Lyra Ayudia adalah seorang gadis yatim piatu, ayah dan ibunya meninggal dunia karena kecelakaan tunggal, sehingga membuat dia hidup sebatang kara.
Lyra mencoba untuk merantau ke kota besar untuk merubah kehidupannya, karena dia tidak ingin merepotkan Pamannya yaitu adik dari ayahnya.
Namun dia dihadapkan oleh kenyataan yang begitu pahit, berawal dari perkenalan tidak disengaja dengan seorang dokter, sehingga membuat dia lupa diri.
Dan pada akhirnya ada benih cinta satu malam tumbuh dirahimnya, yang sangat memilukan adalah disaat Dokter tampan itu tak mau bertanggung jawab atas kehamilan Lyra.
Akankah Lyra menanggung aib itu sendiri dan bagaimanakah tanggapan dari Paman satu2nya itu?
Yuk baca alur cerita selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Rumah Sakit
Perlahan kubuka mataku,aku mencium bau aroma obat yang begitu menyengat. segera ku edarkan pandanganku untuk memastikan bahwa diriku dimana saat ini.
Dimanakah aku ini? ruangan yang di dominasi dengan warna hijau muda. dan terdapat sebuah TV yang berukuran 29 inchi. dan kembali ku edarkan pandanganku ke sebelah kiri. dan aku melihat selang infus telah terpasang di tanganku.
Ya Allah ternyata aku berada di RS saat ini. tapi siapa yang membawaku kemari? terakhir yang aku ingat saat aku sedang berada di jalanan kota Jogja. dan aku merasakan pusing dan tiba2 aku sudah tak ingat apa-apa lagi. apakah tadi aku pingsan? ah tapi siapa orang yang telah membantuku?
Saat aku ingin menggerakkan tangan sebelah kananku aku merasakan tanganku di genggam dengan erat dan aku segera melihat siapakah orang yang sedang menggenggam tanganku saat ini.
Sungguh pemandangan yang sangat mengejutkan. aku melihat sosok yang sedang tidur dengan posisi duduk, keningnya bertumpu di besi pembatas ranjangku. aku memperhatikan dari pakaian, juga postur tubuhnya dan juga potongan rambut khas seorang aparat kepolisian. dan aku sangat yakin jika dia adalah mas Arman.
Apakah dia yang membawaku kesini? ah lagi-lagi pria ini menjadi dewa penolong bagiku. aku terdiam sesaat aku tidak ingin mengganggu tidur mas Arman. sepertinya dia begitu lelah tapi aku tidak tega melihat dia tidur dalam posisi duduk begini.
"Mas, mas Arman!" ku usap bahunya untuk membangunkannya dengan pelan agar dia tidak terkejut.
"Hmm.. Lyra! kamu sudah sadar? apakah ada yang sakit? bagian mana yang sakit? biar aku panggilkan Dokter. aku takut terjadi sesuatu pada calon anak kita!" kembali hatiku bagaikan dicubit saat mendengar mas Arman mengatakan calon anak kita. entah kenapa hatiku begitu sakit. aku semakin merasa berhutang Budi dengan semua kebaikannya.
Mengapa dia begitu baik kepadaku. sifatnya sangat berbeda dengan kedua orangtuanya, bukankah pepatah bilang jika buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. tapi kenapa ini jauh panggang dari api.tapi aku tidak bisa menyimpulkan karena itu semua tergantung kepribadian orang masing-masing.
"Aku tidak apa-apa mas. tadi hanya pusing dan sekarang sudah baikan, tidak ada pusing lagi." jawabku dengan jujur.
"Tapi kita harus USG, tunggu sebentar biar aku beri tahu dokternya bahwa kamu sudah bangun. karena tadi Dokter belum bisa memeriksa karena kamu dalam keadaan pingsan." ungkap mas Arman dan segera berlalu keluar dari ruangan itu untuk menemui dokter obgyn yang menangani aku tadi.
Saat seperti ini ingatanku kembali kepada Dr dingin itu. rasanya begitu Sesak saat merindukan orang yang telah menyakiti hati ini. aku ingin sekali melupakannya, aku ingin membuang ingatanku tentang dia hingga jauh ke dasar lautan agar aku bisa menjalani hidupku dengan tenang tanpa bayang-bayang dia lagi. saat aku sedang larut dengan ingatanku. terdengar suara mas Arman sedang berbicara dengan seorang dokter wanita. dan aku segera menghapus air mataku.
"Selamat malam Ibu. apakah ada keluhan yang ibu rasakan?" tanya dokter kepadaku.
"Ah tidak Dok! saya sudah merasa lebih baik, tidak ada pusing lagi." jawabku dengan jujur, sebenarnya hatiku yang bermasalah jika ada obat untuk melupakan seseorang maka aku orang pertama yang menginginkan obat itu.
