NovelToon NovelToon
Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

Selama 19 tahun, aku dan keluargaku mendiami rumah ini. Rumah di tengah sawah. Rumah nyaman khas pedesaan, jauh dari hingar bingar kota. Udara sejuk, malam yang tenang membuat aku betah berlama-lama di rumah.
Hingga akhirnya, kejadian-kejadian aneh menimpaku. Semakin lama kehidupanku semakin terusik. Ditambah lagi kisah asmaraku yang tidak semulus pipi Erni, gadis pujaanku. Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Semua masih misteri.
Semua akan terbuka dan kalian akan menemukan satu persatu jawaban dari misteri yang ada, jika kalian mengikuti kisahku dari awal sampai akhir . . .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kak Iwan

Setelah kurang lebih tujuh belas hari menjalani perawatan di Rumah Sakit, akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang. Aku pulang di jemput Lek Diran menggunakan mobil pick up nya. Sesampainya di rumah, cukup banyak kerabat-kerabatku yang datang menengokku. Aku sejujurnya sedikit kesal dengan hal itu. Pengennya sih pulang dari Rumah Sakit bisa istirahat tenang di rumah. Namun ternyata rumah penuh sesak dengan sanak saudara yang datang menjenguk.

Malam pertama di rumah setelah pulang dari Rumah Sakit, aku kesulitan untuk tidur. Entah kenapa perasaan nggak nyaman berada di rumah ini terasa kembali. Apakah mungkin karena "pageran" dari Lik Wo yang sudah tak berfungsi lagi? Aku baru bisa memejamkan mata setelah lewat tengah malam. Dan esok hari nya aku terbangun cukup siang. Membuka mata, keluar kamar, sepi. Kelihatannya Bapak sudah kembali bekerja, Ibuk mungkin sedang berbelanja. Aku duduk malas-malasan di teras rumah. Kondisiku sepertinya sudah fit kembali.

"Ah, besok mungkin aku sudah bisa masuk kuliah", gumamku.

"Lhah, tapi nggak ada motor", aku teringat motorku yang katanya sudah tak karuan lagi bentuknya.

Aku kembali teringat mimpiku, aku rasa aku perlu bertanya ke simbahku tentang kebenaran mimpiku. Mungkin itu sebuah petunjuk untukku tentang rumah ini. Dari kejauhan terdengar suara motor mendekat membuyarkan lamunanku. Lebih dari satu motor sepertinya. Motor pertama ada Febi berboncengan dengan Nita. Motor kedua ada Hasan dengan Irul. Sementara motor ketiga, sepertinya Erni, tapi dibonceng siapa?

"Wuiihh, dah sehat nih?", sapa Irul cengengesan setelah turun dari motornya. Aku hanya mengangguk, tersenyum. Mataku masih mengamati siapa yang membonceng Erni?

Erni terlihat turun dari boncengan motor sport keren. Seorang cowok memboncengnya memakai helm full face, belum terlihat siapa dibaliknya.

"Hey Dan, gimana? Kamu wes sehat tenan kan?", Febi mendekat padaku, menepuk pundakku pelan.

"Udaahh, aman pokoknya dah kuat lari-lari nih", jawabku kikuk.

"Syukurlaaahh", Febi tersenyum, menarik nafas lega.

Kulihat sosok yang membonceng Erni membuka helmnya. Aku sedikit terkejut, ternyata orang itu adalah Iwan.

* * *

Iwan adalah mahasiswa semester akhir di kampusku. Dia merupakan mahasiswa yang berprestasi. Mewakili kampus dalam beberapa perlombaan dan kontes. Yang paling mentereng dia pernah memenangkan kontes Kakang Mbak Yu kampus tingkat provinsi. Jadi bisa disimpulkan selain smart dia juga good looking. Anak tunggal dari pengusaha makanan ringan khas daerahku. Intinya Iwan adalah sosok manusia paket lengkap. Cakep, keren, pintar dan kaya. Bisa dikatakan dialah bintang di kampusku. Banyak banget cewek-cewek yang tergila-gila padanya. Di kelasku saja, setahuku ada tiga cewek yang menyebut dirinya Iwan holic. Ida, Ratna, dan Ika. Mereka bertiga selalu mengekor Iwan ketika di kampus. Oiya, Iwan juga merupakan kapten tim sepakbola di fakultasku. Mantan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa periode lalu. Eits, apakah aku berlebihan menggambarkan sosoknya? Jawabannya tidak. Memang Iwan sosok yang luar biasa, jujur aku saja kagum padanya.

