Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 8 Uang Pelicin|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Dua hari setelah percakapan di trotoar.
Davian berdiri di depan meja eksekutif dengan tablet di tangan dan ekspresi seorang asisten pribadi yang sudah membedah argumennya sejak fajar menyingsing. Sementara itu, Bara duduk di kursi kebesarannya dengan tangan terlipat di dada.
Wajahnya tidak menunjukkan amarah yang meledak-ledak, melainkan sebuah ketenangan yang jauh lebih mengerikan bagi Davian—itu adalah jenis kesabaran seorang predator yang sedang menghitung detik-detik sebelum mematahkan leher mangsanya.
"Ulangi sekali lagi," perintah Bara.
Davian menghela napas pendek, mencoba menjaga mentalnya. "Wakadanna, saya sudah menjelaskan ini tiga kali—"
"Buka lagi. Dari awal. Aku ingin mendengar kegilaan dalam urutan yang benar."
"Rencananya..."
"Rencana konyolmu, maksudmu?" potong Bara tanpa ampun.
Davian menelan semua protesnya di tenggorokan. "Baik. Rencana saya yang menurut Wakadanna tidak masuk akal ini adalah: Wakadanna mendaftar sebagai mahasiswa pindahan di universitas yang sama dengan Nana. Fokus pada mata kuliah Pemasaran Digital di hari Selasa depan jam sepuluh pagi. Wakadanna akan memosisikan diri supaya dekat dengan Nana dan—"
"Aku sudah memegang gelar sarjana dari universitas yang peringkat dunianya bahkan tidak bisa dieja oleh rektor kampus itu," sela Bara, matanya menatap Davian dengan tatapan merendahkan.
"Saya sangat menyadari kualifikasi akademis Anda, Wakadanna."
"Aku punya gelar dari kampus luar negeri. Dan kau ingin aku membawa tas punggung dan duduk di antara remaja yang masih sibuk memikirkan filter Instagram?"
"Universitas di Jakarta Selatan ini memiliki fleksibilitas administratif yang tinggi," Davian menjawab dengan nada profesional yang telah ia latih.
"Singkatnya, dengan donasi yang tepat, status kemahasiswaan Anda bisa muncul secara instan tanpa prosedur yang rumit."
Bara terdiam, menatap Davian seolah asistennya itu baru saja menyarankan agar ia menjual seluruh aset Soryu Group untuk membeli sebuah pabrik permen.
"Kau serius? Kau ingin aku seorang pewaris Soryu Group—orang yang memberikan instruksi pada direktur bank dan pemegang saham kelas kakap untuk duduk di bangku kayu sambil mendengarkan teori pemasaran dasar?"
"Selisih usia empat atau lima tahun itu tidak ada artinya, Wakadanna! Anda masih terlihat sangat muda, meski mulut Anda sering bicara seperti pria berusia enam puluh tahun."
"Itu tidak relevan!" Bara berdiri, auranya menekan ruangan. "Aku memiliki karyawan yang usianya bahkan dua kali lipat dariku. Aku bicara di forum ekonomi internasional. Dan sekarang aku harus berpura-pura bingung tentang apa itu Targeting dan Positioning? Apa kau waras Davian?"
Davian merasakan matanya mulai memanas karena frustrasi. Ia hampir ingin menangis, bukan karena sedih, tapi karena menghadapi keras kepala Bara yang setingkat baja tahan karat.
"Wakadanna! Kemarin Anda sudah sempat setuju! Kenapa sekarang Anda jadi plin-plan seperti ini?"
Bara berjalan mendekat, menatap Davian dengan jarak yang sangat intim hingga Davian bisa melihat kilat kekejaman di mata tuannya.
"Jangan bicara soal integritas padaku, Davian. Kau yang menyeret harga diriku ke lubang lumpur ini. Jika kau ingin menangis, lakukan di luar. Air matamu tidak akan mengubah kenyataan bahwa rencanamu ini adalah sampah bagiku."
Davian menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan gemetar di suaranya. "Apapun pencapaian hebat Anda, itu tidak akan membuka pintu rumah Ariessandy Adama. Satu-satunya kunci adalah Nana. Dan cara paling natural untuk masuk ke dunianya adalah menjadi bagian dari lingkungannya. Bukan sebagai CEO yang tiba-tiba 'papasan' di parkiran seperti adegan sinetron murahan."
Bara mengambil lighter perak dari saku jasnya, hanya membuka tutup tanpa niat untuk menyalakannya. "Aku muak dengan rencana ini," desis Bara.
"Saya tahu."
"Aku muak dengan wajahmu yang sok tahu itu."
"Saya juga sangat tahu itu, Wakadanna."
"Aku bahkan muak dengan diriku sendiri karena sempat-sempatnya mempertimbangkan ide gila ini."
