Yuna gadis yang usianya sudah cukup matang nan pekerja keras memiliki sifat terbilang sedikit galak. Sejak dulu hingga sekarang kedua orang tua Yuna meminta dirinya untuk menikah. Namun, permintaan itu Yuna tolak keras dengan alasan Yuna masih ingin bebas dan masih mau berkarir sebagai guru PNS di Sekolah SMA Bakti.
Akan tetapi, takdir berkata lain. Sebuah peristiwa mempertemukan dirinya dengan seorang pria bernama Biansyah Hermawan yang terkenal tukang onar di sekolahnya SMA Taruna.
Hingga pada akhirnya pernikahan beda umur itu terjadi dalam sekejap.
Bagaimana Yuna menyikapi pernikahannya bersama Bian yang lebih muda darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Masrianiani Hijab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sejarah
"Siapa, Bian?" tanya Yuna melihat Bian diam menatap ponsel miliknya.
"Ibu. Aku malas mengangkatnya." jawab Bian judas.
Yuna melangkah ke arah Bian dan berkata, "Aku paham perasaan kamu, Bian."
"Terimakasih, Yun. Kau selalu paham dengan keadaanku." ujar Bian lagi.
Kembali panggilan telpon itu masuk yang kesekian kalinya. Yuna kembali memberanikan diri berkomentar.
"Jika tidak ingin menjawabnya tidak apa-apa, Bian. Mungkin kamu butuh ketenangan. Namun, biar bagaimana pun dia ibu kamu. Dia ibu yang melahirkan kamu dengan penuh penuh perjuangan hingga kamu bisa menatap dunia."
"Tapi, dia tidak seperti seorang Ibu, Yuna! tidak." Bian duduk mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menarik rambutnya. Tatapan Bian mengarahkan ke depan. "Yang pantas aku panggil ibu, ada bibi Ira."
Yuna ikut duduk di samping Bian. tangan Yuna dengan lembut menyentuh punggung Bian. "Apakah Bibi Ira sangat berjasa?"
"Dia wanita yang mengasuh aku dari sejak kecil, Yun. Dia yang pantas aku sebut ibu. Hingga sekarang ini, hanya Bibi Ira yang peduli padaku di rumah besar itu." Bian memangku dagunya di kepalan tangannya.
Yuna menyandarkan kepalanya di bahu Bian. Yuna sangat paham kondisi Bian sekarang. Yuna ingat cerita Ibu sukma sebelumnya saat Bian masih dalam kandungan.
Bian kembali berujar, "Yun, Aku tidak ingin kamu dekat kembali dengan pria itu. Aku cemburu, Yuna."
"Iya, Bian. gak."
Bian pun memposisikan dirinya menghadap ke arah Yuna. Bian menangkup Wajah Yuna. Keduanya saling menatap. Cukup lama mereka saling lempar tatapan.
"Yun, bolehkah? Aku menginginkan dirimu."
Yuna menatap Bian lalu mengangguk. Bian muali neyentuh bi** merah jambu itu dengan lembut. Namun, Begitu Bian akan kembali melakukan hal berikutnya, Kembali panggilan Ibu Ibu Sukma masuk. Bian menghentikan hal roman itu dan kembali merasa gagal lagi.
"Bian, jawablah dulu. Itu Ibu. gak baik mengabaikan panggilannya. Aku keluar dulu, ya ..." kata Yuna beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" tanya Bian.
"Aku mau minum," ujar Yuna. padahal jantung Yuna sudah seperti lari maraton. Setelah menutup pintu kamar Bian, Yuna menghembuskan napas panjang dan memegang dadanya.
"Oh, Tuhan. Aku tidak bayangkan. Bagaimana ini?" lirih Yuna yang masih bersandar di tembok kamar Bian sambil melihat pintu kamar Bian yang tertutup.
"Membayangkannya saja, aku ingin rasanya menghilang dalam sekejap." Yuna memegang bibirnya. "Oh pintu doraemon terbukalah."
Yuna mondar mandir. Setelahnya Yuna mencari minum di dapur. Yuna bertanya dalam hati 'Siapa pemilik Villa ini. Apakah Villa ini milik keluarga Bian?'
Yuna termenung di depan kulkas yang sudah terbuka. Dirinya lupa apa yang akan di ambil olehnya sedang membuka kulkas.
"Akh! kenapa otakku eror begini? Bagaimana bisa aku.... "
Sebuah tangan kokoh milik Bian yang melingkar di perutnya mengangetkan Yuna.
"Bian? Bikin kaget saja," ujar Yuna mencoba menepis rasa kegelisahan dalam dirinya.
"Mbak, baik-baik saja?"tanya Bian yang menutup pintu kulkas setelah mengambil air minum dan menyimpannya di atas meja kecil yang ada di samping kulkas. Kenapa berdiri di depan kulkas? Apa kau panas?" Bian kembali memeluk Yuna dari belakang.
"Apaan, sih. Tidak," elak Yuna berusaha merilekskan dirinya. "Lepaskan aku, Bian."
Bukannya Bian melepaskan Yuna, justru Bian langsung mengangkat tubuh Yuna menuju kamar mereka. Yuna tidak percaya dengan yang dilakukan Bian padanya.
"Apa Mbak kira aku tidak mampu mengangkat tubuhmu? kalau iya, Mbak salah," ujar Bian meletakkan dengan tubuh Yuna dengan pelan di atas tempat tidur.
Yuna terlihat berulang kali menutupi wajahnya bahkan entah sudah berapa kali dia menelan salivanya.
"Bian, apa yang akan kamu lakukan?" Yuna menutup matanya melihat bian mulai melepaskan kain yang melekat di tubuhnya
Bian berbisik degan lembut ditelinga Yuna yang membuat Yuna malu sendiri. Tatapan itu sakan sebuah kode untuk saling memiliki satu sama lain.
Kini, sapuan jari menyibak. Jarak keduanya kini begitu dekat. Hingga tidak ada lagi napas keduanya terdengar beberapa detik.
Sepasang jiwa menyatukan cinta mereka malam itu dan tidak ada lagi jarak di antara keduanya. senyap. Lantunan indah akan pujaan Tuhan hanya mereka berdua yang menyaksikan dan merasakan serta saling menyelimuti.
Seolah angin malam menjadi saksi bisu dalam peraduan dua jiwa yang terpasung nafsu memburu Hingga pelayaran tiba di tujuan.
Kukirimkan malam ini cinta suciku untukmu bersama hembusan angin teduh. Kusalurkan kasih sayangku melalui pori-pori jiwaku untuk bekal tidur yang kau jenjang dalam dekapan kasih membelai jiwamu.
***
Tarik napas, PEMBACA... ☺☺☺🥰🥰🥰
SILAHKAN bayangkan sendiri. AUTHOR gak tanggung jawab. JANGAN BAPER. DILARANG. APALAGI YANG JOMBLO. WKWKWK.
AKHIRNYA BAIN UNBOXING JUA. HAHAHAHAHA 🤣🤣🤣🤣
TINGGALKAN KOMENTAR. KEPUASAN PEMBACA KEBAHAGIAAN AUTHOR.
MASIH ADA KEJUTAN EPISODE BERIKUTNYA.