Karena suaminya menderita gangguan pada organ reproduksinya, membuat Jenna dan suaminya memutuskan untuk melakukan inseminasi. Namun, setelah Jenna hamil, ia justru di minta untuk menggugurkan kandungannya tersebut atau ia akan ceraikan oleh suaminya tersebut. Bahkan Jenna di tuduh selingkuh oleh keluarga suaminya.
Jenna memilih mempertahankan kehamilannya meski pada akhirnya ia di ceraikan dan di buang oleh suaminya.
Bertahun-tahun berlalu, Jenna menjelma menjadi ibu muda yang tangguh dan mandiri. Jenna baru saja kehilangan pekerjaan dan Ia mendaftar menjadi seorang perawat pria lumpuh yang dingin dan kejam demi menyambung hidup bersama kedua anaknya.
Meski tidak mudah awalnya, Jenna tetap bertahan hingga cinta itu perlahan mulai tumbuh diantara mereka. Saat itulah sebuah fakta besar terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Sejak tadi Arion mondar-mandir di kamarnya. Bukan menunggu Jenna masuk ke sana karena memang mereka belum tidur sekamar sejauh ini. Jenna tak ingin buru-buru dan Arion pun memakluminya. Merek ingin semuanya mengalir begitu saja tanpa adanya paksaan. Mereka baru saja membangun cinta dalam rumah tangga mereka dan tak ingin terburu-buru dalam segala sesuatunya. Biar semua berjalam secara alamiah. Apalagi Arion tahu bagaimana kisah percintaan Jenna di masa lalu yang ia yakini menorehkan trauma mendalam bagi istrinya tersebut.
Sejak resmi tinggal di mansion Arion bersama si Kembar, Jenna memilih tidur di kamar kedua anaknya tersebut dan Arion tak keberatan sama sekali.
Tapi, berbeda dengan malam ini. Hanya karena tadi melihat Jenna memakai baju tidur yang sebenarnya tidak seksi dan menerawang, tapi entah kenapa membuat perasaan Arion tak karuan. Jenna terlihat begitu cantik dan menggoda sekali malam ini. Padahal wanita itu tak melakukan apapun dan bersikap biasa saja.
Arion terus terbayang wajah cantik Jenna. Ia sudah berusaha memejamkan matanya namun tetap saja tak bisa pulas. Semakin ia berusaha memjamkan matanya, bayangan Jenna berjalan di depannya seperti yang wanita itu lakukan tadi membuatnya semakin sulit terpejam.
Entah sudah berganti posisi berapa kali, tetap saja Arion gelisah. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar si kembar. Beruntung pintunya tak di kunci. Arion masuk dengan pelan-pelan dan ternyata Jenna sudah tidur, begitu juga Reagan dan Riley.
Arion berhenti di dekat mereka bertiga. Ia berdiri dan memandangi ketiganya yang tidur begitu damai, tidak seperti dirinya yang gelisah sepanjang malam.
Dengan seksama Arion mengamati ketiganya. Ia melihat ada kemiripan antara Jenna dan si kembar namun ia tak tahu itu apa. Yang lebih kentara memang kemiripan mereka dengan dirinya.
Tanpa sadar, bibir Arion terangkat, apa yang ia bayangkan sebelumnya kini ada di deoan mata, dimana ia dan Jenna memiliki dua anak itu sebagai putra mereka meski ia sendiri belum bisa yakin jika Reagan dan Riley adalah darah dagingnya.
Senyum Arion langsung memudar begitu melihat Jenna bergerak dan baju tidurnya sedikt tersingkap sehingga memperlihatkan pinggangnya yang putih mulus. Sebagai laki-laki normal, itu sangat menyiksanya. Apalagi sejak tadi ia sudah membayangkan yang tidak-tidak.
Membayangkan jika baju itu lebih ke atas sedikit terbukanya, akan ada pemandangan yang lebih... Arion menggelengkan kepalanya, pikiran kotornya harus segera ia singkirkan. Meski ia tahu, melakukan apapun terhadap Jenna adalah sudah menjadi haknya karena mereka menikah secara sah.
Tapi, jika ia memaksakan, bukankah itu akan terkihat seperti pecundang dan sama saja memperkaos istri sendiri. Meski itu mungkin sah-sah saja. Tapi, rasanya ia tak tega. Yang ada Jenna akan semakin trauma dengan laki-laki, pikirnya.
