Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI PERTAMA BUAT TAKAGI
Yukari menjadi orang pertama yang mencicipi gyudon bawaan Daiki. Begitu suapan pertama masuk, matanya langsung berbinar senang.
"Wah, enak banget! Kau beneran penyelamat kelaparan pagi ini, Daiki!" puji Yukari sambil mengunyah lahap.
Daiki mendengus puas dengan wajah jemawa. "Tentu saja."
Sementara itu, Akira makan dengan tenang di samping mereka. Gerakannya memang masih agak lambat dibanding orang sehat pada umumnya, tetapi kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding tiga hari lalu.
Melihat perkembangan itu, Daiki membuka suara. "Ngomong-ngomong, Takagi-san. Gimana tidurmu semalam? Tubuhmu sudah enakan?"
Akira berhenti mengunyah sejenak. Ia melirik Daiki, lalu beralih pada Yukari yang ternyata juga sedang menunggu jawabannya. "Sudah lebih baik," jawab Akira singkat setelah menelan nasinya. Ia menyesap teh hangatnya sejenak sebelum melanjutkan, "Dan kasurnya nyaman."
"Cuma begitu saja?" protes Daiki tidak puas.
Akira mengangguk polos. "Itu saja."
"Cih, kaku sekali," gerutu Daiki yang langsung membuat Yukari spontan terkekeh geli sementara Akira pura-pura tidak mendengar cemoohan itu.
Di tengah suasana santai, Yukari tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan heboh. "Aku hampir lupa!"
Ia merogoh saku kardigannya, lalu mengeluarkan sebuah buku memo kecil berwarna kuning cerah. Buku itu mendarat tepat di atas meja makan, memperlihatkan tulisan besar di sampulnya: TABUNGAN BACAAN TAKAGI AKIRA
Suasana ruangan seketika hening. Daiki berkedip bingung, sedangkan Akira hanya menatap buku kuning itu dengan dahi berkerut.
"Apa itu?" tanya Daiki akhirnya.
Yukari tersenyum misterius. "Sebuah proyek."
"Melihat senyummu, aku mendadak jadi takut," sahut Daiki curiga. "Jelaskan cepat."
Bukannya menjawab, Yukari malah berdiri dari duduknya. Ia mengambil topi rajut bundar dari rak kayu, memakainya dengan penuh semangat, lalu berjalan ke arah pintu belakang. "Nanti saja jelaskannya. Kalau kalian sudah selesai makan, susul aku ke halaman belakang, ya!"
Daiki menganga tidak percaya. "Hei! Kau serius?"
"Tentu saja!" sahut Yukari sambil melambaikan tangan tanpa berbalik. "Dan kau juga harus ikut, Daiki!"
"Aku bahkan belum tahu ini tentang apa!" teriak Daiki kesal. Ia menghela napas panjang lalu menoleh pasrah ke arah Akira yang masih fokus menghabiskan makanannya. "Gimana denganmu? Kau mau ikut?"
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Yukari yang sudah berdiri di ambang pintu luar ikut menunggu dengan kepala menjulur dari balik tirai. Daiki yang gemas akhirnya menyenggol lengan Akira dengan sikutnya.
Akira menghela napas pendek. Matanya melirik buku memo kuning di atas meja "Terserah saja," ujarnya datar sambil berdiri. "Dia pemilik rumah ini, kan?"
Yukari langsung tersenyum puas hingga matanya menyipit manis. "Bagus! Jangan lama-mana, ya!" serunya riang sebelum benar-benar menghilang ke halaman belakang.
"Cih, seenaknya saja main perintah," dongkol Daiki, menggerutu kesal sambil ikut menghabiskan sisa makanannya dengan kasar.
***
Begitu selesai merapikan meja, Daiki dan Akira berjalan ke halaman belakang sambil membawa buku memo kuning tadi. Di sana, Yukari sudah menunggu sambil berkecak pinggang.
"Lama banget! Aku hampir lumutan menunggu kalian!" gerutu Yukari menyambut kedatangan mereka. Angin musim semi bertiup pelan, membuat topi rajut di kepalanya bergoyang lucu.
Yukari merebut kembali buku memo kuning dari tangan Akira, lalu memeluknya di dada. "Nah, karena kondisimu belum pulih sepenuhnya, Takagi-san, kau harus tinggal di sini sementara waktu sampai benar-benar sehat."
