NovelToon NovelToon
Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: doubleareya

Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.

Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.

Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.

Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Pelanggan baru namanya Reyka

Nadine melihatnya lagi.

“Nadine,” panggil Bunda.

Nadine menolehkan kepalanya. “Iya, Bun.”

“Sarapannya sudah bunda siapkan di meja makan, ya. Bunda ke toko dulu temani ayah. Kalau butuh teman, masih ada Andin yang sedang mandi, ya.”

Nadine menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Bunda.”

Nadine menatap sang bunda yang berjalan masuk ke pintu toko yang terhubung ke dalam rumah. Setelah bunda terlihat membantu ayah, Nadine kembali membalikan tubuhnya untuk menatap pelanggan laki-laki kemarin.

“Orang aneh.”

“Sedang mengintip apa, Nad?”

Nadine menolehkan kepalanya ke arah Andin yang berdiri di sebelahnya. “Pelanggan kemarin datang lagi. Dia tinggal di sekitaran sini?”

Andin mengikuti arah pandang Nadine. “Wajahnya asing. Mungkin saja dia memang tinggal di sekitar sini, Nad.”

Nadine menganggukkan kepalanya. “Ya sudah. Aku hanya merasa sedikit penasaran.”

“Kamu mengenalnya?”

“Tidak.”

“Dia melihat ke rumah kita?”

Nadine juga melihatnya. “Tiba-tiba aku merasa penasaran.”

“Aku juga.”

Nadine bertatapan dengan Andin. “Ayo kita menyusul bunda.”

Nadine memilih untuk menuntaskan rasa penasarannya dahulu sebelum menyuap nasi untuk sarapan pagi ini. Kecurigaannya semakin meningkat ketika pelanggan yang kemarin datang hari ini datang kembali. Dia merasa takut jika orang yang dicurigai ini adalah orang yang menjadi suruhan Adinata untuk mengawasi dirinya.

“Ingin kemana?” tanya Ayah yang melihat Nadine dan Andin masuk ke area toko.

“Bantu bunda di depan, Yah,” balas Nadine, sedangkan Andin hanya diam dan melangkah untuk memilih roti yang baru matang.

“Sudah sarapan?”

“Belum, Yah. Sudah jadi makanan untuk sarapannya?”

Ayah menganggukkan kepalanya. “Sudah. Kalian belum melihatnya di meja makan?”

“Belum, Yah. Bunda sudah sempat bilang kok.”

“Sarapan dulu, ya. Nanti setelah sarapan baru ayah perbolehkan untuk membantu ayah dan bunda.”

Andin menatap Nadine. Nadine hanya bisa menganggukan kepalanya. Nadine dan Andin masuk ke dalam rumah dan berjalan ke meja makan untuk sarapan pagi terlebih dahulu.

“Ada yang ganggu pikiran kamu, Nad?” Andin mengambil piring untuk mengisinya dengan nasi dan lauk pauk.

Nadine juga ikut mengambilnya. “Sedikit.”

“Apa, Nad?” Andin duduk dengan nyaman di atas kursi dan dia menggeserkan kursi di sebelahnya untuk Nadine. “Bilang ke aku.”

“Aku curiga dengan pelanggan yang aku lihat tadi, An.”

“Apa yang membuat kamu curiga? Kamu ‘kan tidak mengenalnya? Atau kamu lupa jika mengenalnya?”

“Wajahnya terlihat tidak asing. Apa mungkin dia salah satu teman sekolahku di masa SMA, ya.” Raut wajah Nadine berubah menjadi raut wajah bertanya-tanya.

Andin terdiam. “Kalau memang benar dia teman SMA kamu, untuk apa dia tidak langsung berbicara saja? Seperti saat Gerald yang berbicara denganmu.”

“Aku juga berpikiran yang sama seperti denganmu. Aku merasa aneh dan curiga secara tiba-tiba.”

“Sarapan dulu, Nad. Keponakanku pasti sudah merasa lapar.”

Nadine menganggukkan kepalanya. Dia mengelus perutnya sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. “Kamu benar. Ibunya juga sudah merasa lapar.”

“Nad, apa kamu sudah punya calon nama untuk keponakanku?”

Nadine tertawa kecil. “Sebenarnya aku sudah memilikinya. Tetapi aku masih bingung untuk memakainya atau tidak.”

“Kenapa seperti itu?”

“Itu nama yang sudah aku siapkan dengan Adinata untuk anak kita di masa depan. Namanya sudah ada sejak aku dan dia berpacaran. Sepasang nama untuk laki-laki dan perempuan.”

“Kalau kamu tidak ingin memakainya, cari saja nama lain, Nad. Jangan paksa hatimu untuk menerima kalau belum merasa baik.”

“Iya, terima kasih atas saranmu. Aku akan memikirkannya sekali lagi. Mungkin beberapa Minggu lagi aku akan meyakinkan diriku untuk melakukan USG.”

Andin menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Aku akan mengantarmu.”

“Bunda kira kalian belum menyentuh makanannya.”

Nadine dan Andin menatap sang bunda yang berjalan ke arah meja makan.

“Aman, Bun. Kenapa bunda masuk ke rumah lagi?”

“Ada yang tertinggal, Bun?” tanya Nadine.

Bunda menggelengkan kepalanya. “Bunda mau kasih ini, buket bunga untuk Nadine. Tadi ada pelanggan baru, laki-laki dan katanya dia teman SMA kamu, Nad. Ini dia titip buket ini ke bunda karena dia kira kamu yang jaga kasir hari ini.”

Andin menolehkan kepalanya ke Nadine, sedangkan Nadine menatap buket yang terangkat di depannya.

“Teman SMA, Nadine? Pelanggan yang kemarin?”

Bunda menganggukkan kepalanya. “Iya, Nad. Dia juga bilang kalau dia baru saja beberapa hari yang lalu pindah ke sini. Bunda kurang tahu dimana tempat dia tinggal, tapi dia bilang, tinggalnya tidak jauh dari rumah kita.”

Nadine menganggukkan kepalanya. Dia menerima buket tersebut. “Aku sedikit lupa dengan wajah teman-teman SMA Nadine. Terima kasih, Bunda.”

“Sama-sama. Bunda sempat berkenalan dengan dia. Namanya Reyka, Nad. Tapi bunda gak tanya nama lengkapnya. Dia hanya memperkenalkan diri sebagai Reyka, teman SMA kamu. Sudah gitu saja.”

Nadine tersenyum. “Iya, Bun. Ini ada surat dan nomor teleponnya.”

“Bunda tinggal, ya. Puaskan waktu untuk berceritanya, tidak usah terburu-buru membantu ayah dan bunda.”

“Nad, sepertinya memang mungkin.” Andin baru berani bersuara ketika sang bunda sudah kembali ke area toko.

Nadine menghembuskan napasnya. “Aku kira hanya di rumah sakit saja aku diawasi.”

“Adinata tidak akan melepaskanmu semudah itu.” Andin menggelengkan kepalanya.

“Cepat atau lambat, Adinata pasti tahu, tapi sebelum menuduh kalau teman SMA kamu ini suruhan Adinata, lebih baik kamu bertanya dengannya. Aku yakin, dia akan datang lagi esok hari.”

1
doubleareya
Halo, teman-teman 👋🏻👋🏻 Terima kasih sudah membaca cerita Adinata - Nadine yaaa, aku mau minta tolong kepada teman-teman untuk memberi dukungan cerita ini dengan suka dan komentar yaaa 🤍 🤍 Aku sangat terbuka dengan saran dan kritik yang baik untuk cerita ini yaa 😙💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!