NovelToon NovelToon
Istri Kedua Tuan Krisna

Istri Kedua Tuan Krisna

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Misteri / Mafia / Tamat
Popularitas:11.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Syala yaya

Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?

Seorang pelakor?

Seorang wanita perebut suami orang?

Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.

Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?

Akankah dia bahagia?


"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna


"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna


"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika


follow IG @Syalayaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 H -1

Happy Reading …

🍀🍀🍀

Harum semerbak bunga tercium indera penciuman, kala Isna memasuki ruang kamarnya. Setelah ikrar damai dari Krisna minggu lalu, akhirnya Isna memilih memakai kamar yang lebih kecil dari yang dia tempati selama di Secret Resort ini.

Ketiga pelayan pribadinya terlihat sedang menghias kamar, menambah beberapa perabotan juga bunga dan hiasan khas kamar pengantin baru di kamarnya.

Sebenarnya, Isna merasa sangat tidak senang dengan apa yang dilakukan semua penghuni Resort untuk menyiapkan pesta besok.

“Apa Nona merasa gugup?” tanya Dewi sambil memotong beberapa bunga dari tangkai yang panjang lalu menaruhnya ke dalam vas bening berbahan kaca.

“Rasanya sesak napas, jantungku berdebar-debar,” jawab Isna sambil ikut merapikan bunga dengan wajah lesu.

“Anda pasti sedang memikirkan ‘itu’ 'kan?” goda Dewi lagi sambil tersenyum.

Itu apaan sih? Bisa-bisanya.

Keakraban Isna dengan ketiga pelayan pribadinya memang terjalin cukup baik. Isna tidak memiliki teman sekadar berbincang selain mereka dan juga Wisnu.

“Apaan sih … mesum kalian, ya?” elak Isna sambil memainkan vas bunga dan menatap bunga itu dengan seksama.

Dia sebenarnya tidak sedang menatap bunga, tapi melamun lebih tepatnya. Larut dalam pikirannya. Apa yang akan dia lakukan kedepannya.

Apa aku harus melayaninya seperti seorang istri sungguhan? Atau ... lalu, nona Kartika bagaimana?

Isna mengusap rambut di kepalanya dengan gemas, karena tak mampu berpikir jernih.

Derap langkah kaki ramai mendekat, mengusik pendengaran Isna hingga mau tak mau, Isna segera menoleh kearah suara.

“Halo, Nonaku?” sapanya hangat dengan senyuman manis.

Dokter Juna dengan formasi lengkapnya, ditambah satu dokter wanita yang datang dan masuk ke dalam kamar.

“Halo juga, Dokter,” sahut Isna segera berdiri, menghampiri dokter itu dengan membalas senyuman.

“Waw ... tidak menyangka kau bisa berubah jadi kupu-kupu, Nona Isna,” puji Juna, sambil duduk di sofa dan menyamankan diri di sana.

Raut wajah Juna tampak terkesiap, menatap perubahan yang terjadi pada Isna yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.

“Apa Anda pikir kemarin saya seekor ulat?”

Isna kemudian ikut duduk di ujung Sofa, di sebelah dokter Tito yang langsung beringsut sedikit menjauh dengan gelak tawa. Menggoda Isna dengan kejadian malam tempo hari. Isna membalas dengan bibir mengerucut.

“Bukan ulat, tapi kepompong,” canda Juna lagi sambil tertawa.

“Berhenti menggoda saya, para dokter,” cibir Isna menatap sewot.

“Bagaimana perasaanmu? Calon penganten?” goda Dokter Bima sambil membuka beberapa berkas di tangannya.

“Saya? Biasa saja," jawabnya pura-pura. “Anda semua ke sini untuk memeriksa saya lagi? Astaga, seperti pesakitan saja,” keluh Isna sambil menerima kertas yang disodorkan kepadanya.

Sesaat Isna menyimak dan membelalak menatap mereka berlima bergantian. Mereka 'tak kuasa menahan tawa dengan tatapan menyelisik Isna, yang ditujukan pada mereka secara bergantian.

“Itu jadwal malam pertamamu, bagian dari program hamil yang kau inginkan itu. Kau bisa mendiskusikan ini bersama Krisna kalau perlu,” terang Dokter Juna santai. Isna menatap terkesima.

Kenapa mereka bisa sesantai itu? Huh ... aku benar-benar malu.

“Kalian semua kenapa tidak memberikan jadwal ini pada pria itu? Malah memberikan pada saya, penindasan ini namanya,” protes Isna menjatuhkan kertas keatas meja, dengan wajah cemberut kesal.

“Tidak bisa, Krisna sibuk. Aku juga malas bertemu dengannya,” kelitnya memberi alasan.

“Kalian ini!” Isna bersungut kesal.

“Sini, biar aku lihat kulitmu.”

Kedatangan para dokter itu sedikit banyak membuat Isna relaks dengan obrolan diiringi tawa santai. Menghilangkan sejenak kegundahan akan berubahnya status dirinya mulai besok. Menjalani kehidupan yang akan berbeda setelah ini.

