Saquel dari novel "Perjodohan dengan CEO"
Arabella Levina Ayyara Bastian , gadis barbar yang sering di panggil Ara ini merupakan putri sulung dari pasangan Chika dan Andre. Dia terkenal terkenal di sekolahnya sebagai murid yang sering bolos dan pembuat onar akan tetapi dia tetap berprestasi. Masih ada sisi baik dari Ara yaitu suka membela murid yang di bully atau di tindas.
Narendra Artha Wijaya, pria kaku yang mempunyai gengsi yang tinggi ini diam-diam selalu memperhatikan Ara dan juga melindunginya. Narendra mempunyai saudara kembar yaitu Nayla Queena Wijaya mereka merupakan anak dari pasangan Alana dan Raka Wijaya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya jika gadis barbar di satukan dengan pria kaku?
Yuk simak cerita selanjutnya......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
"Apa kau melihat Ara" tanya Narendra ketika melihat Ara sudah tak ada di kelasnya.
"Di kekantin bersama yang lain" jawab teman sekelas Ara.
"Terima kasih" ucap Narendra sambil berlalu dari kelas Ara.
Narendra kesal dengan Ara karena tak menuruti ucapannya, padahal tadi pagi ia sudah bilang mau ke kelasnya.
Saat jam istitahat Ara tak menunggu Narendra , ia pergi ke kantin lebih dulu bersama teman-temannya.
"Ra, bukankah tadi kamu di suruh menunggu kak Narend di kelas" kata Indri sambil menyedot air minumnya.
"Biarin saja, males ngurusin orang tak jelas" sahut Ara sambil memakan baksonya.
"Siapa yang kamu bilang tak jelas" ucap Narendra tiba-tiba yang sudah berada di belakang Ara.
Tindakan Narendra membuat Ara kaget dan keselek.
"Uhukkk...... " Ara keselek bakso yang sedang ia makan, bersyukur bakso itu sudah tak utuh,
"Pelan-pelan Ra makannya" ucap Marissa sambil menyodorkan air minum ke Ara.
Ara langsung meminumnya hingga habis. Setelah meletakkan gelasnya Ara menoleh melihat ke arah Narendra dengan wajah memerah karena kesal.
Narendra yang di tatap begitu bukannya takut, dia malah gemas melihat wajah Ara.
"Abang bisa tidak sih jangan mengagetkan Ara, untung saja baksonya sudah Ara kunyah, coba kalau baksonya masih utuh, bisa-bisa Ara meninggal gara-gara tersedak bakso" omelnya kepada Narendra.
Narendra menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia juga merasa bersalah sudah mengagetkan Ara, hingga membuatnya tersedak.
"Maaf, aku tak bermaksud mengagetkanmu, sungguh" ucap Narendra dengan wajah penuh sesal.
"Ada apa abang nyariin Ara?" tanya Ara dengan nada ketus.
Indri, Marissa, serta Aciel hanya menonton saja sambil memakan kentang goreng.
"Kenapa kamu tidak tunggu abang, kan abang tadi sudah bilang kalau jam istirahat abang mau ke kelas kamu, tapi apa? kamu malah sudah pergi lebih dulu tanpa menunggu abang" ucap Narendra panjang lebar.
Ara di buat melongo dengan kalimat panjang yang keluar dari mulut Narendra, menurut Ara ini kalimat terpanjang yang ia dengar dari mulut Narendra.
Ara menempelkan punggung tangannya ke kening Narendra, setelah itu memegang keningnya sendiri.
"Sama, tidak panas juga" gumam Ara.
"Kamu kenapa?" tanya Narendra mengeryit.
"Ara hanya terkejut mendengar bang Narendra ngomong panjang banget kek kereta" sahut Ara.
Nayla yang baru sampai di kantin langsung menghampiri meja Ara karena melihat abangnya di meja Ara, tak seperti biasanya yang selalu bersama Vian bak perangko yang selalu menempel.
"Ada apa ini Ra? tumben bang Narend di sini" tanay Nayla.
"Tau tuh kak, tumben-tumbenan Bang Narend nyariin Ara" sahut Ara.
Nayla memicingkan matanya menatap kembaranya penuh selidik.
"Ini sih sudah jelas Ra, bau-bau orang yang mau bucin" sarkas Nayla.
"Hah? maksudnya bagaimana kak" tanya Ara lemot.
Marissa menoyor kepala Ara gemas.
"Lo tuh be*o atau bo*oh sih Ra, begitu saja tidak mengerti" kata Marissa.
"Memangnya kamu ngerti Mar?" tanya Ara.
"Tentu saja tidak, bukankah bang Narend tidak menyukaimu, lalu siapa yang akan bucin sama kamu.
Lalu Marissa menoleh kearah Aciel,.
"Atau jangan-jangan lo ya ciel yang mau bucin sama Ara" ucap Marisaa lalu menuduh Aciel tak berdasar.
Semua menepuk keningnya. lalu menertawakan kebodohan Marissa.
"Lo tuh kenapa jadi ikut bodoh seperti Ara sih Mar" ejek Indri.
"Tau, pakai nuduh gue segala mau bucin ke Ara lagi, tidak tau apa kalau ucapannya membuat hati orang terbakar" sahut Acirl lalu sedikit menyidir Narendra.
Dia sama-sam pria, tentu tahu gelagat Narendra yang sedang mencoba mendekati Ara.
Bersambung.
Happy reading guys 🙏
😀😀😀