NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taktik Elegan

Dengan sisa-sisa keberanian yang masih berceceran di dalam dadanya, Kayla akhirnya menapakkan kaki di Rumah Sakit Harapan Bunda. Langkah kakinya terasa begitu berat dan pelan, menyusuri koridor area ruang rawat inap yang berbau khas obat-obatan. Peras

Perasaannya benar-benar campur aduk antara ketakutan, rasa bersalah, dan harga diri yang menolak untuk runtuh.

Oke, Kayla, gak apa-apa. Lo harus kuat. Lo harus hadepin apa pun konsekuensinya hari ini gara-gara ulah bodoh lo semalam, batin Kayla mencoba menenangkan badai di dalam dirinya sendiri.

Ia mengembuskan napas panjang tepat saat langkahnya berhenti di depan pintu ruang rawat inap Pak Hendra. Namun, baru saja jemarinya terangkat hendak memutar knop pintu, daun pintu kayu itu sudah lebih dulu bergerak terbuka dari dalam.

Sosok Hesti langsung muncul di hadapannya. Wanita dewasa itu masih mengenakan jubah tidur panjang yang menutup baju malamnya. Raut wajahnya tampak sangat cemas sekaligus lelah yang teramat sangat akibat kurang tidur semalaman. Tatapan mata Hesti yang tajam langsung terkunci pada anak tirinya.

"Mana baju saya?" ucap Hesti langsung tanpa basa-basi begitu melihat keberadaan Kayla.

Kayla tidak menjawab lewat kata-kata. Ia hanya menyodorkan sebuah paper bag berukuran besar yang berisi pakaian ganti untuk Hesti dan Pak Hendra yang sudah ia siapkan dari rumah.

Hesti menerima paper bag tersebut, lalu melirik sekilas ke dalam kamar rawat. "Jangan masuk dulu. Papih kamu baru saja bisa tidur setelah dipindahkan dari IGD," ucap Hesti dengan nada suara yang tegas namun berbisik.

Kayla hanya bisa menundukkan kepalanya, patuh tanpa bantahan untuk pertama kalinya. Sementara Hesti melangkah menuju toilet koridor untuk mengganti pakaiannya yang kusut, Kayla berjalan gontai menuju deretan kursi di ruang tunggu. Ia terduduk di sana sendirian, meremas kedua tangannya yang terasa sedingin es.

Beberapa saat kemudian, Hesti keluar dari toilet. Ia kini sudah tampak jauh lebih rapi dan segar setelah mengganti pakaiannya dengan setelan blus kasual, meski gurat kelelahan di matanya tidak bisa disembunyikan. Hesti berjalan mendekati Kayla, lalu mengambil posisi berdiri tepat di hadapan gadis remaja itu.

"Kay, kayaknya kamu utang penjelasan yang sangat besar sama saya," ucap Hesti dengan suara rendah namun sarat akan penekanan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap lurus ke arah Kayla yang masih menunduk.

Kayla menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa tameng pertahanannya. Ia mendongak, menatap Hesti dengan pandangan yang diusahakan tetap terlihat tegar.

"Bukannya lo udah tahu kan kalau itu semua perbuatan gue?" ucap Kayla ketus, lalu membuang muka tanpa mau menoleh ke arah Hesti lagi.

Hesti mengembuskan napas pendek. "Saya memang tahu, Kayla. Tapi yang saya mau tahu lebih dalam adalah... dari mana kamu bisa dapat obat pencahar dosis tinggi seperti itu? Saya rasa kamu gak mungkin sengaja pergi ke apotek untuk beli obat begitu, kan?" Hesti jeda sejenak, matanya menyipit selayaknya detektif yang sedang menguliti tersangka. "Apa ini ada sangkut pautnya dengan hasutan ibu kandung kamu?"

Pertanyaan Hesti seketika memantik sumbu amarah Kayla. Gadis itu mendongak cepat dengan mata membelalak tajam. "Jangan bawa-bawa ibu gue! Dia gak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kelakuan gue!" seru Kayla defensif, tidak terima jika Mommy Meyda disalahkan atas kecerobohannya sendiri.

"Ya kalau bukan dia, terus siapa lagi?" cecar Hesti, suaranya tetap tenang namun mengintimidasi. "Jangan bilang kalau kamu masih berhubungan dan main gila dengan berandalan yang mengajak kamu bolos sekolah kemarin? Siapa namanya? Gavin?"

Kayla seketika membuang mukanya kembali ke arah samping. Rahangnya mengencang rapat. Reaksi tubuh Kayla yang membisu dan mendadak kaku itu sudah lebih dari cukup bagi Hesti untuk mengonfirmasi kebenaran dugaannya. Gavin adalah dalang di balik semua ini.

