NovelToon NovelToon
Trapped in You

Trapped in You

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:50.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jamilah Prita

Lila tak pernah benar-benar mencintai Ryan, ia hanya mendekati Ryan karena alasan membalas dendam terhadap mantan kekasih yang sudah berkhianat padanya. Semua itu berubah ketika Ryan justru mulai menunjukkan ketertarikannya pada Lila.

Ryan hanyalah cowok dingin tampan yang selalu menjadi topik hangat di kampus, tapi tak ada satu gadis pun yang berhasil menarik perhatiannya kecuali Lila.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jamilah Prita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Maaf ya atas keterlambatan update ini, doain sebulan ini bisa lancar update ya

Happy reading ya^^

Ryan mendatangi kantor Ramona untuk pertama kalinya. Sebelumnya ia tak pernah datang ke kantor itu untuk urusan apapun, tapi kali ini Ryan melakukannya. Sudah satu minggu ia tak bisa menemui Lila dan hanya

memandangi gadis itu dari kejauhan. Entah kenapa mereka tak bisa lebih dari satu hari menikmati kebersamaan milik mereka.

Sumber masalahnya ada di kantor Ramona, Vania, dan seharusnya Ryan tak datang ke kantor itu, Vania akan berpikir hal lain jika tahu kalau Ryan hadir di kantor yang tak pernah di datanginya itu. Tapi, Ryan juga tak bisa membicarakan masalah itu di rumah. Selama satu minggu itu, Ryan sudah berubah menjadi penguntit Lila.

Ryan melewati meja Vania begitu saja tanpa menyapa, padahal gadis itu jelas-jelas dengan binar bahagia ketika melihat Ryan berjalan menuju kantor Ramona.

“Ryan?” Ramona menatap Ryan dengan penuh tanya ketika sepupunya itu begitu saja memasuki kantornya tanpa ketukan.

“Aku mau ngomong sama kamu,” ucap Ryan tanpa basa-basi sedikitpun.

“Gak biasanya kamu ke kantor.” Ramona keluar dari kursi kebesarannya menuju sofa dan mempersilahkan Ryan untuk duduk.

“Soal Vania.”

Ramona mengerutkan alisnya tak mengerti, apa ini suatu pertanda kalau Ryan akhirnya akan melamar sekretarisnya itu?

“Kenapa dia?”

“Aku mau dia berhenti deketin aku, aku udah gak bisa ngelanjutin ini lagi, Mon.”

Ryan benar-benar sangat frustasi karena hari itu yang mulai membuat Lila kembali menjauhinya. Ia tak bisa berpikir dengan jernih ketika Lila kembali menjauhinya. Dan ini sudah puncaknya, Lila adalah wanita yang sulit tapi Ryan juga tak ingin menyerah begitu saja. Lila pantas untuk ia perjuangkan, dan Ryan akan melakukan apapun demi Lila.

“Apa karena wanita masa lalu kamu itu?”

“Aku sama sekali gak punya perasaan buat Vania, apa harus kamu maksa aku terus buat ngelakuin hal yang gak bisa aku lakuin?”

Ramona menatap Ryan kesal, ia hanya mengharapkan kebahagiaan sepupunya ini bukan hal lain. Tapi, Ryan selalu menolak semuanya dan selalu ingin melakukan keinginannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Ryan selalu menyendiri bagaimanapun Ramona berusaha untuk mendekatinya.

“Kamu sama sekali gak nyoba, Yan,” ujar Ramona.

“Aku udah lebih dari cukup untuk tahu apa yang aku mau dan apa yang aku suka, kamu gak perlu berusaha sekeras ini, Mon.”

Ketika dua orang keras kepala di satukan dalam satu meja, tak ada hasil yang akan di dapat karena keduanya tak ingin mengalah. Itulah kenapa kehadiran Ina sangat di perlukan untuk menengahi mereka.

