Rosetta Luwig di hidupkan kembali setelah mengalami sebuah kecelakaan dimana ia sedang mengandung anak kakak tirinya. Dia mencintai Jhonatan Maxiliam, namun ternyata pria itu justru mencintai adiknya. Dengan berbagai cara dia menjebak Jhonatan hingga mengandung anaknya, namun sayang ternyata anaknya tidak di akui bahkan keluarganya membencinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adik Rosetta
"Cukup Lili!" teriak Maxiliam. Bagaimana bisa seorang anak di pisahkan nenek dengan cucunya dan seorang ayah di pasahkan dengan anaknya. "Kalau boleh memisahkan ku dengan Javer, tapi tidak dengan mereka. Bagaimana kalau Javer meginginkan bersama mereka? Ingin bertemu dengan mereka, Javer tidak tau apa-apa, dia juga tidak ingin di lahirkan dalam keadaan seperti ini."
Ucapan Maxiliam membuat daddy Agam yang awalnya marah kini melunak, begitupun nyonya Diane, mereka juga berpikir Javer tidak akan mau di lahirkan dalam keadaan seperti ini.
Lili mengigit bibir bawahnya. "Kalau begitu, lebih baik kalian tidak melihat ku. Kalian lebih memilih mereka."
Maxiliam benar-benar kecewa, ia pun bergegas pergi dan tak menyangka jika ternyata Lili masih keras kepala.
....
"Hentikan Emely!" teriak Rosetta. Emely tak bisa menahan amarahnya ketika mendengarkan ceritanya. "Sudah biarkan saja, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini."
"Benar Emely, sekarang kita harus membawa Rosetta dan Javer pergi dari rumah ini." Mario menimpali. Ia dan Rosetta mengejar Emely agar tidak membuat keributan di rumah daddy Agam.
"Demi aku dan Javer, ayo kita pergi."
"Rosetta!" teriak seorang pria. Ia berlaris seakan ia melihat sebuah berlian yang telah hilang dan sudah di temukan.
"Ayo kita pergi," ucap Rosetta. Sejenak ia melihat Emely. "Emely aku harap kau tidak membuat keributan."
Emely tak menjawab, langkah kakinya masih berat untuk meninggalkan rumah daddy Agam. Ia belum memberikan pelajaran pada mereka.
"Rosetta!"
Emely melirik tajam Maxiliam. Suatu saat ia akan membuat Javer belajar ilmu bela diri agar anak asuhnya bisa memukul wajah Maxiliam sepuasnya. Berdekatan dengan Maxiliam, lama-lama tak bisa menahan amarahnya.
"Tunggu Emely, aku ingin tau keadaan Javer," ucap Maxiliam dengan nada memelas.
Emely mengepalkan kedua tangannya. Ia mendekati Maxiliam dan menunjuk ke wajahnya. "Kau tidak bisa di sebut sebagai seorang ayah, kau menyakiti Javer sampai Javer membenci mu dan kau tau, aku melihat air mata di pipinya. Dia menangis tanpa dia ingin mengatakan pada Rosetta. Kau ayah terburuk di dunia ini," ucap Emely sambil menunjuk dada Maxiliam
....
Sedangkan di dalam mobil, seorang pria tengah mengamati rumah daddy Agam. Pria tampan itu kedua matanya berkaca-kaca. Dari dalam mobil ia bisa melihat semua adegan di rumahnya, ternyata keluarganya tak baik-baik saja. Bahkan ia melihat wajah amarah di wajah kakaknya tadi. Ia memutar balik mobilnya tanpa di sadari oleh Maxiliam dan Emely, ia mengingat betul nomor plat mobil yang di tumpangi kakaknya tadi.
Ia teringat dengan ibu dan ayahnya, pantas saja selama ini ibu dan ayahnya tak memperdulikannya. Ternyata ia bukan anak kandung mereka, baru tadi ia mendengarkan percakapan kedua orang tuanya dan mendengarkan nama Lili adalah anak mereka yang bukan dirinya, dan kedua orang tuanya mengatakan bahwa dia adalah anak yang di tukar.
Ia tidak tau alasannya apa, tapi yang jelas ia ingin memastikan semuanya.
Dari jarak jauh ia melihat plat mobil tadi dan diam-diam membuntutinya, hingga tiba di baseman. Ia pun keluar begitu Rosetta dan Mario keluar. Ia mengikuti dari belakang sampai menuju ke pintu lift. Ia pun ikut masuk ketika mereka masuk. Jantungnya berdetak kencang saat berdekatan dengan kakaknya. Ingin sekali ia memeluk kakaknya.
