Di antara debu masa lalu dan dinginnya Jakarta, ada satu bangunan yang paling sulit direnovasi: Hati yang pernah patah.
Lima tahun lalu, Kaluna Ayunindya melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: meninggalkan Bara Adhitama—pria yang memujanya—dan cincin janji mereka di atas meja nakas tanpa sepatah kata pun penjelasan. Ia lari ke London, membawa rasa bersalah karena merasa tak pantas bersanding dengan pewaris tunggal Adhitama Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Satu Koper, Dua Arah
Jarum jam di dasbor mobil menunjukkan pukul 01.00 dini hari saat Bara memarkir mobilnya di basement apartemen.
Rapat dengan Pak Hamengku berjalan alot. Orang tua itu mencium gelagat ketidakharmonisan antara manajemen dan masalah di lapangan. Bara harus memutar otak, memberikan jaminan pribadi, dan bersumpah bahwa masalah premanisme di Bali akan selesai dalam 48 jam.
Ia lelah. Sangat lelah. Tulang-tulangnya terasa mau lepas. Tapi yang lebih menyiksa adalah beban di dadanya saat mengingat pertengkaran di mobil tadi sore.
Tamparan Kaluna.
Tatapan kecewa istrinya.
Bara menyandarkan kepalanya di setir sejenak. "Gue salah," bisiknya pada kegelapan. "Gue cemburu buta."
Ia turun dari mobil, menyeret langkah menuju lift. Di kepalanya, ia sudah menyusun skenario permintaan maaf. Ia akan memeluk Kaluna—meski istrinya sedang tidur—dan berbisik bahwa dia mencintainya lebih dari apapun. Dia akan berjanji mengurangi jam kerja. Dia akan...
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai Penthouse.
Lampu ruang tengah menyala terang. Tidak seperti biasanya. Biasanya jam segini lampu sudah dimatikan untuk penghematan energi—kebiasaan hemat Kaluna yang terbawa sejak zaman kuliah.
Bara masuk. Hening. Tidak ada suara TV.
Ia berjalan menuju kamar utama. Pintunya terbuka lebar.
Di atas ranjang King Size, sebuah koper besar berwarna silver terbuka lebar.
Kaluna sedang berdiri di samping lemari, memasukkan tumpukan baju ke dalam koper itu. Gerakannya cepat, efisien, dan menakutkan. Tidak ada keraguan dalam setiap lipatan bajunya.
Bara membeku di ambang pintu. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Kamu... mau ke mana?" tanya Bara, suaranya parau.
Kaluna tidak menoleh. Ia terus memasukkan blazer kerjanya. "Ke Bali."
"Sekarang?"
"Besok pagi. Penerbangan jam sepuluh," jawab Kaluna datar. Ia mengambil pouch kosmetik dan melemparkannya masuk ke koper.
Bara melangkah masuk, mencengkeram pinggiran koper, mencegah Kaluna menutupnya.
"Kamu serius?" Bara menatap istrinya tak percaya. "Kamu benar-benar mau pergi menemui Elang? Kamu mau menerima tawarannya?"
Kaluna akhirnya menatap Bara. Matanya kering, tidak ada air mata. Hanya ada kelelahan yang sangat dalam.
"Aku pergi untuk bekerja, Bara. Elang mengirimkan tiket dan data tanah. Aku sudah mempelajarinya tadi malam. Lokasinya di Uluwatu, konturnya ekstrem. Itu tantangan arsitektur yang..."
"Itu jebakan!" potong Bara keras, membanting tutup koper hingga tertutup. "Dia nggak butuh arsitek, Kaluna! Dia butuh kamu! Dia mau menghancurkan aku lewat kamu! Apa kamu senaif itu?"
"Atau mungkin kamu yang terlalu insecure?" balas Kaluna tenang. "Kamu takut aku sukses di luar bayang-bayangmu? Kamu takut orang lain melihat potensiku sementara kamu cuma melihatku sebagai pengurus anak?"
"Aku suamimu, Kaluna! Aku melarangmu!"
"Dan aku manusia merdeka, Bara!" Kaluna meninggikan suaranya untuk pertama kali malam itu. "Jangan gunakan kartu 'suami' untuk mengontrolku saat kamu bahkan gagal menjalankan peran itu dengan baik seminggu ini!"
Kaluna menarik koper itu dari tangan Bara, meletakkannya di lantai, dan menguncinya. Klik. Klik. Suara kunci itu terdengar seperti vonis hakim.
"Aku butuh jarak, Bara," ucap Kaluna, suaranya kembali merendah namun bergetar. "Aku butuh ruang untuk berpikir. Apakah aku masih Kaluna si Arsitek, atau aku cuma aksesoris di hidupmu yang dipajang saat butuh pencitraan."
Bara terdiam. Kalimat itu menamparnya lebih keras dari tamparan fisik tadi sore.
"Anak-anak?" tanya Bara lirih.
