
“Tidak. Biarkan saja. Jangan sampai Arya tahu kalau wanita itu datang kemari. Usahakan buat dia pergi sebelum Arya dan Gendis keluar dari sini,”
“Baik, Nyonya. Akan segera kami laksanakan,”
“Aku percayakan putri dan menantuku kepadamu. Aku, pergi dulu,”
“Baik, Nyonya. Hati hati dijalan.”
Setelah memberi perintah kepada orang kepercayaan nya yang bernama Anton. Mama Dewi pun bergegas pulang untuk menemui suaminya yang baru saja pulang dari luar kota.
Meski sangat mengkhawatirkan keadaan Gendis. Namun, Mama Dewi akan mempercayakan putrinya itu kepada Arya. Toh Arya masih berstatuskan suami Gendis. Jadi, pria itu masih memiliki tanggung jawab akan keadaan Gendis.
Selain itu, Mama Dewi juga ingin memberikan ruang kepada keduanya agar dapat bicara tentang rencana mereka kedepan nya. Apalagi, setelah Gendis kembali di nyatakan hamil. Mau tidak mau, mereka berdua harus menunda perceraian itu sampai bayi yang dikandung Gendis lahir kedunia.
*
*
Di kamar rawat inap.
Sepeninggalan Mama Dewi, suasana di ruangan itu pun tampak sunyi dan sepi. Baik Gendis maupun Arya sama sama terdiam. Sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
Sampai akhirnya, Arya mencoba memberanikan diri untuk mendekati Gendis yang masih terbaring lemah di atas ranjang.
“Bagaimana keadaanmu? Apa, ada yang sakit atau membuatmu merasa tidak nyaman?” tanya Arya, setelah berada disamping ranjang. Tempat Gendis terbaring saat ini.
“Tidak ada yang sakit. Aku hanya merasa pusing dan sedikit mual.” jawab Gendis, lirih.
Seketika, keduanya merasa canggung satu sama lain. Satu bulan lebih berpisah tanpa komunikasi, tentu membuat keduanya kikuk saat harus berkomunikasi langsung seperti saat ini.
Dimana Arya terlihat kebingungan untuk memulai obrolan. Padahal, orang yang dia hadapi adalah wanita yang selama belasan tahun menemani dirinya dalam menjalani keseharian.
“Apa perlu Mas panggilkan Dokter?” tanya Arya lagi. Semakin mengikis jarak dengan sang istri.
“Tidak perlu, aku hanya ingin beristirahat saja,”
“Baiklah. Tidurlah lagi, aku akan menemanimu disini,”
“Kalau boleh tahu. Sebenarnya, apa yang terjadi padaku, Mas?”
“Bukan nya tadi Mama sudah bilang. Kalau kamu pingsan saat masuk ke ruangan sidang,”
“Karena takut terjadi sesuatu padamu. Makanya, aku dan Mama membawamu kemari. Tapi, syukurlah. Semua baik baik saja,”
“Tapi, kenapa aku bisa pingsan? Apa yang dikatakan oleh Dokter setelah memeriksaku?”
Dengan mengumpulkan semua keberanian yang dia punya. Arya kembali melangkah, semakin mendekat ke arah Gendis. Tangan kekarnya terulur. Menggenggam lembut tangan istrinya.
“Dokter bilang. Kamu baik baik saja dan apa yang kamu alami tadi adalah hal yang wajar dialami oleh wanita yang sedang hamil.”
Duuaaarrrr…
Bagai disambar petir di siang hari. Gendis tersentak kaget sampai tubuhnya membeku saat tahu jika saat ini dia tengah hamil lagi.
“Iya, sayang. Saat ini, kamu sedang hamil lagi. Hamil, anak ketiga kita.” lanjut Arya, saat Gendis menatap ke arahnya dengan tatapan tak percaya.
Set.
Greeppp.
Melihat Gendis yang terlihat shock setelah mendengar berita kehamilan nya. Arya langsung menarik tubuh istrinya dan membawanya dalam pelukan.
Arya mendekap erat tubuh wanita yang selama satu bulan lebih ini dia rindukan. Namun, tidak bisa dia temui karena ulahnya sendiri.
