NovelToon NovelToon
DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bullying dan Balas Dendam / Dark Romance / Wanita perkasa
Popularitas:421
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.

Kini, ia kembali.

Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.

Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.

Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.

Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.

Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:

Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.

Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.

Melainkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Ardika yang Retak

Indri berdiri di tengah kekacauan itu, tubuhnya bergetar. Bukan karena rasa takut, melainkan karena gejolak emosi yang membuncah—kemarahan, kepuasan, dan sedikit kengerian. Ia melihat anting-antingnya, menyentuhnya lembut. Terekam. Rahasia Surya, janji-janji ancamannya, semua terekam. Senjata ini kini berada di tangannya.

"Nona Indri?" Seorang pria dari tim keamanan Hisoka mendekatinya dengan hormat. "Anda baik-baik saja?"

Indri mengangguk, memaksakan senyum tipis. "Saya baik-baik saja." Ia menatap keluar jendela, ke arah tempat Surya menghilang. Permainan baru saja dimulai, Surya. Dan aku yang memegang kendali.

Keesokan harinya, matahari pagi menyusup malu-malu melalui jendela kamar tidur di kediaman Hisoka Adicambra. Indri terbangun, merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Bukan karena luka fisik, melainkan kelelahan mental yang luar biasa. Ia menghela napas, ingatannya kembali pada kejadian di villa Puncak. Hisoka telah menyelamatkannya, ya. Tapi Indri tahu, penyelamatan itu datang dengan harga yang jauh lebih mahal.

Ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Hisoka. Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Hisoka berdiri di sana, mengenakan kemeja sutra gelap, matanya tajam, dingin. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Hanya tatapan menilai yang Indri benci.

"Bangun," perintah Hisoka, suaranya datar. "Kita perlu bicara."

Indri tidak bergerak. Ia hanya menatapnya, bibirnya membentuk garis tipis. Pertunjukan dimulai.

"Aku tahu kau sudah bangun," Hisoka mendekat, berhenti di tepi ranjang. "Jangan bermain-main denganku, Indri. Aku tidak suka menunggu."

Indri perlahan bangkit, duduk di tepi ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Apa yang ingin Anda bicarakan, Tuan Adicambra?"

Hisoka melipat tangannya di dada. Matanya menelusuri wajah Indri, mencari celah. "Surya Rabinson," katanya, nada suaranya penuh kemarahan yang tertahan. "Dia berani menyentuhmu. Berani menculikmu." Hisoka melangkah mendekat, cengkeramannya pada selimut Indri menguat. "Kau milikku, Indri. MILIKKU. Tidak ada seorang pun yang berhak menyentuh apa yang menjadi milikku."

Indri menelan ludah. Hisoka posesif, brutal. Ini bukan tentang dirinya, melainkan tentang properti. Aku adalah asetnya yang dirusak.

"Saya tidak bisa mencegahnya, Tuan Adicambra," Indri menjawab, suaranya pelan, gemetar, sebuah akting yang ia harap sempurna. "Dia mengancam akan membongkar masa lalu saya. Foto-foto lama..." Ia membiarkan suaranya melemah, seolah trauma itu masih menghantuinya.

Hisoka menyeringai, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Foto-foto lama? Omong kosong. Kau tahu aku sudah tahu segalanya tentang masa lalumu, Indri. Jauh sebelum Surya Rabinson mengancammu dengan foto-foto itu."

Napas Indri tercekat. Jantungnya berdebar kencang. Dia tahu. Dia tahu yang sebenarnya. Dia tahu tentang orang tuaku. Ketakutan nyata merayap, menghancurkan topeng ketenangannya.

Hisoka melihat reaksi itu. Senyumnya melebar. "Kau pikir aku merekrutmu tanpa tahu siapa kau sebenarnya, Indri? Aku tahu setiap keretakan dalam dirimu. Setiap kelemahanmu. Dan aku tahu persis bagaimana cara menggunakannya." Hisoka mencondongkan tubuh, wajahnya sangat dekat dengan wajah Indri. "Jadi, beritahu aku. Apa yang dia lakukan padamu? Setiap sentuhan. Setiap kata. Aku ingin tahu semuanya."

Indri merasakan api membakar di dalam dirinya. Ini adalah penghinaan yang paling dalam. Hisoka tidak hanya tahu, dia menikmatinya. Dia ingin Indri menceritakan kembali traumanya, seolah itu adalah sebuah pertunjukan untuknya. Ia merasakan air mata menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya. Jangan memberinya kepuasan itu.

"Dia... dia memaksaku untuk mengkhianati Anda," Indri berbisik, suaranya bergetar. "Dia ingin dokumen merger Adicambra Group. Dia ingin aku menjadi mata-matanya."

Hisoka tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan tanpa humor. "Dan apakah kau berencana untuk melakukannya?"

Indri mendongak, matanya bertemu dengan mata Hisoka. Ada kejujuran yang menyakitkan di sana, namun juga tekad yang tak tergoyahkan. "Tidak. Saya tidak akan pernah mengkhianati Anda. Saya... saya membenci dia. Saya membenci mereka yang telah menghancurkan saya."

Hisoka menatapnya, mencari kebohongan. Namun, ia hanya menemukan kebencian murni yang memancar dari mata Indri. Kebencian yang sama yang ia lihat pada dirinya sendiri.

"Bagus," kata Hisoka, suaranya melembut, namun tetap dingin. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Indri, mengangkatnya perlahan. "Aku ingin kau bersumpah. Sumpah bahwa kesetiaanmu hanya padaku. Bahwa kau akan selalu menjadi milikku."

Indri menelan ludah, merasakan cengkeraman Hisoka di dagunya. Ia memejamkan mata sesaat. Aku akan bersumpah. Tapi sumpah itu akan menjadi kutukan bagimu. Ia membuka matanya, menatap Hisoka lurus.

"Saya bersumpah," Indri berkata, suaranya tegas, penuh keyakinan palsu. "Kesetiaan saya hanya untuk Anda, Tuan Adicambra. Saya akan selalu menjadi milik Anda. Dan saya akan melakukan apa pun yang Anda perintahkan."

Hisoka tersenyum, senyum tipis yang penuh kepuasan. Ia melepaskan cengkeramannya dari dagu Indri, lalu tangannya terulur, menyeka air mata yang samar-samar mengalir di pipi Indri. Sebuah gerakan yang tiba-tiba, nyaris seperti perhatian, namun terasa seperti sentuhan es.

"Bagus, Indri," bisik Hisoka, suaranya kini terdengar seperti beludru, namun tetap mengandung ancaman yang tak terucap. "Kau telah lulus ujianku. Tapi ingat, Nona Indri. Kau kini telah menjadi bagian dari duniaku. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau tidak akan pernah bisa lepas dari pandanganku."

Hisoka berbalik, melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Indri sendirian. Indri merasakan dingin yang menusuk. Ia memang telah lulus ujian, namun ia kini menyadari bahwa ia telah masuk lebih dalam ke dalam jebakan Hisoka. Antara Surya dan Hisoka, aku terjebak di antara dua iblis. Surya ingin menghancurkannya, tapi Hisoka ingin menguasai dan menghinanya. Sebuah penjara yang jauh lebih mengerikan.

Ia menyentuh pipinya, tempat Hisoka baru saja menyeka air matanya. Air mata itu kini mengalir lebih deras, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan dan perasaan tak berdaya. Hisoka tahu segalanya. Hisoka sengaja menggunakan masa lalunya sebagai alat. Dia akan membayarnya. Semua akan membayar. Bahkan Hisoka sekalipun. Indri mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Perang ini belum berakhir. Ini baru permulaan.

*

Beberapa hari kemudian, Ardika duduk di kantornya, tatapan matanya kosong menatap layar komputer yang menyala. Informasi tentang Indri dan Hisoka Adicambra memenuhi setiap feed berita, setiap gossip column. "Indri Adicambra," begitulah media kini menjulukinya, menggantikan nama yang dulu ia kenal. Rasa sakit mencubit hatinya, dicampur dengan amarah yang membara. Indri, miliknya, kini telah diklaim oleh pria lain. Pria tua yang tak terkalahkan. Hisoka.

Ia mengepalkan tangannya, urat-urat di lengannya menonjol. Tidak. Aku tidak akan membiarkan ini. Jika aku tidak bisa memilikinya, tidak ada orang lain yang akan bisa. Otaknya bekerja cepat, merangkai setiap kepingan informasi, setiap kelemahan. Ia teringat buku harian lama Indri, penuh rahasia masa lalu yang memalukan. Sebuah ide gila muncul di benaknya.

Ardika meraih ponselnya, mencari kontak. Editor gosip papan atas, wanita yang hidup dari kehancuran reputasi orang lain. Jari-jarinya mengetik pesan singkat, memberikan petunjuk samar tentang "sosialita baru" dengan "masa lalu kelam yang menarik." Ia menyertakan beberapa detail yang hanya ia dan Indri yang tahu, cukup untuk membuat editor itu terpancing. Permainan dimulai, Indri. Kau akan menyesal telah membuangku.

1
Towang Risawang
Selamat datang para pembaca yang budiman.

Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.

Terima kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!