“Anda masih virgin, 'kan?” tanya seorang dokter perempuan yang sedari tadi hanya terdiam menyimak obrolan. Dia menatap dengan santai, tangannya terlihat memegang kertas dan pulpen.

Isna menelan ludahnya dan memandang dokter perempuan muda itu dengan tatapan lemas.

Wah ... lama-lama bisa gila aku, bila terus berhubungan dengan orang-orang di sekeliling tuan Krisna. Aku seperti mau kabur saja.

Dipeluknya bantal yang Isna ambil dari pinggiran sofa. Isna hanya bisa menopang dagu, memasang wajah kusut saat memandang kelima dokter yang kini sedang menatapnya dengan sorotan geli.

🌴🌴🌴

Di Kediaman Krisna

Kartika duduk termenung di balkon, bersilang kaki sambil menikmati minuman di tangan kirinya dan sebatang rokok terselip pada jemari tangan kanannya.

Wajahnya menengadah memandang ke arah langit. Menatap mega yang kini menganak beriringan, beserta semburat warna jingga menampakkan suasana sore hari menjelang matahari terbenam.

Dia masih membisu. Kedua pengawalnya berdiri di pintu masuk di belakangnya, terdiam menjaga.

“Ponsel Anda, Nona.”

Suara tegas pengawal itu mengalihkan perhatiannya menuju ke arah meja yang berada di sampingnya. Ponsel itu berputar berirama dengan getaran notifikasi panggilan.

Sejenak dia hanya menatap tanpa minat untuk mengangkat, mengabaikan panggilan itu begitu saja. Dia pun memilih meletakkan kembali minuman ke atas meja lalu menggerus rokoknya ke dalam asbak dengan menekan kuat agar bara apinya padam dan menyisakan kepulan asap. Tangannya segera meraih ponsel itu lalu melangkah menuju pintu masuk ke kamarnya.

“Bereskan, jangan sampai Krisna melihat bekas rokok dan minumanku!” tegasnya berdiri di samping pengawal kemudian berlalu meninggalkan tempatnya.

Kartika merasa gundah, memandang layar ponsel sudah lebih dari tujuh kali miss call juga mengabaikan beberapa pesan yang masuk. Bibirnya sedikit bergetar.

Dia merangkus wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu merebahkan tubuhnya ke atas permukaan kasur. Sejenak ia pun mencoba untuk memejamkan kedua matanya.

Drttt … drtttt … drtttt …

Ponselnya bergetar untuk kesekian kali. Dengan malas Kartika menegakkan tubuhnya kemudian meraih ponsel dari atas nakas dan menggeser panel hijau yang bergerak setelah menarik napas perlahan.

“Halo,” sapanya tegas dan dingin.

“Berhenti mengabaikan aku. Segera temui aku secepatnya!”

“Apa maksudmu?” desis Kartika.

“Kau sudah membuat rencanaku berantakan, kau membangunkan macan tidur, Ratu!”

“Aku tidak melakukan apa pun!” decaknya tidak terima dengan tuduhan si penelpon.

“Kau harus bertanggung jawab atau aku tidak segan-segan membuatmu menyesal!”

Kartika tergelak, memasang wajah sinis. Dia segera memperbaiki posisi ponsel di telinganya lalu mulai bergerak bangun lalu berjalan mendekati dinding kaca kamarnya.

“Kau mau mengancamku?!”

“Aku akan membuka kesalahan masa lalumu dan lihatlah, Kartika. Apa Krisna masih memandangmu sebagai cinta masa kecilnya yang indah?” cemooh sang penelepon.

Gelak tawa terdengar membahana. Napas Kartika menderu tidak beraturan. Wajah cantiknya mulai memucat. Kartika melangkah mondar-mandir dengan tangan mengelus pucuk kepalanya frustrasi.

“Apa sebenarnya maumu!” hardik Kartika tersulut.

“Temui aku di tempat biasa. Dan ingat! Aku ingin kau memakai parfum favoritku. Aku rindu aroma tubuhmu, Ratu.”

Kartika membanting ponselnya ke atas ranjang sambil menggeram kesal. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, mengumpat beberapa kali. Sikap elegan yang dia tunjukan biasanya, menghilang seketika.

Kenapa bisa jadi seperti ini? Aku tidak menyangka bisa begini.

Dia segera masuk ke ruang ganti. Diraihnya pakaian dari dalam lemari dengan tergesa, menarik sepatu dari rak juga tas dari sana. Kartika segera meletakkan barang itu ke atas meja dan segera berganti pakaian.

Ceklekk!!

Suara pintu ditutup berasal dari luar, membuat Kartika berjingkat di dalam kamar mandi. Hanya suara pintu, tapi tampak seakan menakutkan. Dia seperti maling yang hampir tertangkap.

Apa Krisna sudah pulang?

Dia segera menyembunyikan barang-barangnya kembali ke dalam lemari ganti dan mengambil baju ganti hariannya.

“Krisna?” panggil Kartika dengan suara agak keras, berharap mendapat sahutan dari luar

“Kau sedang mandi?” sahutan dari luar.

Kartika mendengus kesal, mendapati Krisna sudah pulang, biasanya suaminya itu pulang larut malam. Padahal ini baru jam lima sore.