Arion dengan sangat hati-hati menarik baju tidurnya supaya turun menutupi bagian yang tersingkap. Setelahnya baru ia akan menyelimuti tubuh wanita tersebut.
Namun, saat ia menyentuh ujung baju Jenna dan belum berhasil menariknya, tangan Jenna sudah terlebih dahulu memegang tangannya dengan mata terbuka.
"Tu-tuan? Ngap-ngapain?" tanya Jenna yang berusaha mengumpulkan nyawanya.
Arion langsung menelan ludahnya, ia seperti kepergok akan melakukan sebuah pelecehann terhadap wanitanya tersebut. Tangan Jenna masih memegang tangannya yang masih memegang ujung baju Jenna.
"Sa-saya. Emmm, jangan salah paham dulu, Jen," Arion langsung menarik tangannya.
"Tadi saya tidak sengaja lewat deoan kamar mereka dan masuk karena ingin melihat kamu apakah sudah tidur. Dan nggak sengaja saya lihat baju kamu..." rasanya sulit untuk melanjutkan kalimatnya.
"Baju kamu tersingkap dan itu kamu kelihatan. Saya cuma mau bantuin buat nutupinnya!" jelas Arion sangat cepat dan gugup.
Kening Jenna mengernyit, "Itu? Itu apa?" Jenna menunduk, melihat kebawahnya, "Jangan bilang..."
"Pinggang!" seru Arion. Ia tak ingin Jenna berpikir yang tidak-tidak, "Iya, pinggang kamu yang kelihatan. Kamu jangan pikir macam-macam, ya? Saya bukan cowo mes um seperti itu. Kalau mau saya akan memibtabya baik-baik, bukan dengan cara seperti ini," lanjutnya.
Jenna tersenyum tipis mendengarnya, "Memangnya tuan kenapa lewat depan kamar si kembar tengah malam begini? Tumben?" selidik Jenna.
"Em itu... Karena... Itu karena saya tidak bisa tidur jadi saya memutuskan buat jalan-jalan saja. Eh tidak tahunya pintu kmar ini terbuka tadi, jadi saya cek," kata Arion beralasan.
Jenna hanya menjeb, ia mana percaya dengan ucapan pria di depannya tersebut. Kelihatan sekali bohongnya. Banyak gagunya saat bicara, tidak seperti Arion yang biasanya.
" Ya sudah kalau begitu," ucap Jenna. Ia memilih kembali mapan tidur dan menarik selimutnya.
Arion langsung mengernyit, "Udah gitu aja?" ucapnya sembari berkacak pinggang. Kecewa dengan respon yang di berikan Jenna yang menurutnya sama sekali tidak peka, pikirnya.
"Ya iya, tuan sudah selesai mengecek belum? Kalau sudah ya sudah. Apalagi coba?" kata Jenna.
Arion hanya menghela napasnya dalam. Bukan salah Jenna juga sih, ia saja yang terlalu gengsi dan tidak berani jujur.
"Ya sudah kalau begitu. Saya keluar, nice dream," ujar Arion pasrah akhirnya. Ia lalu memutar badan dan berjalan dengan pelan seperti slow motion. Berharap Jenna menahannya. Namun, sayang, Wanita itu hanya menatapnya saja tanpa berkomentar.
Kesal dan Sebal, Arion terpaksa menurunkan egonya. Ia mendengus dan kembali memutar badannya, "Kamu kok nggak peka, sih sayang!" keluhnya. Ia langsung berjalan cepat ke arah Jenna dan menarik tangan wanita itu.
"Tidur di kamarku, ya malam ini?" ucap Arion. Jantung Jenna langsung berdegub kencang. Setelah sekian tahun lamanya, ini kali pertama ia akan tidur lagi seranjang dengan seorang pria. Pikirannya menjadi kemana-mana dan mendadak keringat dingin menyerangnya.
"Aku..." belum sempat melayangkan keberatan, ternyata mereka sudah berada di dalam kamar utama mansion tersebut.
Arion menuntun Jenna dan membaringkannya di ranjangnya. Ia jongkok di pinggir ranjang dan membelai rambut Jenna. Wanita itu tak menunjukkan reaksi apapun kecuali keringat dingin di keningnya.
Arion mengusap kening Jenna, lalu tersenyum, "Hanya tidur saja," ucapnya lembut. Ia lalu naik ke ranjang dan memposisikan diri di samping Jenna, memiringkan tubuhnya lalu memeluk wanita tersebut yang mendadak kaku seperti gedebok pisang.
