Dambi nekat mencari gigolo untuk memberikan keperawanannya. Ia pikir kalau dirinya tidak perawan lagi, maka laki-laki yang akan dijodohkan dengannya akan membatalkan pertunangan mereka.
Siapa sangka kalau gigolo yang bertemu dengannya di sebuah hotel adalah profesor muda di kampusnya, pria yang akan dijodohkan dengannya. Dambi makin pusing karena laki-laki itu menerima perjodohan mereka. Laki-laki itu bahkan membuatnya tidak berkutik dengan segala ancamannya yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Rassya
Seorang laki-laki jangkung, tampan dan berpenampilan keren memarkir mobilnya di pelataran kampus.
Kedatangannya di kampus Dambi ternyata memang mencolok.
Beberapa orang tampak berkerumun dan mulai menatapnya
dengan tertarik. Beberapa perempuan tampak tak malu-malu
melemparkan tatapan mata memuja.
Pria itu sudah terbiasa
menerima tatapan semacam itu, dari tatapan kagum, tatapan iri,
tatapan memuja dan banyak lain jenisnya. Dia sudah belajar
untuk tidak mempedulikannya. Sama seperti Angkasa, mereka adalah tipe yang akan selalu menjadi perhatian ketika mereka berada di tempat umum.
Dengan tenang pria tersebut melangkah melalui pintu kaca besar di gedung kampus itu dan melangkah menuju hall depannya. Kedatangannya rupanya sudah
menyebar dengan cepat, karena salah satu petinggi kampus
tampak turun dari tangga dan menyambutnya.
Pengaruhnya memang besar di kampus ini. Karena keluarganya adalah pemilik kampus swasta ini. Jadi keberadaannya juga akan menjadi perhatian orang-orang yang mengenalinya. Seperti para petinggi kampus yang kini berada di depannya tentu saja. Kedatangannya yang tiba-tiba mungkin membuat mereka berpikir ada urusan mendadak. Padahal dari dulu ia tidak pernah mencampuri urusan kampus. Mamanya yang mengurus, dia punya pekerjaan lain. Kedatangannya ke sini hanya untuk menemui seseorang.
"Tuan Rassya, kenapa anda tidak mengabarkan kedatangan anda sebelumnya?" petinggi kampus itu
menyambutnya dan menyalaminya. Ternyata namanya Rassya.
Rassya menyambut uluran tangan itu dan tersenyum,
"Saya bukan dalam kunjungan resmi. Kedatangan saya ke sini bukan untuk bisnis, tidak usah terlalu formal. Saya ingin menemui seseorang yang kebetulan berkuliah di kampus ini." katanya. Memang benar seperti itu.
Petinggi kampus itu mengerutkan
keningnya,
"Ada pelajar yang anda kenal di kampus ini?"
"Yah. Adik saya kuliah di sini." Rassya melirik beberapa orang yang
tampak begitu tertarik, menguping percakapannya dengan sang
petinggi kampus ini. Sedang petinggi kampus itu tampak bingung. Setahunya Rassya ini anak tunggal, kenapa tiba-tiba punya adik.
"Terima kasih atas sambutan anda,
sekarang saya akan mencari adik saya dulu."
"Eh… Apakah anda ingin duduk dan masuk di ruang tamu atas dulu, tuan Rassya?" tawar sih pria tua berbadan gempal.
"Tidak. Lain kali saja." Rassya menganggukkan kepalanya dan melangkah meninggalkan petinggi kampus itu.
Dia menelusuri koridor demi koridor berlantai marmer itu
dengan tenang. Seluruh bagian dari kampus ini sudah sangat
dihafalnya, karena dulu dia juga bersekolah di sini sebelum
melanjutkan magisternya di Amerika.
Dia melangkah menuju
kelas Dambi, seharusnya, kalau Dambi belum pulang, dia ada di
sana. Dia sudah bertanya pada Dambi tadi dan gadis itu bilang masih ada kelas.
Rassya rupanya tidak salah. Dia menemukan Dambi sedang
duduk di salah satu sudut kelas, sendirian sambil memutar-mutar buku yang tampaknya sangat menarik baginya karena dia seperti larut
di dalamnya permainannya itu, tak peduli dengan dunia luar.
Rupanya perkuliahan
sudah selesai dan sekarang para mahasiswa sedang berdiskusi
santai sebelum pulang. Rassya melangkah mendekat dan begitu
orang-orang dalam kelas itu melihatnya, suasana langsung berubah.
Semua menatap ke arahnya, tetapi Rassya tidak peduli.
