NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Abah bergegas keluar untuk menghubungi beberapa pengurus pondok dan sesepuh melalui telepon, meminta mereka datang ke rumah utama secepatnya.

Kegaduhan kecil di sepertiga malam itu direspon cepat oleh para pengurus yang datang dengan wajah kantuk yang tertahan, namun siap membantu sang kiai.

Sementara itu, di dalam kamar yang sunyi, Umi dengan tangan bergetar membantu Fatma merapikan penampilannya.

Kain kebaya sederhana berwarna putih dipasangkan ke tubuh Fatma yang terasa dingin.

Saat mengancingkan bagian belakang baju putrinya, setitik air mata Umi jatuh.

Ia tidak bisa lagi membendung rasa ganjil yang bergemuruh di dadanya.

Umi membalikkan tubuh Fatma, menatap lekat wajah sembap putrinya yang kini terulas sedikit bedak tipis.

"Nduk, kamu yakin mau menikah dengan lelaki itu? Bilang ke Umi, Nduk. Jangan siksa batin kamu..." bisik Umi, suaranya parau menahan tangis.

Pertahanan Fatma runtuh. Ia langsung memeluk tubuh Umi dengan erat, menyembunyikan wajahnya di pundak sang ibu sambil menangis sesenggukan.

Bahunya naik turun, menahan jeritan batin yang begitu menyiksa.

"Maafkan Fatma, Umi. Maafkan Fatma..." hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibirnya yang bergetar. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu yang tegas memotong momen pilu itu. Suara berat Adrian terdengar dari balik pintu,

"Semua sudah siap."

Fatma tersentak. Ia perlahan melepaskan pelukan Umi, lalu dengan jemarinya yang gemetar, ia menghapus air mata di pipinya.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketegaran sebelum melangkah keluar.

Di ruang tamu, suasana mendadak berubah magis sekaligus mencekam.

Beberapa saksi dari pengurus pondok sudah duduk melingkar.

Abah duduk berhadapan langsung dengan Adrian, dibatasi oleh sebuah meja kayu kecil, dengan penghulu di sisi mereka yang sedang memeriksa berkas darurat.

Abah menatap Adrian dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu mengulurkan tangannya. Adrian menyambut jabat tangan erat dari pria sepuh tersebut.

"Nak Adrian, apakah sudah siap?" tanya penghulu, yang dijawab Adrian dengan anggukan tegas.

"Silakan, Abah."

Abah memejamkan mata sejenak, menguatkan hatinya, lalu menjabat tangan Adrian dengan mantap.

"Saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan putri kandung saya, Fatma Adiba binti Muhammad, dengan mas kawin sepuluh juta rupiah dibayar tunai."

Tanpa jeda, dengan suara yang lantang dan menggelegar di keheningan malam, Adrian mengucapkan janjinya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Fatma Adiba binti Muhammad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah!"

"Sah!"

Di dalam kamarnya, tepat saat kalimat "Sah" bergema, Fatma memejamkan matanya dengan rapat.

Air matanya mengalir deras tanpa suara. Detik itu juga, statusnya berubah.

Ia telah resmi menjadi istri dari pria yang membencinya.

Pintu kamar terbuka. Adrian masuk dengan langkah tegap, menatap Fatma yang masih duduk mematung di tepi ranjang dengan pakaian serba putih.

Tidak ada binar bahagia di mata Adrian, hanya ada tatapan dingin yang menusuk.

"Ayo keluar. Temui Abah dan Umi," ucap Adrian datar.

Ia memegang lengan Fatma, membantunya berdiri dengan agak sedikit memaksa, lalu membimbing istrinya itu untuk duduk di ruang tamu di hadapan orang tuanya.

Sebelum melepas mereka, Abah memandang kedua pengantin baru itu dengan tatapan teduh.

"Nak Adrian, sekarang Fatma sudah menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya. Abah titipkan putri tunggal Abah. Jaga dia, bimbing dia dengan sabar. Jika suatu saat dia melakukan kesalahan, tegurlah dengan lembut, jangan kasar," nasehat Abah, suaranya sarat akan harapan seorang ayah yang tulus.

Adrian hanya mengangguk pelan. "Inggih, Abah."