"Tidurlah. Saya tidak akan meminta lebih. Biarkan bertahap. Malam ini kita begini saja sudah cukup, yang penting kamu di sini," bisik Arion lembut.
Jenna menjadi tenang dan mengangguk. Perlahan tubuhnya menjadi rileks dan menghangat akibat pelukan Arion.
"Tapi, lain kali saya tidak bisa menjamin, bisa menahannya. Kamu persiapkan diri, ya?" ucap Arion.
"I-iya tuan!" jawab Jenna. Iyakan saja dulu, urusan nanti sudah siap atau belum untuk kembali bertempur di atas ranjang setelah pengkhianatan mantan suaminya, pikirkan nanti.
"Ssst, saya sedang tidur dengan istri saya, bukan dengan Pengasuh apalagi pembantu. Apa begini panggilan istri kepada suaminya?"
Jenna langsung menoleh, ia bertanya melakui sorot matanya, "Lalu, aku harus panggil apa?"
Arion tersenyum hangat, membalas tatapan Jenna. Bibirnya mengecup lembut kening Jenna.
"Mas...." ucap Jenna sedikit lirih, tak yakin Arion suka dengan panggilan barunya. Namun, Arion kembali mendaratkan kecupannya, kali ini di bibir Jenna. Sebagai tanda jika ia suka dengan panggilan simpel tapi begitu enak di dengar karena Jenna yang mengucapkannya.
"I like it!" ucapnya tersenyum. Jenna balas tersenyum. Tanpa canggung lagi, Jenna semakin menelusupkan wajahnya dalam pelukan Arion.
Setidaknya, malam ini ada kemajuan pesat dalam hubungan mereka.
💕 💕 💕
Pagi-pagi sekali Kevin mengerjapkan matanya. Ia melihat ke sekeliling, ia ingat semalam ia dan Ria check in di kamar tersebut. Ia lalu menoleh, di sebelahnya ada Ria yang masih pukas tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Hanya tertutup selimut saja.
Kevin tersenyum tipis, bisa-bisanya mantan adik iparnya tersebut rela melakukan apapun demi mencapai tujuannya. Termasuk menyerahkan tubuhnya secara suka rela kepada Kevin.
Namun, Kevin tak mau ambil pusing, biar saja Ria melakukannya. Toh dirinya tidak di rugikan sama sekali di sini. Meski Ria tak secantik Jenna, tapi lumayanlah, bisa membuat dirinya bersenang-senang, pikirnya.
Kevin ingat betul bagaimana ia membuat alasan kepada istrinya karena tidak akan pulang ke rumah. Dan nanti ia hanya perlu memaksimalkan aktingnya tesebut di depan sang istri ketika ia pulang ke rumah.
Kevin turun dari ranjang dengan hanya memakai celana boxer saja. Ia berjalan menuju ke jendela dan menyalakan rokok di sana.
Ria yang ikut terbangun langsung merenggangkan otot-ototnya lalu turun dari ranjang dan menghampiri Kevin. Ia ingat semalam Ia langsung memeluk pria itu dari belakang.
Kevin langsung menepis tangan Ria yang melingkar di perutnya, "Kita hanya sebatas partner, jangan berharap lebih. Dan ini bukan mauku, tapi kamu yang mendatangiku. Jadi, jangan melewati batasmu, ingat itu, Ria," ucap Kevin.
"Iya, aku tahu. Tapi, jangan lupa kalau aku juga menyimoan rahasia besarmu, mantan kakak ipar. Sayang sekali semalam punyamu lemah sekali jadi buat aku tahu kalau kamu itu sebenarnya...."
"Tutup mulutmu, Ria!" bentak Kevin berang. Ia paling tidak suka di sebut laki-laki lemah, karena ketidak sempurnaanya, meski kenyataannya memang seperti itu.
Ria tertawa, "Aku jadi penasaran deh, bagaimana kamu bisa memuaskan istri kamu kalau kamu saja selemah ini?" ucapnya.
Kevin tak menggubris, memang ia tak selemah dulu karena sering melakukan terapi. Makanya dulu ia yakin jika dirinya sudah sembuh dan minta Jenna buat menggugurkan kandungannya karena yakin bisa memiliki keturunan sendiri. Tapi, nyatanya itu belum maksimal. Selama ini ia selalu mengelabuhi istrinya jika berurusan dengan ranjang.
...****************...
semangat up lagi yok sampe tamat kisah Jenna dan Arion kak jangan lama-lama ya up selanjutnya🥰