Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.
Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.
Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Lamaran Spontan Sang Penjaga Kaku, Dan Kepulangan Sang Nyonya.
Mendengar lamaran yang begitu jujur dan penuh keseriusan dari pria paling kaku yang pernah ia kenal, pertahanan gadis barbar di dalam diri sisil runtuh seketika.
'Matanya mendadak berkaca-kaca menatap cincin di tangan Han. menyadari bahwa di balik sikap dingin pria itu, tersimpan sebuah ketulusan dan rasa cinta yang teramat besar khusus untuk dirinya.'
Di tengah keheningan toko bunga yang temaram, air mata Sisil akhirnya menetes membasahi pipinya. menatap kotak beludru merah dan sebuah cincin perak di tangan asisten Han.
Benteng pertahanan gadis barbarnya runtuh total. Sifat kaku Han justru menjadi bukti nyata bahwa lamaran ini lahir dari ketulusan, bukan sekedar bualan manis seperti pria hidung belang.
Sisil mendongak, menatap mata tajam Han yang masih diselimuti kegugupan langka. dengan senyumman manis yang paling tulus, sisil mengangguk pelan.
"Iya, tuan kaku yang posesif...aku mau. menerima lamaranmu dan membiarkanmu menjagaku selamanya," bisik Sisil lembut .
Mendengar jawaban itu, ketegangan dia bahu tegap Han runtuh seketika.
Dengan jemari yang sedikit bergetar karena haru, ia menyematkan cincin tersebut ke jari manis sisil. mengunci takdir mereka meskipun statusnya saat ini mereka memutuskan untuk menikmati masa-masa pendekatan yang lebih intim sebelum melangkah ke pelaminan.
"Keesokan harinya, suasana bandara internasional Soekarno - Hatta kembali riuh." dua minggu libur panjang bulan madu di london dan spanyol akhirnya usai.
Rombongan sahabat setia - Angel, sisil yang kini bangga memamerkan cincin barunya.
Kevin dan asisten Han segera berjalan mendekat ke arah pintu kedatangan VIP menjemput Adrian Dirgantara dan Nala Putri.
Begitu pintu kedatangan terbuka, sosok Nala langsung menjadi pusat perhatian. meskipun ia mengawali langkah sebagai gadis desa yang polos, pesona Nala kini terpancar begitu anggun dan berwibawa sebagai Nyonya Dirgantara.
Langkahnya begitu tegas, mencerminkan kepribadiannya yang tidak mudah ditindas.
Kontras dengan sifat manjanya yang hanya ditunjukkan pada Adrian selama malam-malam romantis mereka di Eropa.
"Nalaaa!" Sisil dan Angel langsung menghambur memeluk sahabat karib mereka, melepaskan rindu setelah dua minggu berpisah.
Sambil tertawa cekikikan.
Angel dan Sisil berbisik, "gimana? kado lingerie dari kita berdua kepakai terus kan selama di spanyol?" ...goda Sisil.
Wajah Nala seketika memerah, namun ia langsung membalas dengan cubitan gemas di pinggang sisil.
"Kalian berdua benar-benar ya, awas aja nanti!"
Ancam Nala dengan ketegasan khasnya yang membuat Kevin dan Adrian tertawa melihat interaksi trio SMA tersebut.
Adrian kembali menggandeng kembali tangan Nala, menatap Han yang berdiri tegap di barisan belakang.
"Han, pastikan besok pagi semua laporan di meja saya sudah siap."
Adrian berkata dengan tegas. mengingatkan Han, liburan sudah usai, saatnya kita kembali mengunci roda bisnis. Han mengangguk mantap, siap menyongsong hari baru di kantor pusat Pt. Dirgantara megah utama.
Hari pertama kerja pasca libur panjang dimulai dengan kesibukan yang luar biasa di gedung pencakar langit Pt. Dirgantara megah utama.
Kebetulan, perusahaan bentukan keluarga Dirgantara itu memang sedang membuka lowongan besar - besaran untuk posisi strategis di divisi administratif luar.
Di tengah antrian para pelamar, muncul dua sosok wanita yang baru saja datang dari Bandung membawa Ambisi busuk di kepala mereka.
Mereka adalah Rani mantan ibu tiri Sisil yang kejam - dan putrinya yang berusia 25 tahun, Rita, mantan kakak tiri Sisil.
Rita, dengan pakaian yang sengaja dipilih terlalu ketat dan riasan wajah yang tebal, melangkah masuk ke area lantai Eksekutif setelah berhasil lolos seleksi berkas awal.
Menggunakan dalih ingin mengantarkan dokumen tambahan ke ruangan asisten utama. Rita mulai melancarkan aksi liciknya. ia berjalan melenggak - lenggok mendekati asisten Han yang sedang fokus meneliti berkas.
Dengan gerakan yang sengaja dibuat sensual, Rita meletakkan secangkir minuman dingin dimeja Han, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Permisi, Asisten Han yang terhormat!..." ini ada minuman segar untuk anda.
Siapa tahu anda lelah setelah memeriksa berkas saya, "goda Rita dengan nada suara yang dibuat mendesah "
Han tidak bergerak seinci pun. pandangannya perlahan terangkat, menatap Rita dengan sorot mata yang sedingin es penuh rasa muak.
Sebagai pria yang hatinya sudah terkunci total untuk sisil, Han sama sekali tidak tergoda dengan penampilan murahan seperti itu. Han tahu persis tipe wanita parasit seperti Rita.
"Ambil kembali minuman anda!" Nona.
Di perusahaan ini, kami menilai kompetensi, bukan kepalsuan. silakan tunggu di ruang tunggu luar.
