Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Delapan
"Ini benaran untuk ak! " pekik Laras berbinar melihat kalung cantik yang di berikan oleh papanya itu.
"Tentu saja untuk kakak, masa untuk ku atau abang, memang kami cowok apaan?! " bukan papanya yang menjawab tapi Gibran si bocah nakal itu.
"Astaga, kamu ini kenapa sih dek, selalu saja nyamber kek petir. " sewot Laras yang tadinya ingin menangis karena mendapatkan hadiah kalung dari ayahnya, namun lansung di buat emosi oleh sang adik.
"Lagian pertanyaan kakak ada ada saja, sudah pasti itu untuk kakak, segala pakai tanya, terharu ya, sudah luluh kah? " ejek sang adik lagi.
"Gibran,,,," seru sang ibu dengan nada lembut.
"Hehehe... Maaf ma." cengir Gibran, anak nakal itu selalu takut kepada sang mama, walau mamanya tidak membentak, tapi Gibran tau sang mama lagi menegurnya.
Ares hanya terkekeh, adiknya memang selalu jahil.
Pak Galih juga tersenyum simpul, dia tidak marah justru dia bahagia melihat pertengkaran itu, rumah ini terasa hangat, sudah sangat lama sekali dia tidak melihat kebersamaan seperti ini, biasanya klau dia pulang, anak anaknya akan masuk ke kamar masing masing, dengan berbagai alasan yang mereka buat, dia tau semua karena salahnya.
"Tadinya papa ingin beliin Gibran anting, tapi nggak jadi deh, takut di pakai di hidung." canda pak Galih, Gibran melotot tidak Terima.
"Papa.... " cemberut anak itu.
Hahahaha....
Seketika rumah sederhana itu penuh dengan canda tawa.
"Terimakasih, sudah memberi mas kesempatan ke dua." ucap pak Galih memeluk bu Soraya dari belakang, saat sang istri sedang membersihkan wajahnya di meja rias.
"Aku belum memaafkan mas loh." ucap bu Soraya.
Pak Galih tersenyum simpul, lalu mengecup puncak kepala sang istri.
"Iya mas tau." ucap pak Galih, dia tau kesalahannya sudah sangat fatal, pak Galih tidak akan memaksa istrinya untuk memaafkannya secepat itu.
"Kita tidur yuk.... Besok kita harus kerja lagi." ucap Pak Galib yang sampai saat ini belum tau klau sang istri bos catering, yang dia tau istrinya sekarang bekerja ikut orang.
"Hanya tidur." tekan bu Soraya.
Pak Galih tergelak keras mendengar ucapan sang istri.
"Iya iya, hanya tidur." menarik lembut tangan sang istri ke arah pembaringan.
Sejak hari itu, rumah sederhana itu kembali di penuhi kecerian, walau pak Galih masih sering mengunjungi ibunya, tapi akan pulang lebih awal untuk anak istrinya.
"Kurang ajar sekali si Miskin itu, dia kasih makan apa anak ku, sampai sampai sekarang Galih tidak betah berasa di rumah ku." marah bu Hindun tidak Terima anaknya sekarang tidak mau berlama lama di rumahnya, ada saja alasannya agar bisa buru buru pergi dari rumah itu.
"Wajar dong bu, anaknya pulang ke rumah istrinya." celetuk tetangga bu Hindun mendengar bu Hindun marah marah sendiri.
"Apanya yang wajar, perempuan itu hanya bisa menghabiskan uang anak ku." sewot bu Hindun lagi.
"Kan dia istrinya wajar dong menghabiskan uang suaminya, ibu ini aneh sekali." ucap tetangga bu Hindun yang memang tidak suka melihat kelakuan bu Hindun.
"He..... Kamu tau apa." bentak bu Hindun masuk ke dalam rumah dan membanting daun pintu dengan kasar.
"Dasar aneh, orang lain senang melihat anaknya hidup bahagia bersama keluarganya, bu Hindun malah tidak senang, sudah koslet kali otaknya." gumam si ibu geleng geleng kepala.
"Ibu ngapain sih, meladeni bu Sri itu, sudah tau itu ibu ibu mulutnya comel." kesal Ita kepada sang ibu.
"Dia aja yang selalu ikut campur, orang ibu nggak ngomong sama dia." ucap bu Hindun ikut kesal.
"Papa pulang." ucap pak Galih saat masuk ke dalam rumah, di tangannya ada dua kantong belanjaan.
"Papa bawa apa." seru Gibran dan Laras berlari mengejar sang papa.
"Papa beli sare ayam dan sate kambing." ujar pak Galih mengusap sayang kepada ke dua anaknya.
"Asiiikkkk..... " sorak Gibran dan Laras.
Pak Galih Tersenyum bahagia melihat wajah senang anak anaknya.
"Bawa ke meja makan, mama sama abang mana?" tanya pak Galih.
"Abang ada di kamar, mama lagi ke rumah tante Rini, sepertinya ada urusan." terang Laras dan di angguki oleh pak Galih, klau tidak ada urusan penting, istrinya tidak akan keluar rumah, dia tau istrinya bukan lah ibu ibu tukang gosip.
"Ya sudah, kita tunggu mama dulu ya, baru kita makan bareng." ucap pak Galih.
"Baik pa." ucap ke dua anak itu dengan patuh, lalu membawa kantong yang di berikan oleh papanya itu ke meja makan.
Pak Galih masuk ke dalam kamarnya, untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Saat masuk kamar, bibir pak Galih tersenyum lebar, melihat di atas kasur sudah tersedia pakain ganti, sudah pasti istrinya yang melakukannya.
"Terimaksih sayang, walau kamu masih jual mahal kepada mas, tapi kamu tetap menyediakan pakaian mas." ucap pak Galih berkaca kaca.
Tidak berlama lama, pak Galih lansung masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
"Papa kalian sudah pulang dari tadi? " tanya bu Soraya melihat ke dua anaknya sedang duduk di ruang tamu sedang menonton televisi.
"Paling sepuluh menitan, papa bawa sate ayam sama sate kambing, katanya tunggu mama pulang, baru kita makan bersama." ujar Gibran.
"Ya sudah, panggil abang kalian, kita makan bareng." ujar bu Soraya lalu wanita itu ke ruang makan lebih dulu.
Bu Soraya menyeduhkan kopi untuk sang suami, lalu meletakkannya di atas meja makan.
Cup....
Tiba tiba saja ada yang mencium pipi bu Sri dari samping, membuat wanita itu terlonjak kaget.
"Astaga, kamu bikin kaget saja, mas." omel bu Soraya mencubit pelan bahu sangat suami.
Pak Galih terkekeh geli melihat wajah salah tingkah sang istri.
"Tanda terimakasih mas, karena kamu sudah menyediakan pakaian ganti mas." ucap pak Galih yang ingin memeluk pinggang bu Soraya, namun dengan gesit bu Soraya menghindar.
"Kok menghindar sih." cemberut pak Galih pura pura kesal.
"Kamu ini, malu di lihat anak anak." omel bu Soraya.
Pak Galih tersenyum penuh arti.
"Bearti klau di kamar boleh." ucap pak Galih menaik turunkan alisnya.
Bersambung.....
tenang jangan kawatir duwitmu di minta, bu soraya lebih dari mampu untuk mengobati pak galih😏
sana beli sendiri🤣