"Dambi," panggilnya lembut. Dambi yang sedang menunduk mengangkat kepalanya, menatap ke arah Rassya, lalu matanya membelalak, kaget.
"Kak Rassya kenapa di sini?" suaranya setengah berbisik, setengah
tercekik. Berbeda dengan Gery dan Yuka yang menyambut kedatangan pria itu dengan senyuman. Tentu saja mereka kenal Rassya. Pria itu adalah kakak berbeda ibu dengan Dambi. Mama Dambi dan mama Rassya kakak beradik. Jadi Rassya dan Dambi memang kakak beradik, alias sepupu. Dulu mereka selalu rajin ketemu, tapi karena Rassya makin sibuk dengan pekerjaannya dan beberapa bulan ini sedang berada diluar kota, mereka belum pernah ketemu lagi.
"Jemput kamu. Aku dari Bandung langsung ke sini. Kamu juga harus menjelaskan padaku tentang pertunanganmu." ucap Rassya dengan menekankan kalimat terakhirnya dengan menatap Dambi tajam. Tapi suaranya dia perkecil saat menyebut kata pertunangan, agar yang lain tidak dengar.
Dambi menoleh ke arah sekeliling. Takut-takut yang lain mendengar kata pertunangan yang disebut Rassya. Ia takut kalau mereka dengar, mereka akan mengait-ngaitkannya dengan Angkasa yang mereka ketahui baru bertunangan juga, ujung-ujungnya mereka akan jadi curiga. Bisa saja begitu kan?
Rassya sendiri memang terang-terangan menjemput Dambi, dia benar-benar ingin
menunjukkan bahwa Dambi adalah bagian dari keluarganya, yang sangat dia sayangi.
"Bang Rassya apa kabar?" tanya Gery. Pandangan Rassya beralih ke pria itu dan tersenyum. Ia juga melirik Yuka yang tersenyum lebar padanya.
"Baik. Kalian berdua nggak keberatan kan kalo aku culik sih manis ini hari ini?" Yuka dan Gery mengangguk bersamaan, hanya Dambi yang melotot. Bahkan sebelum dirinya berbicara, Rassya sudah menarik tangannya pergi dari tempat itu. Mau tak mau Dambi pasrah saja. Orang-orang menatap kepergian mereka dengan iri.
"Angkasa?
"Kau mendengar perkataanku? Angkasa?" Rilly, salah satu dosen wanita seumuran dengan Angkasa memanggil pria itu, ia terus mengibas-ngibaskan tangannya ke udara, didepan wajah Angkasa. Tapi pria itu tidak bergeming. Pandangannya fokus kedepan sana. Entah apa yang dia lihat.
Karena tidak mendapat respon dari pria itu juga, Rilly mengikuti pandangan Angkasa. Ia penasaran apa yang laki-laki itu lihat sampai sebegitunya. Lalu ia menyadari tatapan Angkasa fokus ke dua makhluk yang berjalan menuju parkiran didepan sana.
Rilly kenal yang perempuan. Itu Dambi, sekelas dengan Andin adiknya. Andin pernah cerita dirinya sempat memergoki Angkasa dan gadis itu berjalan bersama. Dan mereka tampak dekat. Semuanya makin jelas dengan tatapan Angkasa sekarang. Wajah lelaki itu tampak marah saat melihat Dambi bersama laki-laki lain. Rilly jadi tidak suka.
Sepertinya memang benar mereka ada hubungan. Apa Angkasa menyukai bocah ingusan itu? Siapa juga bocah itu sampai bisa kenal dengan Rassya, anak sih pemilik kampus.
Rilly kenal Rassya yang bersama Dambi sekarang. Dulu mereka sekampus, bahkan seangkatan tapi tidak dekat. Rilly dulu hanyalah gadis cupu yang tidak pandai bergaul. Apalagi dengan orang-orang dari kalangan atas seperti Rassya. Mungkin Rassya sendiri tidak tahu kalau mereka teman seangkatan.
"Dambi dan sih pemilik kampus itu pacaran?" ucap Rilly sengaja dia perdengarkan ke Angkasa.
"Tidak!" balas Angkasa langsung tanpa memandang Rilly. Dambi pacaran dengan pria lain? Coba saja kalau berani. Angkasa lalu pergi dari situ setelah melihat mobil yang dikendarai pria yang bersama Dambi itu menjauh dari area kampus. Ia tidak mempedulikan Rilly yang berteriak-teriak memanggilnya. Dirinya terlalu kesal melihat Dambi dengan laki-laki lain.