Di Pesantren Al-Ihsaniyyah, cinta, ilmu, dan takdir keluarga Ihsani bersatu. Warisan Abah Muzzamil diuji, pilihan Inayah mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Mencekam: Antara Teriakan, Sentuhan Gaib, Pertarungan di Alam lain
2 Minggu kemudian saat malam hari dari asrama putra ada santri yg berteriak meminta tolong lalu Gus Rasel dari dalem timur keluar dan menuju ke asrama putra bersama sang istri ternyata ada santri putra yg kesurupan dan disitu bukan hanya 2 yg kesurupan melainkan 3 yg kesurupan dan seperti kesurupan massal. Gus Rasel kesulitan kalau menyadarkan sendirian.
- (Acara resepsi sudah selesai dilaksanakan, dan Ning Hana juga Gus Rasel menikmati hari-hari mereka seperti biasa dengan mengajar dan mengurus para santri.)
- (Dua minggu kemudian, saat malam hari, dari asrama putra terdengar teriakan meminta tolong.)
- Santri (berteriak): "Tolong! Tolong! Ada yang kesurupan!"
(Gus Rasel dari dalem timur keluar dan menuju ke asrama putra bersama sang istri. Ternyata, ada santri putra yang kesurupan. Bukan hanya 2, melainkan 3 yang kesurupan, seperti kesurupan massal.)
- *(Gus Rasel merasa kesulitan jika menyadarkan sendirian.)
lalu Gus Rasel menuju ke ndalem tengah meminta bantuan. Ning Hana menunggu di asrama putra. sesampainya di ndalem tengah Gus Rasel bertemu Gus Wildan, Gus Rasel meminta tolong ke Gus Wildan juga Gus Rama, karena ada santri putra yg kesurupan dan saat itu Abi dari pondok putri baru masuk ke ndalem lalu tanya ke Rama ada apa dan Gus Rama menjawab ada santri putra kesurupan dia srama putra 3 santri lalu Abi, mas Rasel Gus Rama juga Gus Wildan menuju ke asrama putra, sesampainya diasrama putra 3 santri yg kesurupan tersebut berusaha disaarkan oleh Gus Rasel juga Abi dan Gus rama dan Gus Wildan membantu memegangi ke 3 santri tersebut lalu 2 santri sudah sadar tinggal 1 yg sulit di sadarkan dan 1 santri tersebut selalu memberontak hingga akhirnya dipegangi Abi Gus Rama juga Gus Wildan, mas Rasel yg membacakan doa doa bukannya pergi dan santri tersebut sadar melainkan bertambahnya 1 santri kesurupan dan Hana istri Gus Rasel juga tertarik dan kesurupan juga mas Rasel, Abi dan semuanya panik karena Hana kesurupan dalam keadaan hamil mereka takut Hana dan bayinya kenapa kenapa , mereka ber 4 berusaha menyadarkan 1 per1 dari 2 santri tersebut dan terakhir Ning Hana yg meronta mronta dan sempat mau kabur akibat tidak mau di sadarkan, 3 jam lamanya akhirnya Ning Hana sadar dari kesurupan.
- (Gus Rasel menuju ke ndalem tengah meminta bantuan. Ning Hana menunggu di asrama putra.)
- (Sesampainya di ndalem tengah, Gus Rasel bertemu Gus Wildan.)
- Gus Rasel: "Gus Wildan, tolong bantu saya. Ada santri putra yang kesurupan di asrama."
- (Gus Rasel meminta tolong ke Gus Wildan juga Gus Rama, karena ada santri putra yang kesurupan. Saat itu, Abi dari pondok putri baru masuk ke ndalem.)
- Abi Haikal: "Rama, ada apa ini?"
- Gus Rama: "Ada santri putra kesurupan di asrama putra, Bi. Tiga santri."
(Abi, Mas Rasel, Gus Rama, juga Gus Wildan menuju ke asrama putra. Sesampainya di asrama putra, 3 santri yang kesurupan tersebut berusaha disadarkan oleh Gus Rasel juga Abi.)
