Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Saras hamil
Ameera bergegas masuk, saat mendengar suara tangis Celia putrinya. Saat membuka pintu, dilihatnya Saras terbaring di lantai. Dan Celia menarik-narik kaki Saras.
"Astaga! Apa yang terjadi denganmu , Saras?" Ameera mencoba tenang, saat melihat sahabatnya terbaring di lantai.
"Mami, bangun Mami." isak Celia ketakutan. Ameera segera memeluk putrinya. Mencoba menenangkannya.
Ameera mengambil air putih, memerciki wajah Saras supaya dia segera siuman. Dengan perasaan cemas, Ameera mencoba menghubungi Seno suami sahabatnya. Tapi, belum sempat terhubung, Saras sudah menggeliat.
"Syukurlah, kamu akhirnya sadar. Apa yang terjadi dengan kamu, Ras?" tatap Ameera tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Uh, aku tidak apa-apa. Tadi aku mendadak pusing dan terjatuh. Aku dan Celia main petak umpet. Eh, mana Celia, Ame?" sentak Saras saat ingat Celia.
"Celia tidak apa-apa. Harusnya kamu lebih khawatir tentang dirimu. Kok, kamu tiba-tiba pingsan. Kamu sakit ya?" Ameera meraba kening Saras.
"Entahlah, akhir-akhir ini aku sering merasa pusing dan mual, Ame. Aku juga gak ngerti kenapa bisa begitu." keluh Saras, berusaha duduk seraya memijit keningnya.
"Kamu sudah periksa ke dokter?" Saras menggeleng lemah.
"Palingan juga karena masuk angin."
"Astaga, Saras! Kamu gak boleh begini. Menganggap remeh kesehatan kamu. Ayo, aku temani ke rumah sakit sekarang." ajak Ame khawatir. Karena wajah sahabatnya itu tampak pucat.
"Sudah, aku gak apa-apa kok. Nanti juga pusingnya hilang. Huek ...." tiba-tiba Saras mendadak ingin muntah. Bergegas Saras menuju ke toilet. Diikuti langkah Ameera yang semakin khawatir.
Setibanya di kamar mandi, Saras muntah-muntah tapi tidak ada yang keluar. Cuma air ludah, yang terasa pahit dan sensasi tidak enak di perutnya.
"Beginian masih kamu bilang tidak apa-apa, Ras. Sekarang juga kita ke rumah sakit. Lihat, wajahmu semakin pucat." seru Ameera ngotot. Nada suaranya sedikit tinggi karena kesal sahabatnya itu, masih ngeyel saat dibilangin.
"Jangan-jangan kamu hamil, Ras?"
" Ngaco! Kalau ngomong jangan sembarangan. Aku cuma masuk angin." protes Saras, akhirnya mau di ajak ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Saras dan Ameera menuju ruang praktek dokter obgyn. Saras sempat menolak tapi akhirnya terpaksa manut. Entah kenapa Ameera ngotot membawanya ke dokter kandungan. Dokter cantik dan ramah dengan nik name di dadanya, Alya. Menyambut mereka dengan ramah.
"Ibu ada keluhan apa?"
"Akhir-akhir ini saya sering mual dan muntah, Dok. Kepala saya juga sering mendadak pusing."
"Silahkan berbaring Bu." Dokter Alya memeriksa Saras. "Kapan terakhir haid Ibu?"
"Dua bulan lalu, Dokter. Siklus haid saya tidak teratur. Kadang mau sampai tiga bulan gak datang." keluh Saras.
"Apa selama ini juga disertai mual dan muntah?"
"Hem, sepertinya baru kali ini, Dokter. Saya juga merasakan tubuh saya lebih gampang lelah." Saras menuturkan keluhannya.
"Sepertinya Ibu hamil. Tapi untuk.lebih jelasnya harus dilakukan pemeriksaan. Saya akan lakukan USG pada Ibu."
"Tidak mungkin, Dokter. Saya menikah sudah tujuh tahun. Dokter yang memeriksa saya dulu, juga mengatakan ada masalah dengan rahim saya. Itu sebabnya saya susah hamil, Dok." bantah Saras.
Saras sudah pasrah tidak akan memiliki anak. Karena kondisi rahimnya.
"Iya, tapi kalau Tuhan sudah memberikan berkatNya, tidak ada yang mustahil." Dokter Alya mengerak gerakkan transducer keperut Saras setelah lebih dulu mengolesinya dengan gel.
Dokter Alya memperhatikan layar monitor. Diikuti pandangan Saras juga Ameera. Saras sepertinya acuh saja, karena dia yakin tidak ada apa-apa di perutnya.
Tangan Dokter Alya terhenti, ketika layar monitor menunjukkan sesuatu.
"Nah, ini dia. Akhirnya ketemu juga." Dokter Alya memperlihatkan sebuah titik hitam di rahim, Saras.
