Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manja
Erica menyandarkan kepalanya ke tepi bath tub, mencari posisi ternyaman untuk berendam di air hangat. Badannya terasa pegal-pegal. Mungkin akibat dari ritualnya semalam. Bibirnya tersenyum kecil mengingat kejadian semalam. Adam benar-benar pandai membuatnya terbang ke awan. Selalu menghadirkan hal-hal baru hingga membuat Erica seolah-olah pertama kali melakukannya.
Terlintas di benak Erica, berandai-andai jika ia tidak menikahi duda beranak satu. Mungkin kehidupan pernikahannya akan semanis malam tadi setiap harinya. Benar kata orang, anak tiri tak jarang menjadi duri.
Erica menenggelamkan kepalanya, membiarkan puncak kepalanya sedikit terapung. Ia benci pikiran-pikiran bahwa Zhafran bukan hanya menjadi duri dari rumah tangganya, tapi duri bagi keluarganya.
Hans merupakan tangan kanan Ibu, tapi Ibu tidak hadir dalam acara pertunangan Hans. Erica tahu, ada hal yang Ibu hindari: Zhafran.
Semoga saja aku tidak ikut membenci anak itu seperti yang Ibu lakukan, batin Erica.
"Ri?" panggil Adam, membuat Erica mengeluarkan kepalanya dari air.
"Mas?" tanya Erica ketika mendapati kehadiran Adam di kamar mandi dengan telanjang dada. Cukup terkejut karena beberapa saat yang lalu Adam masih terlelap di balik selimut.
"Mas gabung, ya?" pinta Adam, ia menggantung handuk kimono nya.
Mata Erica membulat ketika melihat Adam mulai melucuti pakaian satu-satunya yang melekat ditubuh laki-laki bertubuh atletis itu.
"Mas, Mas, Mas!" ucap Erica sewot seraya menyipratkan air berbusa ke arah Adam, mencoba menghentikan Adam.
"Kenapa Ri?" tanya Adam dengan memasang wajah polos.
"Mas ngapain buka celana disana?"
"Ya kan mau gabung mandi sama kamu."
Erica memutar bola matanya, malas. "Mas mau menodai mataku?"
Alis Adam bertautan mendengar ucapan Erica yang terkesan sok polos. Padahal bukan kali pertama Adam bertelanjang dada di depannya.
"Tutup mata mu, Ri!" titah Adam sedetik sebelum melepas celana boxer nya.
"Mas!" Pekik Erica seraya memalingkan wajah.
"Ah lebay kamu." Adam bergerak memasuki bath tub lalu duduk di belakang Erica.
"Semalam aja kamu minta nambah," ucap Adam, mengingatkan kejadian semalam yang membuat Erica malu bukan main.
"Kamu tumbuh menjadi gadis yang berani, sayang," bisik Adam tepat di telinga Erica.
***
Adam dan Erica sudah bersiap untuk pulang. Sebenarnya Adam ingin berlama-lama di hotel itu, bermanja-manja lebih lama lagi. Tapi sayang, rasa khawatir Erica terhadap Zhafran mengalahkan egonya. Jika boleh, ingin rasanya Adam bersikap lebih egois.
"Kita sarapan dulu ya, Ri?" tawar Adam seraya mengekor di belakang Erica.
Erica tak menyahut, ia sibuk menekan tombol lift yang kunjung terbuka juga. Ketika pintu terbuka, gadis itu langsung nyelonong masuk. Tak memperdulikan Adam yang mungkin tertinggal di belakang.
"Mas lapar, Ri," eluh Adam. Kembali mencoba membujuk Erica agar sarapan dahulu sebelum pulang ke rumah. Sebenarnya Adam tidak terlalu lapar, hanya saja ia begitu penasaran dengan menu sarapan yang disajikan oleh hotel berbintang ini.
"Kita sudah meninggalkan Zhafran terlalu lama, Mas." Erica menoleh ponsel di tangannya yang tengah menampilkan waktu setempat.
Adam menghela napas. Kesal rasanya istrinya itu lebih perhatian sama anak tirinya ketimbang sama suami.
"Tapi Mas nggak ada tenaga." Adam menaruh kepalanya di bahu Erica, berlagak seolah-olah lemah letih lesu tak bertenaga. Terlihat jelas Adam tengah menarik perhatian Erica. Dan Erica tahu itu.
Erica tersenyum kecil. Di elusnya wajah Adam dengan sebelah tangannya, membuat laki-laki manja itu mengulum senyum penuh kemenangan.
"Jangan lama tapi." Erica memperingatkan, disambut cepat oleh Adam dengan anggukan kepala.