Davian memilih untuk tetap mematung, menerima setiap hinaan pedas itu sebagai bagian dari risiko jabatannya sebagai seorang asisten putra Soryu.
Bara memejamkan mata, mengembuskan napas panjang seolah sedang mengeluarkan seluruh ego yang tersisa. Ketika ia membuka mata kembali, amarahnya telah berganti menjadi kelelahan.
"Baik," kata Bara akhirnya. "Lakukan. Tapi ingat, jika rencana ini gagal dan aku terlihat seperti orang bodoh di sana..."
Bara menjeda kalimatnya, memberikan tatapan yang sanggup membekukan aliran darah Davian.
"Kau yang akan menggantikanku kuliah di sana, memakai identitasku, dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat meja eksekutif lagi seumur hidupmu!"
Davian menelan ludah, namun sebuah senyum kemenangan yang tipis berhasil ia ukir. "Tidak akan gagal, Wakadanna. Saya jamin itu."
"Kirimkan detail pendaftarannya," ujar Bara sambil kembali ke kursinya.
"Dan satu hal lagi... pastikan tidak ada satu pun orang di kantor ini yang tahu bos mereka sedang bermain peran jadi mahasiswa baru. Jika bocor, kau yang akan pertama kali aku 'pindahkan' secara permanen."
"Rahasia aman, Wakadanna," sahut Davian sembari mengetik cepat di tabletnya, hatinya bersorak meski wajahnya tetap formal.
...-Universitas Jakarta Selatan - Ruang Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Dua jam kemudian, Bara Soryu kini berdiri di depan ruangan dekan, menatap deretan bingkai foto dekan terdahulu yang berjejer di dinding—wajah-wajah penuh wibawa yang seolah sedang mengadili keberadaannya di tempat ini.
Ia menggenggam map cokelat berisi "masa depan buatannya". Di dalamnya, Davian telah menyusun narasi hidup baru: ijazah SMA dengan nilai yang dipoles sempurna dan surat rekomendasi yang tanda tangannya ditebus seharga dua puluh juta rupiah.
"Wakadanna," bisik Davian, merapikan letak kacamata bulatnya. "Ingat, biarkan saya yang memegang kendali percakapan."
Bara melirik tajam. "Kenapa? Kau pikir aku tidak bisa bicara?"
"Masalahnya bukan Anda tidak bisa bicara, tapi Anda bicara seperti sedang membacakan vonis mati. Tujuan kita adalah negosiasi halus, bukan eksekusi, Wakadanna!"
"Aku bisa bersikap diplomatis."
"Diplomasi Anda melibatkan ancaman halus, Wakadanna. Jadi tolong! Saya sudah berlatih dua puluh menit di depan cermin untuk rencana ini. Jangan dihancurkan, please..."
Pintu kayu di depan mereka akhirnya terbuka. Prof. Dr. Bambang Wibowo, M.M., muncul dengan kemeja putih yang sedikit menguning di bagian kerah. Wajahnya adalah tipikal birokrat kampus yang sudah terlalu lelah menghadapi mahasiswa bermasalah.
"Silakan masuk."
Mereka melangkah ke dalam ruangan yang sesak oleh tumpukan berkas. Bara langsung duduk di kursi marun dengan keanggunan seorang raja yang menduduki takhta, sementara Davian buru-buru menyusul dengan senyum yang sudah dilatihnya tempo hari.
"Maaf, Prof," buka Davian dengan nada manis yang dibuat-buat. "Anak saya memang sedikit kurang sabar."
Profesor Bambang mengerutkan kening, menatap Davian yang tampak muda, lalu beralih ke Bara yang auranya justru jauh lebih dewasa.
"Anak?"
"Iya, Prof. Ini Bara, anak saya." Davian menepuk pundak Bara dengan akrab-sebuah tindakan yang jika dilakukan di kantor pusat Soryu Group akan berakhir dengan pemecatan tidak hormat.
"Bara, ayo sapa Bapak Dekan."
Bara menoleh ke Davian dengan tatapan yang bisa membunuh Davian, lalu kembali ke profesor.
"Dekan," ucapnya pendek.
Profesor tersenyum canggung. "Hallo... Bara...?"
Davian mendesis pelan. "Panggil Bapak Dekan, Bara..." Ia kemudian beralih kembali ke Profesor Bambang.
"Maaf, Prof. Dia baru saja pindah dari desa. Sedikit... kaget budaya. Dia anak yang sangat berbakti, bahkan sempat menolong anak kecil yang tersesat di mall tempo hari."
Bara memejamkan mata, menahan hasrat untuk mencekik asistennya saat itu juga.