Akira tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada Yukari dengan pandangan datar dan sulit ditebak seperti biasa. Namun kali ini Yukari tidak gentar sedikit pun.
"Tapi..." Yukari mengangkat jari telunjuknya ke udara. "Tidak ada yang gratis di rumah ini."
Daiki langsung menyipitkan mata. "Nah, mulai keluar kan sifat aslinya."
Sementara itu, Akira hanya menghela napas pendek. "Lalu? Aku harus membayar berapa?" tanya pria itu sambil bergerak hendak merogoh saku celananya.
Yukari buru-buru melambaikan kedua tangan. "Bukan uang! Aku tidak butuh uangmu, Takagi-san." Ia tersenyum lebar, matanya berbinar licik. "Aku butuh tenaga."
Mendadak firasat buruk muncul di wajah Daiki. "Yukari... jangan bilang..."
Belum sempat Daiki menyelesaikan protesnya, Yukari sudah lebih dulu berbalik dan membentangkan kedua tangannya dengan penuh percaya diri ke arah pekarangan belakang.
Seketika keheningan melanda mereka bertiga. Di hadapan mereka, rumput liar tumbuh lebat hampir setinggi lutut, semak-semak memenuhi setiap sudut, bahkan beberapa bagian sudah terlihat seperti hutan mini yang terbengkalai.
Akira memandang halaman luas yang berantakan itu, lalu beralih menatap Yukari dengan tatapan kosong.
Yukari tersenyum manis tanpa rasa bersalah. "Aku ingin kalian membantuku membersihkan pekarangan ini."
"Apa?!" Daiki langsung memekik protes. "Kau menyuruh kami buru-buru makan hanya untuk mencabut rumput?!"
"Itu bukan rumput biasa, Yukari. Itu hutan!" seru Daiki lagi. "Di sana bahkan mungkin ada beruang yang bersembunyi!"
"Kalau ada beruang, berarti kita dapat bonus hewan peliharaan baru," canda Yukari polos.
Daiki menatap sahabatnya dengan ekspresi tidak percaya, sementara Akira diam-diam hanya memperhatikan adu mulut kedua orang itu. Entah kenapa, percakapan konyol mereka terasa jauh lebih hidup dibanding suasana sunyi yang selama ini mengelilingi hidupnya.
"Tenang saja, semuanya sudah kupersiapkan," lanjut Yukari sambil berjalan mendekati sebuah mesin pemotong rumput listrik tua yang terparkir di dekat gudang. Ia menepuk badan mesin itu dengan bangga, lalu menoleh ke arah Akira. "Takagi-san, kau bertugas memotong rumput menggunakan mesin ini. Karena punggungmu belum pulih, ini adalah pekerjaan yang paling ringan."
Akira menatap mesin tua itu dengan ragu. "Ringan?"
"Kau menyuruh orang yang baru sembuh dari sekarat untuk mendorong mesin berat ke seluruh halaman? Ringan dari mananya?!" potong Daiki sambil menahan tawa.
Yukari mengabaikan Daiki, lalu berbalik menunjuk sahabatnya itu dengan sekop kecil. "Dan kau, Daiki. Tugasmu mengumpulkan rumput yang sudah dipotong, mengangkatnya, lalu membuangnya ke ujung sana di belakang gudang untuk dijadikan kompos."
Daiki menghela napas pasrah. "Lalu kau sendiri mengerjakan apa?"
Yukari tersenyum tanpa dosa. "Aku membuatkan minuman dingin untuk kalian!"
Daiki mematung di tempat, Ia tertawa puas melihat reaksi syok sahabatnya. "Tenang saja, aku juga akan membantu mencabut ilalang nanti. Ayo mulai bekerja sebelum matahari makin tinggi!"
***
Akira mulai mengerti menjalankan mesin pemotong rumput ini Hanya mendorongnya maju dan menariknya kembali secara perlahan.
Melihat Akira beneran mulai bekerja, Daiki akhirnya mendengus pasrah. "Ya sudah, aku juga mulai," gerutunya sambil mengambil garu kayu di dekat gudang. Ia berjalan di belakang Akira, mulai mengumpulkan potongan rumput yang berserakan.
Yukari memilih jongkok di dekat jalan setapak. Dengan sekop kecil di tangannya, gadis itu sibuk mencabuti ilalang yang tumbuh di sela-sela batu pijakan.
