"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-Detik Mencekam di Menara Timur
*Brak!*
Pintu kamar mandi di dalam kamar utama terbuka. Luna baru saja membasuh wajahnya ketika mendengar suara keras dari arah koridor luar, disusul oleh suara erangan pendek dari salah satu pengawal yang berjaga.
"Maya?" panggil Luna dengan suara gemetar, melangkah keluar ke ruang tidur. Namun, Maya tidak ada di sana gadis pelayan itu baru saja turun beberapa menit lalu untuk mengembalikan nampan makanan.
Jantung Luna bertalu-talu dengan sangat kencang. Firasat buruk yang merundungnya sejak sore tadi kini menjelma menjadi teror nyata. Belum sempat dia melangkah menuju pintu, engsel kayu besar di depannya berderit keras. Pintu kamar itu ditendang terbuka dari luar.
Dua sosok pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam melangkah masuk. Tatapan mereka langsung mengunci sosok Luna yang berdiri kaku dalam balutan jubah bulu pink lembutnya. Yang membuat darah Luna seketika berdesir sedingin es adalah sepasang mata mereka merah menyala, haus darah, dan dipenuhi oleh keliaran yang mengerikan.
*Rogue.* Mereka berhasil masuk ke dalam kastil.
"Jadi ini mainan baru sang Alpha?" salah satu *Rogue* bertubuh kekar menyeringai, menampilkan taring-taring tajam yang meneteskan air liur.
"Aromanya begitu manis. Pantas saja Yudha sampai kehilangan akal sehatnya."
"Jangan banyak bicara, cepat tangkap dia sebelum si brengsek Yudha menyadari keberadaan kita!" perintah *Rogue* kedua dengan suara serak.
Luna mundur perlahan hingga punggungnya membentur tiang ranjang yang kokoh. Rasa takut yang teramat besar sempat membuatnya kehilangan suara, namun insting bertahannya memaksa tangannya untuk meraih apa saja yang ada di dekatnya. Jemari kecilnya mencengkeram sebuah vas bunga kaca di atas meja nakas dan langsung melemparkannya ke arah penyusup itu.
*Prang!*
Vas itu hancur berkeping-keping di dada sang *Rogue*, sama sekali tidak memberikan efek luka pada tubuh monster tersebut. Hal itu justru memicu tawa mengejek dari keduanya.
"Manusia tetaplah manusia. Rapuh dan tak berguna," desis salah satu dari mereka seraya melompat maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi penglihatan Luna.
Tangan kekar berbulu kasar itu terulur, siap mencengkeram leher Luna. Luna memejamkan matanya rapat-rapat, menjeritkan satu nama yang paling dia percayai di dunia ini di dalam hatinya. *Yudha!*
*Wuuusss!*
*Brakkk!*
Pintu kaca jendela besar di belakang ranjang hancur berkeping-keping menjadi butiran kristal tajam bersamaan dengan hantaman badai angin yang luar biasa pekat. Sebuah bayangan perak raksasa melesat masuk dari arah luar menara, memotong jarak antara Luna dan sang penyerang dalam sekejap mata.
Itu Yudha. Dia tidak lewat koridor; dia memanjat dinding luar menara demi memangkas waktu.
Dalam wujud serigala perak raksasanya, Yudha langsung mengatupkan rahang kokohnya di bahu *Rogue* yang mencoba menyentuh Luna. Dengan satu sentakan kejam, dia melempar tubuh monster itu hingga menembus dinding kayu pembatas kamar hingga hancur.
*Auuuwwww—!*
Yudha melolong dahsyat di dalam kamar, sebuah raungan penuh amarah dan dominasi mutlak yang menggetarkan seluruh isi menara timur. Sisa-sisa kristal jendela yang pecah berguguran di lantai batu. Mata emas sang Alpha menyala begitu terang, memancarkan aura kegelapan yang siap mencabik-cabik siapa pun yang berani mengusik miliknya.
*Rogue* kedua yang masih tersisa di dalam kamar langsung melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. Ketakutan instan menghantam mentalnya saat berhadapan langsung dengan murka sang Alpha sejati.
Yudha perlahan melangkah maju, memposisikan tubuh raksasanya persis di depan Luna, menjadi perisai hidup yang tidak tertembus. Geraman rendah dari tenggorokannya bergetar, menegaskan bahwa malam ini akan menjadi malam pembantaian bagi para penyusup.
Dari balik tubuh perak yang kokoh itu, Luna perlahan membuka matanya. Di tengah kekacauan dan pecahan kaca yang berserakan, air mata kelegaannya menetes. Pria itu kembali tepat pada waktunya.
---