8 tahun yang lalu, seorang anak perempuan menatap penuh binar bahagia pada pangeran impiannya. Selalu mengingat apa yang pria idaman nya itu katakan.
"Tumbuh lah menjadi wanita cantik, karena aku tidak suka wanita jelek!!!"
Wanita itu pun tumbuh dengan baik, bahkan terlalu baik. Tumbuh yang ia yakini malah menjadi salah arti, setiap hari ia mengkonsumsi makanan yang menurutnya mempercepat pertumbuhan. Ya... Ia tumbuh... Tapi tumbuh menjadi besar dan lebar.
"You know me?"
Erlangga Saputra.
"Om Ganteng..."
Mia Sophia Adinata.
follow my ig @ismi_kawai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Kawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CBT 26
Langkah kaki Mia terhenti ketika ia sampai di parkiran mobil. Haris mengejarnya dan kini berdiri tepat di belakang Mia.
Tubuh Mia bergetar, isak tangisnya pecah. Dengan perlahan ia berjongkok dan memeluk dirinya sendiri. Haris yang melihat itu merasakan sembilu. Baru kali ini ia melihat Mia begitu rapuh.
Masih segar dalam ingatannya saat Mia mengatakan berhenti untuk menyukai pria di Cafe tadi. Seorang pria dewasa.
Jadi Mia menaruh hati pada Pria itu?
Haris meringis saat mengetahui saingannya yang cukup berat. Selama ini dia selalu bertanya-tanya seperti apa pria idaman Mia. Kini terjawab sudah, Mia sudah melabuhkan hatinya pada seorang pria dewasa. Bahkan ia telah menunggu selama 8tahun.
Pernyataan Mia yang menyerah dan akan berhenti menyukai orang itu memberikan angin segar untuk Haris, berarti dia masih ada kesempatan. Tapi,
Bagaimana bisa gue menggantikan orang yang bahkan sudah ada di hati lo selama 8th?
"Mia... jangan nangis!. Masih ada gue disini buat lo." Haris memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
Mia yang sedang asik dengan tangisnya kini mengangkat kepala dan menoleh pada Haris.
"Gue... Gue suka sama lo dari kita SD, ijinin gue gantiin dia dihati lo."
🌷🌷🌷
Hani mendapati Angga yang belum kunjung kembali dari toilet. Ia heran mengapa tunangannya lama sekali.
Aku susul aja deh!
Baru Hani ingin beranjak dari kursi, Angga sudah berdiri disampingnya.
"Oh gosh! Kamu ngagetin aja." Hani memandang Angga yang diam. "Ada apa?"
Pikiran Angga entah kemana, kata-kata Mia tadi terus berputar seperti kaset kusut di kepalanya.
"Entah Om masih ingat atau mungkin sudah melupakan, 8 tahun lalu Om bilang akan menyukaiku jika aku tumbuh menjadi wanita cantik. Tapi kenyataannya gak begitu, aku gak cantik dan Om gak akan suka aku."
"Aku berhenti disini, untuk menyukai mu Om."
"Sayang..." Panggil Hani.
"Aku berhenti disini, untuk menyukai mu Om."
Hani menepuk tangan Angga karena gemas, sedari tadi Angga kerjaannya melamun.
"Angga!"
Suara Hani yang cukup keras ditambah sentakan pada tangannya mengalihkan atensi.
"Ha-Hani, kamu pulang sendiri ya. Aku ada urusan sebentar!" Angga berjalan keluar Cafe tanpa menunggu jawaban Hani yang bingung.
Angga harus mengejar Mia, ia baru mengingat apa yang pernah ia katakan pada gadis itu.
"Tumbuhlah menjadi wanita cantik, karena om tidak suka wanita jelek!"
Angga tidak menyangka, gurauannya kala itu menjadi pedoman hidup Mia hingga dewasa. Menyukainya sepanjang waktu selama 8tahun. Ada rasa senang saat mengetahui hal itu, tapi ia menyesali betapa jahat dirinya ketika tidak mengenali Mia saat pertama bertemu, padahal waktu itu ia merasa tidak asing.
"Aku berhenti disini, untuk menyukai mu Om."
Lagi-lagi hatinya berdenyut nyeri saat kata itu terlintas. "Don't do this... Please forgive me Mia." Gumamnya.
Angga sendiri tidak tau mengapa ia tidak mau Mia menyerah. Perasaan apa yang saat ini ia rasakan, Angga bingung sendiri.
🌷🌷🌷
Mia masih terdiam ditempatnya, mendengar Haris yang tiba-tiba menyatakan perasaan bukanlah hal yang di prediksinya. Selama ini Mia hanya menganggap Haris teman baik.
Mia berdiri dari peraduannya dan berbalik badan menghadap Haris. Hening sesaat hingga Mia dengan terpaksa melontarkan kata yang membuat Haris lemas.
"Maaf, selama ini gue cuma anggep lo temen. Dan keadaan gue saat ini bukan moment yang pas untuk bahas itu. Gue harap lo ngerti."
Ditolak langsung tanpa basa basi itu rasanya kaya nano-nano. Haris salah tingkah sendiri merutuki keteledorannya yang tidak kenal waktu dan tempat.
"Umm... Iya... Sorry, gue yang salah. Harusnya gue gak nambah pikiran lo dengan omongan gue." Haris mengusap tengkuknya yang terasa dingin karena menahan malu. "Gak usah di pikirin, gak dijawab juga gak apa-apa."
Ada rasa bersalah yang terlintas di benak Mia, tapi Mia tidak mau memberi harapan palsu pada teman yang selalu menghiburnya ini. "Makasih ya Har... Udah mau ngertiin gue."
"Santai aja! yuk pulang udah gelap." Haris memegang tangan Mia dan membawanya ke mobil. Mia menurut dan memasuki mobil.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
btw ceritanya seruu....