saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 10. harapan dan kenyataan
Waktu terus berjalan mengalir seperti sungai yang tak pernah berhenti, membawa setiap orang melintasi musim dan perubahan yang membentuk jalan hidup mereka. Sudah hampir setahun sejak Rendra menginjakkan kaki kembali ke tanah air, dan perjalanan yang ia tempuh sejauh ini bagaikan dua sisi mata uang, satu sisi menunjukkan kemajuan dan kebahagiaan, sedangkan sisi lainnya menyimpan keraguan dan tantangan yang perlahan menguji keteguhan hatinya. Begitu juga dengan Zahra, yang kini berada di ambang pintu menuju impian yang telah ia rajut selama bertahun-tahun, namun mulai menyadari bahwa kehidupan nyata tidak selalu seindah apa yang dibayangkan.
Semua masih berjalan terpisah, meski ikatan persahabatan antara Raka dan Rendra terus menjadi benang penghubung yang perlahan menarik dua dunia itu semakin dekat. Seperti yang telah disepakati, pertemuan yang akan mengubah segalanya belum tiba, Untuk saat ini, setiap langkah yang diambil mereka adalah bagian dari proses yang harus dilalui, untuk menguji siapa diri mereka sebenarnya sebelum akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.
Di desa tempat tinggalnya, nama Rendra kini semakin dikenal dan dihormati oleh warga dari berbagai lapisan masyarakat. Usaha toko bahan bangunan yang ia bangun dengan keringat sendiri itu kini sudah berkembang melampaui apa yang ia bayangkan saat pertama kali membukanya. Awalnya hanya menyediakan barang-barang kebutuhan dasar, kini ia sudah mampu meluaskan stoknya hingga mencakup kebutuhan pembangunan rumah yang lebih lengkap, mulai dari semen, pasir, batu bata, hingga peralatan pertukangan yang lebih mahal dan beragam.
Keberhasilannya itu bukan datang secara tiba-tiba, melainkan buah dari kerja keras siang dan malam serta kejujuran yang ia pegang teguh. Ia tidak pernah menjual barang dengan harga lebih tinggi hanya karena pembeli tidak mengerti pasar, tidak pernah menimbang dengan curang, dan selalu mengakui kesalahan jika ada barang yang tidak sesuai pesanan. Sikap itulah yang membuat warga percaya dan lebih memilih datang kepadanya daripada berbelanja ke toko yang lebih besar di kota kecamatan.
Setiap pagi, Rendra selalu menjadi orang pertama yang membuka tokonya. Ia tidak segan turun tangan sendiri mengangkat karung semen yang beratnya puluhan kilogram, menyusun barang-barang di rak, atau bahkan mengantarkan pesanan ke rumah pelanggan meskipun jaraknya cukup jauh. Tubuhnya yang dulu terlatih bekerja keras selama merantau di Malaysia kini semakin kuat dan kekar. Kulitnya yang terbakar matahari memiliki warna cokelat kemerahan yang sehat, dan brewok yang tumbuh lebat serta tegas di rahangnya itu justru memberikan kesan gagah dan berwibawa, bukan lagi terlihat seperti tanda kelalaian.
Namun di balik kemajuan usahanya yang terlihat gemilang itu, hubungan asmaranya dengan Putri justru bergerak ke arah yang semakin jauh dari keharmonisan. Apa yang awalnya hanya terasa sebagai perbedaan kecil, kini perlahan membesar menjadi jurang pemisah yang semakin sulit dijembatani.
Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat dan suasana di toko sudah mulai sepi, Putri datang menjenguk seperti biasa. Namun kali ini, raut wajahnya terlihat tidak senang sejak langkah kakinya menginjak halaman toko. Ia melihat Rendra yang sedang duduk di bangku kayu sambil mengelap peluh di dahinya dengan lengan baju yang sudah agak kusam dan penuh debu semen.
“Rendra, kapan kau akan mengerti apa yang aku katakan?” tanya Putri dengan nada yang sudah tidak lagi lembut, melainkan terdengar kecewa dan sedikit marah.
Rendra menoleh, lalu tersenyum tipis berusaha menenangkan. “Ada apa lagi, Putri? Ada yang mengganggu pikiranmu sampai wajahmu terlihat seperti itu?”
“Mengganggu pikiranku? Semua yang kau lakukan ini yang membuatku gelisah!” sergah Putri sambil melipat tangannya di dada. “Lihatlah dirimu! Usahamu sudah maju, pendapatan mu sudah jauh lebih dari cukup untuk hidup berkecukupan, tapi kenapa kau masih bersikap seperti ini? Masih mau mengangkat barang sendiri, masih memakai baju yang lusuh, dan membiarkan janggut mu tumbuh sembarangan seperti ini. Kalau kita sudah membicarakan rencana pernikahan, bagaimana aku bisa memperkenalkan mu kepada teman-temanku atau keluarga besar nanti? Mereka akan mengira aku bersuamikan orang yang tidak pandai merawat diri dan tidak tahu cara menikmati hasil kerja kerasnya sendiri!”
Mendengar ucapan itu, senyum di wajah Rendra perlahan menghilang. Ia berdiri perlahan, membersihkan debu di celananya, lalu menatap Putri dengan pandangan yang tenang namun tegas.
“Putri, dengarkan aku baik-baik. Aku mengangkat barang-barang ini bukan karena aku ingin terlihat miskin atau bodoh, tapi karena ini adalah sumber rezekiku. Keringat yang menetes ini yang membuat uang yang aku terima menjadi halal dan terasa manis saat dibelanjakan. Baju yang aku pakai ini mungkin terlihat sederhana, tapi masih bersih dan layak dipakai untuk bekerja. Dan soal brewok ini, ia tumbuh seiring dengan perjalananku. Ia tumbuh saat aku bekerja sebagai kuli bangunan, saat aku merantau jauh meninggalkan rumah, saat aku menghadapi pahit dan manisnya kehidupan. Bagiku, ini bukan sekadar rambut yang bisa dicukur sembarangan, tapi bagian dari perjalanan hidup yang membentuk siapa diriku sekarang.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut namun tetap mantap. “Aku tidak melarang mu untuk menginginkan kehidupan yang lebih baik dan lebih rapi. Tapi jangan minta aku menjadi orang lain. Kalau kau mencintaiku, terimalah aku dengan segala kebiasaan dan sifatku. Kalau kau hanya bisa mencintai gambaran yang kau inginkan tentang diriku, bukan diriku yang sebenarnya, maka aku khawatir kita akan terus bertengkar seperti ini selamanya.”
Kata-kata itu membuat Putri terdiam sejenak, namun rasa kecewanya belum juga hilang. Ia menggeleng pelan dengan pandangan yang menyiratkan ketidakmengertian.
“Kau keras kepala, Rendra. Sangat keras kepala. Di dunia ini, penampilan adalah bagian dari kehormatan. Orang akan menilai kita dari luar terlebih dahulu sebelum melihat apa yang ada di dalamnya. Aku hanya ingin kita dihormati, bukan dipandang rendah meskipun kita sudah memiliki usaha yang bagus. Mengapa hal sesederhana ini harus diperdebatkan terus?”
Percakapan sore itu berakhir tanpa kesepakatan. Putri pergi dengan langkah yang tergesa dan wajah yang masih cemberut, meninggalkan Rendra yang berdiri sendirian di tengah tokonya. Angin sore berhembus membawa aroma tanah dan kayu, namun tidak cukup untuk menenangkan gejolak dalam hatinya. Ia menatap jauh ke arah jalan raya yang sepi, memikirkan kembali pesan ayahnya yang dulu pernah ia dengar: “Cinta yang sesungguhnya tidak menuntut perubahan, tapi menerima kekurangan dan melengkapi kelebihan.”
Ia mulai menyadari, meski Putri memiliki segalanya yang terlihat sempurna di mata orang lain cantik, baik, dan berasal dari keluarga mapan,namun ada satu hal yang masih kurang, ia belum bisa menerima Rendra apa adanya, seutuhnya tanpa syarat. Pikiran itu membuatnya merasa berat, namun ia berusaha tetap sabar, berharap seiring berjalannya waktu, Putri bisa memahami pandangannya.
Di kota yang jaraknya ratusan kilometer dari desa tempat Rendra tinggal, Zahra sedang melewati masa-masa yang paling menentukan dalam perjalanan pendidikannya. Ia kini sudah berada di tahap akhir penyusunan skripsi, tinggal beberapa bagian terakhir dan persiapan menghadapi ujian sidang yang dijadwalkan sekitar tiga bulan lagi tepat mendekati waktu yang ditentukan untuk kelulusannya.
Setiap hari terasa berjalan sangat cepat dan padat. Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke kampus, menghabiskan waktunya di perpustakaan hingga siang hari, lalu melanjutkan lagi di ruang baca hingga senja tiba. Matanya sering terasa perih dan lelah karena terlalu lama membaca dan menulis, jari-jarinya pun terasa kaku, namun semangatnya tidak pernah luntur. Ia selalu mengingat perjuangan kedua orang tuanya di desa yang bekerja keras bertani dan beternak hanya agar ia bisa menuntut ilmu setinggi ini. Ia tidak boleh mengecewakan harapan mereka.
Raka tetap menjadi penopang terbesarnya selama masa ini. Setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk, membawakan makanan kesukaan Zahra, atau sekadar menemani duduk di perpustakaan sambil mengerjakan tugas kantornya jika ada waktu luang. Kehadirannya membuat beban Zahra terasa lebih ringan. Namun, sama seperti hubungan Rendra dan Putri, hubungan mereka pun mulai memperlihatkan sisi lain yang sebelumnya tidak terlalu terlihat.
Suatu malam, setelah Zahra pulang dari kampus dan beristirahat sejenak di rumah kosnya, Raka datang membawa beberapa bungkusan. Saat Zahra membuka bungkusannya, ternyata isinya adalah beberapa potong baju yang lebih modis, sepatu yang bagus, serta satu set alat rias sederhana yang masih tertutup rapi dalam kotaknya.
Zahra mengangkat wajahnya menatap kekasihnya dengan tatapan bingung. “Ka... ini untukku?”
Raka mengangguk sambil tersenyum, lalu duduk di sampingnya. “Iya, untukmu. Sebentar lagi kau akan menghadapi sidang dan segera menjadi sarjana. Ini sebagai hadiah dini sekaligus persiapan. Lihatlah, gaun-gaun ini cocok untuk acara-acara resmi nanti, dan alat rias ini cukup ringan untuk dipakai sehari-hari agar wajahmu terlihat lebih segar dan bersinar.”
Zahra memegang kotak rias itu dengan jari-jarinya yang lembut, hatinya terasa campur aduk. Ia tidak pernah memiliki barang semacam ini sebelumnya. Selama hidupnya, ia hanya mengenal air bersih dan sabun untuk merawat wajahnya. Ia mengerti niat baik Raka, namun ada rasa canggung dan tidak nyaman yang menyelinap masuk ke dalam hatinya.
“Terima kasih, Ka. Tapi... aku tidak terbiasa memakai hal-hal seperti ini. Aku takut nanti tidak pandai menggunakannya, malah terlihat aneh,” jawab Zahra dengan suara pelan.
Raka mengusap lembut bahu kekasihnya itu, mencoba meyakinkannya. “Tidak apa-apa, kita pelajari perlahan. Aku tahu kau nyaman dengan dirimu yang apa adanya, dan aku juga menyukaimu seperti itu. Tapi percayalah, di dunia kerja nanti, penampilan yang rapi dan bersih adalah bagian dari sikap profesional. Ini bukan untuk mengubah dirimu menjadi orang lain, tapi hanya untuk melengkapi penampilanmu agar lebih percaya diri. Setelah kau lulus nanti, kita akan mulai melangkah ke babak baru, dan kau akan bertemu banyak orang baru yang memiliki standar kehidupan yang berbeda. Aku hanya ingin kau siap menghadapinya.”
Mendengar penjelasan itu, Zahra hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tidak ingin terlihat tidak bersyukur atau menolak kebaikan Raka, namun di dalam hatinya timbul pertanyaan yang sama seperti yang dirasakan Rendra. Apakah aku cukup baik apa adanya, ataukah aku harus berubah agar benar-benar diterima sepenuhnya?
Pikiran itu membuatnya teringat kembali pada cerita-cerita yang sering ia dengar dari Raka tentang Rendra. Tanpa sengaja, ia mengaitkan perasaan yang ia alami dengan apa yang terjadi pada pria itu. Jika Rendra yang gagah dan kuat saja merasa tertekan karena tuntutan untuk mengubah diri, maka tidak salah rasanya jika ia pun merasa demikian. Ia mulai melihat kenyataan bahwa masalah penampilan dan penerimaan diri ini ternyata tidak hanya miliknya seorang, melainkan tantangan yang bisa dihadapi siapa saja.
“Ka, apakah menurutmu seseorang harus mengubah dirinya hanya agar disukai dan dihargai oleh orang lain?” tanya Zahra tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.
Raka terdiam sejenak, seolah berpikir mencari jawaban yang tepat. “Sebenarnya tidak. Seseorang harus tetap memegang jati dirinya. Tapi hidup di tengah masyarakat memiliki aturannya sendiri, Zahra. Kita tidak bisa hidup sendirian tanpa berhubungan dengan orang lain. Terkadang, kita hanya perlu menyesuaikan diri sedikit, bukan mengubah sifat dan hati kita, agar bisa berjalan seiring dengan lingkungan tempat kita berada. Kuncinya ada pada batasnya, jangan sampai perubahan itu membuat kita kehilangan siapa diri kita sebenarnya.”