(Gus Rama dan Gus Wildan membantu memegangi ketiga santri tersebut. Lalu, 2 santri sudah sadar. Tinggal 1 yang sulit disadarkan. Satu santri tersebut selalu memberontak hingga akhirnya dipegangi Abi, Gus Rama, juga Gus Wildan.)
- (Mas Rasel yang membacakan doa-doa, bukannya pergi dan santri tersebut sadar, melainkan bertambahnya 1 santri kesurupan.)
(Dan Hana istri Gus Rasel juga tertarik dan kesurupan juga. Mas Rasel, Abi, dan semuanya panik karena Hana kesurupan dalam keadaan hamil. Mereka takut Hana dan bayinya kenapa-kenapa.)
(Mereka berempat berusaha menyadarkan 1 per 1 dari 2 santri tersebut. Dan terakhir, Ning Hana yang meronta-ronta dan sempat mau kabur akibat tidak mau disadarkan.)
- Ning Hana (dengan suara parau): "Lepaskan aku! Aku tidak mau pergi dari sini! Tempat ini milikku!"
- Ning Hana (dengan mata melotot): "Kalian semua tidak akan bisa mengalahkanku! Aku lebih kuat dari kalian!"
- (Ning Hana berusaha melepaskan diri dari pegangan Gus Rasel dan Abi Haikal. Ia mendorong mereka dengan kuat, membuat mereka terhuyung ke belakang.)
- Gus Rasel (dengan nada khawatir): "Sayang, sadarlah! Ini aku, Mas Rasel! Jangan lakukan ini padaku dan anak kita!"
- Ning Hana (tertawa sinis): "Anak? Aku tidak punya anak! Aku hanya punya kekuatan!"
- (Ning Hana mencoba mencakar wajah Gus Rasel, tetapi Abi Haikal berhasil menahannya.)
- Abi Haikal: "Hana, ingatlah siapa dirimu! Kamu adalah Ning Ailania Hana Muzammilah! Cucu dari Abah Yai! Jangan biarkan makhluk ini mengendalikanmu!"
- (Ning Hana terdiam sejenak. Tiba-tiba, ia berteriak histeris.)
- Ning Hana: "Tidak! Aku tidak mau jadi Ning Hana! Aku ingin bebas!"
- (Ning Hana berusaha lari dari asrama, tetapi Gus Rama dan Gus Wildan berhasil menghadangnya.)
- Gus Rama: "Hana, jangan pergi! Kami semua menyayangimu! Jangan biarkan dirimu dikuasai oleh setan!"
- Gus Wildan: "Ingatlah, Hana! Kamu adalah seorang santri! Kamu harus kuat dan tabah!"
- (Ning Hana menatap Gus Rama dan Gus Wildan dengan tatapan kosong. Lalu, ia kembali meronta dan berteriak.)
- Ning Hana: "Pergi kalian semua! Aku benci kalian!"
3 jam lamanya akhirnya Ning Hana sadar dari kesurupan.
- (Setelah 3 jam lamanya, dengan penuh perjuangan dan doa, akhirnya Ning Hana sadar dari kesurupan.)
- (Ning Hana membuka matanya perlahan. Ia melihat sekelilingnya dengan bingung. Lalu, ia menatap Gus Rasel dengan tatapan penuh penyesalan.)
- Ning Hana (dengan suara lirih): "Mas... Maafkan Hana... Hana tidak tahu apa yang terjadi..."
(Gus Rasel memeluk Ning Hana dengan erat. Ia merasa sangat lega karena istrinya sudah kembali.)
- Gus Rasel: "Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting, kamu sudah sadar sekarang. Mas sangat menyayangimu."
(Abi Haikal, Gus Rama, dan Gus Wildan juga merasa lega karena semuanya sudah berakhir dengan baik. Mereka bersyukur karena Ning Hana dan bayinya selamat.)