"Saya sudah baca berkasnya," ujar Prof. Bambang, meletakkan map cokelat itu dengan suara gedubrak.
"Masalahnya, pendaftaran untuk mahasiswa baru sudah ditutup enam bulan lalu. Kelas sudah berjalan tiga semester. Ini tidak sesuai prosedur kami."
Davian memajukan posisi duduknya, memasang wajah memelas.
"Saya paham, Prof. Tapi situasi kami sangatlah rumit. Ibunya... sakit keras. Penyakit yang melibatkan banyak organ."
"Penyakit apa?" tanya Prof. Bambang curiga.
Davian membeku. Ia melirik Bara, meminta bantuan kode morse lewat mata. Bara hanya membalas dengan tatapan 'nikmati kehancuranmu'.
"Lupus!" Davian memekik, lalu langsung merendahkan suara. "Ya, penyakit autoimun yang membuat sistem tubuhnya bingung, Prof. Persis seperti saya yang bingung jika anak ini tidak kuliah tahun ini."
Prof. Bambang menatap Bara yang duduk tenang tanpa ekspresi sedih sedikit pun. "Kamu tidak sedih ibumu menderita lupus?"
"Saya sudah terbiasa dengan ketidakpastian," jawab Bara dingin.
"Bicaramu sangat... dewasa untuk ukuran mahasiswa baru."
Suasana mendadak canggung. Davian tahu ini saatnya mengeluarkan senjata pamungkas. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tampak sangat 'berisi', lalu menggesernya pelan di atas meja dekan dengan gerakan sehalus sutra.
Ruangan itu mendadak hening. Hanya terdengar detak jam dinding yang seolah menghitung mundur integritas sang profesor. Prof. Bambang sendiri malah menatap amplop itu, menelan ludah, lalu menatap Davian.
"Apa... apa ini?" suara profesor itu sedikit bergetar.
"Sumbangan sukarela untuk renovasi perpustakaan, Prof. Kami dengar atap lantai dua sudah mulai menangis setiap kali hujan," ujar Davian dengan nada penuh empati.
Prof. Bambang tidak menyentuhnya, namun jemarinya berkedut. Bara, yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengeluarkan suara baritonnya yang tajam.
"Ternyata benar desas-desus itu. Di negeri ini, cukup dengan satu amplop cokelat, prosedur yang kaku bisa menjadi selunak agar-agar. Moralitas tampaknya memang memiliki label harga di sini."
Mata Prof. Bambang membelalak. Davian hampir melompat dari kursinya.
"WAKADANNA-MAKSUD SAYA, NAK!" Davian langsung berdiri dan membekap mulut Bara dengan telapak tangannya.
"Aha... ha... maaf, Prof! Anak saya ini sedang fase... fase pemberontak! Dia bicara soal filosofi politik yang dia baca di Twitter semalam!"
Davian menekan tangan lebih keras ke mulut Bara sambil membungkuk berkali-kali. "Maafkan mulutnya yang lancang ini! Dia hanya terlalu jujur!"
Prof. Bambang terdiam sejenak, lalu dengan gerakan secepat kilat yang hampir tidak tertangkap mata, ia menyapu amplop itu masuk ke dalam laci mejanya.
"Saya akan urus administrasinya. Silahkan kalian temui ibu Siti Nurhaliza di ruangannya."
Setelah mendapatkan secarik kertas instruksi, Davian menyeret Bara keluar dari ruangan itu secepat kilat. Begitu pintu tertutup, Davian baru melepaskan bekapannya, napasnya memburu.
"Wakadanna! Anda gila?! Kita hampir saja gagal!"
Bara merapikan kerah jasnya dengan tenang. "Aku hanya mengobservasi fakta. Dia menerima uang itu secepat bunglon menangkap lalat."
Davian bersandar di dinding koridor, memijat pelipisnya. "Itu namanya pelicin, Wakadanna!"
Bara berhenti melangkah, menatap koridor yang dipenuhi mahasiswa. "Davian. Mengenai peranmu sebagai 'ayah kandung' tadi..."
Davian merinding. "Itu... hanya sandiwara, Wakadanna."
"Aku tidak pernah punya ayah. Aku yatim dari umur 4 tahun, Davian." ujar Bara datar, matanya menatap kosong ke kerumunan mahasiswa di depan.
"Saya tahu, Wakadanna. Maafkan saya, saya juga yatim tapi tadi saya tidak bermaksud—"
"Tidak apa." Bara sudah berjalan duluan. "Tapi jangan lakukan itu lagi."
Davian mengikuti dengan langkah tergesa. "Tentu. Sekali lagi, maaf."
Mereka berjalan melewati koridor kampus yang mulai ramai. Terlihat para mahasiswa berlalu-lalang dengan tas ransel yang ditenteng.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