"Saya sudah pernah bilang dengan sangat jelas, Kayla. Jangan pernah sekali-kali dekat dengan cowok berandalan itu lagi," ucap Hesti dengan nada bicara yang semakin tegas. "Tapi sepertinya, kalau cuma diomongin baik-baik, kalimat saya gak akan pernah ada pengaruhnya ya buat kamu?" tambah Hesti dengan helaan napas kecewa.

Kayla mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Rasa frustrasi karena terus disudutkan membuat pertahanannya retak. "Kalau lo mau laporin gue ke Papih tentang kejadian teh semalam, silakan! Laporin aja sekarang! Gue bakal terima apa pun konsekuensinya! Gue tahu gue salah, jadi lo gak usah sok baik kayak kemarin dengan nyembunyiin kesalahan gue di depan Papih!" tantang Kayla dengan suara yang mulai bergetar menahan luapan emosi.

Hesti menaikkan sebelah alisnya. "Yakin kamu siap dengan konsekuensinya?" tanya Hesti datar.

Kayla terdiam, tidak mampu menjawab.

Hesti menurunkan lipatan tangannya, menatap anak tirinya dengan pandangan yang melunak namun tetap berwibawa. "Udahlah, Kay. Saya sebenarnya cuma minta kamu gak usah bertingkah aneh-aneh lagi di rumah ini, itu aja. Semakin kamu mencoba memberontak dan melawan saya dengan cara-cara kotor begini, justru bakal bikin kamu sendiri yang capek dan rugi."

Air mata yang sejak tadi ditahan Kayla akhirnya mulai mengenang, membuat pelupuk matanya memerah seketika. "Gue begini juga bukan kemauan gue!" seru Kayla dengan suara yang mulai serak dan pecah, menatap Hesti dengan tatapan penuh luka emosional. "Lo gak akan pernah paham gimana perasaan gue selama ini! Gue... gue cuma benci sama lo! Gara-gara lo datang dan masuk ke kehidupan gue sama Papih, keluarga gue jadi berantakan kayak gini!"

KRINGGG! KRINGGG!

Belum sempat Hesti memberikan jawaban atas luapan sakit hati anak tirinya, ponsel di dalam saku celananya mendadak berdering nyaring memecah ketegangan di antara mereka. Hesti meraba sakunya, melihat nama penelpon di layar, lalu menatap Kayla sekilas.

"Saya angkat telepon sebentar," ucap Hesti pelan. Ia pun berbalik dan berjalan menjauh menyusuri koridor untuk menjawab panggilan penting tersebut, meninggalkan Kayla yang masih terpaku memeluk lututnya di ruang tunggu.

Melihat Hesti yang sudah menghilang di belokan koridor, Kayla menghapus air matanya dengan kasar. Ia bangkit berdiri dengan langkah terburu-buru, lalu mendorong pintu kamar rawat inap Papihnya secara perlahan.

Begitu melangkah masuk, pemandangan di dalam kamar langsung membuat hati Kayla seperti diremas kuat. Ia melihat tubuh tegap Papihnya kini terbaring lemah di atas brankar dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya. Wajah ayahnya masih tampak menyisakan sisa-sisa pucat akibat dehidrasi parah semalam.

Melihat kondisi memprihatinkan sang ayah akibat ulahnya sendiri, air mata Kayla yang sejak tadi ia tahan langsung lolos begitu saja membasahi pipinya. Ia berjalan mendekati sisi ranjang, lalu menggenggam jemari tangan ayahnya yang terasa dingin.

"Pih... maafin Kayla... Kayla beneran gak bermaksud bikin Papih jadi kayak begini..." ucap Kayla lirih di sela-sela isak tangisnya yang tertahan.

Tepat saat Kayla sedang menangis tergugu, kelopak mata Pak Hendra tampak bergerak perlahan. Pria paruh baya itu membuka matanya dengan pelan, menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan. Pandangan matanya langsung terjatuh pada sosok putri sulungnya yang sedang menangis di sampingnya.

"Kayla... Kenapa kamu menangis, Nak?" ucap Pak Hendra dengan suara yang masih terdengar lemah dan serak.

Kayla tersentak kaget mendapati ayahnya terbangun. Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat, ia langsung menarik tangannya dan menghapus sisa-sisa air mata di pipinya secara kasar, mencoba menyembunyikan kerapuhannya.

"Nggak, Pih. Kayla... Kayla cuman kelilipan debu tadi pas masuk," alibi Kayla dengan nada suara yang sengaja dibuat ketus untuk menutupi rasa gugupnya.

Pak Hendra yang sudah sangat hafal dengan tabiat putri kandungnya itu seketika tersenyum tipis, meski tubuhnya masih terasa lemas. "Aduh... putri kesayangannya Papih ini ternyata gengsinya masih tinggi banget ya, kayak menara Eiffel," canda Pak Hendra mencoba mencairkan suasana.