Setelah nasehat selesai, Adrian langsung bangkit berdiri dan berpamitan.

"Abah, Umi, karena hari sudah menjelang subuh dan ada beberapa urusan yang harus segera saya selesaikan di kota, saya mohon izin untuk membawa Fatma ke rumah saya sekarang juga."

Umi tersentak mendengar putrinya akan langsung dibawa pergi.

Fatma yang tahu waktunya sudah tiba, langsung berlutut dan memeluk tubuh Umi dan Abahnya bergantian dengan begitu erat, seolah tak ingin dilepaskan.

"Fatma pamit, Abah... Umi. Doakan Fatma. Assalamualaikum," ucap Fatma di sela isak tangisnya yang kembali pecah.

"Waalaikumsalam, Nduk. Hati-hati. Jangan putus doa," jawab Abah dan Umi bergantian, melepas kepergian putri mereka dengan hati yang diselimuti kabut tebal.

Fatma melangkah keluar menerobos dinginnya angin malam, mengikuti punggung Adrian yang berjalan tegap di depannya tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Babak baru kehidupan penuh luka dan air mata resmi dimulai bagi Fatma.

Mobil Adrian akhirnya berhenti di depan sebuah rumah megah berarsitektur modern yang masih tampak terang benderang.

Begitu mesin mobil mati, Adrian langsung keluar, memutari kap mobil, dan membuka pintu penumpang dengan kasar.

Ia menarik pergelangan tangan Fatma, memaksanya turun dan melangkah cepat menaiki undakan teras rumah.

Pintu utama terbuka sebelum Adrian sempat mengetuknya.

Di dalam ruang tamu yang luas, kedua orang tua Adrian berdiri dengan wajah yang kuyu dan mata sembap—sisa dari tangisan setelah mendengar kabar kematian Liana beberapa jam lalu. Namun, raut duka di wajah mereka seketika berubah menjadi syok yang luar biasa saat melihat Adrian pulang membawa seorang wanita asing berhijab yang mengenakan kebaya putih sederhana.

"Adrian, siapa dia?" tanya Mama dengan suara bergetar, menatap bingung ke arah tangan Adrian yang mencengkeram erat pergelangan tangan Fatma.

"Dia istriku, Ma," jawab Adrian lantang, suaranya bergaung dingin di ruang tengah.

Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat tajam saat menunjuk wajah Fatma. "Dan dia, adalah penyebab kematian Liana!"

Mendengar tuduhan keji yang kembali dilontarkan di depan orang asing, Fatma tidak bisa lagi tinggal diam.

Dengan sisa kekuatan dan harga diri yang dimilikinya, ia mendongak dan berseru parau,

"Astaghfirullah, jangan memfitnahku! Aku juga korban di sini!"

Plakkkk!

Suara tamparan keras memecah keheningan rumah mewah itu.

Sentakan tangan Adrian mendarat telak di pipi kiri Fatma, membuat wajah wanita itu terlempar ke samping.

Fatma terenyak, memegangi pipinya yang seketika terasa panas dan perih.

Air matanya meluncur deras, bukan hanya karena rasa sakit fisik, tetapi karena harga dirinya sebagai seorang wanita telah diinjak-injak.

"Adrian!!" bentak Papa dengan suara menggelegar.

Amarah pria paruh baya itu memuncak melihat tindakan kasar putranya.

Papa melangkah maju dengan cepat, menghalangi Adrian dan menatapnya dengan pandangan murka.

"Apa yang kamu lakukan?! Kamu sudah gila, Adrian?! Kehilangan Liana tidak memberi kamu hak untuk menjadi seorang pengecut yang memukul wanita!"

Suasana menjadi sangat tegang. Napas Adrian memburu, matanya merah menatap Fatma dengan kebencian yang mendalam, tidak peduli dengan kemarahan ayahnya.

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Mama segera bertindak.

Ia memegang lengan suaminya, mencoba meredakan ketegangan sebelum suaminya bertindak lebih jauh kepada putranya yang sedang kalap.

"Papa, sudah, tenang, Pa," bisik Mama menenangkan suaminya yang masih terengah-engah karena amarah.

