TAMAT
"Ingat, kau milikku Kiar!" Sorot menusuk dari mata hazel Tuan mafia menyandera gejolak gadis itu.
Adalah Kiara Elga, nama janda kembang berusia 20 tahun. Sebuah peristiwa menakutkan membawa gadis malang itu kepada seorang mafia.
Dave Myles nama dari ketua sekumpulan rahasia yang terkenal dengan pengaruh besarnya di bidang politik, 28 tahun usianya, sukses, tampan, gagah, tapi sialnya adalah Kiara hanya istri sirinya.
Bukan main, hanya dalam waktu satu hari saja, Kiara mampu membeli berhektar-hektar tanah sawah di kampung halamannya.
Welcome para pembaca baru karya ku, Yeay, anda telah memasuki zona bucin akut beracun🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naik pitam
"Ahh Dave!" Kiara bergetar hebat saat melangkahkan kakinya memasuki sebuah pintu kayu.
Sebilah hati yang kini meradang akibat desah seorang wanita. Kakinya tak mampu tegak berdiri melihat suaminya menyentuh wanita selain dirinya.
Kiara berjalan mundur, satu vas bunga, hingga topinya terjatuh bersamaan.
Bukan hanya kecurigaan, detik ini Kiara menyimak sendiri bagaimana Dave melayani Giselle juga menuruti kemauan Giselle.
Terakhir, pertautan bibir yang tercipta di depan mata kepalanya membuat Kiara tak mampu menahan diri untuk tetap tinggal di sini.
Kiara berlari keluar dari pintu kayu itu, gegas ia memasuki sebuah mobil disusul oleh Mora yang juga melihat kejadian menyakitkan itu.
"Hiks!" Kiara meluah isakan tangisnya. Segera Mora mengemudikan mobilnya, membawa Kiara pergi dari tempat terkutuk itu.
"Kau bilang kau kuat!" Mora terkekeh sinis, wanita itu mengolok-olok sang Nyonya. "Kau yang membuat luka di hatimu sendiri, seharusnya kau tidak perlu menjadi penguntit suamimu. Dave memiliki kekuasaan, uang banyak, pengaruh besar, lalu kau?" Sindirnya.
"Menjadi istri Tuan besar itu perlu mental yang kuat Kiara!" Tambah Mora kemudian.
Kiara menggeleng. "Aku tidak bisa, bawa aku pergi, bantu aku lari dari Dave Nona." Ujarnya menghiba.
Sontak Mora terkekeh masam. "Jadi kau menyerah begitu saja?" Tukasnya. "Kau ini istri sah Dave! Seharusnya wanita sundal itu yang pergi dari suamimu Kiara!" Bentaknya.
"Kau tidak seharusnya mengalah!" Tambah Mora lagi.
"Tapi Dave tak mencintai ku, untuk apa?" Air mata Kiara luruh begitu derasnya.
Ini sakit, hanya dalam waktu yang cukup singkat, Kiara yakin dia sudah sangat mencintai Dave tapi kemudian hatinya berakhir retak-retak.
"Bukankah kau sudah dibeli suamimu?" Tuding Mora setelah itu.
Kiara mengernyit. "Apa wanita bisa dibeli? Apa Nona setuju jika wanita diperjual belikan?" Tampiknya.
"Dari awal aku datang ke kota ini aku tidak berniat menjual diriku! Sampai akhirnya aku bertemu dengan Dave dan menjadi istri bayarannya." Imbuhnya dengan nada yang mulai meninggi.
Mora tergelak. "Bukankah kau sendiri yang meminta uang 30 triliun sebelum setuju menikah dengannya?" Tanyanya.
"Saat itu aku tidak percaya Dave mampu memberikan uang sebanyak itu! Bagiku sangat mustahil melihat uang sebanyak itu!" Sergah Kiara.
"Lalu apa rencana mu? Apa kau mau aku mengkhianati Dave, begitu?" Sambar Mora.
"Aku juga tidak tahu. Tapi aku lebih memilih mati daripada harus berbagi suami. Membayangkan apa yang sekarang Dave lakukan bersama Giselle saja aku sesak Nona." Kiara kian melirih.
Mora tahu bagaimana perasaan Kiara saat ini, ia sendiri takkan tahan jika Marvin menyentuh wanita lain setelah menjalin berhubungan dengan dirinya.
Tepat di bawah pohon rindang Mora menepikan mobilnya. Tak cukup tahu apa yang harus mereka lakukan setelah ini, keduanya termenung memikirkan.
"Apa yang kau inginkan dariku?" Setelah cukup lama terdiam, Mora kembali bersuara. Entahlah, Mora iba pada Nyonya malang itu.
"Aku mau pulang ke negara ku, memulai kembali cara hidup sederhana yang lama aku tinggalkan." Kata Kiara lirih.
"Tapi kau tidak memiliki akses bepergian, keberadaan mu di sini saja tidak memiliki berkas-berkas." Sambung Mora.
"Mengurus semua itu cukup rumit, dan sebelum kau bisa melakukan perjalanan pulang, Dave pasti akan lebih dulu tahu rencana mu yang ini. Dia memiliki banyak sekali jaringan. Kau bisa keluar dari rumah besar suamimu pun, karena Mora, Kiara." Tambahnya.
