Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 Lembar Kontrak dan Ego Yang Retak
Hening mencekik laboratorium itu selama hampir setengah menit. Cengkeraman tangan Arkan Narendra di pergelangan tangan Kiara perlahan mengendur, menyisakan jejak hangat yang asing di kulit dingin Kiara. Sepasang mata elang sang CEO menatap tajam, mencoba menembus kabut misteri yang menyelimuti gadis di hadapannya.
"Menikah kontrak?" Arkan mengulang kata itu dengan nada mengejek yang kental. "Kamu pikir pernikahan di keluarga Narendra itu seperti membeli bahan baku kosmetik di pasar grosir? Lancang sekali."
Kiara tidak menarik mundur langkahnya. Ia justru tersenyum tipis, merapikan kembali kerah jas lab putihnya yang sedikit bergeser.
"Tuan Arkan, mari kita bersikap realistis sebagai sesama pebisnis. Wajah Anda adalah aset perusahaan. Besok pagi, aset itu terancam mengalami penurunan nilai secara drastis jika publik mendeteksi setitik saja kerusakan kulit pada sang ikon kecantikan nasional."
"Aku bisa menyewa dokter kulit terbaik dunia malam ini juga untuk menyuntikkan steroid dosis tinggi!" gertak Arkan, egonya yang setinggi langit menolak keras didikte oleh perempuan biasa.
"Silakan," balas Kiara santai sembari melipat kedua tangannya di dada. "Suntikkan saja steroid itu. Lalu tonton bagaimana hormon Anda menjadi kacau, memicu efek 'rebound' berupa peradangan yang sepuluh kali lipat lebih mengerikan tepat saat sesi tanya jawab siaran langsung besok siang. Anda ingin bertaruh?"
Pertanyaan Kiara menghantam tepat di ulu hati Arkan. Sialnya, apa yang dikatakan gadis ini secara ilmiah sangat akurat. Arkan menatap kembali cermin. Wajahnya memang sudah jauh membaik, namun ia bisa merasakan kulitnya sangat bergantung pada formula misterius di saku Kiara.
"Siapa sebenarnya kamu? Dari mana kamu mendapatkan formula sekuat ini?" tanya Arkan, suaranya kini merendah, berubah menjadi nada interogasi yang berbahaya.
"Nama saya Kiara Sabitha. Mengenai dari mana formula ini berasal... anggap saja ini adalah hasil riset bertahun-tahun yang disempurnakan oleh rasa dendam. Formula ini memiliki agen penstabil barrier seluler yang belum pernah dipatenkan oleh perusahaan mana pun. Termasuk Narendra Cosmetics."
Arkan menyipitkan mata. Jiwa bisnisnya langsung bergejolak. Jika formula ini dipatenkan atas nama perusahaannya, Narendra Cosmetics bukan hanya akan memimpin pasar domestik, tapi juga bisa menembus pasar Eropa dengan mudah.
"Berikan formula itu padaku. Aku akan membelinya seharga lima puluh miliar rupiah. Tunai. Dan aku akan menggunakan kekuasaanku untuk meratakan PT Mega Estetika milik ibu tirimu dalam waktu tiga bulan. Tidak perlu ada drama pernikahan kontrak." Arkan memberikan penawaran mutlak. Dia tidak suka berbagi ranjang atau status, bahkan dengan status palsu sekalipun.
Kiara tertawa kecil. Suaranya yang merdu terdengar mengejek di telinga Arkan.
"Tuan Arkan yang terhormat. Jika saya hanya menginginkan uang, saya bisa menjual formula ini ke kompetitor terbesar Anda di luar negeri. Alasan saya memilih Anda adalah karena saya butuh tameng hukum. Ibu tiri saya adalah ular yang licik. Begitu dia tahu saya memiliki formula ini, dia akan melakukan segala cara—termasuk menjebak saya secara hukum—untuk merebutnya. Tapi, jika saya adalah istri dari pemilik Narendra Group..." Kiara maju satu langkah, menatap Arkan dengan binar mata yang tajam. "Dia tidak akan pernah bisa menyentuh saya tanpa memicu perang dengan raksasa kosmetik nomor satu di negara ini."
Arkan terdiam. Otaknya yang cerdas memproses setiap risiko dan keuntungan dengan kecepatan tinggi. Menolak Kiara berarti kehancuran reputasi besok pagi. Menerima Kiara berarti memelihara seekor anak macan yang sangat pintar di dalam rumahnya.
