Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Hanya Revan yang memperlakukannya seperti manusia biasa, seperti Darius yang dulu.
Tepat ketika Darius hendak menanggapi tawaran sahabatnya, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam perlahan berhenti tepat di depan bengkel Revan.
Kehadiran mobil mewah itu seketika menarik perhatian para montir di luar dan juga Revan. Di kota kecil seperti Mandara, melihat mobil sekalas Rolls-Royce adalah hal yang sangat langka.
"Wah, gila... tamu agung dari mana yang tersesat ke bengkelku pagi-pagi begini?" gumam Revan, matanya melebar menatap mobil tersebut.
Pintu depan sebelah kiri mobil Rolls-Royce Phantom itu perlahan terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam formal melangkah turun.
Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi ke belakang, memancarkan wibawa khas pria yang terbiasa melayani kalangan kelas atas.
Pria itu adalah Ruslan Effendi, kepala pelayan senior yang telah mengabdi pada Keluarga Adhitama selama puluhan tahun.
Pak Ruslan mengedarkan pandangannya ke sekeliling bengkel yang kotor oleh noda oli. Kerutan tipis muncul di dahinya, namun ia dengan cepat menyembunyikan rasa tidak nyamannya itu.
"Permisi, apakah Tuan Muda Darius Adhitama ada di tempat ini?" tanya Pak Ruslan kepada salah satu montir dengan suara yang sangat formal.
Mendengar nama Darius disebut, Revan langsung menyenggol lengan Darius di dalam ruang kerja. "Darius... orang kaya itu mencarimu? Sejak kapan margamu ada 'Adhitama'-nya?"
Darius tidak menjawab pertanyaan sahabatnya. Ia bangkit dari sofa sambil merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar menemui pria paruh baya itu.
Begitu sosok Darius muncul dari balik pintu ruang kerja, kedua mata Pak Ruslan langsung berbinar.
Meskipun pemuda di depannya ini hanya mengenakan kemeja santai, ia yang sudah terbiasa melihat ribuan orang penting langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Postur tegap sempurna, langkah kaki yang sangat stabil, dan sorot mata dingin milik Darius memberikan tekanan mental yang tak kasat mata.
Pak Ruslan segera membungkuk hormat di hadapan Darius. Tindakan itu sontak saja membuat Revan dan seluruh montir di bengkel itu hampir melompat karena terkejut.
"Salam hormat, Tuan Muda," ucap Arman dengan nada yang sangat hormat. "Saya, Ruslan Effendi, kepala pelayan Keluarga Adhitama. Saya diminta untuk menjemput dan membawa Anda kembali ke Ibu Kota."
Darius menatap pria tua di hadapannya itu tanpa ekspresi. "Bagaimana kalian bisa tahu aku ada di kota ini?"
Pak Ruslan kemudian menegakkan tubuhnya, lalu tersenyum sopan. "Jaringan informasi Keluarga Adhitama mencakup seluruh negeri, Tuan Muda. Jadi kami bisa dengan mudah menemukan Anda."
Di samping Darius, Revan masih melongo. Ia kemudian berbisik dengan suara gemetar, "D-Darius... kau ini sebenarnya siapa? Apa kau memiliki hubungan dnegan Keluarga Adhitama di Ibu Kota itu?!"
Darius tidak menghiraukan keterkejutan sahabatnya itu. Ia malah mengingat kembali isi surat ibunya, yang ia baca semalam.
'Jika suatu hari nanti kau kembali dengan ayahmu... Ibu memohon dengan sangat agar kamu tidak mengeraskan hatimu. Hormati dan patuhilah semua keputusan ayahmu.'
Isi surat terakhir sang ibu bergaung kuat di kepala Darius. Jika bukan karena wasiat dari mendiang ibunya, ia tidak akan pernah sudi berurusan lagi dengan keluarga yang dulu menelantarkan mereka.
Jangankan kepala pelayan, bahkan jika ayah kandungnya sendiri yang datang, ia tidak akan bergeming. Namun demi ketenangan jiwa ibunya, Darius harus menurunkan egonya kali ini.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu," ucap Darius pendek setelah keheningan yang cukup lama.