Merasa di perhatikan, Rosetta melirik pemuda di sampingnya. Ia menatap separuh wajahnya karena pria di sampingnya memakai topi hitam dan jaket hitam.
"Rosetta."
Rosetta menoleh ke arah Mario, sejenak Mario menatap pria di samping Rosetta yang sudah menyita perhatian Rosetta, rasanya ia tidak terima. "Apa kau baik-baik saja?"
"Iya aku baik-baik saja."
Sampailah pintu lift di lantai apartemen Rosetta. Pemuda di sampingnya pun keluar dan mendongak melihat punggung Rosetta semakin menjauh. Ia melihat Rosetta yang membuka pintu apartemennya. Ia tak sanggup memanggilnya, ia takut Rosetta tidak akan mau mengakuinya sebagai adiknya.
"Rosetta aku keluar dulu," ucap Mario. Ia merasa curiga pada pria tadi, ia takut pria itu mata-mata dari Maxiliam.
Mario melihat pria yang ia temui tadi ada di depan pintu lift, bersandar di dinding. Ia bergegas ke arahnya dan menarik kerah pakaian pria tersebut. "Siapa kau? Kenapa kau mengikuti kami."
"Aku bukan siapa-siapa, aku hanya lewat."
"Bohong! Kau pikir aku bodoh percaya pada bualan mu, katakan siapa dirimu?" tanya Mario.
Pemuda di depannya pun menunduk. "Aku hanya bertemu dengan kak Rosetta," ucapnya sambil menunduk.
Mario mengerutkan keningnya, ia tak mungkin salah dengar. Pemuda di depannya memanggil Rosetta dengan sebutan kakak.
...
Mario terkejut mendengarkan pengakuan pemuda di sampingnya. Setelah mendengarkan ucapan pemuda tadi, ia membawa pemuda itu ke rumahnya dan Pemuda itu menceritakan semuanya kehidupannya hingga membuatnya menganga dengan lebar. Jika betul pemuda di sampingnya yang bernama Albert adalah adik Rosetta, sejujurnya ia cukup senang. Setidaknya Rosetta tidak bersaudara dengan Lili, wanita bermuka dua itu.
"Aku akan menyelidikinya dan memberikan buktinya, untuk sekarang kau tinggalah di rumah ini jangan pergi sebelum aku mendapatkan bukti."
"Terima kasih karena kau mau membantu ku, sepertinya kau menyukai Kak Rosetta," ucap Albert.
Di lihat senyumannya pun sama seperti Rosetta dan wajahnya persisi seperti daddy Agam. "Kau tenang saja, kedua orang tua mu tak akan memaksa mu bekerja. Rosetta pasti senang memiliki adik seperti mu, dia pasti akan menjadi kakak yang baik."
"O iya tadi kenapa kakak sepertinya marah dan kalian berdebat dengan seorang perempuan, ah iy maaf aku kelewatan. Kalau tidak mau bercerita tidak apa-apa," ucap Albert. Ia paham, dirinya masih belum siapa-siapa mereka.
Sepertinya ia tak perlu lagi menutupinya, ia yakin Albert adalah adik Rosetta. Ia pun menceritakan semuanya tak satu pun yang terlewat.
"Kau harus berhati-hati pada Lili, dia saja bisa membuat hubungan Rosetta dengan kedua orang tuanya kacau, mungkin hubungan mu bisa. Apa kedua orang tua mu sudah menghubungi Lili?"
"Mungkin belum, aku akan mencari tau semuanya. Kau tenang saja, kau akan menerima keadilan."
Albert mengangguk dan tersenyum, pria di sampingnya sangat baik. "Terima kasih kak."
"Bi!" Mario memanggil seorang maid yang kebetulan lewat di depannya. "Kau rapikan kamar tamu untuknya, layani dia dengan baik."
"Baik tuan," ucap seorang maid itu
Drt
"Sebentar, ini dari Rosetta."
"Iya Rose."
"Aku ada di rumah, nanti aku akan kesana."
"Baiklah." Mario menaruh ponselnya di dalam sakunya. "Aku ke apartemen Rosetta dulu. Anggap di rumah sendiri," ucap Mario.
Albert mengedarkan pandangannya, ia duduk kembali sambil menikmati sebuah kue di depannya.