"Bagaimana jika aku merebut paksa cairan di sakumu itu dan menyuruh tim labku menganalisis kandungannya malam ini?" ancam Arkan dengan senyum dingin.
"Cobalah," tantang Kiara tanpa rasa takut sedikit pun. "Saya sengaja menambahkan senyawa enzim sensitif cahaya ke dalam botol itu. Begitu cairan tersebut terkena sinar laser dari alat spektrometri massa milik tim lab Anda tanpa kode aktivasi termal yang hanya saya yang tahu... protein aktifnya akan langsung denaturasi dan berubah menjadi air biasa dalam hitungan detik. Anda tidak akan mendapatkan apa-apa selain air lavender mahal."
Gila. Perempuan ini benar-benar gila dan jenius. Dia sudah memperhitungkan segala langkah pertahanan diri dengan sangat matang.
Arkan mendengus kasar. Keangkuhannya malam ini runtuh berkeping-keping di tangan seorang gadis berjas lab longgar.
"Satu tahun," ucap Arkan akhirnya, menyerah pada keadaan. "Kita menikah kontrak selama satu tahun. Di depan publik, kamu adalah istriku. Tapi di balik pintu rumah, kita adalah orang asing. Tidak ada sentuhan fisik, tidak ada campur tangan urusan pribadi, dan yang paling penting... jangan pernah jatuh cinta padaku."
"Kesepakatan yang adil," jawab Kiara cepat tanpa keraguan sedikit pun. "Lagipula, tipe pria ideal saya bukanlah CEO pemarah yang gampang stres sampai kulitnya breakout parah."
Arkan hampir saja tersedak mendengar ejekan Kiara. Berani sekali wanita ini!
"Ikut aku ke ruang kerja," perintah Arkan ketus, berbalik arah dengan langkah lebar. "Kita tanda tangani perjanjian hitam di atas putih sekarang juga."
Kiara tersenyum puas. Langkah pertamanya berjalan tanpa cela. Sambil berjalan mengekor di belakang punggung tegap Arkan, ia membatin,
"Ibu tiri... bersiaplah. Kehancuran dinasti kosmetik palsumu akan dimulai dari dalam dekapan Narendra Group."
Namun, tepat ketika Arkan membuka pintu ruang kerjanya yang mewah di lantai bawah, ponsel di saku jas Arkan bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk dari nomor yang sangat dihindarinya malam ini.
Nama di layar ponsel memancarkan ketakutan tersendiri bahkan bagi seorang Arkan Narendra: **Nenek - Matriark Narendra**.
Arkan menggeser tombol hijau dengan ragu. Begitu layar menyala, wajah seorang wanita tua berambut perak dengan tatapan mata sekeras baja langsung muncul.
"Arkan! Nenek baru saja mendapat laporan dari divisi humas bahwa ada rumor kamu menyembunyikan seorang wanita di laboratorium pribadimu malam-malam begini. Siapa dia?! Nenek tidak mau tahu, besok malam bawa wanita itu ke makan malam keluarga, atau posisi CEO-mu akan nenek serahkan pada sepupumu, Rian!"
Arkan membeku. Ia menoleh ke arah Kiara yang berdiri santai di belakangnya sembari memainkan botol amber.
"Nenek, dia hanya..." kalimat Arkan terputus.
Sebelum Arkan sempat mengarang alasan, Kiara tiba-tiba melangkah maju, menyejajarkan wajahnya di samping Arkan sehingga masuk ke dalam jangkauan kamera ponsel.
"Halo, Nenek Narendra. Nama saya Kiara, calon tunangan Arkan. Sampai jumpa besok malam," ucap Kiara dengan senyum paling manis dan sopan yang pernah Arkan lihat.
Panggilan video langsung terputus dari seberang. Arkan perlahan menurunkan ponselnya, menatap Kiara dengan mata yang hampir keluar dari rongganya.
"Apa yang baru saja kamu lakukan?!" desis Arkan murka.
"Menyelamatkan posisi CEO Anda, Tuan Arkan. Tarik ulur kita baru saja dimulai," balas Kiara santai sembari melangkah masuk ke dalam ruang kerja Arkan mendahului sang pemilik ruangan.