"Azzelia Qaireen, kau milikku, wanitaku, istriku. Tak ada yang lain selain dirimu di hatiku. Bahkan aku rela memberikan nyawaku ini, ketika kehidupanmu terancam karena kedatanganku, Sayang."
~Frans Federick Knight
***
Demi sang papa, Azzelia Qaireen rela melakukan apa saja termasuk menikah dan menjadi istri dari seorang Frans Federick Knight. Pria yang dikenal sebagai rekan kerja papanya dan merupakan pebisnis kaya raya di negara tempat tinggalnya.
Namun, siapa sangka. Di balik wajah tampannya. Frans memiliki sejuta rahasia dan sisi gelap yang tak diketahui oleh Zelia. Kehidupan yang penuh cinta perlahan mulai dipenuhi darah. Ketika sebuah rahasia mulai terungkap, maka sebuah pengorbanan kembali terjadi dan membuatnya bertemu dengan masa lalunya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Frans dan Zelia ketika masa lalu hadir di antara mereka dan sebuah rahasia terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JBlack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mode Posesif 2
...Mungkin ini masih bayangan di kepalaku tapi aku tak akan mengizinkanmu untuk semakin jauh melakukan hal yang lebih gila di luar pengawasanku. ...
...~Azzelia Qaireen...
...***...
"Kenapa lama sekali?" Rengek Zelia secara langsung saat Frans baru saja keluar dari ruang kerja diikuti Anthony.
"Sejak kapan kamu berdiri disini, Sayang?" Bukannya menjawab, Frans malah balik bertanya.
Dia terkejut saat melihat istrinya sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
"Sejak lima menit yang lalu," Seru Zelia dengan bibir mengerucut. "Sampai kaki aku pegal!"
Zelia menggerakkan kakinya dengan kesal. Dirinya memang sudah menunggu selama lima menit disini. Dirinya hendak menerobos masuk tapi diurungkan karena takut jika membuat suaminya tak nyaman dengan tingkahnya.
Zelia sadar Frans mengetahui perasaannya. Namun, dia tak mau membuat suaminya itu merasa risih atau malu karena tingkahnya. Dia penasaran akan apa yang dibahas oleh Frans dan pria berwajah dingin itu tapi Zelia berusaha menahannya sebaik mungkin.
"Lain kali jangan menungguku sambil berdiri. Kasihan kamu dan anak kita, Sayang," Kata Frans yang langsung menggendong Zelia dengan pelan.
Bumil satu ini mengangguk. Dia meningkatkan tangannya di leher Frans dan tak memperdulikan jika disana masih ada Anthony.
Pria es yang tak memiliki hati. Pria es yang berwajah datar dan tak memiliki senyuman. Kata yang cocok untuk Anthony dari Zelia hanyalah itu.
"Paham?" Bisik Frans pelan sambil menunduk untuk menatap wajah istrinya dengan bebas.
"Paham," Jawab Zelia dengan bibir yang masih cemberut.
Frans terseyum kecil. Dia dengan pelan-pelan mendudukkan istrinya di kursi samping kemudi. Memakaikan sabuk pengaman dengan baik lalu mencuri satu kecupan di bibir Zelia sampai perempuan itu terpekik kaget dan menutupi bibirnya.
"Ada penjaga lain loh," Pekik Zelia sambil mendelikkan matanya.
"Biarin. Dari tadi ini bibir godain terus," Jawab Frans yang membuat Zelia tak terima.
"Kapan aku godain?" Tanyanya saat Frans mulai duduk di kursi kemudi.
"Mulai tadi ngapain manyun terus? Minta dicium kan?" Ujar Frans dengan menaikkan alisnya jahil.
"Sejak kapan manyun minta cium?" Seru Zelia dengan melipat kedua tangannya di depan dada. "Yang ada aku kesel aja nungguin kamu."
Frans perlahan melajukan mobilnya dengan hati-hati. Dia lalu mengusap kepala Zelia dengan pelan.
"Maafin aku, Sayang," Ucap Frans dengan wajah merasa bersalah.
"Lain kali jangan diulangi lagi. Jangan bicara dengan Thony kalau udah mau keluar sama aku. Oke?" Kata Zelia yang membuat Frans mengangguk.
"Oke," Sahut Frans yang membuat Zelia tersenyum.
Biarlah dia memakai cinta Frans untuk membuat pria itu selalu menurut dengannya. Biarlah dia memanfaatkan cinta mereka untuk menarik Frans dari dunia yang mungkin belum bisa Zelia pahami dengan baik. Namun, dengan bukti menembak seorang pria sampai mati di depan matanya.
Bahkan tanpa rasa taku dan gemetar. Sudah bisa dipastikan jika suaminya biasa melakukan hal itu. Dia tak mau Frans terjebak dengan pekerjaannya sendiri. Zelia tak mau mereka dipisahkan lagi.
"Sekarang jangan cemberut lagi. Ayo senyum! Aku ingin melihat senyuman cantik ini," Rayu Frans yang membuat Zelia memberikan senyuman terbaik.
Frans mulai fokus dengan kemudinya. Dia dengan hati-hati membawa kendaraannya. Sedangkan Zelia, wanita itu terlihat mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Yah," Gumam Zelia terlihat kesal.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Frans saat dia mendengar gumaman Zelia.
"Paketanku habis. Aku harus menghubungi dokternya kalau kita sudah berangkat," Kata Zelia yang membuat Frans menoleh sejenak ke arah istrinya.
"Pakai ponselku saja, Sayang."
