Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 Tentang Dia
Zivanna berada di kamarnya, terlihat duduk di teras kamarnya. Zivanna tampak sibuk belajar dengan membolak-balikkan buku-buku yang dikumpulkan bertumpuk di atas meja.
Zivanna sudah mengambil Dokter spesialis dan saat ini menjalankan semuanya tanpa memperdulikan apapun tanggapan orang lain kepadanya. Zivanna hanya ingin membuktikan bahwa dia mampu.
Krekkk.
Pintu kamar terbuka. Dikta baru saja pulang dari rumah sakit. Melihat kamar kosong membuat Dikta melihat ke arah teras dan sudah bisa dipastikan bahwa istrinya berada di teras yang fokus dengan apa yang dia baca.
"Selalu fokus dengan materi, tetapi melupakan untuk praktek," ucap Dikta menghela nafas.
Dikta mengabaikan dan berjalan menuju lemari, mengambil pakaian ganti dan kemudian memasuki kamar mandi, begitulah situasi pasangan suami istri itu yang terasa begitu hening tanpa ada pembicaraan. Keduanya memang satu kamar, tetapi terasa dingin satu sama lain.
Ting....
Zivanna melihat ponselnya ketika masuk notif pesan yang diletakkan di atas meja di samping bukunya.
Zivanna menghela nafas, melepaskan kacamatanya dan melihat pesan yang masuk.
..."Jangan lupa untuk memenuhi undangan kedua orang tuaku makan malam di rumah mereka," tulis Dikta....
Zivanna menghela nafas mendapatkan pesan tersebut.
Sebelumnya memang sudah disampaikan Dikta kepadanya bahwa ada undangan makan malam dari orang tuanya.
Zivanna melihat ke arah kamarnya tampak kosong, tetapi sepertinya sudah menyadari bahwa suaminya itu pulang dari rumah sakit. Mengingatkan tentang janji saja harus melalui pesan tanpa berbicara kepadanya.
Zivanna akhirnya menutup bukunya, tidak enak jika harus menolak makan malam dari kedua orang tua suaminya yang membuat Zivanna langsung berdiri dari tempat duduknya dengan mengambil ponselnya
Zivanna berjalan menuju lemari mengambil pakaian dan kemudian melangkah menuju pintu kamar mandi dengan pintu itu sudah dibuka Dikta sudah selesai mandi dengan menggunakan jubah mandi berwarna putih dengan tangannya masih berada di kepalanya karena mengeringkan rambutnya.
Keduanya tidak bertegur sapa dan melanjutkan langkah, tetapi langkah mereka malah bersamaan membuat mereka tidak bisa saling melanjutkan langkah.
Zivanna lewat sebelah kiri dan ternyata diikuti oleh Dikta yang membuat keduanya terus saja begitu sampai keduanya kembali saling menghentikan langkah.
"Aku mau lewat!" ucap Zivanna.
"Saya juga mau lewat," sahut Dikta.
Zivanna menarik nafas dan membuang perlahan ke depan, kemudian memberikan jalan kepada Dikta....."
"Silahkan lewat," ucap Zivanna akhirnya memberi jalan kepada suaminya itu yang kemudian dilewati oleh Dikta.
Zivanna menghela nafas dan langsung memasuki kamar mandi.
"Issss, kenapa dia menyebalkan sekali hari ini, tidak di rumah sakit tidak di rumah tidak di kamar tetap saja menjadi orang yang sangat menyebalkan," Zivanna tidak pernah berhenti mengoceh yang sekarang berdiri di depan cermin.
"Sudahlah Zivanna, ini sudah menjadi takdir. Jadi lebih baik untuk menjalani saja daripada mengoceh-ngoceh tidak akan mengubah apapun," ucap Zivanna menghela nafas.
******
Dikta sudah selesai terlebih dahulu dan menunggu istrinya di luar rumah yang berdiri di samping mobil sembari melihat ponselnya. Akhirnya Zivanna keluar dari rumahnya terlihat begitu cantik.
Gaun itu jatuh anggun membalut tubuhnya dengan sebuah atasan panjang berbahan satin lembut berwarna biru yang berkilau halus setiap kali tersentuh cahaya lampu. Potongannya sederhana namun elegan, dengan lengan panjang yang sedikit mengerucut di pergelangan, memberi kesan rapi tanpa kehilangan sentuhan feminin.
