Nayla Faranisa, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA kelas 12, Ia tinggal berdua dengan Abang nya yang merupakan seorang pengusaha kaya raya, sejak kematian kedua orang tua mereka delapan tahun silam, Gerald sang kakak adalah orang yang selalu melindungi adik satu-satunya yang kini telah menginjak dewasa, siapa sangka Gerald mulai menyukai Nayla yang kini bertransformasi menjadi seorang gadis yang sangat cantik, Ia tak rela jika sang adik dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Hingga akhirnya Gerald benar-benar jatuh cinta kepada adiknya. Dan ia bertekad untuk menjadikan adiknya sebagai miliknya agar tidak ada pria yang coba-coba mendekati Nayla.
Nayla pun tak terima dengan perlakuan sang Kakak, tapi Gerald tetap meyakinkan kepada Nayla jika dirinya benar-benar mencintai gadis itu.
Akankah Gerald berhasil meluluhkan hati Adiknya? Rahasia apa yang membuat Gerald yakin jika Nayla akan menjadi miliknya untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 HTA
"Oma tuh kenapa sih, Aku dan Nayla memberikan kejutan untuk Oma, biar Oma senang, justru Oma buang." protes Gerald yang sedikit kesal dengan sikap sang Oma.
"Gerald! Karena bunga itu bukan karena kamu sendiri yang berinisiatif, jadi Oma tidak mau menerimanya, dan kamu Nayla! Kamu itu siswa sekolah, harusnya jam segini kamu ada di rumah, belajar! Bukan malah keluyuran ngga jelas, mau jadi apa Kamu? Kalau saja Sudarsono dan Lilis masih hidup, mereka pasti sangat kecewa dengan mu, punya anak perempuan tapi nggak bisa jaga Dirinya sendiri." umpat Hera sembari melipat kedua tangannya. Dengan tatapan mata yang sinis, Hera menatap bola mata Nayla.
Mendengar istrinya dimarahi seperti itu, Gerald pun segera pasang badan, Ia pun berkata kepada sang Oma bahwa Nayla pergi karena Ia ajak jalan-jalan.
"Bukan salah Nayla, Oma! Gerald sendiri yang mengajak Nayla untuk pergi, apa salahnya? Nayla Adik Gerald, Gerald sebagai Kakak yang baik, tentu saja ingin menyenangkan dia, bukankah Oma tahu sendiri, Gerald sudah berjanji kepada Almarhum Papa dan Mama, bahwa Gerald akan menjaga Nayla, Gerald akan selalu bersama nya, Gerald akan terus bersama Nayla menggantikan Almarhum Papa dan Mama." ucap Gerald sembari merangkul pundak istrinya.
Nayla menatap wajah sang suami yang sungguh-sungguh membela dirinya di depan Oma Hera. Nayla semakin kagum dengan sosok sang Abang yang nyatanya sekarang menjadi suaminya.
"Bang Gerald! Ternyata kamu memang benar-benar mencintaiku, mungkin memang benar, kamu adalah laki-laki yang tercipta untukku, maafkan Aku jika dulu pernah tidak percaya padamu, sekarang Aku tahu jika cintamu benar-benar tulus." batin Nayla, Ia merasa lebih tenang saat Gerald berada di sampingnya.
Sementara itu Oma Hera semakin kesal karena sang cucu selalu membela Nayla daripada dirinya.
