Seorang pemuda yang selalu mengalami mimpi buruk berperang di alam kuno, terpilih menjadi seorang penguasa semesta. Terpilihnya sang pemuda itu bukan hanya berkaitan dengan mimpinya saja, ia juga harus menjalankan karma dari gurunya semasa menjadi sang legenda pedang.
Pemuda itu bernama Ucup Rekber, seorang pemuda biasa yang akan menjalankan misi merekonstruksi alam cultivator dari kehancuran yang disebabkan oleh pertarungan kedua makhluk agung yaitu Penguasa Iblis versus Dewa Matahari yang terjadi di masa lampau.
Berbekal pedang aneh dan berbagi tubuh dengan jiwa seorang pangeran, Ucup Rekber harus menyelesaikan misi untuk bisa kembali ke dunia asalnya.
Novel ini berkaitan dengan novel berjudul “Takdir Pedang Sang Iblis”.
Yuk, menjadi saksi petualangan si Ucup Rekber di dunia cultivator dengan menjadikan karya ini sebagai bacaan favorit kalian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekte Serigala Iblis
Ucup menggelengkan kepalanya dan berkata, “Jika dirimu disakiti secara brutal oleh mereka, namun kamu memilih untuk memaafkan mereka dengan tulus, kamu adalah definisi dari kecantikan yang sesungguhnya. Bukankah dalam hidup ini ada karma? Maka, biarkanlah karma menjalankan perannya. Tugas kita hanya terus berbuat baik dan jangan pernah memiliki niat untuk membalas dendam.“
“Apa Tuan Muda sedang sakit? Aku tidak percaya kata-kata itu meluncur keluar dari mulut Tuan Muda,” kata Xue Xie sulit memercayainya.
“Kamu ini, apa aku tidak boleh memberimu nasihat?” kata Ucup sambil nyengir, “sebentar lagi malam, sebaiknya kita mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat.”
Semuanya mengangguk setuju. Ucup, Xue Xie, dan Berlian menaiki lantai paling atas mencari ruang yang bisa ditempati, sedangkan Bing Shi dan keluarganya berada di lantai dua restoran menempati sebuah ruangan yang besar.
“Sus, kamu bisa beristirahat di ranjang kayu ini bersama Berlian. Jangan khawatirkan diriku, aku bisa tidur di mana saja,” ujar Ucup menatap lembut Xue Xie.
“Selalu saja salah menyebut namaku,” keluh Xue Xie sambil membaringkan Berlian di sampingnya.
Kedua mata Berlian terus saja bergerak memperhatikan Ucup. Ke mana pun Ucup berjalan, bola matanya akan terus mengikutinya.
Ucup yang merasa selalu diperhatikan Berlian, balas menatapnya dengan lembut. Terukir senyum dari bibir imut Berlian yang bahagia ditatap Ucup. Ia melepas kain yang menyelimutinya lalu beranjak bangun dan berlari memeluk Ucup.
Dengan lembut Ucup membelai rambut halus Berlian, mengangkat tubuh kecil Berlian lalu memangkunya. Berada dalam dekapan hangat Ucup, tak lama kemudian, Berlian pun tertidur pulas di dekapan Ucup.
“Sus, bisakah kamu membuatkan pakaian untuk Berlian?” tanya Ucup.
“Baiklah, aku akan merajutnya,” jawab Xue Xie menyanggupi.
“Lord Ucup, kalian tidak perlu repot membuatnya. Di Istana Kekaisaran Xiao banyak pakaian yang bisa dipakai oleh Berlian. Adikku Xiao Zani tidak pernah membuang pakaiannya sejak dia masih kecil,” ujar Pangeran Xiao Li Dan memberi tahu.
“Brother Xiao, kamu memiliki adik perempuan? Bagaimana kabar adikmu sekarang?” tanya Ucup seketika menanggapi ucapan Pangeran Xiao Li Dan.
“Iya! Aku memiliki dua adik perempuan, Xiao Zani dan Xiao Lani. Xiao Zani adalah adik kandungku dan Xiao Lani adalah adik angkatku yang ditemukan oleh ayahku ketika pulang dari kunjungan ke Kerajaan Lin yang berada di bawah naungan Kekaisaran Xiao. Namun, aku tidak tahu nasib keduanya selama perang berlangsung,” jawab Pangeran Xiao Li Dan mengingat kembali kedua adiknya. Meratap.