Mendengar jawaban itu, wajah Pak Ruslan seketika tampak lega. "Terima kasih atas pengertian Anda, Tuan Muda. Kita bisa berangkat ke Ibu Kota sekarang juga."
Darius lalu menoleh sedikit ke arah Revan, lalu menepuk pundak sahabatnya itu dengan tenang. "Revan, aku harus pergi. Nanti aku akan menghubungimu lagi."
"O-Oke... hati-hati, Kawan. Kalau kau sudah jadi miliarder, jangan lupakan aku ya!" ucap Revan, berusaha mencairkan kegugupannya.
Darius kemudian berjalan keluar dari area bengkel, diikuti oleh Pak Ruslan yang melangkah dengan sangat sopan di belakangnya.
Begitu mereka sampai di samping mobil, Pak Arman dengan sigap membukakan pintu belakang Rolls-Royce Phantom tersebut dan mempersilakan Darius masuk.
Setelah Darius masuk, Pak Ruslan menutup pintu dengan perlahan, lalu memutari mobil untuk duduk di kursi depan samping sopir.
Mobil Rolls-Royce Phantom hitam legam itu pun perlahan melaju, meninggalkan bengkel motor Revan dan membelah jalanan Kota Mandara menuju Ibu Kota.
Di dalam mobil, suasana terasa begitu sunyi dan tenang. Kemewahan interior mobil ini sangat kontras dengan kesederhanaan pakaian yang dikenakan Darius.
Di kursi depan, Pak Ruslan sesekali melirik ke arah spion tengah. Sebagai kepala pelayan senior, ia telah melihat berbagai macam orang hebat.
Namun, aura yang dipancarkan oleh Tuan Mudanya ini benar-benar membuatnya merinding. Ketenangan Darius bukanlah ketenangan orang biasa, melainkan ketenangan seekor predator yang sedang beristirahat.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Pak Ruslan akhirnya memutuskan untuk membuka suara dengan nada yang sangat sopan.
"Tuan Muda..." panggil Pak Ruslan dengan lembut dan hormat. "Jika saya boleh tahu, bagaimana kehidupan Anda selama ini? Ke mana Anda pergi setelah kepergian Nyonya Gayatri?"
Darius tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia hanya mengetukkan jemarinya sesekali di atas sandaran mobil mewah itu.
"Aku hanya berpindah-pindah tempat, Pak Ruslan," jawab Darius dengan nada datar dan dingin. "Mencari cara untuk tetap bisa hidup di negeri orang."
Pak Ruslan mengangguk dengan prihatin, menangkap maksud ucapan itu sebagai perjuangan hidup yang keras. "Pasti sangat sulit bagi Anda. Tuan Muda."
Sang pelayan senior itu kemudian menarik napas dalam-dalam. Sebagai orang lama di kediaman Adhitama, ia tahu betul bagaimana rapuhnya hubungan masa lalu yang coba disambung kembali hari ini.
Keheningan kembali menyelimuti mobil mewah itu. Yang terdengar hanya deru halus mesin yang melaju mulus di atas jalanan menuju Ibu Kota.
Perjalanan dari Kota Mandara menuju Ibu Kota memakan waktu hampir lima jam. Sepanjang perjalanan, Darius lebih banyak diam.
Malam hari, mobil Rolls-Royce Phantom itu akhirnya memasuki sebuah kawasan elite di pinggiran Ibu Kota. Setelah melewati gerbang yang dijaga ketat oleh beberapa pengawal pribadi.
Mobil mewah itu melaju mulus di atas jalanan yang membelah halaman rumput luas, hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah mansion megah.
"Kita sudah sampai, Tuan Muda," ucap Pak Ruslan dengan sopan seraya turun dan membukakan pintu untuk Darius.
Darius lalu melangkah turun. Matanya yang tajam menatap bangunan megah di hadapannya itu tanpa rasa takjub sedikit pun.
"Mari, Tuan Muda," ucap Pak Ruslan sambil memandu Darius melewati pintu. "Tuan Besar dan anggota keluarga lainnya sudah menunggu."
Begitu melangkah masuk ke dalam aula utama yang megah, langkah kaki Darius seketika terhenti. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan di ruangan tersebut.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya