Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14
"Ayah pulang dulu, belajar yang rajin, dan ingat laki laki ga boleh lemah."kata ayah yang selalu mengingatkan Ali tak boleh menyerah begitu saja.
Ali mengangguk patuh, dan melambaikan tangan saat ayah nya kembali dengan sepeda tua itu. Ali pun kembali ke kelas, dan mengikuti pelajaran selanjutnya. Dia harus fokus demi masa depan nya.
Sepulang sekolah, Ali langsung pulang jalan kaki, tapi saat di jalan, dia melihat ada seorang kakek tua yang tampak kebingungan. Tatapan Ali tak lepas dari kakek tua itu. Karena merasa kasihan, Ali langsung menghampiri kakek tua itu. kebetulan sekali pasar yang dilewati Ali tampak mulai sepi.
"Assalamualaikum kakek." katanya sambil tersenyum dengan ramah.
"Walaikumsalam." kata kakek tua itu yang tampak bingung.
"Kakek nunggu siapa disini?" tanya Ali dengan pelan, berusaha membuat kakek itu terlihat nyaman.
"Kakek tersesat nak, tadi kakek hanya jalan sebentar. Tapi kakek lupa dimana supir itu." ucap nya dengan wajah penuh keringat.
"Yaudah, kakek ikut Ali dulu yuk. rumah Ali ga jauh dari pasar ini. Kakek pasti kecapean."
Tanpa menolak, kakek itu mengikuti langkah Ali. Ali juga menuntun tangan kakek itu agar berhati hati saat berjalan. Jalanan yang tampak rusak itu, membuat beberapa jalan terlihat rusak, bahkan saat hujan, kondisi jalan benar benar sangat becek dan bisa membuat orang yang lewat bahkan terjatuh.
"Terima kasih sudah mau menolong kakek ya nak."
"Sama sama kakek, jangan Khawatir. Tapi maaf ya, rumah Ali sederhana."
"Tidak apa apa."
setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Ali sampai di depan rumah nya. Kakek itu langsung terpaku saat menatap rumah kecil yang tampak sederhana itu. bahkan beberapa atap terlihat bocor. sungguh hati ya terenyuh saat melihat pemandangan di depan nya.
"Nak, apa kau tinggal disini?"
"Benar kakek, ini tempat tinggal ku. Maaf ya kek, rumah ku sederhana. Ayo masuk kakek, ibu ku pasti ada di dalam."
"Assalamualaikum Bu."
"Walaikumsalam, Ali sudah pulang nak." terdengar suara ibu yang saat ini sedang di dapur.
"Bu, Ali bawa seseorang ke rumah."
Aktivitas Ratna terhenti saat sedang merebus singkong itu. Dia langsung menoleh ke arah kakek tua itu. Pakaian nya terlihat bukan seperti orang biasa.
"Ali, siapa kakek ini nak?" tanya Ratna kepada anak nya itu.
"Bu, aku tak sengaja melihat kakek ini di jalan pasar itu Bu, dia tampak kebingungan. dia lupa jalan pulang Bu."
mendengar ucapan Ali, Ratna merasa kasihan. dia juga merasa bangga dengan Ali, yang mau menolong orang lain. tatapan nya melembut ke arah putra nya itu. Ali benar benar memiliki hati yang tulus
"Assalamualaikum pak, nama saya ratna. Saya adalah ibu nya Ali." kata ratna yang langsung memperkenalkan dirinya.
"Walaikumsalam, maaf telah merepotkan ibu nya Ali, saya benar benar tersesat saat ini."
"Tidak apa apa pak, ayo silahkan duduk pak. maaf ya pak, rumah kami kecil dan sempit."
"Seharusnya saya yang minta maaf, telah merepotkan Ali dan keluarga nya."
Setelah berganti pakaian sekolah nya, Ali kembali duduk dengan kakek itu. Dia belum bertanya siapa kakek tua itu.
"Oh ya, nama kakek siapa?" tanya Ali dengan tersenyum ramah ke arah kakek itu.
"Nama kakek Juna, panggil saja kakek jun."
"Baiklah kakek jun, Ali tinggal dulu ya. soalnya mau bantu ibu dulu di dapur."
"Baik nak, tak perlu merasa tak enak. kakek sudah tidak apa apa."
setelah itu, Ali langsung membantu ibu nya, merebus singkong singkong itu, untuk di jadikan santapan Makan malam mereka.