Hitam disebut putih
Bau bangkai tercium melati
Suara rombeng terdengar merdu
Kegaduhan terasa tentram
Bait-bait syair yang dilantunkan oleh Pangeran Xiao Li Dan terdengar sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam. Syair yang mungkin masih relevan selama peradaban masih berlangsung.
Betapa banyaknya yang keliru ataukah sengaja menyalahartikan hitam dan putih sehingga benar disalahkan dan salah dibenarkan. Betapa banyaknya kebusukan yang ditutupi dengan harta sehingga tercium wangi yang menyerbak. Betapa suara-suara yang menyesatkan dianggap merdu selama suara itu menguntungkan. Perang pun lahir dari kekeliruan yang diciptakan dan dipupuk sedemikian rupa, dengan dalih demi kedamaian. Sungguh dagelan yang masih saja ada hingga kini.
Ucup terdiam memahami kesedihan yang dialami Pangeran Xiao Li Dan setelah terpisah dari keluarganya.
“Kesedihan terlahir dari ingatan yang dimainkan oleh pikiran. Ketika pikiran dialihkan ke hal lain, kesedihan pun hilang dengan sendirinya. Sudahi kesedihanmu itu, Brother! Bajingan kok lemah!” kata Ucup mengomentarinya.
“Kamu yang bajingan, Lord Ucup!” timpal Pangeran Xiao Li Dan. Keduanya lalu tertawa bersama.
Pagi hari … sinar mentari menembus celah jendela, menciptakan senarai larik yang terlukis di wajah sang pemuda yang tertidur dalam posisi lotus. Hangatnya sinar mentari membuat kedua mata sang pemuda terbuka sempurna. Namun, sesuatu masih terasa lengket dan cukup mengganggunya. Pemuda itu pun menggosoknya dengan sedikit kasar.
“Mataku kotor,” kata Ucup setelah mengambil sesuatu yang kenyal dari kedua matanya. Ia pun menatapnya begitu lekat, memilinnya membentuk bulatan, dan diakhiri dengan menjentikkannya ke sembarang arah. Sebuah seni.
Ucup berdiri lalu berjalan ke arah Berlian yang masih tertidur pulas. Ia kemudian membelai wajah sang gadis belia dengan begitu lembut dan memandangnya dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan.
Sementara itu, Xue Xie terbangun mendengar suara langkah dari Ucup. Ia memperhatikan apa yang sedang dilakukan sang pemuda yang berhasil memantik kecemburuan di hatinya.
“Andai saja aku memiliki sedikit saja kecantikan dan aura seorang dewi seperti Berlian, tentunya aku juga akan diperlakukan sama oleh Tuan Muda,” gumam Xue Xie, cemburu.
Ucup yang mendengarnya dengan jelas langsung melirik ke arah Xue Xie dan tersenyum manis menyapanya. Tak cukup hanya tersenyum, Ucup kemudian mengusap lembut kepala Xue Xie. Perlakuan itu membuat pipi sang gadis merona dan jantungnya berdetak cepat sampai Ucup bisa mendengarnya.
“Kenapa wajahmu begitu merah dan detak jantungmu begitu terdengar memburu?” tanya Ucup dengan heran.
Xue Xie gugup tidak bisa menjawabnya lalu berlari menjauh ke luar pintu ruangan. di balik pintu, Xue Xie menggerutu, “Dasar laki-laki yang tidak memahami perasaan wanita, huh, menyebalkan!”
Setelah merasa tenang, Xue Xie kembali memasuki ruangan, di mana Ucup terus menatapnya dengan heran.
“Kenapa Tuan Muda menatapku seperti itu? Aku kan jadi malu,” kata batin Xue Xie.
“Ber, Ber. Aduh, aku masih susah menyebut namanya!” kata Xue Xie ketika akan menyapa Berlian yang sudah bangun dari tidurnya.
Ucup yang mendengarnya merasa lucu, ia pun berucap, “Kamu bisa memanggilnya Lian’er.”
Xue Xie mengangguk tersenyum, lalu duduk menghimpit Berlian. Kedua mata Berlian terus berpindah bolak-balik ke arah Ucup dan Xue Xie dengan mimik wajahnya yang menggemaskan. Ucup dan Xue Xie langsung mengecup pipi Berlian secara bersamaan.
Kali ini, sang mentari pagi yang cemburu melihatnya karena hangatnya tak bisa menyamai kehangatan dari kebersamaan ketiga insan.
***
...Hutan Serigala, Kekaisaran Fei...
