Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Hei, semuanya! Putri tidur kita akhirnya bangun juga!"
Suara riang itu membuyarkan lamunan Keisya.
Ia mengangkat kepala dan mendapati Geovanne Aleo Jordan sedang berdiri di dekat meja makan dengan senyum jahil yang sudah sangat dikenalnya.
Geo adalah kakak ketiganya. Usia mereka hanya terpaut satu tahun, sehingga hubungan keduanya jauh lebih akrab dibandingkan dengan kakak-kakaknya yang lain. Bahkan sejak dulu mereka beberapa kali bersekolah di tempat yang sama, dan sebentar lagi Keisya juga akan masuk ke SMA tempat Geo belajar.
Belum sempat Keisya membalas godaan itu, sesuatu yang dingin menyentuh dahinya.
Ia refleks menoleh dan mendapati Ivan yang berdiri tepat di sampingnya sambil mengernyitkan dahi. Tatapan dokter muda itu dipenuhi rasa curiga.
"Kamu demam, ya, Kei?"
Pertanyaan itu sontak membuat seluruh anggota keluarga yang sedang menikmati sarapan menghentikan aktivitas mereka dan mengalihkan perhatian kepada Keisya.
Ia buru-buru menggeleng.
"Nggak kok, Kak. Keisya sehat."
Ia mencoba tersenyum lalu melangkah menuju kursi kosong di sebelah Geo.
Sayangnya, sebelum sempat duduk, tubuhnya mendadak terangkat.
Dalam sekejap ia sudah berpindah tempat, duduk nyaman di pangkuan Alex.
"Kalau memang lagi nggak enak badan, hari ini nggak usah ke sekolah."
Nada bicara Alex terdengar tenang, tetapi penuh ketegasan.
Pria paruh baya itu kembali menempelkan telapak tangannya ke dahi Keisya, memeriksa suhu tubuh putri bungsunya dengan teliti.
"Hm... masih agak hangat."
Gumamannya terdengar cukup pelan, tetapi tetap bisa didengar semua orang yang berada di meja makan.
Setelah beberapa saat, Alex menjauhkan wajahnya.
Keisya kembali menggeleng pelan.
"Nggak apa-apa, Yah. Hari ini Keisya harus ikut gladi resik di sekolah."
Ada tekad yang tak bisa ia jelaskan dalam suaranya.
Sesungguhnya, yang paling ia rindukan bukanlah rumah mewah ini ataupun kemewahan keluarga Jordan.
Melainkan sosok Alex.
Ayah yang saat ini masih memandangnya dengan penuh kasih sayang. Sorot mata yang hangat itu tak pernah berubah, selalu dipenuhi kelembutan setiap kali menatap putra bungsunya.
Di kehidupan sebelumnya, Keisya terlalu sibuk mencari perhatian hingga tidak pernah menyadari betapa besar cinta yang telah diberikan ayahnya sejak awal.
Kini, hanya dengan berada sedekat ini, merasakan pelukan hangat Alex dan perhatian tulus yang tercurah tanpa syarat, dada Keisya kembali dipenuhi rasa sesak.
Untuk pertama kalinya setelah kembali ke masa lalu, ia benar-benar merasakan betapa berharganya kesempatan kedua yang telah Tuhan berikan.
"Buatkan bubur."
Suara bariton yang berat dan berwibawa itu memecah kehangatan suasana di meja makan. Ucapan yang sederhana tersebut datang dari sisi kanan ruangan, membuat Keisya spontan menoleh. Tanpa sadar ia memutar tubuhnya di atas pangkuan Alex hingga membelakangi sang ayah, hanya untuk melihat siapa pemilik suara itu.
Namun, tepat saat pandangannya bertemu dengan sosok yang berdiri di sana, seluruh tubuhnya mendadak membeku.
Napasnya tercekat, jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa detik.
Aldeno Juvantus Jordan, sang kakak sulungnya.
Wajah pria itu masih sama seperti yang ia ingat. Garis rahangnya tegas, sorot matanya tajam namun tenang, dan pembawaannya selalu memancarkan kewibawaan sebagai anak pertama keluarga Jordan.
Akan tetapi, bagi Keisya, wajah itu bukan sekadar wajah seorang kakak.
Wajah itulah yang terus menghantuinya bahkan setelah kematian.
Di kehidupan sebelumnya... Alden adalah orang yang mengakhiri hidupnya.
Pisau yang menggorok lehernya, tatapan dingin tanpa belas kasihan, serta darah yang mengalir membasahi lantai masih terasa begitu nyata di dalam ingatannya.
Tubuh Keisya bergetar hebat.
Rasa takut yang selama ini terkubur kembali muncul tanpa bisa ia bendung.
Alex yang masih memeluknya segera menyadari perubahan itu. Tubuh kecil di pangkuannya mendadak menegang, bahkan napasnya menjadi tidak beraturan.
Tanpa berpikir panjang, Alex langsung menarik Keisya lebih dekat ke dalam pelukannya.
Lengan pria itu melingkar erat, seolah ingin melindungi putra bungsunya dari apa pun yang membuatnya ketakutan.
Telapak tangannya mengusap perlahan lengan dan punggung Keisya dengan gerakan penuh kesabaran.
"Hei, sayang..."
Suara Alex terdengar begitu lembut.
"Kei... kenapa, Nak?"
Tidak ada sedikit pun nada memaksa dalam pertanyaannya. Yang ada hanyalah kekhawatiran seorang ayah.
Perlahan, tubuh Keisya mulai kembali rileks. Ia membiarkan punggungnya bersandar pada dada Alex yang hangat, menikmati rasa aman yang selama ini tak pernah ia sadari begitu berharga.
Di sisi lain, Alden mengernyit pelan. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa adik bungsunya menatapnya dengan ketakutan sebesar itu.
Dengan langkah tenang, ia mendekat lalu mengusap lembut pucuk kepala Keisya.
"Kamu masih marah karena aku nggak bisa datang ke acara perpisahanmu lusa?" Nada suaranya tetap datar seperti biasa.
Keisya hanya mampu menggeleng pelan.
Ia takut... karena bayangan kematiannya sendiri masih terlalu jelas.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu