Menikah di usia belia, sama sekali tidak pernah terlintas di benak Karamel. Apalagi jika suaminya berusia sepuluh tahun lebih tua darinya. Karena permintaan terakhir sang ayah, Kara terpaksa setuju untuk menikah dengan Azka, pria yang dianggapnya tua.
Azka memiliki alasan tersembunyi sehingga dia mau menikahi Kara yang sama sekali tidak dikenalnya. Hingga dia pun mengajukan perjanjian dengan gadis yang dianggapnya sebagai bocah itu. Perjanjian itu akhirnya mereka setujui sebelum menikah.
Setelah menikah, sifat kekanak-kanakan Kara semakin terlihat jelas, hingga membuat kesabaran Azka teruji.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Sanggupkah Azka mengubah Kara menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IBA — Bab 26
Perang dingin antara kakak beradik itu baru saja dimulai. Dari awal Arsha sudah lebih dulu menyukai Kara, tetapi saat tahu ayahnya malah menjodohkan gadis itu dengan kakaknya, Arsha bertekad akan merebut hati iparnya.
“Tidak, aku tidak sengaja melakukannya. Aku hanya mengajak Kara mampir sebentar, tapi saat melihat ada film bagus, dia malah bahagia. Kamu tidak mengerti cara membahagiakan dia, Kak. Jangan hanya menyalahkan orang. Oh iya aku lupa, mana mungkin Kakak bisa membahagiakan Kara, aku lupa kakakku itu tidak tertarik dengan perempuan.”
Arsha menatap tajam kakaknya yang sudah merebut wanita yang disukainya. Bagi Arsha, Azka adalah kakak egois yang hanya mementingkan perasaannya sendiri tanpa peduli dengan apa yang Arsha dan Kara rasakan.
Azka mengepalkan tangan menahan hinaan yang adiknya sendiri katakan. “Berapa kali harus aku bilang kalau kamu itu hanya salah paham?” tanya Azka sedikit menyentak.
“Oh ya. Aku hanya percaya apa yang aku lihat, bukan yang aku dengar. Aku kasihan sama Kara, punya suami yang tidak normal seperti Kakak.”
Azka memejamkan mata dengan tangan yang mengepal semakin kuat. “Arsha, apa yang kamu lihat itu belum tentu kenyataan yang sebenarnya. Kalau kamu tidak percaya itu bukan urusanku, tapi kalau menyangkut Karamel tentu saja itu menjadi urusanku karena dia istriku kalau kamu lupa.” Azka sampai menggertakkan gigi menahan kesal.
“Walau dia istrimu itu tidak akan mengubah fakta kalau kamu suka sesama jenis. Aku mau mandi, jangan ganggu aku lagi.” Arsha hampir menutup pintu kamarnya, tidak ingin berdebat dengan kakaknya apalagi kalau sampai Kara mendengar.
“Aku tidak akan membiarkan kamu mendekati Karamel lagi,” balas Azka.
“Aku tidak peduli.”
Seketika pintu kamar Arsha tertutup, dan membuat Azka semakin kesal. Adiknya itu sama menyebalkannya dengan Kara, hanya melihat dari satu sudut pandang dan langsung menyimpulkan.
Azka kembali ke kamarnya sendiri dan melihat Karamel selesai mandi dan terlihat semakin segar.
“Karamel,” panggil Azka masih dengan perasaan kesal.
“I-iya, Kak,” jawab Kara takut-takut.
Azka menatap wajah istrinya yang sedikit tertunduk dengan wajah sedih. Dia tahu Kara sudah memikirkan kesalahannya dan mungkin saat ini dia sudah menyesali perbuatannya itu.
Kara sekarang semakin dekat dengan Arsha, bisa saja Kara akan terpengaruh oleh Arsha dan mempercayai apa yang Arsha ceritakan tentang Azka.
“Kamu pernah ciuman?” tanya Azka. Dia berjalan semakin dekat dengan Kara yang kini menatapnya dengan kening berkerut.
“Maksudnya ciuman bibir?” Kara memperagakan kalimatnya dengan mempertemukan semua ujung jari tangannya.
“Iya, ciuman bibir, memangnya ada ciuman mata?” Azka mulai kesal.
“Ya, ‘kan ada ciuman tangan, ciuman pipi, ciuman kening.”
Tiba-tiba Azka memajukan wajahnya dan berjarak semakin dekat dengan wajah Kara.
“Ciuman bibirlah. Pernah enggak?” tanya Azka sambil melotot.
Kara merasa sedang diinterogasi oleh Azka. Apa karena pergi tanpa izin membuatnya jadi tersangka? Apa hubungannya sama ciuman?
“Tidak,” jawab Kara dengan lantang.
Mendengar jawaban Kara itu, Azka malah semakin bersemangat untuk mengajari istrinya itu. Jika dengan Arsha dia tidak bisa membuktikan bahwa dia normal, maka dengan Kara dia bisa melakukannya.
Tanpa berlama-lama dan pikir panjang, Azka menempelkan bibirnya pada bibir Kara yang kini mematung tidak berdaya. Azka merasakan nikmatnya bibir Kara yang belum pernah tersentuh.
Kara yang berusaha melawan, malah membuat Azka semakin menyerang. Laki-laki itu menahan kepalanya agar tidak bisa melarikan diri. Dengan kekuatannya Azka membawa Kara menuju kasur mereka dan menjatuhkan tubuh mereka di sana.
Please ya gaes, likenya jangan lupa.. walau kalian enggak suka sama alurnya, tapi like itu wajib, wkkk