"Mereka ikut aku," jawab Kaluna tegas. "Luna masih ASI, dia butuh ibunya. Arka sedang libur sekolah seminggu. Aku sudah booking villa terpisah dari lokasi proyekmu maupun proyek Elang. Aku akan urus mereka sendiri."
"Kamu bawa mereka pergi dariku?" mata Bara memanas.
"Aku bawa mereka liburan, Bara. Sesuatu yang kamu janjikan bulan lalu tapi tidak pernah ditepati," koreksi Kaluna. "Kamu bisa fokus selesaikan masalah preman dan investor di sini. Tanpa gangguan. Tanpa rengekan anak-anak. Tanpa istri yang menuntut waktu."
Bara menggeleng. Ia maju selangkah, mencoba meraih tangan Kaluna.
"Jangan pergi, Lun. Tolong. Kita bisa bicarakan ini. Aku janji aku berubah. Aku akan pecat Zara kalau perlu, aku akan—"
Kaluna mundur, menghindari sentuhan itu.
"Jangan janji kalau kamu nggak bisa tepati," potong Kaluna. "Aku pergi besok pagi. Tolong jangan halangi aku. Kalau kamu bikin keributan di depan anak-anak besok, aku pastikan aku nggak akan pulang lagi."
Ancaman itu nyata. Bara bisa melihatnya di mata Kaluna. Itu bukan gertakan. Istrinya sudah berada di tepi jurang kesabaran.
Bara mundur selangkah, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Tubuhnya lemas.
"Baik," bisik Bara. "Pergilah. Kalau itu yang kamu mau."
"Itu yang aku butuhkan," koreksi Kaluna lagi.
Kaluna mematikan lampu kamar utama, lalu berjalan keluar menuju kamar anak-anak.
"Aku tidur sama anak-anak malam ini," ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.
Bara ditinggalkan sendirian di kamar utama yang luas, dingin, dan kosong. Koper silver itu berdiri tegak di sudut ruangan, siap membawakan separuh jiwanya pergi esok hari.
Bara duduk di tepi ranjang, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Dia memenangkan rapat dengan Pak Hamengku. Dia punya uang, kekuasaan, dan ribuan karyawan. Tapi malam ini, dia merasa seperti orang paling miskin di dunia.
Keesokan harinya. Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3.
Kaluna mendorong stroller Luna dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggandeng Arka. Koper besar didorong oleh porter.
"Mama, Papa nggak ikut?" tanya Arka polos sambil menjilat lolipop.
Hati Kaluna mencelos. "Papa kerja, Sayang. Nanti Papa nyusul kalau kerjanya sudah selesai."
"Papa kerja teyus," celetuk Luna dengan cadelnya.
Kaluna tersenyum getir. Bahkan balita dua tahun pun tahu.
Ia berjalan menuju gerbang keberangkatan. Di sana, seseorang sudah menunggu. Bukan Bara.
Elang Pradipta berdiri di dekat counter check-in, tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Ia mengenakan kemeja linen putih santai dan kacamata hitam.
"Tepat waktu," sapa Elang, menghampiri mereka. Ia berjongkok, menyapa Arka. "Hai, Jagoan. Siap ke pantai?"
Arka, yang mudah akrab dengan siapa saja, tersenyum malu-malu. "Om siapa?"
"Panggil Om Elang. Teman Mama," jawab Elang ramah. Ia berdiri, menatap Kaluna. "Saya senang kamu datang. Saya pikir Bara akan mengurungmu di menara."
"Jangan salah paham, Elang," ujar Kaluna dingin. "Saya menerima tiket ini karena saya mau survei tanah. Bukan untuk liburan bersamamu."
"Apapun alasannya, saya senang," Elang mengambil alih koper Kaluna dari porter. "Biar saya bantu check-in."
Saat mereka berjalan masuk ke area keamanan, Kaluna sempat menoleh ke belakang sekilas. Berharap, hanya berharap sedikit, ada sosok Bara yang berlari mengejarnya seperti di film-film romantis.
Tapi tidak ada.
Lobi bandara ramai, tapi tidak ada Bara.
Yang tidak Kaluna tahu, di lantai dua, di balik kaca restoran yang menghadap ke area check-in, Bara berdiri mematung. Tangannya terkepal di saku celana, matanya merah menahan amarah dan duka melihat istri dan anaknya berjalan bersama musuh terbesarnya.
Di samping Bara, Zara berdiri sambil melipat tangan di dada.
"Lo biarin mereka pergi gitu aja?" tanya Zara tak percaya.
"Kalau gue turun ke sana dan nonjok Elang sekarang, Kaluna bakal makin benci sama gue," jawab Bara serak. "Gue harus main cantik."
Bara berbalik, menatap sepupunya dengan tatapan mematikan.
"Zara, siapkan jet pribadi kantor. Kita berangkat ke Bali siang ini juga."
"Ngapain?"
"Kita pindahkan markas ke sana," ujar Bara dingin. "Gue mau perang. Dan gue nggak akan biarkan Elang menyentuh keluarga gue satu inchi pun."
...****************...
Bersambung...
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️