Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masakan Pertama
Pagi di mansion Alister terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Tidak ada lagi bayang-bayang ancaman Hendra yang membayang-bayangi pikiran Aisha. Setelah kepolisian resmi menahan Hendra dan Clara untuk proses penyelidikan panjang, atmosfer di rumah megah itu perlahan berubah menjadi lebih hangat.
Aisha menatap pantulan dirinya di cermin kamar utama. Memar di pipinya sudah hampir hilang sepenuhnya. Hari ini adalah hari pertama Devan kembali bekerja secara penuh di kantor Alister Group setelah tiga hari mengambil cuti hanya untuk menemani Aisha memulihkan diri.
"Kenapa belum bersiap?" suara bariton khas Devan mengalihkan perhatian Aisha.
Pria itu melangkah keluar dari ruam ganti sambil merapikan kancing lengan kemeja putihnya. Dasi hitamnya masih menggantung longgar di leher, memperlihatkan gaya kasual formal yang sangat menawan.
Aisha berdiri dari kursi rias, mendekati Devan dengan senyum tipis.
"Aku sudah siap. Hari ini aku tidak ada jadwal ke mana-mana, Devan."
Devan menghentikan gerakan tangannya, menatap Aisha intens.
"Aku sudah menyuruh Pak Sopir dan dua pengawal untuk mengantarmu kalau kamu bosan di rumah. Kamu bisa belanja atau pergi ke toko buku."
"Aku lebih ingin di rumah saja," sahut Aisha pelan.
Tangan lentiknya terulur secara alami meraih dasi Devan, mulai merapikannya dengan telaten.
"Lagipula aku mau mencoba memasak untuk makan siangmu nanti."
Devan membeku sejenak saat merasakan tangan Aisha yang menyentuh dadanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka.
"Kamu mau memasak? Bi Sumi kan ada."
"Aku ingin memasakkan sesuatu untuk suamiku sendiri," bisik Aisha ragu, matanya melirik ke arah lain karena malu dengan ucapannya sendiri.
"Memangnya tidak boleh?"
Genggaman Devan mendarat di pinggang Aisha, menarik gadis itu sedikit lebih dekat hingga dada mereka menempel.
"Siapa yang melarang? Apapun yang kamu masak, pasti akan aku habiskan."
Devan menunduk, mengecup kilat bibir Aisha sebelum melepaskan pelukannya.
"Aku berangkat dulu. Jangan terlalu lelah di dapur."
***
Pukul dua belas siang, suasana dapur utama mansion Alister tampak riuh tapi menyenangkan. Aisha, ditemani Bi Sumi yang tersenyum penuh haru, sibuk menyiapkan beberapa menu masakan rumah sederhana, makanan kesukaan Devan yang sempat Aisha tanyakan pada Bi Sumi kemarin.
"Nyonya, Tuan Devan itu dari dulu jarang sekali makan makanan luar kalau tidak terpaksa," ujar Bi Sumi sambil membantu memotong sayuran.
"Dulu waktu kecil, beliau paling suka sup ayam gurih dan perkedel buatan mendiang Ibunya."
Aisha tersenyum lembut mendengarnya. Tangannya cekatan mengaduk kuah sup yang mengeluarkan aroma harum penuh selera.
"Semoga rasanya mirip dengan apa yang Devan suka ya, Bi."
Setelah semua masakan dikemas rapi dalam kotak bekal tingkat dua, Aisha memutuskan untuk mengantarkan sendiri makanan itu ke kantor Alister Group sebagai kejutan kecil.
Gedung Alister Group tampak sibuk seperti biasa. Namun, begitu Aisha melangkah masuk ke lobi dengan mengenakan gaun terusan berwarna krem yang anggun, para staf dan sekuriti langsung menyambutnya dengan menunduk hormat penuh kesopanan. Tidak ada lagi tatapan meremehkan, statusnya sebagai Nyonya Alister kini diakui sepenuhnya.
Aisha naik ke lantai 45 menggunakan lift khusus eksekutif. Begitu pintu lift terbuka, Asisten Arya yang baru saja keluar dari ruang rapat langsung tersenyum menyapa.
"Selamat siang, Nona Aisha," sapa Arya ramah.
"Mencari Tuan Devan?"
"Selamat siang, Pak Arya. Iya, saya membawakan makan siang untuk Devan. Apakah dia sedang sibuk?" tanya Aisha halus.
"Tuan Devan baru saja selesai rapat, Nona. Beliau ada di ruang kerjanya," jawab Arya.
Namun, ada jeda tipis di intonasi suaranya yang membuat Aisha memiringkan kepala.
"Hanya saja, saat ini ada tamu penting dari mitra bisnis Singapura di dalam."
"Oh, begitu? Kalau begitu saya tunggu di luar saja—"
Belum sempat Aisha menyelesaikan kalimatnya, pintu ruang kerja Devan terbuka dari dalam. Seorang wanita muda berparas cantik dengan pakaian setelan kerja elegan berpotongan tegas melangkah keluar, tertawa pelan seraya berbalik menatap Devan yang berdiri di ambang pintu.
"Terima kasih atas diskusinya, Devan. Seperti biasa, analisis bisnismu selalu mengagumkan," ucap wanita itu dengan nada yang cukup akrab, lalu menyentuh lengan jas Devan secara alami.
Devan tidak menepis tangan itu, tetapi anggukan kepalanya sangat formal.
"Sama-sama, Catherine. Sampai jumpa di gala dinner minggu depan."
Mata Aisha tertuju pada tangan wanita bernama Catherine yang sempat bersandar di lengan Devan. Ada perasaan aneh, semacam cubitan kecil yang tak nyaman di dalam dadanya. Rasa cemburu yang belum pernah dirasakannya sebelumnya mendadak menyeruak tanpa permisi.
Saat Catherine berbalik hendak menuju lift, matanya berpapasan dengan Aisha. Wanita itu menatap Aisha dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang halus sebelum akhirnya tersenyum formal dan berlalu.
Devan yang baru menyadari keberadaan Aisha di dekat meja Asisten Arya seketika menghentikan pandangannya. Raut wajahnya yang tadinya kaku mendadak berubah menjadi lebih lembut.
"Aisha? Sejak kapan kamu di sini?" tanyanya seraya melangkah mendekat.
Aisha mengeratkan pegangannya pada tali kotak bekal di tangannya, berusaha memasang wajah biasa meski ada sedikit nada dingin yang lolos dari suaranya.
"Baru saja. Aku mengganggu pekerjaanmu, ya?"