Untuk sesaat, suasana terasa damai dan produktif. Hanya terdengar deru mesin, gesekan garu kayu, serta desir angin musim semi yang bertiup lembut. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Hei! Hei, Takagi-san! Pelankan mesinmu sedikit!" teriakan Daiki tiba-tiba menggema. Pria itu melompat mundur sambil menutupi wajahnya. "Aku hampir saja termakan rumput terbang gara-gara kau!"
Akira mematikan mesinnya sejenak. Ia menoleh ke belakang dengan ekspresi datar andalannya. "Lalu?"
Daiki melotot kesal sambil menunjuk wajahnya sendiri. "Lalu katanya?! Rumputnya masuk ke mulutku, tahu!"
Akira memandang Daiki selama beberapa detik dengan ekspresi dingin. "Jangan berdiri di belakangku."
Jawabannya yang kelewat tenang itu sukses membuat Daiki hampir tersedak oleh kekesalannya sendiri. "Heh! Ini wilayah kerjaku!" protes Daiki sambil menggambar garis imajiner di tanah dengan ujung sepatu botnya. "Lihat? Batas wilayahku sampai sini!"
Akira melirik garis di tanah itu sekilas, lalu kembali menyalakan mesin pemotong rumput tanpa peduli. "Aku tidak melihat ada papan kepemilikannya di sini."
"Astaga... pria ini beneran menyebalkan," gerutu Daiki sambil memegangi kepalanya yang mendadak pening.
Tanpa menghiraukan keluhan Daiki, Akira kembali mendorong mesinnya lurus ke depan, membuat potongan rumput kembali beterbangan. Daiki buru-buru melompat menyingkir. "Hei! Kau sengaja, ya?!"
"Ini jalur paling efisien," jawab Akira tenang dari balik kemudi mesin.
"Kau beneran tidak punya perasaan!"
"Ada."
"Mana?!"
"Aku sedang menghemat tenaga," sahut Akira lempeng.
Daiki langsung menunjuk Akira dengan wajah tidak percaya, kehabisan kata-kata untuk membalas pria kota tersebut.
Di sisi lain halaman, Yukari yang sejak tadi menonton pertengkaran mereka akhirnya tidak kuat lagi menahan tawa. "Hahaha! Daiki, sudahlah! Jangan mengajak bertengkar orang yang baru sembuh!" seru Yukari sambil memegangi perutnya yang mulai sakit karena tertawa geli.
Daiki menoleh cepat dengan wajah bersungut-sungut. "Kau membelanya cuma karena dia tampan, kan?" tuduhnya asal.
"Apa?!" Mata Yukari langsung membulat sempurna. Tanpa pikir panjang, ia meraup segenggam rumput kering dari tanah dan melemparkannya tepat ke arah Daiki. Bruk! Rumput itu mendarat sukses di bahu Daiki.
"Selesaikan Saja kerjaan mu daiki!" bentak Yukari sambil berdiri dengan wajah memerah. "Kalau tidak selesai sebelum siang, tidak ada jatah minuman dingin untukmu!"
Mendengar ancaman itu, Daiki langsung bungkam. "Wah, kejam sekali," gumamnya pasrah sambil kembali menggaruk rumput dengan malas.
Akira yang berdiri beberapa meter dari mereka diam-diam mengalihkan pandangannya ke arah Yukari. Gadis itu sedang tertawa lagi sekarang. Rambut cokelatnya bergoyang pelan tertiup angin, dan pipinya merona merah karena terlalu banyak bercanda.
Sudah beberapa hari ia menumpang di rumah tua ini, namun baru kali ini Akira benar-benar menyadari betapa hidup dan lepasnya ekspresi Yukari saat sedang bersama Daiki. Begitu hangat dan bebas, sangat berbeda jauh dengan dunia kelam yang selama ini ia kenal di kota.
Pelan-pelan, suara tawa riang Yukari membuat dada Akira merasakan sebuah getaran asing. Perasaan damai yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan lagi.
Akira memang tidak tersenyum, sudut bibirnya tetap kokoh berbentuk garis datar yang kaku. Namun, sepasang mata yang selama beberapa hari terakhir ini selalu dipenuhi oleh kelelahan dan keputusasaan, perlahan-lahan mulai berubah sedikit demi sedikit.