Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 31 MERTUA IDAMAN
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu itu seolah menjadi penyelamat bagi Aline di tengah suasana yang membuatnya sulit untuk lepas dari suaminya.
Aline mendorong dada suaminya agar menjauh. "Mas, ada yang datang. Cepat sana ke ruang ganti." Ia mendorong suaminya agar pergi walk-in closet.
Erlangga terkekeh kecil, saat berhasil menggoda istrinya. Ia langsung melangkah ke ruang ganti.
Sementara, Aline mengatur napasnya lebih dulu agar lebih tenang lalu merapikan penampilannya, sebelum akhirnya membuka pintu tersebut.
Saat pintu terbuka, seketika menampilkan ibu mertuanya yang berdiri sambil tersenyum lembut. "Aline, kamu lagi apa? Apakah Mommy ganggu?" tanya Alya.
Aline langsung menggeleng cepat. "Nggak sama sekali, Mom. Kebetulan tadi habis siapkan baju Mas Erlangga." kilahnya, mana mungkin ia mengatakan jika putranya sedang menggodanya.
"Mommy sudah buat sarapan untuk kamu, kalau sudah selesai bersiap... langsung turun, ya."
"Kenapa mesti repot-repot manggil Aline ke atas Mom? Nanti Aline pasti turun ke bawah kalau Mas Erlangga sudah selesai."
"Tidak apa-apa Mommy hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja." kata Alya suara tersirat rasa cemas yang tidak bisa ia sembunyikan. "Ya sudah, kalau begitu Mommy tunggu kalian di bawah."
Aline hanya mengangguk sopan sambil tersenyum ramah.
Setelah mengatakan itu Alya meninggalkan kamar putra bungsu dan menantunya. Ia kembali menuju lantai bawah.
Setelah kepergian ibu mertuanya Alien menutup kembali pintu kamar tersebut. Namun, saat ia berbalik ternyata suami sudah berdiri di hadapannya yang sudah rapi dengan seragam medisnya.
Aline terlonjak kaget dan hampir saja terhunyung kebelakang, jika saja suaminya tidak segera menangkap pinggangnya mungkin ia sudah jatuh.
"Ma-as... kamu bikin aku jantungan." gugup Aline yang lagi-lagi harus mengalami posisi yang membuat jantungnya tidak aman. Ia segera melepaskan pelukan suaminya.
"Maaf, Sayang. Lagian kamu serius banget, Lagi bicara sama siapa?" tanya Erlangga lembut.
"Sama Mommy, katanya kalau sudah selesai bersiap. Mereka menunggu kita di bawah." jawab Aline.
Erlangga mengangguk mengerti. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana, nanti kita ke bawah sama-sama..." Erlangga terdiam sejenak matanya lagi-lagi memandang Aline dengan tatapan nakalnya. "Atau mau sekalian aku mandikan."
Seketika, wajah Aline langsung bersemu merah mendengar kalimat yang dilontarkan suaminya.
"Aku bukan bayi yang harus di mandikan!" jawab Aline sambil berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.
Erlangga tertawa kecil sambil menatap punggung Aline yang menghilang di balik pintu kamar mandi. sekarang ia sepertinya memiliki hobby baru yaitu mengganggu istrinya yang kini sudah menjadi mood booster untuknya.
Lima belas menit kemudian...
Aline yang sudah selesai bersiap-siap, kini menuruni anak tangga bersama suaminya. Saat tiba di lantai bawah Aline melihat di meja makan sudah ada ayah dan ibu mertuanya dan juga kakak iparnya Bram. Namun, pandangannya tertuju pada kursi kosong. Ia tidak menemukan kakak iparnya Rara.
Semenjak sepulangnya ia bersama suaminya dari luar pagi tadi. Sampai sekarang ia belum mendapati kakak iparnya Rara, perlahan ia melangkah menuju meja makan bersama suaminya.
Saat sudah di meja makan dengan perhatian Erlangga langsung menarik kursi untuk istrinya duduk. Lalu mengambilkan beberapa makanan untuknya.
Kini mereka semua sarapan dengan khidmat tanpa ada obrolan dan juga kehadiran kaka iparnya Rara.