* * *

Dan. .saat ini Iwan membonceng Erni menjengukku. Apa yang telah aku lewatkan selama terbaring di Rumah Sakit? Jelas, aku atau cowok manapun di kampus untuk bersaing melawan Iwan memperebutkan Erni peluangnya setipis lembar tissue.

"Heii, aku Iwan, gimana? Dah bener-bener sehat bro?", Iwan mendekat mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya, kujabat erat, mantab.

"Hei Dan, sorry baru bisa njenguk sekarang", Erni ikut mendekat padaku, tersenyum.

"Iya, aku udah sembuh kok", Aku membalas tersenyum pada Erni, senyum memaksa, hatiku sedang tidak karuan.

"Oiya gaes, ayo masuk ke rumah," aku mengajak rombongan ini ke rumah.

"Lho Dan kok sepi, pada kemana?", Nita bertanya, clingak clinguk.

"Bapak kerja, kalau Ibuk sih lagi belanja sama adik", jawabku, cuek hendak menuju ke dapur. Namun dicegah sama mereka semua.

"Nggak usah repot-repot, kamu duduk sini aja sama kita-kita", Febi berkata sambil sedikit menarik lengan tanganku, mengarahkanku untuk duduk. Aku menurut.

"Ngomong-ngomong, kok kak Iwan bisa ikut kesini hari ini?", aku bertanya, sudah tidak tertahankan rasa penasaranku.

"Ah. .begini, kebetulan kamu kan anggota aktif tim sepakbola fakultas kita. Ini ada titipan dari temen-temen untukmu", Iwan menyerahkan sebuah amplop kepadaku. Kelihatannya berisi uang yang cukup banyak.

"Oh. .makasih Kak, ngapunten merepotkan, jadi nggak enak", aku tersenyum kikuk. Jawaban Iwan sebenarnya belum memuaskanku. Oke, kalaupun dia memang mewakili tim sepakbola memberikan titipan uang ini untukku, kenapa dia harus membonceng Erni???

1
Alwa fikriah
ceritannya sangat bagus sekali,
Alexander
good job author.
Alexander
lalu bagaimana dengan nasib anak kembar wira yang perempuan ?
Alexander
ngasih sesajen itu juga wujud ketundukan kita pada kaum lelembut itu.
Alexander
kenapa malah jadi lagunya judika ??
Alexander
kalau mbah kadir adalah anak dari wira, bukankah seharusnya usianya masih di kisaran 58 tahun ?
Alexander
ternyata rumah tembok. dalam banyanganku rumah lek diran adalah rumah kayu.
Alexander
menuntut orang lain bersikap terbuka, dianya sendiri suka main kucing2an.
Alexander
tapi perjanjian seperti itu tidak bisa putus begitu saja. anak keturunannya punya dua pilihan. meneruskan persekutuannya dengan bangsa jin atau memutus mata rantai dengan rukyah dan taubat sungguh2.
Alexander
seperti perempuan saja, merajuk tanpa kejelasan alasan 😅
Alexander
perhatian seorang ayah itu dititipkan melalui istrinya. ibu dari anak2 nya.
Alexander
dan dani sempat melihat pak ndori melayani pelanggan dengan mobil merah kan ?
Alexander
titik terendah itu ada karena kamu sendiri yang menciptakannya. kok menyalahkan roda takdir.
Alexander
kaburnya pakai motor yang dibeli dengan uang bapaknya. hadeehh 😅
Alexander
pemeran utamanya berpikiran sempit. menyimpulkan segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
Alexander
tapi bukan dengan cara seperti itu kamu meminta penjelasannya. tidak punya tata krama.
Alexander
kalau yang sakit bukan erni, apakah dani tetap berpikir demikian ?
Alexander
paracetamol sirup ?
Alexander
kalau di sini hari keramatnya hari kamis wage malam jumat kliwon tolu. di novel sebelah hari rabu wage manahil seingatku.
Alexander
seharusnya masjid bisa jadi pilihan untuk beristirahat atau tidur, tapi banyak masjid yang sudah digembok selepas sholat Isya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!