Ramona menatap Ryan dengan seksama. Kalau di pikir-pikir, ini adalah kali pertamanya Ryan mendebat dirinya soal wanita yang Ramona pilihkan. Biasanya Ryan memang akan menolak, tapi tidak dengan mendebat Ramona seperti ini. Ryan akan menyelesaikan dengan caranya sendiri, dan Ramona hanya akan menghela nafasnya melihat kelakuan Ryan.

“Aku gak bisa ngontrol perasaan Vania, Yan. Kalau memang dia mau berusaha buat bikin kamu suka sama dia, kenapa enggak kamu yang mulai berusaha lagi? Dan kalian bisa mulai kerja sama buat perasaan kalian.”

Ryan mengacak rambutnya dan mulai frustrasi dengan Ramona yang sama sekali tak membantunya. “Apa aku gak punya hak atas perasaanku sendiri? Kamu mau terus-terusan ikut campur privasiku?”

“Yan, aku cuman mau yang terbaik buat kamu. Aku gak akan ngelakuin ini kalau aku rasa ini bukan yang terbaik buat kamu,” ucap Ramona. Menjadi yang lebih tua harusnya membaut Ramona bisa sedikit bijak, tapi ia hanya terlalu sayang pada sepupunya yang selalu memendam perasaannya sendiri itu.

Ryan bangkit dari duduknya, sepertinya ia membuat kesalahan dengan datang ke kantor Ramona. Ia tak mendapatkan solusi sama sekali, stresnya hanya semakin bertambah karena berbicara dengan Ramona.

“Kamu yang milih ini, jadi jangan pernah halangi aku. Aku akan keluar dari rumah dan aku gak peduli pendapat kamu ataupun Bibi.” Ryan beranjak dari sofa dan berniat keluar dari kantor Ramona.

“Ini pilihan kamu, Yan. Kamu gak mau gantiin Bibi di perusahaan ini, dan kamu sendiri yang gak pernah permasalahin setiap perjodohan yang aku buat. Kenapa sekarang kamu kayak gini?”

Ryan menghentikan langkahnya yang tinggal hanya membuka pintu ruangan Ramona. “Kamu yang egois sendiri di sini, aku bahkan gak punya pilihan sama sekali buat hidup aku. Kamu yang selalu ngendaliin aku, kamu gak sadar itu?”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Ryan langsung meninggalkan Ramona tanppa sedikitpun menoleh ke belakang lagi. Meninggalkan Ramona yang sama sekali tak percaya dengan kelakuan Ryan padanya. Sepupunya itu berubah sanga drastis, sama sekali tak mirip dengan Ryan yang sebelumnya.

**

Kebiasaan baru yang Lila dapat untuk menenangkan diri adalah dengan menikmati dirinya sendiri. Maksudnya selain menghabiskan waktu dengan Icha jika akhir pekan, Lila juga menikmati jika ia hanya jalan-jalan sendiri di mal atau taman bermain. Sangat aneh memang ketika banyak orang berkumpul dengan keluarganya atau kekasih di tempat umum seperti itu, Lila justru satu-satunya yang sendirian.

Menurutnya, itu bukan suatu hal yang harus di remehkan, hanya karena tak memiliki teman dan memilih sendirian bukan berarti kalau kita kesepian. Kadang kita hanya butuh waktu untuk diri kita sendiri tanpa gangguan orang lain. Itu yang di lakukan Lila jika sedang benar-benar lelah dengan semuanya.

Ada rasa iri di dalam dirinya ketika melihat satu keluarga yang tengah makan siang di restoran, atau ketika melihat sepasang kekasih yang saling bergandeng tangan lalu tersenyum satu sama lain. Lila selalu berpikir, apa nanti ia bisa seperti itu? Hidup di tempat yang sangat di penuhi kebahagiaan.

Semua itu mungkin terjadi jika kita bertekat, Lila pun sama. Harusnya kala itu ia memperjuangkan Ryan, bukan malah lari dari masalah seperti ini. Buktinya tak ada yang terselesaikan, Lila hanya semakin merasakan kekosongan, tapi di satu sisi juga Lila merasa bersyukur karena melakukan itu pada Ryan. Pria itu pantas mendapatkan wanita seperti Vania, bukan yang cacat seperti Lila.