"Apa tidak ada cara lain untuk aku pulang tanpa diketahui orang-orang?" Kiara bertanya penuh harap.
...⭕⭕⭕...
Malam yang dingin menyelimuti. Musim dingin mulai tiba, udara kota ini lebih menusuk di penghujung hari.
Di atas balkon kamar sederhana ini. Dave tertegun menatap dedaunan digoyangkan angin malam. Hampa rasanya, meski ada wanita cantik di sisinya.
"Dave." Sentuhan lembut melingkar di perut kotak-kotak nya. Giselle terpejam menikmati kehangatan dari pertempelan raga ini. "Makan yuk. Di meja makan ada sup hangat kesukaan mu."
"Aku tidak lapar." Dave membalik tubuhnya, tatapannya melekat pada wanita itu. "Berikan ponsel ku. Aku harus menghubungi Mora dan Marvin." Katanya.
"Tidak Dave," Giselle menggeleng. "Kau pasti mau menanyakan kabar istri kampungan mu!"
"Tapi aku perlu tahu kondisi rumah ku." Sambung Dave.
Giselle mengernyit. "Kau mengkhawatirkan dia saat bersama ku?"
"Dia istriku."
Giselle menggeleng. "Waktu kita belum selesai Dave, satu hari saja lupakan semua yang ada di rumah kita masing-masing. Coba yakinkan kembali perasaan mu padaku."
"Ini salah Giselle, ini tidak benar, kau istri Kakak ku, dan aku sendiri sudah memiliki istri." Sahut Dave cepat. Sedari pagi sampai malam ini, otaknya terus berputar, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menjadi dilemanya.
"Tapi kau yang mengajakku bertemu, kenapa kau egois sekali Dave! Kau yang meminta waktu ku lalu setelah aku menyempatkannya untuk mu, kau bilang ini salah?" Giselle terkekeh kesal.
"Sejauh ini aku yakin, aku memikirkan Kiara saat bersama mu." Cetus Dave.
"Dan apakah kau memikirkan aku saat bersamanya?" Timpal Giselle.
"Setidaknya dia istri sah ku."
"Kamu bajingan Dave!" Menangis, Giselle memukul dada bidang pria itu keras-keras. "Kau menduakan aku!"
"Cukup!" Dave mencekal kedua tangan mantan kekasihnya yang meracau, ia dudukan Giselle pada kursi balkon kamar, Dave berjongkok menatap nanar wanita itu.
"Cukup Giselle, ini salah. Aku harus pergi. Terima kasih atas waktu mu. Sepertinya aku tahu, apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini."
Giselle menghunus tatapan menyayat pada laki-laki itu. "Perasaan mu padanya hanya sebatas tanggung jawab Dave!"
"Aku tidak peduli." Sergah Dave. "Karena aku yakin, rasaku padamu sudah tidak sebesar dulu. Bahkan mungkin, rasa itu sudah benar-benar beralih." Lirihnya.
"Dave!"
"Maaf." Dave melangkah masuk ke dalam kamar, meraih mantel panjang, dompet, ponsel yang sengaja Giselle letakan di dalam laci nakas.
Dave keluar setelah lengkap dengan busananya. Kakinya menapaki satu persatu anak tangga hingga tiba ke lantai bawah.
"Dave!"
Tak mau peduli dengan teriakan histeris Giselle, Dave mempercepat langkahnya. Satu mobil Limosin masih setia menunggunya.
Segera Dave memasuki mobilnya. Sang sopir bergegas melajukan kendaraan beroda empat itu.
Dave yakin Kiara penting dalam hatinya, buktinya dia selalu memikirkan wanita biasa itu saat bersama wanita perfect seperti Giselle dambaannya.
Dave mengutak-atik gawai pipih miliknya, ia melayangkan panggilan telepon pada Kiara, Marvin, Mora, terakhir Marta yang bisa menjawabnya.
📞 "Halo Tuan." Ada ketegangan yang terdengar dari seberang sana.
"Apa istriku tidur? Dia tidak mengangkat telepon dariku." Dave mulai cemas, seharian ini ia tak mendengar kabar ataupun suara wanita tawanannya.
📞 "Maaf Tuan, tapi, Nyonya muda tidak ada di mana-mana." Marta gemetar saat mengatakan itu.
Dave naik pitam. "Apa maksud mu?" Matanya membesar.
📞 "Kami mengira Nyonya masih tidur. Sampai jam makan siang kami baru tahu kalau Nyonya tidak ada di tempatnya. Sudah dari siang tadi Tuan Marvin dan rombongan mencarinya. Tapi sampai sekarang mereka belum pulang."
"Goblok! Apa saja kerja kalian hah?!" Teriakan tergema di dalam mobil mewah itu. Membuat sang sopir tersentak.
semangt Thor...aku suka karya²mu - TDK ada yg terlewatkn, sehat selalu BSM klurga. aku slalu menanti karya2mu....semangt💪🏻💪🏻💪🏻💖
awal nya aq ragu utk membaca novel ini, tp karena penasaran aq lanjut sampe akhir..ternyata cerita nya g mengecewakan 👍👍👍👍