Sepertinya Pute benar-benar ingin memberikan kesan terbaik untuk calon keluarganya itu. Pelayan langsung menunjukkan meja khusus untuk Adam dan Erica ketika sepasang suami istri itu tiba. Sebuah meja dengan pemandangan terindah yang menampilkan hampir sebagian besar kota metropolitan itu.
Pelayan berbaris mengantar hidangan satu persatu ke hadapan mereka berdua. Terlihat Adam begitu antusias setiap kali tudung saji dibukakan. Seperti seorang anak kecil yang diperkenalkan pada permainan baru. Seberapa hebat dan kuatnya seorang laki-laki, selalu ada perempuan tempatnya bermanja-manja.
"Mas suka?" tanya Erica dengan senyum yang mengembang menatap wajah antusias Adam.
"Tentu saja, sayang." Adam menyahut cepat.
Tak henti-hentinya bibir Adam menyunggingkan senyum. Terlihat jelas kebahagiaan dari garis wajah yang selalu nampak serius itu. Melihat Adam yang seperti anak kecil membuat Erica mengulum senyum. Ia seperti dianugerahi anak kecil yang kedua. Tapi yang ini bukan hanya lucu, melainkan tampan, gagah, pemberani, dan penyayang.
Sementara itu di kediaman Erica, Bibi sedang kewalahan menenangkan Zhafran yang rewel. Beberapa mainan yang ditata rapi di dekat televisi di raih oleh tangan kecilnya lalu di lempar ke sembarang arah. Dalam sekejap rumah menjadi berantakan.
"Sayang, mainannya jangan dilempar-lempar begitu," ujar Bibi seraya memunguti mainan yang Zhafran lempar. Baru saja Bibi menaruhnya, secepat kilat Zhafran lemparkan kembali.
"Bubu kemana hu hu hu."
Satu buah helikopter mainan berhasil mengenai vas bunga hingga jatuh mengenai lantai. Seketika Bibi segera memungut vas kesayangan majikan laki-lakinya itu.
"Ada apa ini?" tanya Adam yang baru menyembul di balik pintu.
Mendengar ayahnya pulang, Zhafran segera berlari berhamburan ke arah pintu menyambut sang ibu tiri.
"Bubu kemana saja!" omel Zhafran seraya bergelayut manja memeluk tubuh Erica.
"Bubu habis ada acara, sayang." Erica membelai lembut rambut Zhafran yang mulai memanjang.
"Kenapa dengan vas bunga itu, Bi?" tanya Adam ketika mendapati vas bunga kesayangannya berserakan di lantai menjadi beberapa bagian kecil.
"Kena lemparan helikopter mainan Zhafran, tuan." Bibi menundukkan kepalanya, takut kena marah majikan yang baru menampungnya kurang dari sebulan itu.
Seketika pandangan Adam beralih pada Zhafran yang tengah dalam gendongan Erica.
"Ada apa, Mas?" tanya Erica, menyadari ada kilatan amarah di mata suaminya itu.
"Vas bunga pemberian om ku pecah," sahut Adam. Terdengar jelas nada amarah dari suaranya. Matanya menatap wajah anak kecil dalam gendongan Erica.
Erica mengalihkan pandangannya kepada tangan Bibi yang tengah membereskan pecahan vas bunga. Ia menghela napas panjang sebelum bersuara. "Kita beli saja yang baru ya, Mas."
"Vas seperti itu banyak di luaran sana, tapi tidak dengan kenangan om ku yang kini telah tiada."
Vas bunga itu merupakan hadiah pemberian om nya Adam saat Adam mendapatkan gelar S2. Om menggambarkan hidup Adam seperti vas bunga kosong; dalam, gelap dan tidak berfungsi sama sekali. Makanya om menghadiahi Adam sebuah vas bunga, dengan harapan suatu saat nanti Adam akan mengisi hidupnya dengan penuh bunga-bunga cinta.
Om memaksa Adam untuk mengisi setiap harinya dengan bunga yang baru dan segar. Awalnya Adam tidak pedulikan, tapi lama kelamaan omnya itu ada benarnya. Ia menjadi lebih pemilih saat memetik bunga, menerka dan mengira bunga seperti apa yang akan bertahan lama dengan wangi dan keindahannya.
Makin kesini, Adam semakin mengerti maksud yang ingin omnya sampaikan itu. Bahwa dalam memilih bunga (perempuan) kita harus memilih, mana yang akan selalu membawa wangi (nama baik), mana yang akan membawa keindahan (kecantikan/kenyamanan/ enak untuk dipandang), dan mana yang akan cepat layu/ mati (cepat bosan/ luntur cintanya).
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