“Permisi, apa kursi ini kosong?”

Lila mendongak mendengar suara tersebut. Kikan.

Dari semua orang yang ingin ia temui di Jakarta ini, kenapa harus Kikan yang ada di sini?

“Ah, kayaknya aku cari tempat lain aja,” ucap Kikan.

Lila memperhatikan kursi di sekitarnya yang memang sudah penuh, ini jam makan siang jadi sudah pasti semua penuh. Bagaimanapun juga, dulunya mereka adalah sahabat sebelum saling diam seperti ini. Oh, dan mereka juga saudara tiri.

“Semua kursi kayaknya udah penuh, duduk di sini aja,” ucap Lila. Otaknya bekerja lebih cepat di banding hati, padahal ia tak tahu apa yang akan di bicarakan nanti, atau mereka saling diam saja. Toh, mereka juga hanya ingin makan di sini bukan untuk mengobrol.

Kikan pun duduk di hadapan Lila dengan tak kalah canggungnya. Mereka selalu bertemu dalam keadaan yang tak terduga, membuat mereka tak menyiapkan kalimat basa basi terlebih dahulu.

Mereka saling berhadapan dengan ponsel di tangan masing-masing, entah butuh sapaan bagaimana untuk memulai obrolan mereka. Tapi apakah obrolan sangat di perlukan? Lila mendadak teringat Ryan, ya, mungkin

jika ada pria itu suasananya takkan seperti ini. Hanya satu hari yang mampu membuat Lila berubah menjadi ketergantungan oleh sosok Ryan. Hal yang sangat buruk.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang dan mereka benar-benar menikmati makanan itu seolah tak ada orang lain di hadapan mereka. “Kamu gak sama Ryan?” tanya Kikan.

Lila mengedikkan bahunya, sedikit kaget dengan Kikan yang membuka obrolan duluan. Sepertinya rasa benci itu sudah memudar seiring berjalannya waktu, hanya rasa canggung yang tersisa di antara mereka.

“Emang harus banget aku nempelin Ryan terus?”

“Siapa yang tahu kalau kamu secinta itu sama Ryan,” ucap Kikan.

Mungkin karena mereka sudah semakin dewasa sekarang, hal-hal kecil seperti saling membenci ketika masa kuliah perlahan mulai memudar. Tak ada keuntungan juga dari saling membenci seperti itu. Rasa persahabatan itu masih tersisa di antara mereka, tapi dengan status baru yang mereka miliki saat ini sebagai saudara tiri membuat suasana canggung itu semakin bertambah.

Lila memang membenci Haryo, tapi darah pria itu tetap mengalir di tubuhnya walau ia sangat membenci hal itu. Beruntung Ibunya sudah bercerai, Lila sudah tak memiliki alasan untuk bertemu pria itu. Kikan juga tak bersalah dalam hal ini, hanya karena Kikan juga memiliki darah yang sama bukan berarti ia harus semakin di benci.

Sudah banyak yang Lila pelajari selama tujuh tahun ini. Dan hal-hal tentang saling membenci ini seperti hanya menambah beban hidupnya saja, bukankah lebih baik saling memaafkan saja? Kalau tentang Haryo, itu adalah hal lain.

“Kamu tahu, waktu kuliah, tentang gosip-gosip yang salah soal kamu…,”

Lila menghentikan suapannya dan menatap Kikan. Sudah sangat lama Lila tak pernah mengingat kejadian itu, bahkan sama sekali Lila tak ingin mengingatnya sedikitpun. Itu seperti membangkitkan kenangan terburuk di

hidupnya, tentang semua alasan kenapa Lila mengeraskan hatinya dan memasang tembok besar di dirinya hingga tak ada satupun yang berhasil menembus tembok itu.

“…aku yang mulai semua itu.”