Sepuluh menit berlalu ketiga laki-laki keluarga Dewangga akhirnya berpamitan untuk ke tempat kerja mereka masing-masing.
Kusuma sudah lebih dulu melangkah ke luar rumah dan diikuti Bram dari arah belakang.
Kini giliran Erlangga yang langsung berpamitan kepada Aline. Ia mencium kening istrinya di depan keluarganya yang membuat Aline merasa malu meski mereka sudah halal tetap saja ia belum terbiasa dengan hal itu.
"Aku ke rumah sakit dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah sama Mommy." kata Erlangga sambil mengelus lembut kepala istrinya.
Aline hanya mengangguk pelan.
Seperginya ketiga laki-laki keluarga Dewangga kini hanya Aline dan Alya yang masih berada di meja makan.
Hingga Aline tidak bisa menahan diri, untuk mengetahui kenapa kakak iparnya Rara tidak ikut makan bersama mereka.
"Mommy, Kak Rara memangnya ke mana? Dari tadi Aline belum melihatnya?" tanya Aline.
"Bram bilang sih! Lagi kurang enak badan, pas Mommy mau ke kamarnya kata Bram jangan di ganggu dulu. Padahal kan Mommy cuma mau lihat keadaan Rara." jelas Alya suaranya terdengar bahwa ia mengkhawatirkan menantu sulungnya.
Aline hanya mengangguk-anggukan kepala. Lalu tangannya meraih salah satu buah mangga yang mencuri perhatiannya, apalagi buah mangga itu hasil suaminya menerobos rumah orang lain.
Saat tangan Aline menyentuh buah itu dengan cepat Alya merebutnya dari tangan sang menantu. "Biarkan Mommy yang mengupasnya... kamu duduk saja jangan menyentuh apapun." peringatannya dengan nada suara penuh perhatian.
Aline merasa tidak enak mengupas beberapa buah saja ibu mertuanya tidak mengijinkan ia yang mengerjakan. "Mom, Aline hanya mengupas buah dan itu nggak akan membuat Aline kelelahan."
"Tidak usah membantah! Pokonya biarkan Mommy yang mengerjakannya."
Aline berusaha menolak agar tidak merepotkan sang mertua tapi apalah daya ibu mertuanya tidak menghiraukannya. Seketika ia merasakan kasih sayang seorang ibu yang telah lama hilang darinya sejak ibunya meninggal dunia dan ayahnya memilih menikah lagi.
Ia melihat raut lelah dari wajah ibu mertuanya tapi beliau tetap tidak membiarkan ia melakukan apapun. "Mom, dari tadi Mommy belum berhenti ngurus rumah ini terus ditambah sekarang ngurus Aline. Apa Mommy nggak merasa cape?" tanya Aline.
Alya mengeleng cepat, seolah wajah lelah yang sempat terlihat oleh Aline menguap begitu saja. "Tentu saja tidak, mana mungkin Mommy cape menjaga kamu dan Cucu Mommy, apalagi sebentar lagi... akan hadir di tengah-tengah keluarga kita."
Alya tersenyum merekah, lalu menyerahkan buah yang sudah selesai ia kupas.
"Apa kamu sudah periksa kandungan?" tanya Alya tiba-tiba. Sesekali ia mengelus perut menantunya yang masih datar itu.
Aline menggeleng sambil memakan buah yang sudah dikupas ibu mertuanya. "Belum, Mom! Mas Erlangga bilang nanti siang akan jemput Aline untuk pemeriksaan kandungan."
"Kalau begitu sama Mommy aja ke rumah sakitnya, tidak perlu menunggu Erlangga lagi."
"Memang tidak merepotkan Mommy?"
"Tidak sama sekali, Aline. Sekalian Mommy mau lihat perkembangan Cucu Mommy." antusiasme Alya. Ia sudah membayangkan akan melihat bayi kecil dalam perut menantunya itu.
Aline mengangguk pelan sambil tersenyum manis yang kini terpancar dari bibir merah mudanya. "Baiklah, kalau begitu... nanti Aline hubungi Mas Erlangga biar nggak usah menjemput, Aline!"
Kini keduanya tampak sangat asik mengobrol, mereka sangat menikmati momen antara ibu mertua dan sang menantu.
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