"Jawab Han dengan suara baritonnya yang kaku, tajam, dan penuh intimidasi, membuat senyum palsu Rita seketika membeku."
Tidak menyerah di situ, beberapa saat kemudian Rita mencoba peruntungannya di koridor divisi kreatif. ia melihat Kevin yang sedang berjalan membawa papan konsep acara.
Rita sengaja berpapasan dan menjatuhkan beberapa lembar dokumennya, di depan kaki Kevin. berharap pria itu akan membantunya dan terpikat.
Dengan baju yang seksi, dan penampilannya sengaja diperlihatkan buah dadanya menyembul keluar dari kemejanya.
Berharap lelaki yang di depan ini akan terpesona dengan penampilannya yang seksi. ternyata dugaannya salah!
"Kevin sama sekali tidak memandang wajahnya apalagi tubuhnya."
Namun, Kevin yang sangat mencintai bidadari speak New york, dan sudah sukses melamar Angel sang model papan atas, hanya menatap Rita dengan tatapan sinis dari balik kacamatanya.
"Nona. kalau anda ceroboh seperti ini!"
Anda tidak akan bertahan di divisi kreatif. sebagai informasi, CEO kami. Pak Adrian, jauh lebih tidak menyukai wanita yang mengemis perhatian di korporasi ini.
"Sela Kevin ketus sebelum melangkah pergi meninggalkan Rita yang mendengus kesal."
Merasa gagal menggoda para pria terpercaya di lantai eksekutif.
Rita berjalan mundur menuju area toilet VIP di dekat lorong belakang. ia tidak menyadari bahwa dibalik dekorasi tanaman dalam, asisten Han yang sedang berjalan ke arah yang sama untuk menyerahkan laporan pengamanan luar kepada Kapten intelijen.
Langkah kaki Han terhenti, seketika saat mendengar suara perbincangan yang berbisik dari balik lorong sepi itu.
Itu adalah suara Rita yang sedang menelepon ibunya, Rani di Bandung.
"Halo ibu, ibu? sialan banget! Cowok-cowok di Pt. Dirgantara megah utama ini kaku banget."
Gak bisa digoda sama sekali!
Padahal aku sudah pakai baju paling seksi, "keluh Rita dengan suara ketus ditelepon."
Han menajamkan pendengarannya, menyembunyikan tubuh tegapnya di balik bayangan dinding.
"Ibu tahu tidak? ternyata si anak sialan itu Sisil, ada di sekitar sini!"
Aku tidak sengaja melihat fotonya di beberapa berkas dekorasi bunga kantor! dan tebak apa? ..
Dia sepertinya punya hubungan dekat sama asisten Han yang kaku itu!..
"Mereka kelihatan seperti orang pacaran!" pekik Rita dengan nada suara yang penuh rasa iri dan dengki yang membara .
Wajah Rita merah menahan amarah karena merasa kalah saing, dengan mantan adik tirinya yang iya anggap rendah.
Rita mendengung sinis, melanjutkan kalimatnya yang seketika membuat darah di tubuh asisten Han mendidih mendengarnya.
"Dulu saat bapaknya masih hidup dan sakit-sakitan, Sisil itu kan cuma kita jadiin sapi perah!"
Kita bikin dia jadi mesin ATM hidup!
Dia kerja siang malam sampai kurus, tapi uangnya sama sekali tidak kita pakai untuk berobat ayahnya.
Uangnya habis kita pakai berdua untuk belanja barang mewah dan berpoya - poya di Bandung sampai bapaknya mati!
Dan kita juga mengusir si anak sialan itu, setelah bapaknya meninggal padahal itu adalah rumah peninggalan bapaknya.
Kita menjual rumah peninggalan bapaknya si penyakitan itu sampai uangnya habis.
Seharusnya ibu waktu itu jangan mengusir dulu si Sisil, anak sialan itu. karena kita bisa terus menjadikannya sebagai ATM berjalan kita untuk membayar hutang hutang kita pada rentenir bu.
Sekarang, enak saja dia mau hidup bahagia sama asisten CEO yang ganteng dan kaya - raya di jakarta!
"Kita harus melakukan sesuatu! Bu"
Supaya si anak sialan itu tidak bersama asisten Han yang kaku itu. aku tidak rela melihat dia menang!...
Aku harus cari cara untuk menjebak dan membinasakan reputasi si anak sialan itu di kantor ini, Bu!...
"Lihat saja nanti!"
KRETEK!!!
Jemari asisten Han mencengkram erat pinggiran dinding beton hingga memutih. Sifat posesif dan protektifnya bangkit seratus persen.
Mendengar bagaimana kejamnya masa lalu Sisil yang dijadikan sapi perah, oleh ibu dan kakak tiri jahat ini hingga menyisakan trauma mendalam.
Han bersumpah di dalam hatinya, Rita dan Rani telah salah langkah masuk ke dalam wilayah kekuasaan PT Dirgantara megah utama.
Dan Han bersama Adrian serta ketegasan Nala tidak akan pernah membiarkan sepasang parasit dari Bandung itu menyentuh selembar rambut Sisil lagi.
Han akan menceritakan tentang masa lalu Sisil kepada Adrian, Nala dan juga Nyonya Victoria. Karena Han tahu, Nyonya victoria sudah menganggap sisil seperti putri kandungnya sendiri.
Dan Han, akan memberikan pelajaran kepada kakak tirinya Sisil dan ibu tirinya, yang sudah menjadikan sisil sebagai ATM berjalan.
Kemudian Han pergi, meninggalkan koridor toilet tersebut dengan amarah yang membuncah.