“Maafkan aku, sayang. Maafkan atas kekhilafanku kemarin. Aku sadar kalau aku salah, tapi tolong. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku janji, kesalahan itu tidak akan pernah terulang.” lanjut Arya, sembari memeluk erat tubuh Gendis yang hanya terdiam. Mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya.
Sementara, Arya sendiri saat ini sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Manakala mengingat semua kesalahan yang sudah dia lakukan kepada istri dan juga anak anaknya.
“Aku lelah, Mas. Aku ingin istirahat,” lirih Gendis. Membuat Arya mengurai pelukannya.
“Iya. Tidurlah. Mas akan disini, jika membutuhkan sesuatu. Jangan ragu untuk membangunkan Mas, ya,”
“Eemmm.”
Gendis pun mulai memposisikan dirinya dan bersiap untuk tertidur. Namun, pada kenyataanya. Meski matanya terpejam, tapi Gendis tidak benar benar tidur.
Sementara Arya sendiri, tetap terjaga. Demi memastikan jika istrinya itu baik baik saja. Pria itu bahkan tidak beranjak sedikitpun dari samping Gendis.
Dan entah di jam berapa, akhirnya. Baik Gendis maupun Arya sama sama tertidur. Gendis tidur di ranjangnya, sedangkan Arya. Tidur dengan posisi duduk, dengan menyandarkan kepalanya di ranjang. Tepat di samping tangan Gendis.
*
*
Keesokan harinya.
Gendis mulai membuka matanya, saat sayup sayup indra pendengar nya menangkap suara adzan subuh. Menyadari jika subuh telah tiba, Gendis pun berusaha untuk bangun dari tidurnya.
Akan tetapi, saat berusaha untuk bangun, Gendis dikejutkan dengan kehadiran Arya yang tampak tertidur lelap di samping nya dengan posisi duduk.
Menyadari jika ada Arya disamping nya yang sedang tertidur lelap. Membuat Gendis mengurungkan niatnya untuk bangun dan kembali ke posisinya yang terbaring.
Lalu, menatap lekat wajah pria yang sedang terlelap di samping nya dan saat itu, Gendis baru menyadari jika ada yang berubah dari suaminya.
“Wajah kamu kenapa tidak terawat seperti ini sih, Mas? Sesibuk itukah kamu sekarang? Sampai untuk mencukur kumis pun kamu tidak sempat.” gumam Gendis, saat menyadari betapa berantakannya wajah dan penampilan Arya sekarang.
Rambut yang biasa tertata rapi, kini dibiarkan sedikit gondrong. Belum lagi kumis yang biasanya tidak pernah ada. Kini, dibiarkan tumbuh begitu saja. Membuat wajah Arya terlihat kusut dan kusam.
Ingin sekali menyentuh wajah itu, tapi Gendis berusaha untuk menahan diri. Manakala, bayang bagaimana Arya tengah bercumbu mesra dengan Sharon kembali datang menghantui.
Tidak ingin hanyut dalam lamunan nya yang menyakitkan. Gendis pun akhirnya memutuskan untuk bangun. Untuk menjalani kewajiban nya sebagai seorang muslimah.
“Sayang. Kamu mau kemana? Kenapa turun dari ranjang?”
Seketika, langkah Gendis yang hampir saja tiba di depan pintu kamar mandi, terhenti saat mendengar suara berat Arya yang memanggilnya.
“Aku mau kekamar mandi, Mas,” jawab Gendis.
“Mau aku bantu?” tawar Arya.
“Tidak perlu. Aku bisa kok,” tolaknya.
“Baiklah. Kalau butuh bantuan, jangan ragu untuk memanggilku,”
“Iya, Mas.”
Gendis pun kembali melanjutkan langkahnya. Masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Untuk melaksanakan kewajiban nya.
plin plan bgt JD bos nga tegas sama anak buah
setelah kepergok maka dimulailah ketidak tenangan, dan ujung ujungnya mengaku khilaf, coba nga ketahuan beh serasa diri pasangan selingkuh paling bahagia 👻👻👻👻👻👻