“Iya, aku mandi. Kau sudah pulang?” tanya Kartika sambil mengalirkan air di bak mandi.

“Hmm.”

Kartika terdiam mematung di kamar mandi, sedangkan Krisna sedang merebahkan tubuhnya ke atas ranjang sambil mulai memejamkan kedua bola matanya.

Mereka membisu dengan jalan pikiran masing-masing. Hingga ponsel di samping kepala Krisna bergetar, ingin Krisna mengabaikannya, tetapi getaran tidak berkesudahan membuatnya segera menarik benda itu dan menatap layar ponsel Kartika.

“Aswa Tama? Siapa dia ....”

Dia meletakkan kembali ponsel Kartika di sampingnya, sejauh jangkauan tangan. Krisna meraih sesuatu dari saku celananya. Menggantungnya ke atas wajah dengan posisi tidur terlentang. Gantungan kunci pemberian Isna.

“K-r-Isna,” gumamnya tersenyum tipis.

“Kau jam segini sudah pulang, Kris?” sapa Kartika keluar dari ruangan kamar mandi dengan rambut basah.

“Hm … besok aku akan menandatangani berkas sesuai keinginanmu, jadi hari ini aku ingin menemanimu,” ungkap Krisna segera bangun dari tiduran, memasukkan barang kecil itu ke dalam saku celananya lalu melangkah mendekati Kartika.

“Kenapa wajahmu pucat? Apa kau baik-baik saja?”

Krisna meraih jemari istrinya dan menelisik sudut mata Kartika yang menolak beradu pandang.

“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit merasa sedih. Itu saja,” jawab Kartika masih memandang ke sana kemari dengan gelisah.

“Biarkan aku memelukmu,” pinta Krisna berusaha untuk menenangkan istrinya.

Kartika menerima pelukan Krisna dengan perasaan berjuta cabang. Dia tahu itu pelukan tulus dari Krisna, tetapi tetap tidak bisa membuatnya tenang.

“Siapa, Aswa Tama?” tanya Krisna masih memeluk tubuh Kartika.

Deg!

Seketika Kartika merasa tubuhnya dihunjam, rasa panik dan keterkejutan melandanya, Krisna memberi pertanyaan yang tak mungkin dia jawab dengan jujur.

Apa Krisna melihat ponselku?

“Siapa Aswa Tama?” ulang Krisna lagi sambil melepaskan pelukan dan menatap wajah Kartika yang nampak semakin gusar.

Krisna tersenyum sinis sekilas, perubahan tubuh Kartika yang membeku menyiratkan hal yang tidak beres.

“Apa kau berhubungan dengan lelaki lain di belakangku?”

Sorot mata Krisna menghunjam, tatapan kemarahan yang jelas tampak di depan mata. Kartika menelan ludahnya yang tercekat dengan susah payah dan segera menenangkan dirinya.

“Dia … dia ….”

Tatapan mata Krisna semakin tajam, dengan deru napasnya yang kian tampak menahan amarah.

“Apa kau ingin aku mencari tahu sendiri?” dengus Krisna, dengan menampakkan sorot mata penuh kekecewaan khas di wajahnya.

🍁

~Kau tahu, hatiku ini mulai goyah, dan aku benci mengakuinya. Jangan pernah kau membuatku kecewa dan semakin membuatku mencari alasan untuk masuk kedalam jeratan ketertarikan yang kuat, ke arahnya ~ Krisna

Bersambung ...

🌺🌺🌺

Hai Readers ...

Terimakasih masih setia menunggu up dan membaca Novelku ^_^

Terimakasih dan sehat selalu buat kalian ^_^

With Love ~ Syala Yaya 🌹🌹

1
Ayu Faridiyah
q sudah baca brulang2 kk...TPI masih aja suka n slalu terbawa suasana,kyk q jga ikut dlm cerita😉
🍃EllyA🍃
Luar biasa
🌸ReeN🌸
keren bgt novelnya... 👍👍👍
Syala Yaya (IG @syalayaya): Terima kasih, kak. semoga suka dengan jalan ceritanya, yaaa ❤️❤️
total 1 replies
N Talia
keren...🥰
N Talia
Lumayan
Koni Dwi N
perang lagi ya thor?
Naja Naja nurdin
so sweet
Koni Dwi N
peliharaan kok ular sih
Koni Dwi N
rentenir melulu kasusnya thor
Koni Dwi N
ngganggu aja /Grin//Grin//Grin/
Koni Dwi N
nah lho isna hamil tuh
Koni Dwi N
novelnya bagus, menarik ceritanya thor, JD semangat berkarya trs ya thor
Koni Dwi N
Wisnu ktemu calon jodoh
Koni Dwi N
Krisna udah bucin bgt
Koni Dwi N
lanjut thor
Koni Dwi N
udah hampir selesai ya thor?
Koni Dwi N
isna akan jadi istri ikrisna satu2nya
Koni Dwi N
cinta bertepuk sebelah tangan, pasti sakit banget ya Wisnu?
Koni Dwi N
suami idaman
Koni Dwi N
maju trs pnting mundur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!