Bertubi-tubi, Aiza dihantam masalah yang mengaitkannya dengan sosok Akhmar, dia adalah pentolan preman. Rasanya gedeg sekali saat Aiza harus berada di kamar yang sama dengan preman itu hingga membuat kedua orang tuanya salah paham.
Bagaimana bisa Akhmar berada di kamarnya? Tapi di balik kebengisan Akhmar, dia selalu menjadi malaikat bagi Aiza.
Aiza dan Akhmar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Berandalan
Entah apa yang membuat Akhmar begitu hobi membuli, meledek dan mengerjai orang, terlebih mantan adik- adik kelas. Tangisan dan permohonan ampun dari orang- orang yang dikerjain seperti hiburan bagi Akhmar. Dia bahagia melihat penderitaan orang lain.
Sebenarnya Akhmar adalah satu- satunya lelaki paling tampan di SMA waktu itu, hanya saja sorot matanya yang bengis, ditambah garis bibirnya yang tajam, juga lidahnya yang juga tajam, membuat para cewek mundur dan lebih menganggap Akhmar adalah sebuah musibah.
Andai saja Akhmar mengurangi kebengisannya sedikit saja, tentu Akhmar akan menjadi idola bagi para wanita.
Bahkan sudah ada tiga guru cantik yang dibikin menangis oleh Akhmar. Tidak ada yang ditakuti Akhmar. Meski guru tergalak sekalipun, karena Akhmar jauh lebih galak.
Dan kelakuannya itu terus berlaku sampaikini ia duduk di bangku kuliah.
“Hai…” seru Atep menggoda Jasmine.
Jasmine mempercepat langkah dengan kepala menunduk.
“Heloooow… cantik! Kok, diem aja, sih?” goda Atep lagi.
Tidak menjawab, Jasmine terus menunduk.
“Cantik cantik nggak boleh sombong!” seru Atep.
“Senyum, dong!” lanjut Enyong.
“Ayolaah… Jangan sombong!”
“Woi, punya telinga nggak?” teriak Atep, kesal tidak ditanggapi. Padahal ia tahu kalau Jasmine tidak sedang bersikap sok cuek, gadis itu hanya sedang gugup karena takut.
“Tauk tuh bocah, bisu kali,” timpal Atep.
Tepat pada saat melintasi kursi tongkrongan, Jasmine menggeser langkah hingga berada di seberang jalan demi menjauhi para cowok tengil. Ia terkejut saat melihat sepasang sepatu yang menghadang langkahnya. Jasmine mengangkat wajah dan melihat Akhmar sudah berdiri di jarak sangat dekat dengannya.
“Cantik cantik kagak punya kuping. Tuli lo?” ucap Atep sambil menggigit-gigit ujung tusuk gigi.
Jasmine hanya bisa diam sambil *******-***** tali tas. Lorong jalan itu begitu sepi, tidak ada seorang pun yang melintas. Ia tidak bisa meminta tolong.
Akhmar menatap datar muka Jasmine yang memucat. Ia menyentuh dagu Jasmine dan mengangkatnya, jari telunjuknya bermain di wajah Jasmine, mengukir-uikr sesuka hatinya.
Jasmine yang mukanya diobok-obok oleh telunjuk Akhmar, hanya diam saja menanti kejadian berikutnya.
Akhmar menyingkirkan anak rambut di kening Jasmine dengan telunjuknya hingga sudut mata gadis itu yang berkedut tampak jelas.
Akhmar menurunkan jari telunjuknya ke leher Jasmine lalu ke gundukan dada gadis itu.
“Empuk,” ujar Atep yang langsung disambut dengan gelak tawa oleh Enyong.
Sungguh, Jasmine tidak melakukan apapun saking ketakutan. Apalagi Atep sudah berdiri di belakang Jasmine sambil mencolek pinggang gadis itu.
“Lanjut, guys. Hajarrrr!” seru Atep yang hanya menjadi penonton sambil terbahak.
“Pergi sana! Hati-hati di jalan!” Akhmar menarik lengan Jasmine dan menyuruhnya pergi.
Gadis itu melangkah secepat kilat. Atep dan Enyong tertawa terbahak-bahak. Mereka masih terus tertawa hingga Jasmine hilang dari pandangan saat berbelok.
“Lucu banget tuh cewek. Nahan mewek mukanya kayak dikasih makan taik sapi, lagian jam segini Jasmine udah pulang aja. ini kan belom jam pulang sekolah,” celetuk Atep masih ingat dengan jam pulang saat sekolah di SMA dulu.
“Biasalah, palingan dia sakit trus ijin pulang. Namanya juga Jasmine, udah cengeng lemah lagi,” timpal Enyong.
Beberapa menit kemudian, Jasmine kembali lagi ke lokasi tempat Akhmar dan teman-temannya berkumpul. Tapi Jasmine tidak sendirian, ia datang bersama ibunya yang marah-marah karena tidak terima anaknya pulang sekolah dalam keadaan menangis. Setelah menanya-nanyai anaknya dan mendapatkan keterangan jelas dari anaknya, si Ibu menyeret Jasmine ke lokasi itu.
“Hei... Bocah-bocah berandalan! Lo apain anak gua, hah?” teriak Ibu berambut keriting itu sambil mengacung-acungkan sutil.
Akhmar dan kedua temannya bertukar pandang.
Bersambung