Hijab yang dia kenakannya senada, dililit rapi dengan ujung yang menjuntai ringan di bahu, menambah kesan tenang dan berkelas.
Rok yang ia padukan berupa rok span panjang berwarna ivory, dengan siluet lurus yang mengikuti langkahnya secara anggun.
Setiap langkah kecilnya membuat kain rok itu bergerak lembut, menciptakan kesan ringan dan berwibawa sekaligus. Tidak berlebihan, namun cukup untuk menarik perhatian tanpa harus meminta.
Di kakinya, sepasang heels berwarna nude dengan ujung runcing menopang posturnya, membuatnya tampak lebih jenjang. Haknya tidak terlalu tinggi, cukup untuk memberi kesan elegan tanpa mengorbankan kenyamanan.
Saat ia melangkah, bunyi halus dari heels itu terdengar samar di lantai, seolah menjadi irama pelan yang mengiringi kehadirannya.
Keseluruhan penampilannya memancarkan keanggunan yang tenang—tidak mencolok, namun sulit untuk diabaikan. Cocok untuk sebuah makan malam yang penuh kesan, di mana setiap detail kecil berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Kepala Dikta terangkat melihat bagaimana penampilan istrinya yang benar-benar sangat sempurna. Tetapi untuk memberi pujian kepada sang istri rasanya sangat berat sekali.
Zivanna tidak mengatakan apapun dan masuk terlebih dahulu ke dalam mobil dengan duduk di kursi di sebelah pengemudi dan tidak berapa lama Dikta menyusul masuk ke dalam mobil.
Tanpa ada obrolan dengan pasangan suami istri itu saling memakai sabuk pengaman masing-masing dan kemudian Dikta menyetir dengan kecepatan santai.
********
Saat ini Dikta sudah berada di kediaman rumah kedua orang tuanya. Zivanna mengikuti makan malam bersama dengan kedua orang tua suaminya itu yang tak lain ayah dari Dikta merupakan Om Zivanna, Kakak dari ibunya.
"Papa senang, dengan kesibukan kalian di rumah sakit masih menyempatkan untuk makan malam bersama kami, hal ini sangat jarang sekali dan apalagi semenjak Dikta menjadi Dokter juga jarang mengikuti makan malam seperti ini," sahut Wahyu.
"Bukan berarti karena sudah menikah dengan Zivanna, Dikta mau makan malam bersama kita. Dikta bukan tipe laki-laki yang mendengarkan sesuatu hal begitu saja," sahut Wina.
"Memang tidak terlalu banyak pekerjaan dan bisa mengikuti makan malam ini," sahut Dikta memberi jawaban dan sementara Zivanna hanya tetap melanjutkan makannya.
"Zivanna kamu akan tetap melanjutkan karir kamu sebagai seorang Dokter?" pertanyaan Wina membuat Zivanna mengangkat kepala.
"Maksud Mama begini, kamu sudah memiliki suami sebagai Dokter, kamu tahu bagaimana pekerjaan Dokter yang memiliki waktu hanya sedikit saja, jika kamu sama-sama menjalani karir dalam dunia kedokteran, kalian berdua tidak akan punya waktu untuk menata pernikahan. Mama hanya menyarankan kamu untuk mengalah dalam karir kamu, karena bagaimanapun seorang istri sudah ditakdirkan untuk berada di rumah menunggu suaminya pulang," ucap Wina ternyata kurang setuju jika Zivanna harus melanjutkan karirnya sebagai dokter.
"Lagi pula di zaman sekarang ini banyak pekerjaan yang dilakukan wanita hanya berdiam diri di rumah, seperti mulai melakukan usaha dalam bidang lain, tetapi tetap berada di rumah, apalagi kamu juga memiliki kuasa untuk melakukan semua itu. Jadi biarkan saja Dikta melanjutkan karirnya," ucap Wina memberikan saran kepada menantunya itu.
"Lalu apa saya tidak boleh menjadi Dokter meski sudah menikah?" tanya Zivanna merasa tersinggung dengan semua perkataan itu dan merasa tidak pantas jika Ibu mertuanya harus memberi masukan yang menurutnya tidak masuk akal dan justru itu sangat merugikannya.
Susana di meja makan seketika berubah menjadi tegang.
Bersambung....