Jawaban itu cukup masuk akal bagi Zahra, namun tetap menyisakan tanda tanya di hatinya. Ia meletakkan kembali kotak rias itu di atas meja, memandangnya dengan pandangan yang penuh pikiran. Ia berjanji pada dirinya sendiri, apa pun yang terjadi, ia tidak akan melupakan asal-usulnya dan ketulusan hatinya, meskipun nanti ia harus memakai pakaian yang lebih bagus atau merias wajahnya sedikit.
Sementara hubungan cinta kedua pasangan itu sedang melewati masa ujian, ikatan persahabatan antara Raka dan Rendra justru semakin kuat dan hangat. Jarak dan kesibukan selama bertahun-tahun tidak pernah merusak kepercayaan dan rasa hormat satu sama lain. Komunikasi mereka kini semakin lancar dan sering, berkat kemajuan teknologi yang memudahkan mereka berhubungan kapan saja.
Suatu malam, Rendra baru saja selesai makan malam dan duduk santai di teras rumahnya sambil menikmati udara segar malam itu, ketika telepon genggamnya berdering. Begitu ia melihat nama yang tertera di layar, senyum lebar segera mengembang di wajahnya. Itu Raka.
“Halo, Ka? Sudah lama tidak mendengar suaramu. Bagaimana kabarmu di sana?” sapa Rendra dengan nada ceria segera setelah mengangkat telepon.
“Baik, Ren, semuanya baik. Bagaimana kabarmu di kampung? Usahamu makin lancar kan? Aku sering mendengar kabar dari kenalan yang lewat daerahmu, katanya tokomu makin ramai saja,” jawab Raka dari seberang sana dengan tawa santai.
Mereka pun mengobrol panjang lebar, menceritakan segala hal yang terjadi dalam hidup masing-masing. Rendra bercerita tentang perkembangan usahanya, tentang kondisi ayah dan ibunya yang kini jauh lebih sehat, serta sedikit mengeluh mengenai perbedaan pandangan yang sering terjadi dengan Putri. Sementara itu, Raka menceritakan kesibukannya di kantor, perkembangan karirnya, serta kisah tentang Zahra yang sedang berjuang keras menyelesaikan pendidikannya.
Mendengar cerita tentang Zahra, hati Rendra terasa berdenyut samar. Nama itu membawanya kembali ke masa sekolah yang sudah terasa sangat jauh. Ia mencoba mengingat kembali sosok gadis yang selalu berdiam diri di pojok kelas itu, namun bayangannya terasa samar dan kabur. Ia hanya ingat bahwa Zahra adalah gadis yang pendiam, sederhana, dan jarang sekali bergaul dengan siapa pun.
“Jadi dia sudah tumbuh menjadi wanita yang rajin dan pandai?” tanya Rendra penasaran.
“Benar sekali, Ren. Meskipun penampilannya sederhana dan ia tidak pandai berdandan seperti wanita lain, tapi dia memiliki hati yang tulus dan semangat yang luar biasa. Aku sangat menghargai sifatnya itu. Dia tinggal beberapa bulan lagi akan lulus, tepatnya sekitar tiga bulan ke depan dia akan diwisuda dan resmi menjadi sarjana,” jelas Raka dengan nada bangga.
Rendra mengangguk dalam hati, meskipun tidak terlihat oleh sahabatnya itu. “Baguslah. Itu kabar yang membahagiakan. Semoga dia bisa menyelesaikannya dengan lancar dan mendapatkan masa depan yang cerah.”
“Terima kasih. Omong-omong, Ren, aku sudah merencanakan sesuatu. Begitu Zahra selesai ujian sidangnya dan jadwal wisudanya sudah pasti, aku berencana mengajaknya pulang ke kampung sekalian. Aku ingin mengajaknya berkunjung ke rumahmu, mengenalkan dia secara langsung kepada keluargamu, dan sekalian kita bertemu kembali setelah sekian lama terpisah. Bagaimana menurutmu? Kau keberatan?” tanya Raka dengan nada antusias.
Mendengar ajakan itu, Rendra merasa sangat senang. Sudah lama ia ingin bertemu tatap muka lagi dengan sahabatnya itu. “Tentu saja aku tidak keberatan, justru aku sangat menantikannya! Bawa saja dia kemari. Rumah ini terbuka lebar untukmu dan siapa pun yang kau bawa. Pasti akan menyenangkan rasanya bisa duduk dan mengobrol berjam-jam seperti dulu lagi.”