Kayla mendengus pelan, namun matanya masih berkaca-kaca. "Papih apaan sih, malah bercanda. Gimana sekarang kondisi Papih? Udah agak enakan belum?" tanya Kayla, berpura-pura ketus padahal hatinya sangat khawatir.

"Eumhh... lumayan lah, Kay. Udah gak selemas tadi malam setelah dipasang infus beberapa botol," jawab Pak Hendra lembut, mencoba menenangkan putrinya.

Kayla terdiam sejenak. Jantungnya kembali berdegup kencang saat melihat wajah teduh ayahnya. Rasa bersalah yang teramat besar kembali mendesak dadanya. Mungkin... mungkin ini waktu yang tepat buat gue ngaku jujur sama Papih. Biar Papih tahu kalau anaknya udah jahat banget, pikir Kayla dalam hati. Dengan bibir yang sedikit gemetar, ia memberanikan diri untuk bersuara.

"Pih..." ucap Kayla dengan nada yang sangat ragu.

Pak Hendra menolehkan kepalanya sedikit ke arah Kayla. "Iya, Kay? Ada apa, Nak?" tanya Pak Hendra dengan pandangan penuh kasih sayang.

"Eumhh... ma—af..."

Kalimat pengakuan Kayla seketika terputus di udara bersamaan dengan suara pintu kamar rawat yang didorong terbuka dari luar. Sosok Hesti melangkah masuk ke dalam ruangan setelah menyelesaikan urusan teleponnya tadi di koridor. kehadiran Hesti seketika membuat Kayla langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat, membatalkan niat jujurnya.

"Mas, kamu udah bangun? Gimana sekarang badannya, udah agak enakan?" tanya Hesti dengan nada suara penuh perhatian yang natural, berjalan mendekati sisi lain brankar suaminya.

"Iya, udah, Dek. Alhamdulillah... meskipun ya masih agak lemas sedikit badannya," jawab Pak Hendra sembari tersenyum ke arah istrinya.

"Syukurlah kalau begitu, Mas," ucap Hesti lega. Wanita itu kemudian mengalihkan pandangan matanya yang mendadak berubah menjadi sangat datar dan penuh arti ke arah Kayla yang berdiri di seberang ranjang.

"Kayla, oh ya... kebetulan barusan saya habis telepon seseorang. Mulai besok hari Minggu, kamu harus ikut les piano ya. Saya sudah daftarkan dan urus semua administrasinya barusan," ucap Hesti dengan nada suara yang teramat santai namun terdengar mutlak tanpa celah.

Kayla langsung membelalakkan matanya sempurna, merasa tersengat listrik. "Hah?! Apaan sih! Gak mau!" bantah Kayla berang seketika. Hari Minggu adalah satu-satunya hari libur di mana ia bisa bebas keluar rumah tanpa harus diawasi oleh aturan sekolah atau kejaran Arka, dan sekarang Hesti ingin merenggutnya begitu saja?

"Sayangnya, untuk kali ini saya gak menerima penolakan sama sekali dari kamu, Kayla," timpal Hesti dengan nada bicaranya yang tetap tenang namun menekan, memberikan hukuman terselubung atas insiden obat pencahar semalam tanpa perlu mengadukannya pada Pak Hendra.

Merasa posisinya terdesak, Kayla langsung menoleh ke arah ayahnya untuk mencari pembelaan. "Pih! Liat tuh istri Papih! Dia seenaknya sendiri ngatur-ngatur jadwal hidup Kayla!" protes Kayla dengan nada merajuk sekaligus kesal.

Namun, alih-alih membela putri kesayangannya seperti biasa, Pak Hendra justru menghela napas pendek dan tersenyum menenangkan ke arah Kayla. "Udah, Kay... turuti saja apa kata Tante Hesti. Lagian bagus juga kan, biar hari weekend kamu ada kegiatan yang positif dan bermanfaat buat bakat kamu," ucap Pak Hendra final, sepenuhnya mendukung keputusan sang istri yang dianggapnya baik demi masa depan anaknya.

Mendengar keputusan mutlak dari Papihnya, Kayla langsung terbungkam seribu bahasa. Ia menatap sinis dan penuh dendam ke arah Hesti. Di seberang ranjang, Hesti hanya membalas tatapan berapi-api Kayla dengan sebuah senyuman smirk tipis yang teramat misterius, memenangkan babak pertarungan taktik kali ini secara elegan. Menghentakkan kakinya dengan kesal karena kalah telak, Kayla akhirnya berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruangan kamar rawat tersebut dengan perasaan yang luar biasa dongkol.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!