"Baiklah kalau begitu. Kita akan tetap melakukan USG ya Bu, karena kami harus meyakinkan jika kandungan ibu baik-baik saja."
Aku hanya mengangguk. karena aku juga ingin melihat anakku yang ada dalam kandunganku.
"Kalau begitu mari pak. saya tunggu ibu dan bapak di ruang praktek saya. silahkan bawa istri bapak menggunakan kursi roda dan akan saya panggilkan suster untuk membantu Ibuk." dokter itu segera keluar.
Tidak berapa lama suster masuk untuk membantuku tetapi mas Arman melarang suster itu.
"Tidak usah sus, biar saya saja yang membawa istri saya ke ruangan dokter." larang mas Arman kepada suster itu.
"Tapi mas-" ucapanku terpotong
"Sudah kamu tenang saja aku bisa sendiri membantumu. badan kecil begini itu hal yang mudah untuk membawamu ke ruangan dokter. sekarang kamu pegang tabung infusnya ya."
"Eh mas, apa-apaan sih mas! aku bisa jalan sendiri mas. turunkan aku mas Arman." berontak ku kepada mas Arman yang tiba-tiba menggendong tubuhku. aku sangat malu semua suster yang ada di lorong rumah sakit itu tersenyum menyaksikan tingkah konyol mas Arman menurutku.
"Udah kamu diam saja. jangan berontak nanti infus kamu berdarah." ujarnya
"Ya tapi malu mas dilihatin orang. padahal tadi ada kursi roda,kan aku bisa naik itu saja." aku masih kesal dengan kelakuan pria tampan yang baik ini. aku merasa sikapnya semakin hari semakin penuh perhatian. apakah dia memang mencintai aku? jika itu benar maka aku benar-benar merasa bersalah karena aku sampai saat ini belum bisa melupakan Dr dingin itu.
"Kenapa harus malu? kan mereka tahunya kita ini suami istri." jawabnya enteng
Aku hanya diam tidak mau menimpali lagi pembicaraannya. karena itu tidak akan merubah keputusannya untuk menurunkan aku agar bisa berjalan sendiri.
***
Kini alat USG 4D itu sudah mulai bergerak di permukaan kulit perutku. mas Arman masih setia berada di sampingku aku sangat merasa risih,aku sudah melarangnya untuk tidak ikut menemani aku tetapi pria ini bersikukuh untuk ikut menemani ku. dan ditambah lagi dukungan dari dokter agar mas Arman ikut untuk melihat perkembangan calon anak kami. karena dari awal masuk ke RS ini mas Arman sudah mengatakan bahwa kami adalah pasangan suami istri. jadi aku tidak punya alasan untuk menolak penyidik ini menemaniku.
Dokter mulai melihat semua perkembangan bayiku.dan dia juga mendengarkan detak jantungnya. saat aku mendengarkan detak jantung malaikat kecilku, Air mataku jatuh tanpa bisa aku tahan. hatiku terenyuh merasakan ikatan batin kami begitu kuat. setelah mendengar detak jantung. Dr itu segera melihat jenis kelaminnya. ternyata anakku seorang jagoan. aku tersenyum bahagia, sebenarnya laki-laki atau perempuan sama saja tetapi inginku memang lebih baik anak pertama laki2 karena dia akan menjadi pelindung bagi adik2nya kelak.
Setelah tahu jenis kelaminnya, segera Dr melihatkan wajah malaikat kecilku. inilah saatnya yang aku tunggu-tunggu, wajah mungil itu terpampang jelas di monitor lcd itu. aku benar-benar tercengang saat melihat wajah malaikat kecilku yang tak ubahnya foto copy Dr dingin itu. Ya Allah kenapa wajahmu mirip sekali dengan ayahmu nak. hidung mancungnya dan bibir sangat mirip Dr dingin. begitu kuatnya gen pria itu sehingga anakku menjadi foto copynya.
"Alhamdulillah Bayi ibu dan bapak, baik2 saja tidak ada kurang apapun, dan bayinya juga sehat. kandungan ibu sudah berjalan dua puluh Minggu." jelas Dokter itu. namun aku masih fokus dengan monitor yang ada di hadapanku karena wajah mungil nan tampan itu masih terpampang jelas disana.
"Baik terimakasih Dok. apakah besok pagi istri saya sudah bisa pulang? karena kami harus pulang ke kota Padang, apakah istri saya sudah bisa naik pesawat?" tanya mas Arman kepada Dr Obgyn itu.
"Sudah pak. tidak ada masalah karena fisiknya juga sudah kuat." terang Dokter itu.
Bersambung..
Jangan lupa koment dan dukungannya agar Author semangat Update, terimakasih 🙏🥰