“Baiklah, kita sepakat. Jadi nanti di saat Zahra resmi menjadi sarjana, kita akan bertemu di sini. Saat itu juga mungkin sudah waktunya kita membicarakan banyak hal, termasuk masa depan kita masing-masing,” kata Raka mengakhiri percakapan itu.
Percakapan telepon itu selesai dengan janji yang tertulis di hati masing-masing. Rendra kembali duduk termenung, memandang langit malam yang bertabur bintang. Ia membayangkan bagaimana rasanya bertemu lagi dengan Raka, sahabat yang paling mengerti dirinya. Ia juga membayangkan sosok Zahra yang akan ikut datang bersama nanti. Dalam benaknya, ia hanya membayangkan gadis pendiam dari masa sekolah itu, tidak pernah menyangka bahwa pertemuan itu nantinya akan menjadi titik balik yang mengubah seluruh arah jalan hidupnya.
Di sisi lain, Raka pun segera menyampaikan rencana itu kepada Zahra keesokan harinya. Mendengar bahwa ia akan diajak berkunjung ke kampung halaman Raka dan bertemu dengan keluarga serta sahabat baiknya, yaitu Rendra, hati Zahra terasa berdebar kencang, campuran antara rasa gembira, gugup, dan rasa ingin tahu yang sangat besar.
“Jadi... aku akan bertemu langsung dengan Rendra nanti?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar karena kaget dan antusias.
“Iya, tepatnya nanti setelah kau lulus dan wisuda. Saat itu adalah momen yang pas, setelah beban tugas selesai dan kita punya waktu luang lebih banyak untuk bersantai dan berkunjung. Kau tidak usah khawatir, dia orangnya sangat ramah dan sederhana. Kau pasti akan nyaman bertemu dengannya,” meyakinkan Raka.
Zahra hanya bisa mengangguk, namun pikirannya melayang ke mana-mana. Selama ini ia hanya mendengar cerita tentang Rendra, melihat bayangan samar dari ingatan masa lalu, namun belum pernah bertemu dengannya secara pribadi sebagai orang dewasa. Bagaimana rupa dia sekarang? Apakah dia masih terlihat gagah dan populer seperti yang ia ingat, ataukah sudah berubah menjadi pria pekerja keras yang berbeda seperti yang diceritakan Raka? Berbagai pertanyaan itu terus berputar di dalam pikirannya.
Hari-hari pun terus berganti, membawa semua tokoh dalam cerita ini semakin dekat ke titik waktu yang telah ditentukan. Rendra terus berusaha memperbaiki hubungannya dengan Putri, mencoba mencari titik temu di antara perbedaan pandangan mereka. Ia berharap, seiring melihat kesungguhan hatinya, Putri bisa lebih memahami dan menerima dirinya apa adanya. Namun, pertengkaran kecil yang kerap terjadi membuat ia sadar bahwa jalan ke depan mungkin tidak semulus yang ia bayangkan.
Di sisi lain, Zahra terus melangkah maju dengan semangat yang tak pernah padam, menyelesaikan setiap lembaran terakhir dari perjuangannya menuju gelar sarjana. Ia belajar untuk lebih percaya diri, bukan karena ia mulai berdandan lebih rapi, melainkan karena ia mulai menyadari bahwa nilai seseorang tidak hanya dilihat dari penampilan luarnya saja. Ia tetap memakai pakaian yang sederhana, namun kini ia memakainya dengan rasa bangga karena ia tahu ia sedang berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Raka berdiri di tengah, menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia ini tanpa menyadari sepenuhnya dampak besar yang akan ditimbulkannya nanti. Ia hanya ingin mempertemukan dua orang yang ia anggap penting dalam hidupnya, sahabat dan kekasihnya, tanpa tahu bahwa pertemuan itu akan membuka lembaran baru yang belum pernah terbayangkan oleh siapa pun.
Semua masih terpisah, semua masih berjalan di jalur masing-masing. Masih ada jarak yang memisahkan, masih ada waktu yang harus dilalui. Namun benang takdir sudah terjalin erat, semakin rapat dan semakin kuat. Semua persiapan sedang dilakukan, semua konflik sedang diuji, dan semua perasaan sedang dibentuk agar pada saatnya nanti pertemuan itu bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan awal dari sebuah kisah yang sesungguhnya.
Mereka belum tahu apa yang akan terjadi, belum tahu bagaimana perasaan mereka akan berubah, dan belum tahu bahwa cinta yang sebenarnya sering kali datang dari arah yang paling tak terduga. Untuk saat ini, biarkanlah mereka terus melangkah, terus berjuang, dan terus menanti momen yang akan mengubah segalanya.