**

Lila masuk ke dalam apartemennya dalam keadaan setengah sadar, ia tak sedang mabuk atau pingsan. Hanya saja penjelasan Kikan tadi langsung membuatnya melupakan kesadaran diri sendiri. Lila duduk di ranjangnya masih dalam pandangan mata yang kosong, beruntung ia berhasil pulang dengan selamat.

“Aku minta maaf, aku tahu sebanyak apa salahku. Sebelum aku berani ngomong ini ke kamu, aku udah pikirin semuanya mateng-mateng. Aku gak pernah mau ngebuka aibku sendiri d depan kamu, itu hal terakhir yang menjadi

pilihanku. Tapi aku harus ngelakuin ini sebelum kamu denger ceritanya dari orang lain.” Itu kalimat terpanjang dari Kikan yang pernah Lila dengar setelah permusuhan mereka.

“Kenapa…Kenapa kamu ngelakuin itu? Dulu kita sahabat,” ucap Lila lirih.

Jeda sebentar sebelum Kikan mengatakan jawaban yang sudah ia persiapkan, ia seperti berusaha meyakinkan dirinya sendiri dan semua resiko yang akan ia dapatkan setelah mengatakan semuanya.

“Kamu punya segalanya, La. Kamu di cintai banyak orang, kamu ceria, bahkan Icha lebih suka main sama kamu di banding aku. Anggap aja semua ini karena aku iri sama kamu. Aku terlalu di butakan sama semua amarah dan rasa iri ini sampai bisa ngelakuin itu semua.”

Lila terdiam. Sudah banyak daftar panjang Kikan di buku hitam Lila. Kikan yang mengkhianati persahabatan mereka dengan berselingkuh dengan kekasih Lila, Kikan yang merupakan saudara tirinya, dan Kikan yang merupakan sumber dari semua rasa sakit Lila selama ini.

Toh, mereka juga sudah bukan siapa-siapa lagi sekarang, mereka hanyalah orang asing yang kebetulan memiliki aliran darah yang sama dari sang Ayah. Tak ada untungnya jika Lila sekarang memusui Kikan, karena mereka juga tak akan bertemu lagi jika tak secara sengaja. Atau jangan-jangan Kikan memang sudah merencanakan pertemuan kebetulan ini?

Lila terdiam di kamarnya, mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi padanya. Ia sudah tahu seberapa buruk Kikan sejak memutuskan persahabatan mereka, tapi ia tak tahu kalau Kikan sudah berbuat sejauh ini.

Tak ada air mata yang akan mengalir malam ini, air mata juga sudah menolak keluar karena saking seringnya intensitas menangis Lila. Kikan juga bukan merupakan orang yang tepat untuk di tangisi.

Lila sudah merasa hidupnya baik-baik saja selama tujuh tahun ini, tapi kenapa sekarang masalah kembali menghampiri hidupnya? Ia tahu manusia tak pernah lepas dari masalah, tapi kenapa baru sekarang? Apa memang

tak seharusnya Lila kembali? Harusnya ia menetap saja di Singapor tanpa berpikir untuk kembali ke Jakarta.

Atau memang sudah jalan takdirnya seperti ini?

Lila menatap pemandangan malam dari ranjangnya, pintu balkonnya lupa ia tutup sehingga langit malam Jakarta terlihat jelas dari ranjangnya. Dari semua masalah yang ada di dunia ini, kenapa harus masa lalunya yang kembali menjadi masalah untuk hidupnya?

Sekarang harus dimana lagi ia mencari obat atas segala masalah ini? Ia sepertinya harus kembali lari agar semua masalah ini selesai dan ia bisa hidup tenang lagi. Apa menjadi bahagia memang sesulit itu? Lila tak pernah memimpikan hal besar selama hidupnya, ia hanya ingin bahagia seperti yang orang lain rasakan. Apa harus sesulit ini?