Berada di luar wilayah bagian barat Kekaisaran Xiao, tepatnya di Hutan Serigala yang berada di wilayah Kekaisaran Fei, berdiri sebuah sekte yang berkoalisi menjadi kaki-tangan bangsa iblis, yaitu Sekte Serigala Iblis.
Sebuah sekte aliran hitam yang terbentuk dari dua unsur kemalangan, yang pertama adalah para pencari suaka yang berasal dari tujuh kerajaan yang merupakan musuh bebuyutan tiga kekaisaran besar di Benua Matahari yang terkenal dengan nama Aliansi Es Utara, dan yang kedua adalah gabungan para cultivator aliran hitam yang terbuang dan tidak diakui eksistensinya di tiga kekaisaran. Sekte Serigala Iblis dikuasai oleh Klan Sein yang menjadi kepercayaan bangsa iblis.
Hari ini, para tetua sekte dari berbagai divisi sekte sedang melangsungkan pertemuan akbar dalam rangka pelaporan tentang kemajuan sekte dan hasil perburuan ras manusia yang berhasil menyelamatkan diri dari peperangan tiga ras tiga alam.
Seorang pria tua bernama Sein Khan An tengah berdiri tegap di atas podium. Pandangannya begitu tajam memperhatikan satu per satu anggota sekte di bawahnya.
“Beberapa purnama telah berlalu dan perburuan kita terus mengalami kemerosotan yang signifikan. Ini pertanda kinerja kita sangat buruk selama beberapa purnama terakhir. Kita membutuhkan suatu terobosan untuk mempertahankan kejayaan sekte yang berlangsung selama satu abad ini. Namun, sebelum membahas lebih jauh dari capaian kita, aku ingin tahu bagaimana nasib Tetua Sein Kili yang sampai saat ini masih tidak diketahui kabarnya?” ujar Sein Khan An mengawali pembahasan.
Para tetua saling melirik satu sama lain menanggapi nasib Tetua Sein Kili yang belum diketahui keberadaannya. Seorang pria berkepala plontos berjalan ke arah podium lalu membungkuk hormat di depan Ketua Sekte.
“Izin melapor, Ketua. Tim kami dari Divisi Penyisir berhasil menemukan lima mayat dari Divisi Pemburu yang dipimpin oleh Tetua Sein Kili di sekitar Danau Kabut,” ucapnya mengawali, “tim kami juga berhasil menemukan jejak yang ditinggalkan oleh seorang cultivator yang disinyalir merupakan seorang wanita yang melarikan diri ke arah perbatasan Kekaisaran Fei dengan Kekaisaran Xiao. Dari pengamatan kami, kemungkinan Tetua Sein Kili bersama para pengikutnya mengejar wanita itu sampai ke wilayah Kekaisaran Xiao.”
Ketua Sein Khan An mengelus janggut pendeknya mencoba memahami apa yang disampaikan oleh Tetua Divisi Penyisir.
“Terima kasih laporannya, Tetua Sein Dal. Ini menarik, sepertinya wanita yang dikejar oleh Tetua Sein Kili merupakan seorang cultivator hebat. Aku minta Divisi Penyisir terus memperluas jangkauan ke wilayah perbatasan!” balas Ketua Sein Khan An.
“Baik, Ketua, akan kami laksanakan,” timpal Tetua Sein Dal.
Setelah Tetua Sein Dal kembali ke barisannya, kini, seorang wanita paruh baya berwajah ketus dan terlihat kejam melangkah maju untuk menyampaikan laporannya.
“Katakanlah, Tetua Sein Du!” pinta Ketua Sein Khan An.
“Ketua, beberapa pasukan iblis mengabarkan tentang kunjungan Komandan Iblis Ping Xan yang akan menagih seratus jiwa pada purnama puncak berikutnya. Mohon, Ketua memikirkannya!” ujar Tetua Sein Du.
“Itu yang selama ini aku pikirkan. Tentunya kita semua tahu, bahwa bangsa iblis tidak bisa dinegosiasikan dengan sesuatu apa pun yang akhirnya kita sendiri yang harus menukarnya dengan jiwa dari kelompok sekte kita,” balas Ketua Sein Khan An mengerutkan keningnya.
Semua tetua sekte terdiam tidak bisa memberikan solusi atas kekhawatiran ketuanya dalam menghadapi kunjungan dari Komandan Iblis Ping Xan yang akan menagih seratus jiwa untuk dibawa ke alam iblis.
Aku jadi geli 🤣
Salam somplak dan see you.🙏
Tertanda,
UCUP REKBER 😁