"Gerald! Oma ngga habis pikir, kenapa kamu lebih membela dia daripada Oma kamu sendiri. Oke! Oma bisa pahami jika kamu sangat menyayangi Nayla, tapi ingat! Hubungan kalian hanya sebatas saudara tidak lebih, karena Oma mau kamu menikah dengan gadis pilihan Oma, dan kamu tidak bisa menolaknya!" mendengar penuturan dari sang Oma, Gerald langsung membantahnya, "Tidak bisa Oma! Gerald tidak bisa menikah dengan gadis manapun, tolong! Saat ini Gerald lebih fokus untuk menjaga Nayla, karena Gerald hanya menganggap Moza sebagai teman saja, dan Gerald yakin jika Moza juga pasti tidak mau menikah dengan Gerald, jadi tolong jangan paksa kami untuk menikah. Karena Gerald sudah terlanjur menyayangi Nayla, Gerald tidak perduli jika Nayla adalah saudara Gerald. Gerald dan Nayla tetap akan bersama, tak ada satupun yang bisa memisahkan kami, termasuk Oma!"
"Gerald, cukup! Apa kamu mau nama baik keluarga besar Adams tercoreng karena ulah mu yang konyol itu, Nayla itu secara hukum dia adalah Adik kandung mu, apa kata dunia jika mereka tahu, bahwasanya sang kakak mencintai adik kandung nya sendiri, Oma bisa malu, mau taruh di mana muka Oma," seru Hera semakin memuncak
Gerald sepertinya sudah tidak mau lagi mendengarkan ucapan dari Hera, Ia pun naik ke atas sembari menggandeng tangan Nayla agar bisa pergi dari hadapan sang Oma.
"Eh eh kalian berdua mau kemana, Oma belum selesai bicara, Gerald, tunggu!" seru Hera kepada Gerald yang terlihat tidak menghiraukan panggilan sang Oma.
Sementara Nayla tampak memperhatikan wajah Hera yang terlihat begitu kesal dengan nya.
"Sialan! Ini semua gara-gara gadis miskin itu, Aku harus bisa memisahkan mereka berdua, Gerald tidak boleh mencintai Nayla, tidak boleh. Gerald harus menikah dengan putri Nurmala, dengan begitu nama baik keluarga ku tidak akan tercoreng, segera mungkin Aku harus melaksanakan pertunangan mereka secepatnya." gerutu Hera sembari melihat Gerald yang terus membawa Nayla ke atas.
Bi Jum yang menyaksikan itu semua hanya bisa berdoa supaya Hera sadar jika Gerald sangat mencintai Nayla.
"Ya Tuhan! Tuan muda tidak bisa menyembunyikan perasaan nya, jika dia memang benar-benar mencintai Non Nayla, semoga Nyonya Hera bisa mengerti." batin Bi Jum.
*
*
*
Sementara di sebuah rumah seorang pengusaha wanita yang sukses dengan bisnis Berliannya, hari itu Nurmala sedang berbicara kepada putri dari suaminya, Moza. Gadis manis yang kini kuliah di sebuah universitas di kota nya.
Saat itu Moza tengah sibuk memainkan ponselnya, sementara Nurmala terlihat duduk mendekati putri tirinya itu sembari berkata, "Moza! Mama dan Oma Hera sudah memutuskan untuk menjodohkan mu dengan cucunya, dia pria yang baik, Mama berharap kamu bisa membina rumah tangga bersama orang yang tepat, Cucu Oma Hera adalah pengusaha yang sukses. Kamu pasti bahagia hidup bersama nya dan ...!" belum selesai Nurmala berbicara, Moza terlihat memotong pembicaraan Nurmala.
"Ayolah, Ma! Moza udah gede, Moza udah bisa nentuin hidup Moza sendiri, jadi Mama tidak perlu mencari kan suami untuk Moza, Mama nggak usah khawatir, lagipula Moza masih ingin menikmati masa lajang."
"Tapi Moza! Mama hanya memenuhi permintaan dari Almarhum Papa, untuk menikahkan mu secepatnya, jadi tolong mengerti lah!"
"Moza mengerti, Ma! Tapi Moza belum ingin menikah, jadi Aku mohon jangan paksa Moza!"
Tiba-tiba saja terdengar ponsel Moza berdering, Ia pun segera pergi untuk mengangkat telepon yang rupanya dari Arthur.
Mampir thor,Kayaknya seru nih...