"Dimana?" Tanya Zelia dengan bibir menahan senyuman kecil.
"Ini di saku kemeja," Kata Frans yang membuat Zelia langsung menerima ponsel itu dengan tersenyum.
"Terima kasih, Sayang. Aku pinjam dulu," Ujar Zelia yang membuat Frans mengangguk.
"Punyaku adalah punyamu. Jadi jangan pernah katakan meminjam. Oke?"
"Hmmm," Jawab Zelia yang langsung memggeser latar kunci ponsel suaminya.
Dengan tanpa sepengetahuan Frans. Zelia mematikan notifikasi ponsel Frans dan dimode getar.
"Aku yakin itu muka es itu bakalan ganggu waktu kita," Kata Zelia dalam hati lalu mulai melanjutkan tujuannya karena dirinya memang berniat untuk menghubungi dokter yang sudah dia reservasi sendiri.
...***...
"Apakah sudah melakukan tes kehamilan?" Tanya seorang dokter perempuan dengan bahasa Inggris fasih.
"Sudah dokter," Sahut Zelia membalas dengan bahasa Inggris yang juga tak kalah fasih.
Tinggal di New York bersama sosok masa lalunya lalu ikut ayahnya bekerja disini membuatnya bisa menggunakan bahasa Inggris dengan baik dan benar. Lalu sekarang, saat dia menikah dan tinggal disini. Zelia tentu semakin fasih dengan bahasa sehari-harinya.
Hanya di dalam mansion saja. Semua pelayan dan penjaga Frans memang bisa beberapa bahasa. Jadi mereka sering menggunakan bahasa Indonesia ketika berdua dan di rumah.
"Lihat," Kata dokter sambil menggeser alat yang ada di perut Zelia dengan pelan.
"Kantung kehamilan mulai terlihat tapi memang masih sangat kecil," Ujar dokter yang membuat Zelia mengangguk.
Suster mulai membantu mengusap bekas gel di perut Zelia lalu dirinya turun dan duduk di kursi depan meja dokternya.
"Apakah ini kehamilan pertama?"
"Ya, Dokter," Jawab Zelia dengan tersenyum.
"Sebelumnya saya lupa ucapkan selamat atas kehamilan pertama Anda, Nyonya," Kata Dokter yang membuat Zelia menerima uluran tangan itu dengan sopan dan ramah.
"Karena kandungan anda masih sangat kecil dan itu sangat rentan. Tolong dijaga dengan baik. Jangan terlalu kecapekan dan mengangkat barang berat. Jangan stress dan banyak pikiran," Kata dokter yang membuat Zelia menatap Frans dengan menaik turunkan alisnya.
"Dengerin. Gak boleh stress," Kata Zelia yang membuat Frans mengangguk.
"Tuan juga harus ikut menjaga mood ibu hamil. Ibu hamil yang bahagia bisa membuat bayi dalam kandungan ikut bahagia," Kata dokter menatap Frans yang sejak tadi diam.
"Apa ada yang ingin ditanyakan?"
"Untuk hubungan suami istri. Bagaimana, Dokter?"
"Eh," Sahut Zelia menoleh dengan terkejut.
Dia mendelikkan matanya saat melihat suaminya menanyakan hal gila itu disini. Apalagi wajah Frans yang terlihat biasa saja benar-benar membuatnya ingin rasanya menenggelamkan dirinya sendiri.
"Untuk kandungan muda masih boleh tapi jangan terlalu sering dan lama. Buat ibu hamil tetap tenang dan selalu tanyakan apakah ada yang tidak nyaman atau tidak."
Frans mengangguk. Akhirnya tak mau semakin malu, Zelia mulai mengajak suaminya untuk keluar.
"Jangan lupa dua minggu lagi kesini, Nyonya. Kantung kehamilan pasti sudah terlihat jelas nanti," Kata dokter sebelum mereka beranjak berdiri dan berpamitan.
Akhirnya pasangan suami istri keluar. Zelia melingkarkan tangannya di lengan Frans sambil mencubit lengan itu dengan pelan.
"Kamu ngapain tanya itu sih?"
"Ya biar tau, Sayang. Aku takut kalau lagi pengen nanti… "
"Ustt." Zelia menutup mulut Frans dengan tangannya dan mendelik.
"Jangan diterusin!" Kata Zelia yang membuat Frans menahan senyuman.
Akhirnya keduanya sampai di tempat pengambilan obat. Frans meminta Zelia untuk duduk dengan tenang.
"Tunggulah disini, Sayang. Aku yang akan mengantri," Kata Frans yang membuat Zelia mengangguk.
Saat Frans mulai berjalan menjauh. Getaran di dalam tasnya membuat Zelia menunduk. Dia lekas mengambil ponsel itu dan membuatnya yakin jika apa yang ada dipikirannya adalah benar.
"Dasar muka es! Mau apalagi kau," Seru Zelia dengan kesal dan langsung mematikan panggilan itu.
Tak sampai beberapa menit. Panggilan itu kembali muncul dan membuat rasa kesal mulai memuncak.
Zelia lekas mematikan panggilan itu dan dia mematikan ponselnya dengan cepat.
"Aku tak akan mengizinkanmu mengganggu suamiku, Thony! Aku tak mau Frans semakin membunuh banyak orang."
~Bersambung
Anthony belum tau Zelia ngamuk. Nanti kalau Zelia mulai nyakar, hahhaa. Awas Thony. Dia nanti mengaung kamu gak bisa ngapa-ngapain haha.
kenapa?