Mama kemudian berbalik, menatap Adrian dengan pandangan lelah yang sarat akan kedukaan yang mendalam.

Ia melihat gaun putih Fatma yang kusut dan wajah wanita itu yang hancur oleh air mata.

"Adrian, bawa istrimu masuk ke kamar sekarang. Selesaikan ini di dalam, jangan buat keributan lagi di sini," perintah Mama dengan suara pelan namun menuntut kepatuhan.

Adrian menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia kembali mencengkeram lengan Fatma dengan kasar dan menyeretnya menuju tangga, membawa wanita itu masuk ke dalam sangkar yang akan menjadi awal dari hari-hari penuh penderitaannya.

Adrian mendorong pintu kamarnya dengan kasar, lalu menguncinya dari dalam.

Kamar yang luas dan mewah itu terasa begitu sunyi dan dingin.

Adrian berbalik, menatap Fatma yang berdiri mematung di dekat pintu dengan tubuh yang masih bergetar dan tangan yang mendekap pipinya yang memerah akibat tamparan tadi.

"Naik ke tempat tidur!" perintah Adrian, suaranya terdengar rendah namun sarat akan intimidasi yang mutlak.

Fatma menelan ludah, ketakutan setengah mati. Dengan langkah yang lunglai dan gemetar, ia menuruti perintah itu dan naik ke atas ranjang berukuran besar tersebut, duduk di tepinya dengan kepala tertunduk.

"Buka hijabmu!" titah Adrian lagi, berdiri angkuh di ujung ranjang.

Air mata Fatma menetes tanpa suara. Di dalam hatinya, ia meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya berada di bawah kuasa pria asing yang dinikahinya karena terpaksa.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Fatma perlahan melepas jarum pentul dan membuka hijabnya, membiarkan rambut panjangnya yang hitam terurai di bahunya.

"Buka pakaianmu!"

Kalimat itu bak petir yang menyambar dada Fatma.

Ia mendongak, menatap Adrian dengan mata yang membelalak penuh pias. Namun, tatapan Adrian begitu dingin dan kejam, mengingatkan Fatma pada ancaman kehancuran pondok pesantren Abah dan Uminya jika ia berani membantah.

Dengan tangan yang semakin bergetar hebat dan air mata yang kian deras membasahi pipi, Fatma perlahan membuka pakaian kebayanya, menyisakan pakaian dalamnya yang minimalis.

Rasa terhina dan malu yang begitu besar berkecamuk di dalam dadanya.

"Sekarang pejamkan matamu, dan jangan membukanya sampai aku memintanya!" desis Adrian.

Fatma segera memejamkan matanya dengan rapat, merapalkan doa-doa dan zikir di dalam hatinya demi menguatkan jiwanya yang hampir hancur lebur.

Adrian kemudian naik ke atas tempat tidur. Bukannya menyentuh Fatma, ia justru meraih saklar di dinding dan mematikan lampu kamar, membuat ruangan itu seketika gelap gulita.

Adrian merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang lain, memunggungi Fatma tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Ia menarik seluruh selimut tebal ke arahnya, membiarkan egonya menguasai akal sehatnya demi membalas dendam yang salah sasaran.

Fatma yang duduk meringkuk di sudut ranjang mulai menggigil kedinginan.

AC kamar yang disetel terlalu rendah menusuk langsung ke kulitnya yang polos tanpa perlindungan.

Adrian sama sekali tidak memberikannya selimut, apalagi pakaian ganti untuk menutup tubuhnya.

Dalam kegelapan malam yang pekat dan dingin yang menyiksa fisik serta batinnya, Fatma memeluk lututnya erat-erat.

Tubuhnya bergoyang kecil seiring dengan isak tangisnya yang tertahan agar tidak bersuara.

Di tengah siksaan emosional itu, Fatma hanya bisa bertahan, menghitung waktu dalam hati sambil menunggu dengan sangat pasrah hingga azan subuh berkumandang untuk membebaskannya dari malam yang paling kelam dalam hidupnya.

1
ahs@
sakit jiwa,c adrian....
ahs@
Adrian stress... melampiaskan kekesalannya kepada fatma yang tidak tahu apa" .Liana sendiri yang selingkuh dengan Jamie..
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!