"Lihat, Ras. Kamu beneran hamil," seru Ameera tertahan. Kedua telapak tangan menangkup wajahnya saking kaget. Saras terpaku, tidak percaya dengan ucapan dokter. Tapi pandangan kedua netranya terbetot ke layar monitor.
"Iya, Ibu hamil. Usianya sudah empat minggu." ucapan Dokter Alya, akhirnya menyadarkan pikiran Saras. Kalau apa yang dia lihat dan dengar bukanlah halusinasinya.
"Benarkah, saya hamil dok?" ucapnya lirih nyaris tidak terdengar. Hanya gerak bibirnya yang memastikan kalau Saras barusan bicara.
"Iya, selamat ya, Bu." ucap Dokter Alya tersenyum lembut.
"Saras, selamat ya." Ameera memeluk Saras penuh emosi. Air mata merebak di kedua pipi Ameera. Begitu juga Saras. Apa yang dia dan suaminya impikan selama ini, bakalan terwujud sebentar lagi.
"Pelan-pelan, Saras. Kamu harus dengarkan semua nasehat dokter." Ameera menuntun Saras ke sofa, sepulang mereka dari rumah sakit.
"Mulai sekarang kamu harus kurang-kurangi bekerja. Harus banyak istirahat. Makan makanan bergizi, bla bla bla." segudang nasehat dijejalkan Ameera ke kuping Saras.
"Stop, Ame. Bisa tidak kamu jangan secerewet ini. Kupingku gak muat lagi mendengar cakap mu." timpal Sarat gemes melihat kelakuan sahabatnya.
Dirinya yang dinyatakan hamil. Tapi sahabatnya itu yang jadi kesurupan.
Ameera terbahak, saat menyadari dirinya kebanyakan bicara. Belum apa-apa kok malah dia yang berisik duluan.
"Aduh, Ras. Aku sangat bahagia sekali lo saat ini. Sebentar lagi akan ada yang memanggilku tante. Rasanya sudah gak sabar lo."
Puk!
Sebuah bantal kursi mendarat di pangkuan, Ameera.
"Iya, tapi jangan sampai segitunya loh." protes Saras.
"Mami sama Mama, kenapa?" celetuk Celia kebingungan. Karena sedari tadi dia melihat dua orang dewasa di depannya itu bersikap aneh.
"Oh, maaf ya sayang. Mami cuma bercanda kok. Bukan marah betulan sama Mama, ya." Saras mengusap kepala Celia. Mungkin karena dia melempar sahabatnya itu, membuat Celia salah paham.
"Iya, Mami." Celia kembali bermain bersama bonekanya.
"Ras, besok aku dan Richi akan bertemu Pak Hadinata. Tadinya aku mau nitip Celia. Tapi karena keadaanmu aku menitip Celia ke Amel saja ya?"
"Tidak apa-apa denganku saja, Ame." Saras menolak usul Ameera.
"Tapi kamu lagi hamil muda, Ras. Sedangkan Celia itu lagi lasak-lasaknya. Sudah, aku titip dia ke Amel saja." Celia memang bocah yang tidak mau diam dan duduk manis. Ameera tidak ingin merepotkan Saras.
Dengan mengenakan jins dan kemeja motif garis horizontal, penampilan Ameera terlihat manis walaupun sederhana. Kulitnya putihnya, klop sekali dengan padanan kemeja navy. Terlihat santai tapi elegant untuk menghadiri pertemuan.
Richi bilang mereka akan bertemu di perusahaan Pak Hadinata. Menyuruhnya menemui resepsionis. Karena ada urusan mendadak yang harus dia selesaikan lebih dulu. Richi memastikan akan datang tepat waktu.
Disinilah sekarang, Ameera berdiri. Dihadapannya berdiri megah perusahaan tekstil terbesar di kota ini.
Meski sedikit ragu, akhirnya Ameera melangkah masuk juga.
Dengan menyandang gulung kertas di punggungnya, Ameera melangkah ke resepsionis.
"Permisi, Mbak. Saya mau bertemu Pak Hadinata. Ruang kerjanya dimana, ya?"
"Apa Ibu sebelumnya sudah buat janji. Bisa saya lihat catatannya Bu, untuk mencocokkan data dan jadwalnya?"
"Aduh gawat. Gimana ini ya. Kok Richi gak bilang akan akan hal seperti ini." monolog hati Ameera.
"Maaf, Mbak. Saya tidak punya. Mungkin itu ada di teman saya. Namanya Pak Richi. Dia juga tengah menuju kemari." Ameera berusaha menjelaskan. Tapi sepertinya sang resepsionis menolak.
"Maaf Mbak, kalau Mbak tidak bisa menunjukkannya, kami tidak bisa mengarahkan Mbak ke ruangan Pak Hadinata." ungkap petugas resepsionis dengan nama Tya, angkuh.
"Sebaiknya Ibu tunggu saja sampai teman Ibu datang." ***