Selama dua puluh menit, Lila masih memandangi pemandangan malam itu dengan hampa. Terus-terusan mengeluh juga bukan satu-satunya jalan menyelesaikan masalah. Apa ia harus menghilang saja atau membiarkan hal ini terjadi seperti sedia kala? Toh, masalah-masalah ini masih akan mengikutinya sampai itu terselesaikan sendiri. Kalaupun sudah selesai, akan ada masalah baru lagi yang datang. Hidup harus seimbang antara kesedihan dan kebahagiaan.

Lila mengambil ponselnya dari dalam tas, mencari kontak seseorang yang bisa mengatasi ini, menimbang dulu beberapa saat apakah hal ini harus ia lakukan. Ia harus jadi kuat dan menghadapi apapun, sudah tujuh tahun berlalu setidaknya ia harus berubah.

“Halo, Ryan…Aku mau ketemu.”

**

1
Putri Adinda Sri Maharani
sabar
⚜️ Jade Nevya 💠
Lanjutkénn
☠ᵏᵋᶜᶟ印尼🇮🇩小姐ᗯ𝐢DYᗩ 𝐙⃝🦜
next. a
nēēsaa
Ahirnya up juga Otor Zheyeng😘😘😘
nēēsaa: Gpp, msh untung gak puluhan atw ratusan🤭😂
total 2 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ印尼🇮🇩小姐ᗯ𝐢DYᗩ 𝐙⃝🦜
OMG!!! kepencet lagi. intinya semangat terus,rajin up 🤭🤭🤭🤭🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ印尼🇮🇩小姐ᗯ𝐢DYᗩ 𝐙⃝🦜
belum selesai nulis dah kepencet ska
☠ᵏᵋᶜᶟ印尼🇮🇩小姐ᗯ𝐢DYᗩ 𝐙⃝🦜
jangan lama-lama up nya,ini
Amy Zala
lanjut
Fa Ra
ceritanya bagus lho,thor..kpn up lagi ya?..im waiting..
Elien Prita: wah makasih udah baca, ditunggu aja ya
total 1 replies
Ummu Riza
Thor bikin Kikan kena karma donk
Ummu Riza
lanjut Thor💞💞💞
Ummu Riza
semangat thor,,,
Ummu Riza
semangat thor, buat qm tergila-gila sm novel ini seperti yg novelmu yg lain
nēēsaa
Hahahaha..Sdh di ralat duluan..
Satu lagi, di chapter sblmnya tuh..
Yg bicara dg Haryo di ruang makan itu Kikan, bukan Lila..😉👌
Elien Prita: makasih kak, aku gak ngeh malah 😂
total 1 replies
Erlina vi
Lara, istri sah rasa simpanan 😐
Erlina vi: iya, 😑
total 2 replies
Fa Ra
ceritanya bagus,Thor..salut deh karena bisa berjalan tanpa ada seks vulgar sebagai pemikat..sukses dan tetap semangat.
Elien Prita: terima kasih
total 1 replies
Erlina vi
gk ada habisnya masalahnya 😑
Elien Prita: Novelku aja yg kek gini, punya orang lain gak seribet ini perasaan 😂
total 3 replies
Erlina vi
jdi,, Haryo mau menikahi Lara krn keluarganya kaya..biar dia hidup enak trus sukses.. tp krn dr awal ditolak makanya nekat bikin hamil, tp tetep aja gk diterima..malah di usir
trus pergi ninggalin Lara dan nikah (siri) sama ibunya Kikan
intinya Haryo ini mau manfaatin Lara tp gak bisa 😂😂

tp sayang Lara masih blom bisa nebak kemungkinan ini 😣

tolong Laura dan Bobby balas sampai hancur si Haryo 😁😁

maaf klo salah nebak 😊
Erlina vi: makasih kak 😅😅
total 2 replies
Leeta
Aku sih yess, pokoknya novelnya sangat menarik, puas aku pokonya baca ini😍😍, eh belum puas sih kan belum tamat 😁
Leeta: Iya emg berat udah kaya rindu
total 4 replies
Erlina vi
cepetan jujur lah,, gregetan 😆😆
Elien Prita: Wkwk itulah tujuannya 😂
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!